
“Walaupun cukup banyak orang yang kubunuh, namun selama beberapa tahun ini orang yang kuselamatkan juga tidak sedikit,” jawab Ban Jun-liu dengan nada dingin.
“Waktu mula-mula kau datang ke sini, jika orang she Ban tidak berada di sini, mungkin engkau pun takkan hidup sampai sekarang.”
Meski mata Im Kiu-yu sudah merah karena gusarnya, tapi mulutnya menjadi bungkam dan tak dapat bicara, soalnya dahulu waktu dia kabur ke Ok-jin-kok sini memang dalam keadaan terluka parah dan berkat Ban Jun-liu jiwanya dapat diselamatkan.
Jadi bagi Ok jin-kok sekarang Ban Jun-liu memang sangat dibutuhkan, betapa pun tidak boleh kehilangan tabib sakti ini.
Maka cepat Ha-ha-ji menyela dengan tertawa, “Jika tabib sakti Ban sudah memastikan demikian, tentu takkan salah lagi. Maka tentang kalah menang kita juga sukar ditentukan, sebaiknya kita beramai-ramai membereskan Yan Lam-thian saja.”
“Nanti dulu,” seru Ban Jun-liu. “Justru kuingin mohon kalian sudi menahan jiwanya.”
“Kau ingin... menolong dia?” tanya Im Kiu-yu dengan gusar.
Ban Jun-liu tenang-tenang saja, katanya perlahan, “Orang terluka separah ini dan tidak mati, sungguh selama hidupku belum pernah kulihat. Orang yang sudah sekarat begini toh tiada gunanya bagi kalian, sebaliknya sangat berguna bagiku.”
“Apa gunanya? Memangnya kau pun ingin makan dia?” tanya Li Toa-jui.
“Luka cacat di tubuh orang ini sedikitnya dua-tiga puluh tempat, akan sangat berguna bagiku untuk mencoba khasiat obat-obatan yang kubuat,” tutur Ban Jun-liu. “Apabila percobaanku nanti berhasil, kukira akan sangat bermanfaat juga bagi kalian.”
“Walaupun berguna bagimu, tapi setelah percobaanmu berhasil, bukankah kau pun akan menyelamatkan jiwa Yan Lam-thian,” jengek Im Kiu-yu. “Dan setelah lukanya sembuh, kukira akan tiba waktunya kamu harus menolong kami.”
Ban Jun-liu menjawabnya dengan hambar saja, “Sekalipun jiwa orang ini dapat tertolong, keadaannya nanti pasti juga akan cacat atau menjadi orang linglung, bila kalian ingin cabut nyawanya setiap saat masih dapat turun tangan, kenapa mesti terburu-buru dilakukan sekarang?”
Im Kiu-yu mendengus sekali, lalu tidak buka suara pula.
Sejak tadi Suma Yan juga tidak bicara, dia hanya pandang Ha-ha-ji, sedangkan Ha-ha-ji juga memandang To Kiau-kiau.
Akhirnya si bukan lelaki bukan perempuan itu berkata dengan tertawa, “Baiklah, apa yang dikatakan tabib Ban Jun-liu kita turuti saja.”
“Tidak, aku tidak terima,” teriak Li Toa-jui. “Sudah jelas keparat ini akan menjadi santapanku yang lezat, maka aku tidak...”
“Orang mati di sini kan sudah cukup banyak, daging mereka juga masih segar, betapa pun sudah cukup untuk memenuhi seleramu, kenapa kamu berkeras ingin makan dia?” kata Ha-ha-ji.
“Sudah kukatakan tadi bahwa daging orang ternama rasanya lebih lezat, sepuluh orang biasa juga tak dapat dibandingkan dengan Yan Lam-thian,” seru Li Toa-jui dengan gusar. “Maka, siapa di antara kalian berani merampasnya, lebih dulu hendaklah melangkahi mayatku.”
Ha-ha-ji hanya angkat pundak dan tidak menanggapinya, ia hanya pandangi To Kiau-kiau, tapi To Kiau-kiau juga angkat pundak, katanya dengan tertawa sambil memandang Ban Jun-liu, “Nah, tabib Ban, aku pun tak berdaya, jangan salahkan aku.”
Dengan dingin Ban Jun-liu berkata, “Luka orang ini ada tiga puluhan tempat, maka sedikitnya dapat dibuat percobaan tiga puluh macam obatku, di antara ketiga puluh macam obat itu bisa jadi salah satunya kelak akan dapat menyelamatkan jiwa kalian.”
“Ya, menurut pendapatku, jiwa kita rasanya lebih penting daripada santapan bagi Li-heng,” tiba-tiba Suma Yan membuka mulut.
“Persetan!” bentak Li Toa-jui gusar. “Kamu terhitung kutu nomor berapa, kau berani ikut bicara?”
Suma Yan tidak menjadi marah, dengan tersenyum ia menanggapi, “Menurut pandanganku, kesempatan paling banyak yang memerlukan obat hasil percobaan tabib Ban kelak mungkin adalah Li-heng sendiri.”
Sebenarnya Li Toa-jui hampir mengumbar murkanya, mendadak ia merandek demi mendengar ucapan terakhir Suma Yan itu, setelah mengerling sekeliling, ia merasa sorot mata semua orang sama menatap tajam ke arahnya.
“Nah, menunggu apalagi, tabib Ban?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Dari kepala sampai kakinya, Yan Lam-thian kini adalah milikmu seluruhnya.”
Sedikit pun tidak nampak rasa girang dari wajah Ban Jun-liu, katanya dengan hambar, “Terima kasih!” Lalu ia mengeluarkan beberapa biji pil dan dijejalkan ke mulut Yan Lam-thian.
Lambat laun ludah Yan Lam-thian dapat meluluhkan beberapa pil itu, kemudian mengalir masuk tenggorokannya dengan perlahan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tangisan anak bayi. Kontan Li Toa-jui berteriak girang, “Aha, betul, masih ada anak itu!”
“Bagaimana?” tanya Ha-ha-ji sambil memandang Im Kiu-yu.
“Bunuh!” ucap si setengah manusia setengah setan itu dengan singkat.
“Tampaknya Li-heng kita sedang menunggu makan enak,” ujar Ha-ha-ji.
“Daging anak bayi juga lumayan, cuma porsinya terlalu kecil, tak bisa kenyang,” seru Li Toa-jui dengan tertawa gembira. Habis itu segera ia hendak lari ke sana.
“Nanti dulu!” mendadak To Kiau-kiau berteriak.
“Ada apalagi?” tanya Li Toa-jui dengan kurang senang.
“Anak itu pun tak boleh dibunuh!” kata To Kiau-kiau.
Li Toa-jui menjadi gusar, teriaknya, “Kamu si banci ini selalu mengacau dan memusuhi aku.”
“Ya, sekali ini kukira To kecil yang salah,” ujar Ha-ha-ji dengan tertawa. “Kalau anak itu dibiarkan hidup, kelak juga akan menjadi bibit bencana bagi kita. Kukira lebih baik dibiarkan menjadi isi perut Li-heng saja sekarang. Babat rumput harus sampai akar-akarnya dan segalanya menjadi beres.”
To Kiau-kiau tidak menanggapinya, sebaliknya ia malah bertanya, “Coba, ingin kudengar dulu jawaban kalian. Kita ini terkenal sebagai top orang jahat di dunia ini, tapi sesungguhnya siapakah orang yang paling keji, paling ganas, paling culas, paling kejam, apakah kalian tahu?”
“Sudah jelas diketahui, tapi sengaja kamu cari-cari dan mengajukan pertanyaan yang tak keruan juntrungannya itu, apa maksudmu sebenarnya?” teriak Li Toa-jui dengan gusar.
“Anggaplah iseng-iseng kutanya dan anggaplah iseng-iseng kalian menjawab,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Kujamin setelah kau jawab pertanyaanku umpamanya, secuil pun daging anak itu takkan berkurang.”
“Hm!” jengek Li Toa-jui, saking mendongkol ia terus menyingkir ke pojok sana.
Segera Ha-ha-ji menanggapi, “Haha, bicara orang yang paling jahat di dunia, dengan sendirinya harus diakui ialah si To kecil kita.”
“Ah, engkau terlalu memuji diriku,” sahut To Kiau-kiau dengan tertawa genit. “Sebenarnya...”
Belum lanjut ucapannya, dengan gusar Li Toa-jui lantas berteriak, “Huh, dia terhitung apa? Dia cuma mahir beberapa jurus mainan kaum banci, apakah itu dapat dianggap sebagai orang paling jahat di dunia ini? Hm, padahal daging manusia pun dia tidak berani makan!”
“Haha, jika begitu, Li-henglah orang paling jahat di dunia,” ujar Ha-ha-ji dengan ngakak.
“Dia bilang aku bukan orang paling jahat, aku setuju sepenuhnya,” tukas To Kiau-kiau. “Tapi kalau berani makan beberapa kati daging manusia lantas dianggap paling jahat di dunia ini, hah, ini tak dapat kuterima. Dahulu aku pun pernah melihat seorang kusir pedati juga berani makan daging manusia.”
“Habis kalau menurut pendapatmu, siapa orang paling jahat di dunia ini?” teriak Li Toa-jui dengan gusar.