Legendary Siblings

Legendary Siblings
94. Ada Setan



"Hah, kau ternyata anak jenius, baru sekarang kutahu," ucap Siau hi-ji dengan tak acuh.


"Wah, lantas bagaimana ini?" Thi Sim-lan menjadi gelisah dan hampir menangis. "Kukira harus... harus..."


'Harus apa' ternyata sukar diucapkannya, saking kelabakan ia hanya berputar-putar saja di situ.


Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang berkata, "Mengapa budak itu bisa menghilang mendadak, sungguh aneh."


Lalu seorang lagi menanggapi dengan nada dingin, "Hari ini dia kabur, besok juga kita akan membekuk dia."


Begitu mendengar suara kedua orang itu, seketika air muka Siau hi-ji dan Thi Sim-lan berubah hebat.


"Siau sian-li!" seru Sim-lan dengan saura tertahan.


"Dan Buyung Kiu!" sambung Siau hi-ji.


"Mari lekas... lekas kita lari!"


Akan tetapi baru sekarang mereka tahu bahwa jalan yang mereka tempuh ini adalah jalan buntu, tiga sisinya dinding tebing menjulang tinggi, jalan satu-satunya adalah arah yang dilalui Siau sian-li itu.


Tangan dan kaki Thi Sim-lan menjadi dingin, katanya, "Wah, ini... ini ...."


"Sembunyi dulu!" seru Siau hi-ji. Dan baru saja mereka sempat sembunyi, sementara itu Siau sian-li dan Buyung Kiu sudah muncul.


"Aneh juga Gobi-san ini, gunung seluas ini ternyata tiada tempat berteduh yang layak, hanya di sini mending dapat digunakan istirahat, marilah kita mengaso sejenak daripada mencari kian kemari," demikian terdengar Siau sian-li mengomel.


Lalu dia mendahului duduk di atas batu, yaitu tempat yang diduduki Siau hi-ji dan Thi Sim-lan tadi.


Diam-diam Siau hi-ji dan Thi Sim-lan mengeluh, kalau kedua nona itu tetap berada di situ, sukar diketahui sampai kapan baru mereka bisa lolos dengan selamat.


Entah sudah lewat berapa lama, tiba-tiba Siau sian-li bersuara pula, "Kau kedinginan tidak?"


"Huh, seperti putri pingitan, begini saja kedinginan," jengek Buyung Kiu. "Sekalipun di tanah bersalju juga aku takkan mengeluh kedinginan."


Siau sian-li mengangkat pundak dan tidak menanggapi, lalu memejamkan mata untuk istirahat.


Diam-diam Siau hi-ji mencibir dan membatin, 'Sudah tentu kau tidak takut dingin, dengan telanjang bulat saja kau sanggup tiduran di atas balok es, memangnya siapa ingin berlatih ilmu setan seperti kau?'


Selang sejenak pula, tiba-tiba Siau sian-li berdiri dan berkata, "Kau tidak takut dingin, kau memang hebat, tapi aku tidak tahan."


"Tidak tahan juga harus bertahan," ucap Buyung Kiu.


"O, nona Kiu, Cici yang baik, marilah kita mencari kayu bakar untuk membuat api unggun!" Siau sian-li memohon dengan tertawa.


Akhirnya Buyung Kiu berbangkit juga dengan kemalas-malasan. Kedua nona melihat ke sana dan ke sini, akhirnya mereka menuju ke tempat sembunyi Thi Sim-lan dan Siau hi-ji.


Keruan anak muda itu kebat-kebit, pikirnya, "Sialan, mengapa kupilih tempat sembunyi yang terdapat ranting kayu bakar dan rumput kering ini, sungguh sial."


Maklumlah, mereka sembunyi di balik semak-semak yang banyak terdapat daun dan rumput kering serta akar-akar kering yang paling bagus untuk api unggun.


Tentu saja Thi Sim-lan terlebih cemas, tangan sampai berkeringat dingin dan tubuh pun rada gemetar.


Sementara itu Siau sian-li dan Buyung Kiu sudah mendekat, karena gemetarnya Thi Sim-lan sehingga akar dan rumput kering ikut bergetar dan menerbitkan suara kresak-kresek.


"Jangan khawatir, memangnya ada setan?" ujar Buyung Kiu.


Tiba-tiba timbul akal Siau hi-ji, cepat ia melepaskan ikat rambut sendiri sehingga semrawut, diam-diam ia tertawa geli sendiri, entah apa yang ditertawai.


Keruan hampir meledak perut Thi Sim-lan saking dongkolnya, dalam keadaan demikian anak muda itu masih sempat tertawa.


Sementara itu Siau sian-li berjalan ke depan sambil mengomel, "Andaikan tiada setan, mendadak keluar ular juga bisa celaka!"


"Ada aku, apa pun tidak perlu takut," belum habis ucapan Buyung Kiu, sekonyong-konyong dari tempat gelap melompat keluar suatu makhluk aneh.


Siau sian-li melonjak kaget, keringat dingin seketika membasahi tubuhnya. Tapi Buyung Kiu lantas membentak, "Siapa itu yang main gila di situ?"


Segera makhluk aneh menjerit, "Buyung Kiu, wahai Buyung Kiu, betapa keji kau bikin celaka diriku, aku mati kelelap menjadi setan rendaman... Buyung Kiu, ayo bayar jiwaku, Buyung Kiu!"


Di bawah cahaya rembulan Buyung Kiu dapat melihat jelas 'makhluk aneh' ini sudah dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Siau hi-ji? Anak muda yang sudah binasa terkurung di gudang es bawah tanah itu.


Betapa besar nyali Buyung Kiu juga tidak tahan, ia menuding Siau hi-ji sambil berkata dengan suara gemetar, "Kau... kau..." belum lanjut ucapannya, tanpa ampun ia jatuh pingsan.


Walaupun tidak tahu seluk-beluk terkurungnya Siau hi-ji di gudang es oleh Buyung Kiu itu, tapi melihat tubuh Siau hi-ji penuh ular dan Buyung Kiu semaput saking ketakutan, mau tak mau Siau sian-li pun ngeri, ia menjerit satu kali, lalu putar tubuh dan lari tanpa menoleh lagi.


Hanya sekejap saja bayangan Siau sian-li sudah menghilang, bukan lantaran nyalinya kecil, soalnya kejadian ini teramat luar biasa dan sukar dipercaya, siapa pun pasti akan pecah nyalinya.


Siau hi-ji bergelak tertawa, katanya, "O, ularku sayang, selanjutnya tak peduli akan membikin celaka diriku atau tidak, yang jelas aku harus berterima kasih padamu. Sedikitnya sudah dua kali kalian telah menyelamatkan jiwaku."


Yang paling bingung dengan sendirinya Thi Sim-lan, seperti orang linglung ia keluar dari tempat sembunyinya, ia pandang Siau hi-ji dengan terbelalak heran, akhirnya ia tanya, "Apa yang terjadi?"


"Apa yang terjadi, kau sendiri kan sudah menyaksikan," jawab Siau hi-ji dengan tertawa.


"Tapi ... tapi bilakah engkau dicelakai Buyung Kiu? katanya kau mati kelelap dan menjadi setan rendaman segala, sungguh aku... aku tidak mengerti."


"Anak perempuan memang lebih baik tidak mengerti, semakin banyak mengerti, semakin banyak pula kesukaranmu, cukup asalkan kau tahu aku masih mempunyai satu-dua jurus simpanan saja."


Thi Sim-lan termenung sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, "Kau memang mempunyai kepandaian simpanan, Buyung Kiu ternyata dapat kau gertak hingga kelengar, Siau sian-li kena ditakuti olehmu hingga lari terbirit-birit. Kejadian ini kalau diceritakan kepada orang lain, mustahil orang mau percaya."


Siau hi-ji memandang Buyung Kiu yang menggeletak tak sadarkan diri itu, katanya kemudian, "Menurut pendapatmu, cara bagaimana harus kukerjai dia?"


Thi Sim-lan berpikir sejenak, lalu menjawab, "Biarkan dia terbaring pingsan di sini, kita tinggal pergi saja."


Tapi setelah melihat air muka Siau hi-ji tiada tanda-tanda setuju, segera ia menyambung pula, "Atau... atau kau ringkus dia dengan rotan, bila dia siuman, pukul dia beberapa kali untuk melampiaskan dendammu."


"Hm, kebijaksanaan perempuan, pikiran perempuan," jengek Siau hi-ji.


"Memangnya hukuman sekeras ini belum cukup?"


"Sudah tentu tidak cukup."


"Masakah akan... akan kau bunuh dia?"


"Jika tidak kubunuh dia, memangnya harus kutunggu dia yang membunuh aku?"