
Tanpa terasa Liu Giok-ju bergidik dan merapatkan tubuhnya ke dada Tio Coan-hay. Diam-diam ia menghitung, peti mati itu seluruhnya ada tiga belas buah.
Karena berada paling belakang, ketika Siau hi-ji sampai di tempat, sementara itu obor yang dibawa Tio Coan-hay dan Pang Thian-ih sudah padam.
Di tengah ruangan batu yang luas itu hanya terlihat kelap-kelip sepasang lilin kecil yang menyala di meja sembahyang pada peti mati paling tengah, cahaya lilin yang redup itu menyinari sebuah Lengpay (papan pengenal orang mati di meja sembahyang) yang bertuliskan: "Tempat abu para Cosu turun temurun".
Di atas tulisan itu lamat-lamat ada pula dua huruf, tapi tertutup oleh kelambu hiasan sehingga tidak jelas terbaca.
Diam-diam Siau hi-ji menarik napas dingin, katanya, "Tempat apakah ini?"
"Ditaksir dari tempatnya, di sini adalah tengah-tengah belakang gunung Go-bi," demikian Khu Jing-po berkata, "Konon di belakang Go-bi-san ada suatu tempat terlarang, yaitu tempat pemakaman para ketua Go-bi-pay turun temurun. Jangan-jangan tempat inilah tempat terlarang yang dimaksud itu?"
Ui-keh Taysu mengernyitkan kening, katanya, "Jika betul tempat ini, lebih baik kita lekas keluar saja!"
"Benar, salah memasuki tempat larangan orang lain adalah pantangan besar kaum persilatan kita," ucap Siau-hun Kisu.
Sinar mata Ong It-jiau tampak gemerlap, selanya, "Jika demikian, silakan kalian lekas keluar saja."
Ui-keh Taysu tampak ragu-ragu, sejenak kemudian ia jadi putar tubuh hendak keluar.
"Nanti dulu, Taysu" tiba-tiba Pang Thian-ih berseru, "Janganlah kita kena tipu orang."
"Tipu? Tertipu bagaimana?" tanya Ui-keh Taysu.
"Coba pikirkan, adakah tempat penyimpanan harta pusaka di dunia ini yang lebih baik daripada peti mati?" tanya Pang Thian-ih.
Tergerak juga hati Ui-keh Taysu, serentak Siau-hun Kisu dan Ong It-jiau terus menyerbu ke samping peti mati paling tengah itu.
Tak terduga pada saat. itu juga, dinding batu sekeliling ruangan itu serentak terbuka delapan buah pintu, delapan jalur cahaya lampu yang kuat terus menyorot tiba sehingga semua orang yang hadir di situ terlihat jelas.
Karena sorot lampu yang mendadak itu, seketika semua mematung tak berani bergerak, bahkan mata pun silau dan sukar terpentang.
Samar-samar cuma kelihatan di balik sinar lampu sana banyak bayangan orang serta berkelebatnya sinar pedang, tapi tak jelas siapa-siapa mereka itu.
Suara seorang yang berat parau lantas berjangkit di balik cahaya lampu itu, "Kawanan bangs*t dari mana, berani sembarangan menerobos ke tempat suci kami?"
Menyusul seorang lagi membentak dengan bengis, "Menerobos ke tempat suci yang terlarang, hukumannya mati, buat apa tanya asal-usul mereka?!"
Suara orang terakhir ini diucapkan dengan perlahan-lahan, tapi menimbulkan semacam pengaruh yang membikin jeri orang.
Segera Ui-keh Taysu berseru, "Apakah di situ Sin-sik Totiang adanya?"
Orang tadi hanya mendengus saja.
Lalu Ui-keh Taysu berkata pula, "Apakah Totiang sudah lupa kepada Ui-keh Taysu dari Ngo tay-san?"
"Di tempat suci ini tidak ada persoalan kenalan lama segala. Ciaat!" jawab suara itu dan begitu suara "ciaat" diucapkan, serentak berpuluh larik sinar pedang menyambar dari balik cahaya lampu sana dan secepat kilat menyerang Ui-keh Taysu, Ong It-jiau dan lain-lain, semuanya mengincar tempat mematikan seperti tenggorokan dan sebagainya.
Siau hi-ji juga menjadi sasaran serangan, dia tidak berani berkelit walaupun sinar pedang musuh menyambar tiba.
Maklumlah, dia tidak berani sembarangan bergerak khawatir digigit ular.
Namun pedang musuh tidak kenal ampun dan tetap menyambar ke arahnya. Dalam keadaan kepepet, saking cemasnya ia berbalik menengadah dan bergelak tertawa.
Ular memenuhi tubuh seorang anak tanggung, bentuknya yang luar biasa ini tentu saja mengagetkan semua orang.
Tanpa terasa dua pedang yang menusuk ke arahnya terhenti seketika.
Maka tertampaklah dua bayangan orang, kiranya dua Tojin berjubah ungu dan berjenggot.
Tojin sebelah kiri lantas membentak, "He, kau bocah ini menertawakan apa?"
"Aku mentertawai Go-bi-pay kalian yang sok anggap pihak sendiri paling hebat, tak tahunya kalian hanya kawanan manusia linglung yang tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk," kata Siau hi-ji. "Coba jawab, seumpama betul kami melanggar tempat suci kalian yang dilarang didatangi orang luar, tapi cara bagaimana kalian mendapat tahu akan kedatangan kami ini?"
Tojin itu mendengus, jawabnya, "Memangnya kau kira Go-bi-san adalah tempat yang boleh didatangi orang sesukanya? Ada orang menyusup ke belakang gunung masakah Go-bi-pay kami tidak tahu?"
"Jika kedatangan kami ini kepergok secara mendadak, maka penjagaan kalian yang ketat ini harus dipuji. Tapi jelas kalian memang sudah siap siaga di sini, memangnya Go-bi-pay kalian mempunyai ilmu nujum yang bisa tahu apa yang bakal terjadi di sini?"
"Soal ini bukan urusanmu," bentak Tojin itu dengan bengis.
"Sudah tentu urusanku," kata Siau hi-ji. "Soalnya sebelum kedatangan kami tentu ada orang memberi laporan rahasia kepada pihak kalian, betul tidak? Hm, apakah kalian tidak perlu berpikir mendalam dari mana orang itu mengetahui akan kedatangan kami ini?"
"Betul," teriak Tio Coan-hay dari kejauhan sana, "Semua itu adalah perangkap yang sengaja diatur oleh orang itu agar pihak kalian saling labrak dengan kami..."
Belum habis ucapannya, mendadak ia menjerit, rupanya karena sedikit meleng saja ia telah dilukai oleh orang Go-bi-pay.
"Perangkap apa? Mana ada perangkap apa segala?" ujar si Tojin tadi sambil mengeryitkan kening.
Siau hi-ji berteriak, "Asalkan kalian berhenti menyerang, segera dapat kubongkar perangkap ini..."
Tapi seorang lantas berseru, "Jangan percaya ocehannya, setan cilik itu sengaja main ulur waktu belaka."
"Betul, bekuk dia dulu baru bicara lagi nanti!" Tojin tadi pun membentak.
Siau hi-ji menyadari bila pihak lawan mulai turun tangan, maka jangan harap dirinya dapat lolos.
Diam-diam ia menyesal tadi tidak membersihkan kawanan ular itu dengan makanan ular dalam kotak itu, tapi sengaja membiarkan kawanan ular itu untuk menggertak orang segala, kini jadinya bikin susah dirinya sendiri.
Dalam keadaan kepepet, mendadak ia membentak, berbareng ketiga kotak kecil yang dipegangnya itu disambitkan ke arah kedua Tojin di depannya.
Tapi sekali pedang mereka bekerja, kontan ketiga kotak itu terbelah menjadi enam. Obat bius, obat penawar bisa dan makanan ular jatuh berhamburan. Dengan sendirinya daya serangan pedang kedua Tojin itu rada merandek, tapi dalam sekejap saja mereka lantas menubruk maju pula.
Diam-diam Siau hi-ji mengeluh dan gegetun, katanya sambil menyeringai, "Di waktu ingin mencelakai orang berbalik lupa akan kemungkinan membikin susah dirinya sendiri..."
Belum lagi pedang lawan menyambar tiba, sekonyong-konyong terdengar suara mendesing belasan kali, begitu keras dan cepat suara mendesing itu, hanya sekejap saja api lilin yang redup serta cahaya lampu yang terang tadi sama padam seluruhnya.
Selagi Siau hi-ji terkejut, tiba-tiba sebuah tangan telah memegangi tangannya disertai suara bisikan di telinganya, "Ssst, jangan bersuara, ikutlah padaku!"
Siau hi-ji merasa tangan itu dingin bagai es, tapi terasa pula licin dan lunak sekali, bahkan suara itu pun lembut tak terperikan dan rasanya sudah sangat dikenalnya.
Tanpa terasa timbul semacam rasa hangat dalam hatinya, dengan suara lirih ia pun bertanya, "Kau Thi Sim-lan?"
"Ehm," jawab singkat suara itu dengan lirih.
Sambil ikut berjalan dengan nona itu, tanpa terasa ia menghela napas gegetun dan berkata, "Baru sekarang kutahu kepandaianmu menggunakan Amgi (senjata rahasia) ternyata selihai ini, hanya sekejap saja dapat memadamkan belasan lampu, sungguh jauh lebih mahir daripadaku."