Legendary Siblings

Legendary Siblings
4. Wanita cantik yang cacat



“Baiklah kukatakan padamu,” tutur Hek-biankun.


“Soalnya aku sudah menyanggupi permintaan seseorang, dia minta aku bertindak jangan sampai membiarkan kalian mati bersama.”


“Siapa... siapakah dia?” tanya Kang Hong.


“Hehehe, boleh kau renungkan sendiri saja,” ujar Hek-bian-kun dengan tertawa.


Pada saat itulah si baju kuning, dan si dada ayam, mendadak melompat maju dengan wajah yang kaku tanpa emosi itu.


“Babat rumput harus sampai akar-akarnya, anak haram mereka juga tidak boleh dibiarkan hidup.”


“Ya, benar!” tukas Hek-bian-kun.


Tanpa bicara lagi si baju kuning lantas angkat golok terus membacok jabang bayi yang tertinggal di dalam kereta.


Kang Hong meraung kalap, tapi istrinya hanya melenggong, bersuara pun tidak sanggup.


Keduanya sama-sama tak bisa berkutik. Syukurlah pada detik yang menentukan itu, sewaktu golok itu menyambar ke bawah, tiba-tiba terdengar suara “krek” sekali, tahu-tahu golok itu patah menjadi dua.


Tidak kepalang kaget si baju kuning, cepat ia melompat mundur dan membentak, “Sia... siapa?”


Padahal selain begundalnya serta kedua orang yang sedang sekarat di tanah itu tiada terlihat bayangan seorang pun.


Tapi mengapa goloknya yang tergembleng dari baja murni itu bisa patah tanpa sebab?


“Apa-apaan ini?” tanya si jengger dengan penasaran.


“Sialan!.Mungkin ada s*tan!” ujar si baju kuning.


Cepat ia melompat maju, golok buntungnya segera membacok si bayi.


Tak terduga kembali terdengar “krek”, golok yang sudah buntung itu patah menjadi dua pula.


Padahal disaksikan oleh beberapa pasang mata, namun tiada seorang pun mengetahui cara bagaimana golok itu dipatahkan.


Pucat air muka si baju kuning, katanya dengan suara gemetar, “Set*n, benar-benar ada s*tan!”


Hek-bian-kun berpikir sejenak, tiba-tiba berkata, “Biar kucoba!”


Ia jemput golok yang ditinggalkan Kang Hong tadi dan mendekati kereta, dengan menyeringai terus membacok, bacokan yang keras dan lebih cepat.


Tapi baru saja goloknya bergerak tahu-tahu pergelangan tangannya tergetar, meski goloknya tidak patah, tapi tergumpil dan jatuh.


“Memang benar ada serangan gelap orang!” ujar si jengger dengan waswas.


Kini Hek-biang-kun tidak sanggup tertawa lagi, katanya dengan keder, “Kita tidak dapat melihat senjata rahasianya, bentuknya tentu sangat lembut, orang ini mampu mematahkan golok dengan sambitan senjata rahasia lembut... wah, betapa hebat gerak tangannya dan betapa lihai Lwekangnya.”


“Di dunia ini mana ada orang selihai ini?” ujar si baju kuning “Wah, jangan jangan… jangan-jangan dia” tanpa terasa ia bergidik dan tidak sanggup melanjutkan.


Kang Hong yang sedang sekarat pun melongo kaget, gumamnya, “Ah, dia (perempuan) sudah datang... pasti dia yang datang....”


“Dia? Dia siapa?” tanya Hek-biang-kun. “Apakah... apakah Yan Lam-thian?”


“Yan Lam-thian?” tiba-tiba tukas suara seorang. “Hm, Yan Lam-thian terhitung kutu busuk macam apa?”


Nada suara itu sedemikian merdu, lincah dan kekanak-kanakan pula.


Sungguh mengejutkan di tempat sunyi dan jauh dari penduduk ini mendadak terdengar suara demikian.


Tanpa menengadah juga Kang Hong dan istrinya tahu siapa yang datang itu. Seketika air muka mereka berubah pucat.


Bahkan Hek-bian-kun dan begundalnya juga kaget dan cepat menoleh.


Ternyata di tengah remang-remang senja sunyi itu entah sejak kapan sudah berdiri di situ sesosok bayangan tubuh wanita yang ramping, padahal mereka tergolong jagoan kelas tinggi, namun sama sekali tidak mengetahui bilakah datangnya wanita itu.


Kalau didengar dari suaranya orang tentu menyangka pembicara ini adalah anak dara yang cantik lagi kekanak-kanakan.


Tapi yang berhadapan sekarang ternyata adalah seorang wanita yang sedikitnya berusia likuran, pakai baju bersulam model putri istana, gaun panjang menyentuh tanah, rambutnya terurai hingga bahu, senyumnya yang manis dengan kerlingan matanya yang hidup itu penuh mengandung kecerdasan yang sukar dilukiskan dan juga sifat kekanak-kanakannya yang sepantasnya tidak dimiliki wanita seusia dia.


Siapa pun juga, asal memandang sekejap saja padanya akan segera memaklumi dia pasti seorang berwatak yang sangat ruwet sehingga jangan harap akan dapat menyelami jalan pikirannya.


Tapi barang siapa yang telah memandangnya sekejap, tentu pula akan terpesona pada kecantikannya yang jarang ada bandingannya serta melahirkan rasa kasihan yang mengibakan.


Ternyata wanita yang mahacantik itu justru dilahirkan dalam keadaan cacat badaniah, cacat jasmani, lengan baju dan gaunnya yang panjang itu tidak dapat menyelubungi cacat pada tangan dan kaki kirinya itu.


“Apakah Ji-kiongcu (putri kedua) dari Ih-hoa-kiong?”


“O, kau kenal aku?” jawab si cantik berpakaian istana itu.


“Siapa di dunia ini yang tidak kenal akan kebesaran nama Lian-sing Kiongcu,” ujar Hek-bian-kun dengan menyengir.


“Manis juga mulutmu, pintar mengumpak,” kata si cantik alias Lian-sing Kiongcu. “Tampaknya kau toh tidak takut padaku.”


Lekas-lekas Hek-bian-kun munduk-munduk dan menjawab, “Ah, hamba... hamba...”


Dengan tertawa Lian-sing-Kiongcu berkata, “Sudah sebanyak ini kau berbuat kejahatan dan ternyata tidak takut padaku, sungguh ini suatu hal aneh. Apakah kau tidak tahu bahwa segera akan kucabut nyawa kalian?”


Air muka Hek-bian-kun berubah pucat, tapi sedapatnya ia bersikap tenang dan menanggapi, “Ah, Kiongcu suka bergurau.”


“Bergurau?” Lian-sing Kiongcu terkikik. “Kau telah menganiaya dayangku, kalau kubiarkan kau mati begitu saja sudah murah bagimu, masak kau sangka aku bergurau denganmu?”


Tanpa pikir Hek-bian-kun menjawab, “Tapi, tapi ini atas... atas perintah Kiau-goat Kiongcu….” Belum habis ucapannya, “plak-plok”, berturut-turut ia kena ditempeleng beberapa kali, mirip benar seperti dia menempeleng Kang Hong tadi, tapi tempelengan sekarang jauh lebih keras, kontan mulutnya penuh darah dan gigi pun rontok sebagian.


“Hm, masakah nama Ciciku boleh sembarangan kau sebut?” jengek Lian-sing Kiongcu dengan kereng, dia tetap berdiri di tempatnya tadi seperti tak pernah bergeser sedikit pun.


Si jengger ayam dan kawan-kawannya pucat dan ketakutan setengah mati. Dengan suara gemetar si jengger bermaksud memperkuat keterangan kawannya, ia berkata, “Me... memang betul Kiau….”


Belum lengkap ia menyebut nama Kiau-goat Kiongcu, tahu-tahu ia pun kena ditempeleng belasan kali sehingga tubuhnya yang kecil itu sampai mencelat.


“Aneh,” kata Lian-sing Kiongcu dengan tertawa, “tampaknya kalian tidak percaya jika kuhendak mencabut nyawa kalian?... ah....”


Di tengah keluhan menyesal itu sekonyong-konyong ia mengitari si baju kuning yang bertubuh jangkung itu satu kali, orang hanya melihat bayangan berkelebat dan entah cara bagaimana turun tangannya, tahu-tahu si baju kuning sudah roboh terkapar tanpa bersuara.


Salah seorang ekor ayam berbaju warna-warni belorok coba menjenguk kawannya itu, mendadak ia menjerit kaget, “Dia... dia sudah mati!”


“Nah, sekarang kalian mau percaya tidak?” ujar Lian-sing Kiongcu tertawa.


Si belorok tadi menjerit parau, “Engk... engkau kejam benar!”


“Hm, mati seorang saja kenapa mesti kaget dan heran?” ujar Lian-sing Kiongcu tertawa. “Memangnya orang yang pernah kalian bunuh belum cukup banyak? Kalau kalian mati sekarang kukira cukup setimpal!”


Rupanya mereka pikir daripada mati konyol akan lebih baik melawan sebisanya saja. Mendadak sorot mata si jengger ayam menjadi beringas, ia memberi tanda, bersama tiga pasang cakar ayam serentak menerjang ke arah Lian-sing Kiongcu.


Terdengarlah suara “trang-tring” diselingi jerit mengerikan berturut-turut, di tengah-tengah berkelebatnya bayangan sang putri yang lemah gemulai, tiga orang berbaju belorok sudah roboh dua, sisa seorang lagi cepat melompat mundur dan tangannya sudah kosong, ia berdiri melongo mematung.


Cara bagaimana lawan membinasakan kawan-kawannya dan cara bagaimana menghindarkan serangan mereka serta cara bagaimana merampas senjata mereka, semuanya tak diketahuinya sama sekali, dalam sekejap tadi ia seperti baru bermimpi buruk saja tanpa menyadari apa yang terjadi.


Ketika Lian-sing Kiongcu mengebaskan lengan bajunya, terdengarlah suara gemerinting, beberapa celurit bentuk taji tajam ayam itu jatuh berserakan di tanah, hanya sebilah celurit masih dipegangnya.


Setelah dipandangnya sekejap ia tertawa dan berkata, “Eh, kiranya inilah cakar ayamnya. Entah bagaimana rasanya?”


“Kletak”, mendadak mulutnya yang mungil itu mengertak celurit itu dan senjata buatan dari baja itu seketika tergigit patah mentah-mentah.


Melihat perempuan yang berusia baru likuran ini memiliki kesaktian sedemikian tinggi, bahkan setiap anggota tubuhnya seakan-akan memiliki kungfu yang sukar dibayangkan, keruan Hek-bian-kun dan Su-sin-khek, si **** dan si ayam jantan dari kawanan bandit Cap-ji-she-shio itu tidak berani berkutik lagi.


“Ai, cakar ayam ini tidak enak!” kata Lian-sing Kiongcu sambil menggeleng, “Brrr”, mendadak ia menyemprot perlahan celurit baja patah yang tergigit oleh mulutnya itu, ke mana sinar perak berkelebat, tahu-tahu si baju belorok yang masih tersisa itu pun menjerit ngeri sambil mendekap mukanya dan terguling-guling di tanah dengan darah merembes keluar dari sela-sela jarinya, habis berkelejetan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.


Tangan yang mendekap mukanya juga terbuka, remang-remang kelihatan mukanya beringas dan berlumuran darah, kiranya setengah potong celurit tadi telah menghancurkan tulang kepalanya.


Serentak Hek-bian-kun berlutut dan menjura, mohonnya dengan suara gemetar, “Ampun Kiongcu Ampun ....”


Tapi Lian-sing Kiongcu tidak menggubrisnya, sebaliknya ia malah tanya si baju merah alias jengger ayam, “Nah, bagaimana aku punya kungfu?”.


“Ter... terlalu hebat, selama... selama hidup hamba tidak pernah me... menyaksikan kungfu selihai ini, bahkan... bahkan mimpi pun hamba tak pernah membayangkan kungfu setinggi ini,” demikian jawab si jengger dengan tergegap-gegap.


“Dan kau takut atau tidak?” tanya sang Putri.


Sungguh mati, selama hidup si jengger ini tidak pernah ditanyai orang seperti anak kecil ini.


Akan tetapi sekarang tiada jalan lain baginya kecuali menjawab dengan munduk-munduk,..


.


.


.