
“Hahaha! Makanya lain kali bila kau masuk ke rumah itu, tak peduli apa yang kau lihat, baik anjing, serigala maupun harimau juga tidak soal, yang penting wajahmu harus selalu tersenyum simpul agar mereka mengira kau tak bermaksud jahat kepada mereka...”
“Dan sekali tikam dapatlah kubunuh dia,” sambung Siau hi ji.
“Tepat!” seru Ha ha ji sambil keplok dan tertawa. “Asalkan dia tidak berjaga-jaga dan memandang kau sebagai kawan, maka sekali tikam kau akan dapat membunuhnya. Teori ini meski sederhana, tapi sangat manjur, tanggung ces-pleng!”
“Dan selanjutnya aku pun takkan terluka pula,” tambah Siau hi ji.
“Betul, pada umumnya anjing, serigala ataupun manusia, rata-rata takkan membikin susah orang yang tak bermaksud jahat pada mereka, cukup asalkan kau tertawa saja, tiada hentinya tertawa, sampai pisaumu sudah bersarang di tubuh mereka juga tetap tertawa, sehingga mendekat ajal juga mereka tidak waspada padamu, dengan demikian kau pun takkan mengalami cedera apa-apa.”
“Tapi... tapi cara demikian kan kurang ksatria?”
“Hahaha! Anak bodoh, kalau dia toh akan membunuhmu, maka kau harus membunuh dia lebih dulu. Jika toh kau harus membunuh dia, cara bagaimana kau membereskan dia kan sama saja?”
“Aha, benar, pahamlah aku sekarang!” seru Siau hi ji dengan tertawa riang.
“Anak baik, hahaha, anak pintar!” Ha ha ji tergelak-gelak senang.
***
Benar juga, selanjutnya Siau hi ji tidak lagi terluka. Total jenderal dia sudah membunuh lima ekor anjing, empat ekor serigala, dua ekor kucing kuwuk dan seekor harimau kecil. Bekas luka di tubuhnya kalau dihitung sedikitnya ada tiga puluh garis.
Kini dia baru berumur enam tahun. Selama setahun terakhir ini Ok-jin-kok bertambah lagi empat penghuni.
Tapi Siau-hi-ji sama sekali tidak tertarik pada mereka, ia merasa dirinya sekarang sudah jauh lebih kuat (dalam hal berbuat busuk dan jahat) daripada mereka.
Lewat agak lama pula... Pada suatu hari mendadak ia tanya To Kiau-kiau, “Bibi To, orang lain sama bilang engkau adalah seorang mahapintar, sesungguhnya betul apa tidak?”
“Siapa yang bilang begitu?” To Kiau-kiau tertawa ngikik. “Tapi, apa yang dikatakan orang itu sungguh tepat.”
“Bukankah bibi mempunyai barang-barang yang beraneka macam dan aneh-aneh,” tanya Siau hi ji pula.
“Ai, kau setan kecil ini sedang merancang kejailan apa?” omel To Kiau-kiau dengan tertawa.
Mata Siau hi ji berkedip, katanya, “Jika kubantu melampiaskan rasa dongkolmu, apakah engkau sudi menghadiahkan sesuatu benda aneh-aneh itu padaku?”
“Melampiaskan rasa dongkolku apa maksudmu?”
“Kulihat engkau sering dibuat dongkol oleh paman Li dan engkau kelihatan tak berdaya padanya....”
“Hihi, apakah kau setan kecil ini sudah mempunyai cara baik untuk mengerjai dia?” tanya To Kiau-kiau dengan tercengang.
“Ehm!” Siau hi ji mengangguk.
“Cara apa yang telah kau reka? Kau minta hadiah apa?”
“Cukup asalkan bibi memberikanku semacam obat saja.”
“Obat? Untuk ini kau harus mencari Ban Jun-liu, mengapa malah minta padaku?”
“Obat demikian ini tidak dipunyai paman Ban, tapi bibi To punya.”
“Ai, setan kecil benar-benar membuat bingung padaku. Baik, obat apa, coba katakan.”
“Obat bau busuk, semakin busuk baunya makin baik,” jawab Siau hi ji dengan tertawa.
Sampai lama sekali To Kiau-kiau memandangi anak itu dengan heran, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, setan kecil, tahulah aku.”
“Engkau tahu?” Siau hi ji menegas dengan mata terbelalak lebar.
Wajah Siau hi ji menjadi merah, katanya dengan tertawa, “Bibi To memang pintar sekali.”
“Kau juga tidak bodoh,” ujar Kiau-kiau.
“Tapi kalau dibandingkan Bibi, wah ....”
“Siau hi ji,” kata Kiau-kiau dengan tertawa, “Coba bayangkan, saat ini berapa umurmu? Mana kala kau sudah mencapai seusia diriku, wah, tentu luar biasa... Ai, anak sayang, tidak percumalah rasa kasih sayangku padamu selama ini.”
Siau hi ji menunduk jengah, katanya kemudian, “Obat itu...”
“Sudah tentu tersedia obat yang kau inginkan,” kata to Kiau-kiau dengan tertawa, “Baunya kutanggung bisa bikin semaput orang.”
***
Dapat dipastikan selanjutnya Li Toa-jui tak berani lagi mengendus-endus seperti anjing pelacak di tubuh Siau hi ji. Sedikitnya ada dua jam dia muntah-muntah, paling tidak sehari semalam dia tak sanggup makan.
Besoknya dia pegang Siau hi ji dan ditanyai, “Siau hi busuk, apakah obat itu pemberian To Kiau-kiau?”
Siau hi ji hanya tertawa saja tanpa menjawab.
“Kau tidak takut kumakan dirimu?” damprat Li Toa-jui dengan gemas.
“Daging ikan busuk tidak enak dimakan,” sahut Siau hi ji mengikik.
“Baiklah, setan cilik,” omel Li Toa-jui sambil menyengir, “kamu takkan kumakan dan juga takkan kugebuk, tapi kau harus juga mengerjai To Kiau-kiau satu kali, untuk itu akan kuberikan sesuatu benda bagus padamu.”
“Betulkah?” Siau hi ji menegas.
“Tentu saja betul,” jawab Li Toa-jui.
Petangnya, Siau hi ji makan malam bersama To Kiau-kiau, di antara lauk-pauk ada semangkuk Ang-sio-bak (daging dimasak Ang-sio atau digoreng dan diberi saus). Dengan bersemangat Siau hi ji menyumpitkan Ang-sio-bak itu ke mangkuk To Kiau-kiau dan membujuknya makan lebih banyak.
“Inilah santapan kegemaran Bibi, maka Bibi harus makan sebanyaknya,” kata anak itu dengan tertawa.
“Pintar menjilat juga, setan cilik,” omel To Kiau-kiau dengan tertawa gembira.
“Bibi sangat baik padaku, dengan sendirinya aku pun ingin membalas Bibi dengan kebaikan,” ujar Siau hi ji.
Sambil makan dengan bernafsu, To Kiau-kiau bertanya, “Kau sendiri kenapa tidak makan?”
“Sayang bila kumakan, biarlah untuk Bibi saja,” ujar Siau hi ji.
“Anak bodoh, kenapa merasa sayang, ini kan bukan santapan istimewa segala,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.
Mata Siau-hi berkedip-kedip, katanya, “Tapi Ang-sio-bak ini makanan spesial.”
“Spesial bagaimana?” tanya Kiau-kiau.
“Ang-sio-bak ini khusus kuambil dari tempat paman Li, katanya...”
Belum selesai Siau hi ji berucap, wajah To Kiau-kiau sudah pucat dan bertanya, “Apakah ini.. kemarin yang disembelih itu...”
Riang gembira air muka Siau hi ji, jawabnya sambil mengangguk, “Ya, begitulah.”
“Kau... setan cilik...” belum habis To Kiau-kiau mengomel, serentak isi perutnya lantas berontak, “Uwaaaak”, kontan ia tumpah-tumpah.
Sedikitnya dua jam To Kiau-kiau muntah-muntah dan seharian penuh tiada nafsu makan lagi.