Legendary Siblings

Legendary Siblings
41. Suka Ditipu



Kuncirnya yang kecil itu tampak bergerak kian-kemari mengikuti goyangan kepalanya, di bawah sinar matahari wajahnya yang ayu itu semakin menyerupai bunga Tho yang sedang mekar, bahkan mungkin tiada bunga Tho di dunia ini secantik dia.


Setiap kali si Tho-hoa habis berucap, segera seorang Tibet tampil ke depan dan berjabatan tangan dengan seorang Han, jelas itulah tandanya telah menjadi sesuatu jual-beli.


Setiap kali terjadi sesuatu perdagangan (dengan barter atau tukar-menukar barang), maka tertawa si mata jeli juga bertambah manis.


Siau hi-ji mendekat ke sana, ia tidak menyapa si Tho-hoa melainkan putar kayun ke sana ke sini, dilihatnya di depan setiap perkemahan terpajang macam-macam benda mestika yang aneh, banyak pula perhiasan yang indah dan menarik.


Beberapa lelaki dari berbagai ukuran, ada yang tinggi, ada yang pendek, yang gemuk, yang kurus, sama menjagai dasaran barang dagangannya itu. Ada pula beberapa orang Tibet yang juga berbangun tubuh macam-macam ukuran sedang memilih dan membeli barang-barang itu dengan bahasa isyarat tangan.


Siau hi-ji tertarik dan geli, ia merasa orang-orang ini sungguh bodoh, tiba-tiba ia menemukan sesuatu, yakni bahwa orang bodoh di dunia ini jauh lebih banyak daripada orang pintar.


Tiba-tiba seorang tinggi kurus muncul dengan menuntun seekor kuda kecil, bulu suri yang putih bagai salju itu bergoyang-goyang terembus angin dan sangat menarik perhatian Siau hi-ji.


Tanpa terasa Siau hi-ji mendekati kuda itu dan meraba-raba punggungnya, tanyanya kemudian, “Apakah kuda ini dijual?”


Si tinggi kurus itu memandang sekejap pada anak muda itu, jawabnya, “Kau ingin beli? Baiklah panggil orang tuamu ke sini.”


“Untuk apa panggil orang tua?” ujar Siau hi-ji. “Ada duit sama saja dengan orang tua.”


“Kau punya duit?” si jangkung tertawa.


Siau hi-ji tepuk-tepuk ikat pinggangnya dan menjawab, “Duit tidak punya, emas kubawa tidak sedikit.”


Tertawa si jangkung makin lebar, matanya terus mengincar bungkusan yang terikat di pinggang Siau hi-ji, sambil mengelus bulu halus kuda yang masih muda itu ia berkata dengan tertawa, “Kuda bagus ini harganya cukup tinggi.”


“Berapa harganya, katakan saja,” ujar Siau hi-ji.


Mata si jangkung berkedip-kedip, katanya dengan rada samar-samar. “Harganya paling sedikit sera... seratus... seratus sembilan puluh... seratus sembilan puluh tahil perak.”


Siau hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, “Kukira harga ini tidak betul.”


Tiba-tiba wajah si jangkung yang berseri-seri tadi berubah menjadi merengut, “Mengapa tidak betul, kau harus tahu, ini kuda wasiat, sedikitnya berharga...”


“Jika kuda wasiat, maka sedikitnya berharga tiga ratus delapan puluh tahil perak, permintaanmu cuma seratus sembilan puluh tahil perak, terlalu sedikit, sungguh terlalu murah.”


Si jangkung jadi melenggong, mendadak ia berteriak dengan gusar, “He, kau sengaja berkelakar?”


“Emas selamanya tidak pernah berkelakar...” kata Siau hi-ji dengan tertawa. “Satu tahil emas bernilai enam puluh tahil perak, tiga ratus delapan puluh tahil perak sama dengan emas enam tahil koma tiga tiga-tiga-tiga... Nah, kertas emas ini kira-kira berbobot tujuh tahil, ambil saja!”


Sekali ini si jangkung benar-benar melenggong dan mengira sedang mimpi, dengan setengah linglung ia terima daun emas itu dan tanpa sadar mengangsurkan tali kendali kudanya. Kalau pegangannya tidak kencang, bisa jadi daun emas itu sudah jatuh ke tanah.


Dengan tertawa gembira Siau-hi-ji lantas pesiar ke sana kemari dengan menuntun kuda putih yang baru dibelinya itu. Segera ia mendapatkan penemuan baru pula, yakni selain orang-orang itu lebih banyak yang bodoh dari pada yang pintar, yang bermuka buruk juga jauh lebih banyak dari pada yang berwajah cakap.


Hanya ada seorang pemuda baju putih yang bentuknya sama sekali berbeda dengan orang-orang lain. Pemuda baju putih itu berdiri jauh menyendiri di sana seakan-akan tidak sudi bercampur-baur dengan orang-orang lain. Baju putih pemuda itu bergerak tertiup angin seperti salju di puncak Kun-lun-san, matanya gemerlap laksana kelip bintang yang dilihatnya semalam.


Tanpa terasa Siau hi-ji memandang beberapa kejap kepada pemuda itu, ternyata mata si pemuda baju putih yang besar itu pun sedang memandang Siau hi-ji.


Siau hi-ji berkerut-kerut hidung dan melelet-lelet lidah padanya dengan muka badut, tapi pemuda itu lantas berpaling ke sana seakan-akan tidak sudi memandang Siau hi-ji lagi.


Mendongkol juga hati Siau hi-ji, ia bergumam, "Hm, lagaknya! Kau tidak sudi gubris diriku, memangnya aku sudi gubris dirimu?!" Ia sengaja melantangkan suaranya agar didengar pemuda itu. Tapi pemuda itu justru anggap tidak mendengar.


Siau hi-ji terus menuju ke sana, menghampiri sebuah dasaran pedagang yang terdekat dengan pemuda itu. Banyak perhiasan barang tiruan yang dijajakan di situ, bentuknya indah dan bercahaya, seakan-akan sedang menunggu orang yang mau masuk perangkap.


Siau hi-ji ambil sebuah perhiasan bunga mutiara, matanya memandang pemuda tadi dan bertanya, "Ini dijual tidak?"


Tapi yang menjawab bukanlah pemuda itu melainkan seorang pendek berkopiah tinggi, dengan cengar-cengir si buntak ini berkata, "Pandangan tuan muda sungguh jitu, mutiara pilihan ini sungguh sukar dicari."


Sambil bicara, matanya terus mengincar pinggang Siau hi-ji. Rupanya ia sudah menyaksikan cara Siau hi-ji membeli kuda tadi.


"Berapa harganya?" tanya Siau hi-ji.


"Empat... lima... tu... tujuh puluh tahil."


"Tujuh puluh tahil?!" teriak Siau hi-ji.


Si buntak berjingkat kaget, cepat ia menanggapi, "Ya, tu... tujuh puluh tahil tidaklah mahal."


"Tapi mutiara ini kan imitasi," ujar Siau hi-ji.


"Imitasi? Siapa bilang?" seru si buntak dengan agak penasaran. "Ini... ini sungguh suatu penghinaan bagiku."


"Haha, sejak umur dua tahun aku sudah bermain mutiara dan menggunakannya sebagai peluru pelinteng, tulen atau palsunya mutiara akan ketahuan bila kucium dengan hidung saja," kata Siau hi-ji dengan tertawa.


Diam-diam perut si buntak hampir meledak saking gemasnya, ia heran mengapa bocah ini mendadak berubah menjadi cerdik. Tapi ia pura-pura berlagak penasaran dan berkata, "Wah, baiklah, kuberi diskon, biarlah kuhitung enam puluh tahil saja..."


"Ah, kau salah lagi," seru Siau hi-ji dengan tertawa. "Mutiara yang tulen dapat digagapi dengan mudah di lautan, sedangkan mutiara palsu justru harus membuatnya dengan susah payah, bahkan hasilnya sedemikian miripnya, maka harga mutiara palsu harus lebih mahal daripada yang tulen."


Kembali si buntak melengak, katanya dengan tergagap, "Ini... ini...."


"Kalau tulen harganya tujuh puluh tahil, maka yang palsu harus seratus empat puluh tahil perak, kira-kira emas murni dua tahil lebih...." demikian Siau hi-ji sengaja membual dengan harapan si pemuda baju putih tadi akan tertarik dan memandang atau tertawa padanya.


Siapa tahu pemuda itu ternyata tidak menggubrisnya, bahkan menyingkir pergi.


Lekas-lekas Siau hi-ji melemparkan emasnya dan berkata, "Nah, ini bobotnya tiga tahil."


Tanpa ambil pusing si buntak yang ternganga bingung itu, cepat ia memburu ke sana. Namun pemuda baju putih entah berada di mana, sudah tidak kelihatan lagi.


Siau hi-ji rada kecewa, ia termangu-mangu sambil menggigit bibir. Pada saat itulah tiba-tiba sebuah tangan menjulur tiba terus menyeretnya berlari. Tangan itu putih halus, itulah tangan Tho-hoa.


Begitulah dengan tarik-menarik, akhirnya mereka lari masuk ke kemah si Tho-hoa, wajah nona itu tampak merah, napasnya tersengal-sengal, ia mengomel perlahan, "Kau... kau ini sungguh bodoh, ingin membeli barang kenapa tidak cari padaku, tapi lebih suka ditipu orang,..."