
“Hehe, kutahu nyalimu tidak kecil, tak tahunya mulutmu juga cukup tajam,” ujar si kera dengan menyeringai. “Yang harus disayangkan adalah kedudukanmu sebagai Congpiauthau yang kau capai dengan susah payah ini, jika kau harus mati begitu saja apakah kau tidak penasaran?”
“Kedatanganku ini bukan untuk mengadu lidah denganmu,” bentak Sim Gin-hong ketus.
“Memangnya kau ingin berkelahi?” tanya Kim-goan-sing, si kera emas.
“Benar,” jawab Sim Gin-hong. “Kalau orang she Sim ini menang, kuharap kalian membatalkan niat mengincar barang kawalanku...”
“Kalau kalah?” sela Kim-goan-sing. “Akan kau serahkan barang kawalanmu?”
“Hahaha!” Sim Gin-hong tertawa. “Partai barang yang kalian incar itu sudah diantar ke tempat tujuan oleh wakilku Song Tek-yang, kedatanganku ini hanya sekadar memenuhi janji saja.”
“O, begitukah?” Kim-goan-sing menegas.
Tiba-tiba ia memanggil Hek-kau-sing, si anj*ng hitam, yang segera menyerahkan sebuah kotak kecil.
Waktu kotak itu dibuka, dengan suara dingin Kim-goan-sing berkata, “Silahkan Sim-congpiauthau memeriksa apa isi peti ini!”
Waktu Sim Gin-hong melongok sekejap ke dalam peti yang disodorkan itu, seketika ia kaget, mukanya menjadi pucat.
Ternyata isi peti itu adalah kepala Song Tek-yang yang disebut sebagai wakilnya tadi.
“Kalian… kalian telah...” Sim Gin-hong tidak sanggup lagi menyambung ucapannya.
“Hehehe!” Kim-goan-sing terkekek-kekek. “Jika Cap-ji-she-shio mudah ditipu orang, tentu orang Kangouw juga takkan kepala pusing bila terbentur kami. Bicara terus terang, harta benda kawalan kalian itu sudah jatuh di tangan kami. Kedatangan kami ini hanya ingin mencabut nyawamu!”
Habis ini ia memberi tanda kepada begundalnya dan berseru, “Maju semua!”
Sekali ia bersuit, mendadak kera bulu emas itu melompat ke udara terus menubruk ke arah Sim Gin-hong, jarinya secepat kilat mencolok kedua mata musuh.
Sedangkan anj*ng gembala yang besar tadi terus mengaum dan menubruk Lui Siau-hou.
Tidak kepalang kaget Lui Siau-hou, cepat ia mengelak. Tak terduga gerakan anj*ng besar itu sangat gesit, sekali tubruk luput, segera memutar balik dan menerjang lagi.
Sekali ini Lui Siau-hou tidak mampu menghindar, ia tertubruk jatuh, dilihatnya sebaris gigi putih tajam menerkam ke tenggorokannya.
Dengan mati-matian Lui Siau-hou menahan dagu anj*ng, terjadilah pergulatan maut antara manusia dan anj*ng itu, anj*ngnya mengaum buas, Lui Siau-hou juga mengerang murka seperti binatang.
Di sebelah lain Sim Gin-hong juga sudah balas menyerang beberapa kali, tapi si kera bulu emas ternyata sangat gesit, jarinya senantiasa mengincar kedua biji mata lawannya.
“Hehehe! Tak kusangka para jago kawal Sam wan-piaukiok juga kewalahan menghadapi dua ekor binatang saja,” jengek Kin-goan-sing.
Belum lenyap suaranya, mendadak terlihat Sim Gin-hong meraba pinggangnya, seutas cambuk panjang terbuat dari untiran perak lantas menyabet, kontan kera bulu emas tadi dipaksa melompat mundur.
“Lari ke mana?!” bentak Sim Gin-hong.
Berpuluh-puluh bintik perak seketika berhamburan, sebagian menuju kera bulu emas itu, tapi sebagian besar menyerang anjing gembala tadi untuk menolong Lui-lotoa.
Betapa pun cerdik dan gesitnya, kera tetap binatang, mana mampu menghindari sambitan senjata rahasia maut dari pimpinan besar gabungan tiga Piaukiok termasyhur itu.
Kontan kera bulu emas itu menguik dan roboh binasa. Tapi pada saat lain Kim-goan-sing dan Hek-kau-sing, si binatang lambang kera dan lambang anj*ng hitam beserta anak buahnya juga lantas menubruk tiba.
Dalam keadaan demikian biarpun Sim Gin-hong memiliki tiga kepala dan enam tangan juga sukar menahan serbuan tujuh-delapan musuh sekaligus.
Cepat Sim Gin-hong menjatuhkan diri sambil menggelinding ke samping, cambuknya berputar untuk membela diri, namun pihak musuh sudah di atas angin, mana dia mampu lolos lagi.
Di sebelah sana anj*ng raksasa tadi juga berhasil menggigit tenggorokan Lui Siau-hou yang berdekatan dengan pundak, tapi Lui Siau-hou tetap bertahan mati-matian, ia pun balas menggigit tenggorokan anj*ng herder yang ganas itu, seketika darah berceceran, satu orang dan seekor anjing sama bergelimang dalam genangan darah.
Pada saat yang gawat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan menggelegar seseorang, begitu keras suara itu laksana bunyi geledek di tengah hari cerah, seorang mendadak melayang tiba laksana malaikat yang turun dari langit.
Tertampaklah seorang laki-laki tinggi besar dengan rambut semrawut, sorot matanya tajam beringas dengan penuh rasa sedih dan murka cukup membuat orang merasa ngeri, apalagi sikapnya yang kereng itu.
Yang aneh adalah di punggung lelaki kekar itu ternyata menggendong seorang bayi.
Dengan berlumuran darah Sim Gin-hong berteriak kegirangan, “Yan-tayhiap datang!”
“Apakah Yan Lam-thian?!” tanya Kim-goan-sing jeri.
“Cap-ji-she-shio, saat kematian kalian sudah tiba kini!” bentak Yan Lam-thian.
“Selamanya Cap-ji-she-shio tiada permusuhan apa pun denganmu, mengapa engkau...” belum habis Kim-goan-sing bicara serentak Yan Lam-thian sudah menerjang tiba.
Salah seorang kawanan 'anj*ng hitam', yaitu yang berseragam hitam ketat tadi yang pertama diterjangnya, sebisanya anj*ng hitam memapak dengan hantaman kedua tangannya.
“Blang-blang” dua kali, dengan tepat hantamannya mengenai dada Yan Lam-thian, tapi sedikit pun Yan Lam-thian tak bergeming, sebaliknya tulang pergelangan tangan orang itu patah mentah-mentah, belum lagi dia sempat menjerit atau dadanya sudah kena dicengkeram Yan Lam-thian.
Dalam keadaan kepepet sebisanya Hek-kau-sing itu berusaha melawan, sebelah kakinya hendak menendang. Tendangan ini sungguh lihai, sasarannya bagian s*langkangan.
Namun sekali gentak Yan Lam-thian membuat Hek-kau-sing kehilangan keseimbangan badan, menyusul kakinya yang terangkat itu terpegang pula terus dibetot.
Kontan darah berhamburan, tubuh Hek-kau-sing itu terbeset menjadi dua.
Kawanan 'anj*ng hitam' yang lain menjadi murka dan kaget, berbareng mereka menerjang maju dengan meraung kalap.
Sebenarnya ilmu silat beberapa orang itu masing-masing tidak tinggi, tapi enam orang mengerubut sekaligus menjadi repot juga untuk melayaninya.
Namun Yan Lam-thian laksana harimau menerjang di tengah gerombolan domba saja, kedua potong mayat yang dibesetnya tadi digunakan sebagai senjata sehingga terjadilah hujan darah.
“Krek, bluk”, kembali tiga orang seragam hitam dirobohkan pula.
Seorang lagi menjadi nekat dan menerjang mati-matian. Tapi sekali sabet, kembali Yan Lam- thian membuat lawannya tergeletak dengan tulang iga remuk seluruhnya. Seorang lain lagi menjadi ketakutan dan berusaha kabur.
Namun di tengah gelak tertawanya Yan Lam-thian, setengah mayat yang dipegangnya itu terus disambitkan, “bluk”, dengan tepat punggung orang yang sedang kabur itu tertumbuk, orang itu masih sempat lari beberapa langkah lagi ke depan, habis itu setengah badan atas lantas roboh ke belakang dan kakinya masih melangkah ke depan, kiranya tulang punggung orang itu tertumbuk patah, akhirnya roboh binasa.
Sisa lagi seorang terakhir melihat Yan Lam-thian rada meleng, mendadak ia menubruk ke belakangnya, sasarannya adalah bayi yang digendong Yan Lam-thian, kalau bayi dapat direbut tentu dapat pula digunakan sebagai sandera.
Tak tersangka punggung Yan Lam-thian seperti bermata juga, mendadak ia membentak, “Berdiri!”
Seketika orang itu berdiri mematung karena gertakan itu, sedangkan sisa setengah potong mayat yang dipegang Yan Lam-thian lantas mengepruk kepalanya.
Di tengah berhamburnya darah dan daging, orang itu sudah telanjur ketakutan sehingga lupa untuk menghindar, ia terpantek mentah-mentah di tempat berdirinya sehingga tubuhnya seakan-akan mengkeret separo.
Sim Gin-hong sampai merinding menyaksikan semua kejadian itu.
Kim-goan-sing yang biasanya membunuh orang tak terhitung lagi banyaknya kini juga melenggong oleh kelihaian Yan Lam-thian.
“Apakah masih perlu ku turun tangan padamu?!” bentak Yan Lam-thian.
“Mengapa.. mengapa engkau memusuhi ka...” Kim-goan-sing ingin penjelasan.
“Mengapa? Hm, apakah kalian tidak tahu hubungan persaudaraan antara diriku dengan Kang Hong?” bentak Yan Lam-thian dengan murka.
“O, jadi kawanku si b*bi dan...” Kim-goan-sing tergegap jeri.
.