
Dari jauh Siau hi-ji memandangi adegan itu, wajahnya menampilkan cahaya yang bersemangat, sinar matanya juga gemerlap, betapa hebat dan besar pemandangan luar biasa itu, betapa megah dan besarnya alam semesta ini.
Dari maghrib hingga menjelang gelap malam, untuk sekian lamanya Siau hi-ji berdiri termangu mangu, hati dan pikirannya mendadak seperti terbuka dan banyak bertambah lapang.
Setelah rombongan ternak jauh berlalu, dari kejauhan terdengar kumandang suara seperti nyanyian merdu, tinggi dan nyaring suara lantunan itu, namun Siau hi-ji tidak paham apa yang dilantunkan itu. Ia hanya dengar awal dari lagu yang dilantunkan itu berbunyi “Allah...” dan entah apalagi seterusnya.
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa arti “Allah” adalah Tuhan menurut kepercayaan kaum muslimin, suku bangsa Hwe di daerah Tibet dan Jinghay.
Siau hi-ji terus menuju ke arah datangnya suara itu. Entah berapa lama dia berlari-lari, akhirnya tertampak beberapa buah kemah warna putih menghiasi padang rumput nan luas itu.
Bintik-bintik sinar lampu tampaknya begitu kecil berbanding kelip cahaya bintang-bintang di langit, namun penuh mengandung puitis.
Langkah Siau hi-ji bertambah cepat menuju ke sana. Di depan kemah ada api unggun, tampak gadis-gadis suku Tibet sedang bernyanyi dan menari. Pakaian mereka beraneka warna menarik, jubah panjang dengan lengan baju yang longgar, rambut halus mereka dikepang menjadi kuncir-kuncir panjang bergelantungan di pundak.
Perawakan gadis-gadis Tibet itu kecil mungil, badan penuh dihiasi batu manikam warna-warni, kepala mereka pun mengenakan kopiah kecil berwarna mencolok.
Terkesima Siau hi-ji melihatnya, dengan setengah linglung ia melangkah maju, mendekati mereka.
Melihat kedatangan Siau hi-ji, gadis-gadis Tibet itu sama berhenti menyanyi serta merubunginya, ada yang tertawa nyekikik, ada yang meraba-raba bajunya, banyak pula yang bicara dalam bahasa yang tidak diketahui apa artinya.
Pada dasarnya gadis Tibet memang kekanak-kanakan, simpatik dan lugu. Tanpa terasa Siau hi-ji lantas bertanya dengan tersenyum, “Apa yang kalian ucapkan?”
“Kami bicara bahasa Tibet, apakah kau... bangsa Han?” tiba-tiba seorang gadis menanggapinya. Gadis ini berkucir paling panjang, bermata paling besar, tertawanya paling manis.
Mata Siau hi-ji berkedip, jawabnya, “Mungkin begitulah.”
Para gadis Tibet itu kembali tertawa nyekikik ramai. Gadis bermata jeli tadi berkata pula, “Siapa namamu?”
“Siau hi-ji ... O, bukan, aku she Kang, namaku Hi.”
“Hihi, namamu Hi (ikan)?” gadis mata jeli menegas. “Konon lezat sekali ikan yang hidup di sungai itu, sayang aku tidak pernah merasakannya.” Lalu dengan bahasa setempat ia menguraikan kembali apa yang dikatakannya kepada kawan-kawannya sehingga gadis-gadis itu pun mengikik tawa.
“Selain engkau, apakah mereka tidak dapat bicara?” tanya Siau hi-ji.
“Bisa,” sahut si mata jeli, “cuma mereka tidak dapat bicara bahasa Han.”
“Mengapa mereka tak bisa dan kau sendiri fasih?” tanya Siau hi-ji pula.
“Sebab ayahku juga bangsa Han,” jawab si mata jeli dengan membusungkan dada, sambil tersenyum bangga. “Di sini, akulah paling fasih berbahasa Han. Sebab itulah aku diminta menjadi juru bahasa mereka untuk menghadapi orang-orang Han yang akan datang ke sini untuk berdagang.”
“Selain cantik kau pun sangat cekatan,” ujar Siau hi-ji tertawa.
Wajah si mata jeli menjadi merah, tampaknya menjadi lebih cantik di bawah cahaya api unggun, katanya sambil tersenyum, “Ai, adik cilik ini sungguh pintar bicara. Eh, apakah engkau bukan rombongan pedagang-pedagang itu? Mengapa engkau tiba lebih dulu, sedangkan mereka...”
“Aku datang sendirian,” sela Siau hi-ji.
Mata si mata jeli semakin terbelalak lebar, serunya, “He, engkau datang sendirian? Engkau... sungguh pemberani.”
Siau hi-ji hanya tertawa, tanyanya kemudian, “Kau bernama siapa?”
“Namaku menurut artinya dalam bahasa Han adalah Tho-hoa (bunga Tho). Sebab menurut mereka, katanya wajahku... wajahku mirip bunga Tho.”
Tho-hoa terkikik-kikik gembira, jawabnya, “Walaupun belum pernah kumakan ikan yang hidup di sungai, tapi kuyakin ikan itu pasti tidak semanis mulutmu.”
Sementara itu dari dalam kemah telah keluar beberapa lelaki, semuanya terbelalak memandangi Siau hi-ji. Perawakan mereka tidak tinggi besar, tapi cukup kekar.
“Sudahlah aku hendak berangkat,” kata Siau hi-ji kemudian.
“Jangan takut, meski mereka tampaknya melotot, tapi tidak bermaksud jahat,” ujar Tho-hoa.
“Aku tidak takut, aku hanya ingin berangkat,” kata Siau hi-ji dengan tertawa.
“Jangan pergi dulu,” mata jeli Tho-hoa mengerling sambil menggigit bibir. “Besok... besok pagi akan datang sejumlah orang Han seperti dirimu, suasana di sini akan menjadi ramai dan menarik.”
“Sejumlah orang Han... padahal sepanjang jalan sama sekali tiada kulihat siapa-siapa.”
“Betul, aku tidak berdusta,” kata Tho-hoa.
“Lantas malam ini...”
“Malam ini kau boleh tidur di kemahku, akan kutemanimu mengobrol,” kata Tho-hoa dengan menunduk tertawa.
Dia sedikit lebih tinggi dari pada Siau hi-ji, kuncirnya tertiup angin sehingga mengusap muka Siau hi-ji, sinar matanya gemerlap laksana kelip bintang-bintang di langit.
Begitulah malam itu Siau hi-ji lantas menumpang di kemah si Tho-hoa. Cukup hangat berada di dalam kemah, hangat lagi berbau harum susu biri-biri.
Siau hi-ji menanggalkan bajunya. Kembali mata Tho-hoa bercahaya. Perlahan dia merabai bekas luka yang memenuhi tubuh Siau hi-ji itu, katanya dengan suara lembut, “Sungguh kasihan, adik cilik, mengapa engkau terluka sedemikian rupa? Cuma aneh, tubuhmu yang penuh luka ini tampaknya tidak menjadi jelek, sebaliknya malah menyenangkan.”
“Meski aku terluka, tapi serigala dan harimau yang melukai aku itu sudah mati semuanya,” kata Siau hi-ji dengan tertawa.
“Kau... engkau pernah membunuh harimau?” Tho-hoa terbelalak heran.
“Ya, tidak banyak, cuma empat-lima ekor,” jawab Siau hi-ji.
Tho-hoa memandangnya dengan terkesima dan tanpa bergerak hingga sekian lamanya.
“Kau tidak percaya?” tanya Siau hi-ji.
“Percaya! Masakah aku tidak percaya pada ucapanmu?”
“Mengapa kau percaya pada ucapanku?”
Tho-hoa melengak, tapi lantas menjawab dengan tersenyum, “Sebab engkau adalah adikku. Sekali melihatmu, segera aku ingin engkau menjadi adikku.”
“Bukanlah sesuatu yang baik memiliki adik seperti diriku ini,” ujar Siau hi-ji dengan tertawa.
Malam ini Siau hi-ji tidur dengan sangat nyenyak dan marem. Esoknya ketika dia bangun, Tho-hoa sudah tidak ada, tapi tertinggal sebotol susu kambing di samping bantalnya.
Setelah minum susu dan mengenakan pakaian, Siau hi-ji keluar kemah. Segera dilihatnya belasan meter di sebelah sana sudah bertambah sebuah kemah besar dan dikerumuni orang banyak.
Dari jauh Siau hi-ji melihat Tho-hoa berdiri di tengah serombongan orang Tibet dan orang-orang Han, nona itu sedang tertawa manis dan bicara ke sana ke sini seperti burung berkicau.