Legendary Siblings

Legendary Siblings
95. Beda Sudut Pandang



"Tapi kalau engkau membunuhnya sekarang, bukankah kurang gemilang?"


"Gemilang? Hm, waktu dia hendak membunuh aku juga tak pernah terpikir olehnya cara gemilang segala," jengek Siau hi-ji.


"Tapi ... tapi apa pun dia adalah perempuan!"


"Memangnya kalau perempuan bukan manusia?Perempuan harus diberi hak istimewa?"


Thi Sim-lan membanting-banting kaki dan berkata, "Sungguh tak kuduga engkau sedemikian... sedemikian kejam. Aku... aku..."


"Kalau kau tidak ingin menyaksikannya, silakan menyingkir pergi," kata Siau hi-ji.


Dengan mendongkol Thi Sim-lan membanting kaki pula, lalu berlari pergi.


Siau hi-ji tidak menggubrisnya lagi, ia melototi Buyung Kiu dan bergumam, "Kau perempuan yang berhati keji ini, kalau tidak membunuhmu berarti aku berdosa kepada diriku sendiri."


Setelah merandek sejenak, lalu ia menjengek pula, "Hm, kebetulan dapat kugunakan ular berbisa, ingin kulihat ular berbisa lebih jahat atau dirimu yang lebih beracun."


Habis itu ia lantas pegang tangan Buyung Kiu dan disodorkan kepada ular yang melilit di lengannya.


Saat itu rembulan sedang memancarkan sinarnya yang terang, wajah Buyung Kiu tertampak jelas, raut mukanya yang kekurus-kurusan potongan daun sirih tampak sangat pucat, bulu matanya yang panjang melengkung, kelopak matanya yang terpejam, walaupun dalam keadaan pingsan, tapi kelihatan sangat mempesona dan menimbulkan rasa kasihan.


Tangannya juga sangat halus dan lemas, tangan sebagus ini hendak disodorkan agar dipagut ular, siapa pula yang berhati setega itu?


Tangan Siau hi-ji terasa sangat lemas, tapi bila teringat nona itu pernah mengurungnya di kamar batu hingga dirinya hampir mati kelaparan dan kedinginan, tanpa terasa api amarahnya berkobar pula.


Segera ia menjengek, "Hm, apa pun juga kau tak dapat menyesali diriku, kalau kau tidak bermaksud membunuhku, tentu aku pun takkan membunuhmu.."


Tiba-tiba seorang menanggapinya dengan suara kalem, "Membunuh seorang anak perempuan dengan cara begitu, apakah tidak mengurangi nilai dirimu sebagai seorang lelaki?"


Siau hi-ji melonjak kaget dan membentak, "Siapa itu?"


Baru saja ia bersuara, tahu-tahu di depannya sudah bertambah satu orang, yaitu Bu koat Kongcu yang sopan santun itu, di belakangnya berdiri pula tiga orang, yang dua berpakaian putih mulus, seorang lagi adalah Thi Sim-lan.


Ketiga nona itu sedang memandang Siau hi-ji dengan melotot seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat.


Dalam hati Siau hi-ji entah betapa rasa gusarnya, tapi lahirnya dia tetap tertawa saja, ia masih memegangi tangan Buyung Kiu dan berkata dengan tersenyum, "Maksudmu aku tidak boleh membunuhnya?"


Dengan suara ramah Hoa Bu-koat menjawab, "Seorang lelaki adalah layak rada ramah-tamah terhadap anak perempuan, seumpama dia pernah berbuat sesuatu yang tidak baik padamu juga kau harus mengalah mengingat dia adalah perempuan."


"Hahaha, sungguh Hoa kongcu yang berbudi halus dan pintar menyelami perasaan orang," seru Siau hi-ji sambil terbahak-bahak. "Di dunia ini terdapat lelaki seperti engkau, sungguh bahagialah kaum wanita.


Seharusnya perempuan di seluruh dunia ini harus bersatu dan memberikan medali emas kepadamu."


"Ah, masakah begitu?" sahut Hoa Bu-koat dengan tersenyum.


Tapi Siau hi-ji lantas menambahkan pula, "Dan kalau kau hendak dibunuh orang perempuan, lalu bagaimana sikapmu, apakah kau akan memejamkan mata membiarkan dirimu terbunuh? Masakah kau tidak melawannya sama sekali?"


"Jika aku berbuat sesuatu yang salah padanya, andaikan dibunuhnya juga aku tidak menyesal," jawab Hoa Bu-koat dengan kalem.


"Tapi bila si perempuan yang berbuat sesuatu kesalahan padamu, kau membunuhnya tidak?"


"Betapa pun lelaki harus mengalah sedikit kepada orang perempuan."


"Hah, jalan pikiranmu ini entah kau belajar dari mana? Kalau menurut dirimu, jadi semua lelaki di dunia pantas mampus, semuanya harus terjun ke laut."


Siau hi-ji melotot dongkol, ia menjadi bingung apakah Hoa Bu-koat ini orang pintar atau bodoh atau pura-pura bodoh.


Dengan tersenyum simpul Hoa Bu-koat memandang Siau hi-ji, tidak mengunjuk gusar dan juga tidak cemas, kalau saja dia memang lemah lembut begitu tentu sejak tadi Siau hi-ji sudah ayun tangan mengamparnya.


Celakanya Siau hi-ji tidak berani bertindak demikian, soalnya ilmu silat Hoa Bu-koat benar-benar teramat tinggi baginya.


Terpaksa Siau hi-ji hanya menghela napas dan berkata pula, "Jadi maksudmu supaya aku membebaskan dia?"


"Ya, jika saudara membebaskan dia baru sesuai dengan perbuatan seorang ksatria sejati," ucap Hoa Bu-koat.


"Sekarang kubebaskan dia, kalau kelak dia membunuh diriku, lalu bagaimana?"


"Urusan yang belum terjadi kan sukar diramal oleh siapa pun, betul tidak?"


"Baik, kalau kubunuh dia berarti bukan perbuatan seorang lelaki atau ksatria sejati, sebaliknya kalau dia hendak membunuhku adalah tindakan yang jamak, perbuatan yang adil, jika kuterbunuh juga pantas, begitu bukan?"


"Bukan begitulah maksudku," jawab Hoa Bu-koat dengan tersenyum, "hanya saja..."


"Aku tidak pedulikan apa maksudmu, yang jelas sekarang aku tidak mampu menandingimu, andaikan kau kentut juga harus kudengarkan. Tapi bila kelak kau tak dapat menandingi aku, di hadapanmu nanti akan sengaja kubunuh beberapa perempuan."


Habis itu Siau hi-ji lantas mencampakkan tangan Buyung Kiu dan menambahkan pula, "Nah, anggaplah kau lebih lihai, bawalah dia pergi!"


Hoa Bu-koat juga tidak gusar oleh ejekan itu, dia tetap tersenyum dan berkata, "Terima kasihlah kalau begitu."


Dalam pada itu si nona muka bulat berbaju putih tadi lantas memburu maju dan memondong Buyung Kiu.


Jengeknya dengan melotot kepada Siau hi-ji, "Kalau saja Kongcu tidak hadir di sini, tentu sejak tadi sudah kubunuhmu agar kau tahu lihainya kaum perempuan."


"Hm, silakan saja sesukamu," dengus Siau hi-ji, "Mau membunuh atau ingin memaki boleh silakan saja sebab kau adalah perempuan dan perempuan memang dilahirkan untuk memaki lelaki. Betul tidak, Hoa kongcu?"


Hoa Bu-koat tertawa, jawabnya, "Lelaki yang dimaki perempuan terhitung orang yang bahagia. Ada sementara lelaki, jangankan didekati anak perempuan, memakinya saja si perempuan tidak sudi."


"Hahaha, jika begitu, jadi aku ini sungguh berbahagia, kelak aku pun perlu mencari beberapa orang perempuan untuk membikin bahagia padamu."


"Jika betul, kelak Cayhe akan pasang telinga dan mendengarkan dengan hormat," ujar Hoa Bu-koat dengan tersenyum.


Mata Siau hi-ji jadi mendelik, hampir saja dadanya meledak saking dongkolnya.


Maklumlah, kedua anak muda ini sejak kecil hidup di dunianya sendiri-sendiri.


Yang satu dibesarkan di Ih hoa-kiong, suatu tempat yang tiada terdapat orang lelaki, seluruh penghuni


Ih hoa-kiong seratus persen adalah perempuan, sejak kecil di bawah pengaruh orang perempuan, setiap saat hanya perempuan yang dilihatnya dan dididik pula oleh orang perempuan.


Sebaliknya yang seorang dibesarkan di suatu lembah yang terdiri dari lelaki melulu, total jenderal cuma ada seorang "setengah perempuan" saja.


Kalau kaum lelaki berkumpul, maka dapatlah dibayangkan bagaimana pandangan mereka terhadap orang perempuan.


Sebab itulah jalan pikiran kedua anak muda ini sama sekali berbeda, watak dan tabiatnya dengan sendirinya juga tidak sama.


Jadinya kedua anak muda itu memang pasangan yang berlawanan.


Dalam pada itu Ho loh juga telah menarik tangan Thi Sim-lan dan berkata, "Marilah nona, kau pun ikut pergi bersama kami."