Legendary Siblings

Legendary Siblings
71. Marah



Diam-diam Siau hi-ji merasa geli, kiranya Koh Jin-giok itu berjuluk "Koh siaumoay" (adik perempuan), rasanya poyokan ini cocok dengan orangnya.


Tapi tenaga serangannya tadi tampaknya sangat hebat, biar Siau sian-li yang lihai itu pun belum tentu dapat melawannya.


Siau hi-ji tidak tahu bahwa ilmu silat Koh Jin-giok memang tangguh, nama 'Giok-bin-sin-kun' (si pukulan sakti berwajah cakap) Koh Jin-giok cukup terkenal di dunia Kangouw.


Begitulah tampak Siau sian-li mendelik sambil bertolak pinggang, bentaknya pada Buyung Kiu-moay dan Koh Jin-giok, "Ayolah maju semua, kalian sungkan-sungkan apa lagi?"


Dalam hati Siau hi-ji juga berseru, 'Ayolah, memangnya kalian sungkan-sungkan apalagi!'


Tapi Koh Jin-giok ternyata diam saja dan tidak menyerang pula, katanya sambil menunduk, "Asalkan nona Thio tidak menyerang Kiu-ci, dengan sendirinya Siaute tidak berani menganggu nona Thio."


Siau sian-li mendengus, "Hm, keturunan pukulan sakti keluarga Koh ternyata tak becus semua, selain mengambil hati Kiu-ci yang kau sukai itu memang kau tidak bisa apa-apa pula?"


Koh Jin-giok diam saja tanpa menjawab sepatah kata pun.


Siau sian-li menjadi gusar, teriaknya, "Baiklah, Buyung Kiu, majulah, coba saja semua isi 'Jit-kiau-tay' (kantong senjata rahasia) kebanggaanmu itu boleh kau gunakan seluruhnya terhadapku!"


"Asalkan kau tidak membunuh orang di sini masakah aku ingin bergebrak denganmu?" jengek Buyung Kiu-moay.


Siau sian-li menjadi serba susah, ia pandang Koh Jin-giok dan pandang pula Buyung Kiu-moay, kedua orang itu menghadang rapat di depannya tanpa memberi kelonggaran sedikit pun.


Dengan tertawa Siau hi-ji lantas berolok-olok, "Apa gunanya kau hanya memandangi mereka? Yang pasti kau takkan mampu menerobos rintangan mereka. Hahaha, Siau sian-li yang namanya gilang gemilang ada kalanya ternyata juga mati kutu dikerjai orang."


Mendadak Siau sian-li juga tertawa, "Haha, rupanya kau berharap mereka bergebrak mati-matian dengan aku dan kau dapat menonton dengan gratis, bahkan menarik keuntungannya nanti, betul tidak?"


"Jika kau tidak berani berkelahi melawan mereka boleh lekas pergi saja, kenapa pakai cari alasan segala?" kata Siau hi-ji.


"Aku memang mau pergi," ucap Siau sian-li. "Apabila kau dapat sembunyi selama hidup di sini barulah aku benar-benar kagum padamu. Kalau tidak, begitu kau melangkah keluar rumah ini, seketika juga kucabut nyawamu."


Lalu dia berpaling kepada Buyung Kiu-moay, katanya dengan tertawa, "Kecuali kau kawin dengan dia dan menjaga dia selama hidup, kalau tidak betapa pun dia pasti akan mati di tanganku, buat apa sekarang susah payah kuberkelahi denganmu, kalau didengar orang luar mungkin aku akan dianggap mencari perkara padamu."


Habis berkata, ia melangkah mundur, mendadak tubuhnya melayang miring ke sana, di tengah suara tertawanya yang melengking nyaring itu, sekejap saja bayangannya sudah lenyap di kejauhan.


Begitu bilang mau pergi segera nona itu benar-benar pergi, hal ini malah di luar dugaan Siau hi-ji.


Setelah melenggong sejenak, akhirnya anak muda itu bergumam dengan tersenyum getir, "O, perempuan... perempuan! Sungguh menakutkan perubahan pikiran orang perempuan..."


"Perubahan pikiran orang ini memang benar sukar diterka oleh siapa pun," kata Buyung Kiumoay dengan gegetun, "bahkan tabiatnya juga sukar diraba. Ai, di dunia sekarang ini mungkin hanya dia saja yang sesuai menjadi lawanku..."


Mata Siau hi-ji berkedip-kedip, katanya, "Jika begitu, jadi pahlawan di dunia ini hanya kau dan dia berdua saja?!"


"Betul," jawab Buyung Kiu-moay.


"Lalu, siapa pula yang nomor satu di dunia Kangouw, dia atau engkau?" tanya Siau hi-ji.


"Tindak-tanduknya lincah, cerdik dan aneh, perubahan pikirannya tidak menentu, bahkan aku sendiri tidak dapat meraba apa yang hendak diperbuatnya dan bagaimana tindak berikutnya, sungguh dia terhitung tokoh nomor satu paling lihai di dunia Kangouw sekarang."


"Aku belum pernah berkecimpung di dunia Kangouw."


"Bila engkau berkecimpung di dunia Kangouw, dia akan berubah menjadi tokoh nomor dua, betul tidak?"


"Hm," Buyung Kiu hanya mendengus saja.


Dengan nada sungguh-sungguh Siau hi-ji berkata pula, "Ya, engkau memang benar nomor satu di dunia ini..."


Buyung Kiu tersenyum hambar tanpa menjawab. Tapi Siau hi-ji lantas menyambung pula, "Kepandaianmu memuaskan diri sendiri memang benar-benar nomor satu di dunia."


Seketika berubah pula air muka Buyung Kiu-moay.


Akhirnya Siau hi-ji tak tahan akan rasa gelinya, ia tertawa hingga terpingkal-pingkal, perutnya sampai terasa mules, katanya kemudian, "Kukira hanya lelaki saja yang bisa memuaskan diri sendiri, tak tahunya cara perempuan memuaskan diri sendiri ternyata jauh lebih hebat daripada lelaki. Haha, mengapa kau tidak keluar ke sana supaya kau tahu entah betapa banyak orang yang jauh lebih hebat daripadamu. Tapi, jika kau lebih suka mengaku nomor satu sambil menutup pintu, ya, aku pun tak berdaya."


"Kau... kau..." Buyung Kiu-moay tergagap saking gemasnya.


"Meski dua kali kau menolong jiwaku, tapi itu kau lakukan secara sukarela, aku tidak pernah mohon pertolonganmu. Kalau aku tidak utang budi padamu, dengan sendirinya aku pun tidak perlu mengambil muka padamu dengan kata muluk-muluk."


"Bagus... bagus sekali," ucap Buyung Kiu-moay.


Meski dia berusaha sebisanya bersikap acuh tak acuh seperti tidak terjadi apa-apa, tapi justru sukar, badan justru gemetar saking gemasnya.


Sesungguhnya dia seorang nona yang berhati dingin dan tidak mudah marah, tapi entah mengapa, hanya dua-tiga patah kata saja Siau hi-ji telah membuatnya gusar setengah mati.


Koh Jin-giok mendekati Siau hi-ji, katanya, "Betapa pun Kiu-ci juga telah menolongmu, mengapa kau sengaja membuatnya marah?"


Dengan tertawa Siau hi-ji memandang Buyung Kiu, katanya, "Aku justru suka membuatnya marah, waktu marah bukankah dia menjadi lebih bagus dipandang daripada sikap biasanya yang dingin kaku itu?"


Tanpa terasa Koh Jin-giok juga memandang Buyung Kiu, wajah yang pucat itu kini tampak bersemu merah sehingga jauh lebih menggiurkan dari pada biasanya.


Melenggonglah Koh Jin-giok, sejenak kemudian barulah dia berucap, "Ya, memang betul, memang jadi lebih cakap."


Seketika Buyung Kiu-moay mendelik, omelnya, "Kau ... kau pun berani bilang begitu di hadapanku, memangnya kau anggap diriku ini apa?"


Koh Jin-giok menjadi ketakutan, cepat ia menunduk dan berkata, "O, tidak... tidak cakap, waktu marah kau menjadi sangat... sangat jelek."


Meski pikiran Thi Sim-lan penuh diliputi perasaan cemas dan sejak tadi tidak bicara, kini melihat kelakuan Koh Jin-giok itu tanpa tertahan ia jadi mengikik geli, Siau hi-ji tidak perlu diterangkan lagi, sejak tadi ia sudah tertawa terpingkal-pingkal.


Dalam pada itu dua gadis cilik tampak datang menyusur hutan sana, dari jauh keduanya sudah lantas berseru, "Kiukohnio, Kiukohnio...."


Memangnya Buyung Kiu lagi mendongkol dan tak terlampiaskan, segera ia mendamprat, "Gembar-gembor apa? Memangnya kau kira aku tuli?"


Keruan kedua gadis cilik itu menunduk ketakutan dan berkata, "Ya, nona..." mereka melirik sekejap ke arah Siau hi-ji, lalu menunduk pula dan berkata, "Rumah sudah kami bersihkan, apakah sekarang nona..."


"Sekarang juga kuperiksa ke sana, setiap hari juga begini, pakai tanya lagi?" omel Buyung Kiu.