Legendary Siblings

Legendary Siblings
39. Meninggalkan Ok Jin Kok



“Tepat,” sorak Siau hi-ji sambil keplok tertawa, “ucapan paman tertawa benar-benar mengenai lubuk hatiku.”


“Jangan khawatir, tentu kami akan memberikan barang-barang baik padamu,” kata Li Toa-jui.


“Barang apa? Perlihatkan dulu padaku,” kata Siau hi-ji dengan tertawa. “Harus kulihat dulu barangnya baik atau tidak, suka atau tidak. Jika tidak cocok bagiku, betapa pun aku tetap ngendon disini dan tak mau pergi.”


“Setan cilik, kau memang rewel,” omel To Kiau-kiau sambil tertawa genit. “Baiklah, perlihatkan padanya, Toh-lotoa!”


Toh Sat lantas mengeluarkan sebuah ransel, isinya adalah sepotong baju sutera warna hijau, sebuah mantel warna merah, sebuah kopiah bersulam ikan emas dan sepasang sepatu kulit yang halus dan lemas.


Serentak Siau hi-ji berdandan, sambil menghadapi cermin tembaga, katanya dengan tertawa, “Pakaian ini tidak seberapa hebat, tapi setelah kukenakan lantas berubah cakap luar biasa.”


“Huh, memuji dirinya sendiri, tidak malu?” To Kiau-kiau berseloroh.


“Kalau aku tidak menjunjung diriku sendiri, siapa lagi yang akan memuji diriku?” ujar Siau hi-ji dengan tertawa.


“Haha, betul juga ucapanmu, masuk akal!” seru Ha ha-ji.


“Dan apalagi?” tanya Siau hi-ji.


"Ini... lihatlah!” kata To Kiau-kiau. Dia membuka suatu bungkusan lain, isinya ternyata satu tumpuk kertas emas. Mungkin tidak seberapa banyak manusia di dunia ini yang pernah melihat emas murni sebanyak ini.


Tapi Siau hi-ji justru berkerut kening, katanya, “Ah, terhitung benda baik apakah ini? Lapar, tidak dapat dimakan, dahaga, tidak dapat diminum dibawa dalam saku juga berat... Aku tidak mau barang ini.”


“Anak tol*l,” omel To Kiau-kiau dengan tertawa. “Benda ini meski tidak menarik, tapi siapa saja yang memilikinya, ingin membeli barang apa pun pasti terkabul. Untuk memilikinya, tidak sedikit manusia di dunia ini saling baku hantam memperebutkannya, tapi kau malah menolaknya!”


“Tidak, aku tidak mau, aku bukan orang tol*l macam begitu,” kata Siau hi-ji.


Sambil mencomot sepotong kecil kertas emas itu, Li Toa-jui berkata dengan tertawa, “Apakah kau tahu bahwa dengan sepotong kecil benda ini sedikitnya dapat membeli tiga perangkat pakaian seperti yang kau pakai sekarang, untuk biaya hidup keluarga biasa sedikitnya cukup untuk dua tahun lamanya.”


“Haha, bukankah kau suka pada kuda?” ujar Ha ha-ji. “Nah, hanya dengan sepotong kecil benda ini pun cukup untuk membeli seekor kuda Tibet yang paling bagus. Kalau benda ini tidak baik, maka tiada barang lain lagi yang lebih baik di dunia ini.”


Siau hi-ji menghela napas, katanya, “Baiklah, sedemikian tinggi kalian menilainya, biarlah kuterima. Tapi selain ini masih ada barang apalagi?”


“Ai, setan cilik, masakah belum cukup?” omel To Kiau-kiau. “Selama ini milik kami sudah bersih kau kuras, mana ada sisanya lagi?”


Siau hi-ji termenung sejenak, kemudian diangkatnya ransel tadi, berbangkit terus bertindak pergi.


“He, he! Kau mau apa?” seru Li Toa-jui.


“Mau apa?... Berangkat kan!” sahut Siau hi-ji.


“Berangkat dengan begitu saja?”


“Habis mau tunggu apalagi? Arak tidak boleh minum pula, barang juga tidak ada lagi....”


“Kau hendak pergi ke mana?” tanya Li Toa-jui.


“Sekeluarnya lembah ini, langsung aku menuju ke tenggara sana, sampai ke mana aku pun tidak tahu,” jawab Siau hi-ji.


“Apa yang hendak kau lakukan nanti?” tanya Li Toa-jui pula.


“Hahaha, bagus, bagus! Jadi manusia harus begitu barulah ada artinya,” seru Ha ha-ji sambil keplok.


“Dan kau akan... akan pulang lagi ke sini tidak?” tiba-tiba Toh Sat bertanya.


“Kalau orang di luar sana sudah kuganggu seluruhnya, selekasnya aku akan pulang ke sini, sekembalinya nanti akan aku ganggu kalian lagi,” jawab Siau hi-ji dengan tertawa.


“Haha, bagus!” seru Ha ha-ji. “Bila orang-orang di luar sana benar-benar kau ganggu hingga serba konyol, maka kami akan sambut pulangmu dengan gembira dan rela diganggu olehmu.”


“Baiklah, sampai bertemu, selekasnya aku kembali!” seru Siau hi-ji sambil melambaikan tangan. Dia benar-benar lantas berangkat, berangkat tanpa menoleh lagi.


Toh Sat mengantarnya keluar pintu, katanya dengan perlahan, “Tega benar hati anak ini.”


“Kita justru berharap dia berhati tega, haha, makin keras hatinya makin bagus!” ujar Ha ha-ji.


“Sudah terlalu lama dunia Kangouw aman tenteram, sudah saatnya kini diaduk oleh orang macam dia ini,” ucap To Kiau-kiau. “Cuma sayang, kita tidak dapat menyaksikan sendiri.”


Begitulah dengan dandanannya yang serba baru sambil memanggul ranselnya, Siau hi-ji menyusuri jalanan batu itu, sepatu kulitnya yang baru itu menimbulkan suara berkelotak dan terdengar jelas di malam sunyi.


Sembari berjalan Siau hi-ji sengaja berteriak-teriak, “Wahai, kawan-kawan, Siau hi-ji akan berangkat sekarang, selanjutnya kalian dapatlah tidur dengan nyenyak dan aman.”


Rumah-rumah di kedua tepi jalan serentak ramai, ada yang membuka jendela, ada yang membuka pintu, tiap-tiap kepala sama menongol keluar mengikuti kepergian Siau hi-ji.


“He, kulakukan perbuatan sebaik ini, mengapa kalian tidak lekas bersorak dan keplok gembira?” teriak Siau hi-ji. “Kalau kalian tidak bertepuk tangan, biarlah kubatalkan saja kepergianku.”


Belum habis ucapannya, serentak semua orang sama berkeplok riuh ramai. Maka tertawalah Siau hi-ji tergelak-gelak.


Ketika melalui rumah Ban Jun-liu, tertawanya terhenti sejenak, ia pandang tabib itu sekejap, hanya sekejap saja, tanpa bicara.


Ban Jun-liu juga tidak berucap apa-apa. Banyak hal di dunia ini memang tidak perlu diutarakan dengan berbicara.


Akhirnya Siau hi-ji meninggalkan Ok-jin-kok.


Bintang bertaburan menghiasi cakrawala nan kelam, meski di malam musim panas, namun di lembah sunyi yang terletak di perbatasan antara propinsi Tibet dan Jinghay itu terasa dingin oleh embusan angin malam yang menusuk tulang.


Siau hi-ji memakai mantelnya, ia menengadah memandangi langit yang penuh bintang-bintang berkelip itu, ia termangu-mangu sejenak.


Langit berbintang demikian selanjutnya masih akan dilihatnya, namun takkan dilihatnya dengan berdiri di sini.


Segera dia akan berada di suatu dunia yang asing baginya Apakah dia takut? Tidak, dia tidak takut!


Hanya dalam hatinya terasakan sesuatu yang aneh, entah rasa apa, sukar dikatakan. Namun dia tetap melangkah ke depan, lurus ke depan, tanpa menoleh.


*****


Menjelang maghrib, cuaca di daerah pegunungan sudah berubah kelam. Kabut lambat-laun menyelimuti lereng gunung, suasana remang-remang meliputi padang rumput yang tak tertampak ujungnya itu.


Angin meniup sepoi-sepoi sejuk, di tengah embusan angin itu terdengar suara mengembik kambing, suara menguak sapi, suara meringkik kuda, bercampur-baur menjadi macam paduan suara yang menawan hati.


Kemudian gerombolan biri-biri, sapi dan kuda bagai gugur gunung membanjir tiba. Sapi yang cokelat, kuda yang kuning, biri-biri yang putih, berbondong-bondong lalu di padang rumput yang luas laksana pasukan tentara berbaris panjang menuju medan bakti.