Legendary Siblings

Legendary Siblings
79. Paman Cilik



"Huh, kalau saja kau tidak keluar bersama aku, seumpama kau dijagal orang juga tidak tahu siapa penjagalnya," tiba-tiba si kambing menjengek.


Si sapi mendelik, teriaknya, "Apa artinya ucapanmu?"


"Kau percaya penuh bahwa bocah ini adalah adik cilik Li-locianpwe?" kata si kambing. "Hm, melihat usianya, biarpun dia menjadi putra Li-locianpwe juga masih kurang umur."


Si sapi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya, "Tapi... tapi apa yang dikatakannya kan betul juga?"


"Tol*l," omel si kambing. "Apa yang diucapkan adalah bersumber pada kata-katamu sendiri. Coba pikir, kalau benar dia saudara Li-locianpwe, mengapa dia berada di Buyung-san-ceng ini?


"Bisa... bisa jadi dia dikurung di sini oleh budak Buyung itu," ujar si sapi.


"Huh," jengek si kambing, "untuk apakah kedua ruangan ini, masakah kau tak dapat membedakannya? Budak Buyung itu juga bukan orang gila, mana mungkin dia mengurung orang di kamar rahasianya tempat meracik obat dan tempat menyimpan pusaka. Kalau bocah ini bisa berada di sini, maka di mana tempat penyimpanan benda mestika keluarga Buyung pasti dia tahu, makanya tadi kubilang mestikanya ialah dia ini."


Kembali si sapi garuk-garuk kepala, katanya sambil memandang Siau hi-ji, "Buset, tadi aku malah berusaha membela dirimu, tak tahunya kau ini penipu cilik celaka!"


"Hm, gobl*k!" damprat Siau hi-ji. "Memangnya tempat ini pasti tempat penyimpan benda mestika? Kalau tidak digunakan sebagai tempat penyimpanan mestika apakah tidak boleh digunakan untuk mengurung orang? Budak Buyung itu kan bukan orang gila, kalau ruangan ini banyak benda mestikanya, kenapa dia rendam dengan air sepenuh ini?"


"Benar, tepat!" seru si sapi sambil berkeplok.


"Umpamakan tanganku ini, selain dapat digunakan mencolek pipi si cantik, kan juga dapat digunakan untuk menempeleng orang. Ruangan tempat penyimpan mestika kenapa tidak boleh dipakai untuk mengurung orang?"


"Dan usiamu selisih tak banyak dengan Li Toa-jui, tapi dia adalah angkatan tua kalian, sebaliknya usiaku walaupun selisih rada banyak dengan dia, mengapa aku tidak boleh menjadi saudaranya?" kata Siau hi-ji pula.


Kembali si sapi menggaruk-garuk kepala, katanya sambil memandang si kambing, "Iya, betul juga ucapannya. Bukankah adik perempuan Liong-toako kita juga baru berumur belasan?!"


"Di dunia ini kalau ada orang tua kena diakali anak kecil, maka orang itu ialah kau ini," jengek si kambing. "Bagiku, hm, kecuali dia..."


"Eh, coba kau kemari, ingin kuperlihatkan sesuatu padamu," tiba-tiba Siau hi-ji memanggilnya.


Semula si kambing ragu-ragu, tapi akhirya ingin tahu barang apa yang ditawarkan anak muda itu, segera ia melangkah ke sana.


Saat itu Siau hi-ji masih berbaring di lantai dengan basah kuyup, baru saja si kambing sampai di depannya, mendadak tubuh anak muda itu melejit dan sekaligus melancarkan empat kali pukulan dan tiga kali tendangan.


Empat pukulan dan tiga tendangan itu dilontarkan sekaligus dalam sekejap, di dunia ini hanya Li Toa-jui saja yang mahir gerak serangan aneh itu. Soalnya gerak serangan demikian kedengarannya memang lihai, tapi sebenarnya kurang tepat dan kurang manjur.


Bayangkan saja, orang baik-baik mana mungkin berkelahi dengan orang sambil berbaring kecuali dia sengaja pura-pura sakit atau berlagak mati dan harus menyergap lawan secara tiba-tiba.


Tapi di dunia ini selain manusia macam Li Toa-jui yang lahirnya tampak jujur, tapi hatinya jahat dan keji, rasanya orang lain pun tiada yang sudi memeras otak menciptakan jurus serangan yang aneh ini.


Jadi gerak serangan istimewa ini boleh dikatakan ilmu silat khas Li Toa-jui, usaha tunggal, tidak membuka cabang, tulen, tak mungkin ditiru.


Begitulah dalam keadaan terkejut karena diserang secara mendadak, ya pukulan, ya tendangan, seketika si kambing meloncat kaget setengah mati, lebih mirip loncatan kelinci menghindari terkaman anjing liar daripada loncatan kambing takut diterkam harimau.


Untung Siau hi-ji dalam keadaan lemah lunglai, kalau tidak tentu dia sudah menjadi bangkai kambing.


"Nah, sekarang kau percaya tidak?" tanya Siau hi-ji dengan tertawa sambil bangun duduk.


"Dan kau bagaimana bandot tua?" tanya Siau hi-ji kepada si kambing.


Sinar mata si kambing tampak gemerdip, dia mendongak, katanya dengan perlahan, "Apakah baik-baik saja hidup Li-locianpwe di lembah sana?"


"Orang baik tidak panjang umur, tapi beliau jelas takkan mati," kata Siau hi-ji.


"Penghuni lembah sana semuanya panjang umur, dengan sendirinya Li-locianpwe lebih suka menikmati kebahagiaan hidup di sana daripada keluar tersiksa di dunia luar," kata si kambing dengan tersenyum licik.


"Sebenarnya dia memang tidak ingin keluar lagi," kata Siau hi-ji dengan tertawa.


Si kambing melengak dan menukas, "Dan se... sekarang ?"


"Sekarang, bukan saja Li-toako, bahkan, Toh-toako, Im-toako, To-toasoh dan lain-lain...Hehe, jika mereka tidak keluar, masakah aku berani keluyuran sendirian."


Seketika air muka kambing berubah, katanya tergagap, "Tapi... tapi mereka..."


"Mereka sudah sebal mendekam sekian tahun di sana, sudah berhasil pula meyakinkan ilmu silat yang jarang terdapat di dunia Kangouw, jika kau menjadi mereka, kau ingin keluar tidak?" tanya Siau hi-ji.


"Ya, ya, saudara... O, Cianpwe, apakah tahu kini mereka berada..." Meski si kambing bicara dengan tertunduk, tapi sinar matanya tampak berjelilatan, jelas tidak mengandung pikiran baik.


Sudah tentu Siau hi-ji dapat meraba jalan pikiran orang, dengan tersenyum ia menjawab, "Tingkah laku mereka itu selamanya sukar diterka dan sulit diduga, aku pun tidak tahu di mana jejak mereka sekarang."


Tampaknya si kambing diam-diam menghela napas lega. Tapi Siau hi-ji lantas menambahkan, "Akan tetapi, bisa jadi saat ini juga mereka berada di belakangmu di luar tahumu."


Kembali si kambing terkesiap, ingin menoleh untuk melihat belakang, tapi tidak berani.


Dalam pada itu si sapi lantas berseru dengan tertawa gembira, "Ahaa, bila Li-toasiok benar-benar datang, maka beruntunglah kita, beberapa budak keluarga Buyung itu tidak perlu kita takuti lagi betapa pun lihainya mereka."


"Jadi mereka telah lolos?" tanya Siau hi-ji dengan tak acuh.


Si sapi menghela napas, katanya, "Kedatangan kami ini meski atas ajakan si ular hijau, tapi sesungguhnya kami juga sudah lama mengincar Buyung-san-ceng ini."


"Ya, obat mujarab dan benda mestika keluarga Buyung memang membuat orang mengiler," kata Siau hi-ji dengan tertawa.


"Cuma sayang budak Buyung itu benar-benar setan cerdik, entah dari mana dia mengetahui akan kedatangan kami secara besar-besaran, sebelum kami tiba dia sudah kabur lebih dulu," ucap si sapi dengan menyengir.


"Kabur?" Siau hi-ji menegas dengan terkejut.


"Bukan saja orangnya kabur, bahkan segala benda yang bernilai juga dibawa seluruhnya, bahkan pintu juga tidak terkunci, hanya tertinggal secarik kertas yang tertempel di depan pintu, bunyinya, 'Mati bagi yang berani masuk'. Hm, kentut busuk belaka," demikian ucap si sapi dengan gemas.


"Benar, pada hakikatnya lebih busuk daripada kentut," tukas Siau hi-ji. Kini ia sudah dapat menerka apa sebab kepergian Buyung Kiu-moay.


Bahwa Siau sian-li dan Thi Sim-lan sama mengira Siau hi-ji sudah kabur, dengan sendirinya mereka buru-buru ingin pergi mencarinya.


Buyung Kiu tahu biarpun di mulut kedua nona itu bicara garang terhadap Siau hi-ji, tapi di dalam hati sebenarnya lunak, maka dengan sendirinya ia tidak mau memberitahukan tentang terkurungnya Siau hi-ji, bahkan dia sengaja mengiringi Siau sian-li dan Thi Sim-lan pergi mencari si anak muda...