
"Tapi engkau ... engkau ...." Sim-lan tak sanggup melanjutkan pula.
"Apakah aku akan mati atau tetap hidup, bukan soal bagiku?" seru Siau hi-ji tegas. "Dia muda belia, memangnya dia mampu menyelamatkan kita, kalau dia menolong diriku, kan membikin dia serba susah?!"
Segera ia memayang bangun Thi Sim-lan, baru saja melangkah dua-tiga tindak, tiba-tiba terdengar si nona baju hijau tadi berteriak dengan nada ketus, "Berhenti!"
Tersembul senyuman penuh arti pada ujung mulut Siau hi-ji, tapi mulutnya sengaja berucap dengan keras, "Untuk apa berhenti? Kalau kumati di sini, bukankah akan bikin kotor jalan yang bersih ini." Dan tanpa menoleh ia masih terus melangkah ke depan.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu si nona baju hijau menghadang di depannya dan mengejek, "Hm, tak mungkin lagi kau mati... Tapi jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau sengaja memancing diriku, bahwa aku jadi menolong kau, soalnya agar supaya kau tahu bahwa di dunia ini tiada sesuatu persoalan yang tak dapat dikerjakan oleh kakak beradik Buyung."
"Hm, siapa yang memancingmu? Aku pun tidak memohon pertolonganmu," jengek Siau hi-ji.
"Akan mati atau tetap hidup adalah urusanku, orang lain tidak boleh ikut campur."
"Tapi aku sudah mau menolongmu, sekarang biar kau ingin mati juga tak dapat lagi," kata si nona baju hijau dengan hambar.
Siau hi-ji berkedip, katanya, "Nah, ingat, kau sendiri sukarela ingin menolong diriku, aku tak pernah memohon padamu, seumpama kau dapat menyelamatkan aku juga takkan berterima kasih padamu."
Si nona baju hijau tidak menjawab, ia terus melangkah ke arah tadi dan berkata, "Ikutlah padaku!"
Pada ujung jalan sana ternyata adalah sebuah gedung yang dibangun membelakangi bukit, tidak begitu luas pekarangannya, juga tidak begitu megah, tapi setiap sudut, setiap kamar dibangun dengan indah, dirancang dengan sempurna.
Bagian depan rumah itu adalah sebuah ruangan duduk dengan halaman kecil, walaupun tidak nampak seorang pelayan, tapi setiap jengkal tampak tersapu dengan bersih, resik tanpa debu sedikit pun.
Sampai di sini napas Siau hi-ji sudah terengah-engah seakan-akan jatuh, diam-diam si pemuda memayangnya dari belakang.
Siau hi-ji tersenyum terima kasih, katanya, "Terima kasih, siapa namamu?"
"Koh Jin-giok," sahut pemuda itu dengan muka merah.
"Engkau tidak she Buyung?" tanya Siau hi-ji.
"Tidak, aku piaute (adik misan) mereka," jawab pemuda itu dengan muka jengah.
"Boleh juga kau, cuma agak terlalu tulus sehingga lebih mirip anak perempuan, dikit-dikit muka merah," ujar Siau hi-ji dengan tertawa.
"Aku... aku..." Koh Jin-giok tergagap.
Kalau saja tubuhnya tidak tinggi besar, alis tebal dan mata besar, rasanya orang sukar percaya bahwa dia ini anak lelaki, Siau hi-ji pasti juga akan menyangka dia perempuan menyamar lelaki.
Si nona baju hijau yang dipanggil 'Kiukohnio' tadi terus bertindak ke depan, menyusuri ruangan dan serambi.
Rumah sebesar itu ternyata tiada terdengar suara manusia, apalagi bayangan.
Akhirnya nona itu sampai di depan sebuah paviliun yang terdiri dari dua-tiga kamar indah di tengah sebuah taman kecil, di sinilah dia berhenti, lalu berkata, "Masuk sana!" Habis berkata ia lantas membalik tubuh dan tinggal pergi.
"Si... silakan masuk, inilah tempat tinggalku," kata Koh Jin-giok.
Tertawa juga Thi Sim-lan, katanya, "Mungkin di sini hanya rumah ini yang ditinggali lelaki."
Koh Jin-giok terbelalak, jawabnya, "Memangnya belum kau dengar nama kesembilan kakak beradik (perempuan) dari keluarga Buyung?"
"He, apakah yang terkenal sebagai 'sembilan si cantik' di dunia Kangouw itu?" seru Thi Sim-lan tiba-tiba.
"Be... benar," sahut Koh Jin-giok dengan muka merah pula.
"Kau juga tahu diri mereka," kata Siau hi-ji. "Coba ceritakan apa kelihaian kesembilan kakak beradik?"
Thi Sim-lan menghela napas perlahan, tuturnya kemudian, "Kesembilan kakak beradik ini boleh dikatakan serba pandai, baik Ginkang (ilmu meringankan tubuh) maupun Amgi (senjata rahasia) hampir sukar ditandingi, apalagi mereka rata-rata juga mahir segala macam kepandaian putri, orang lain bisa mereka pun bisa, sebab itulah hampir setiap keluarga bangsawan dan orang ternama di dunia ini sama ingin memungut putri keluarga Buyung sebagai menantu."
Siau hi-ji berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, "Apakah mereka sudah menikah?"
"Konon kecuali adik kesembilan yang terkecil itu, delapan kakak beradik selebihnya menikah dengan keluarga persilatan terkenal atau ksatria muda yang disegani..."
"Haha, pantas mereka ditakuti orang Kangouw, soalnya mereka mempunyai backing suami yang serba lihai," kata Siau hi-ji pula dengan tertawa.
Kini air mukanya sudah bersemu biru, kata-katanya juga mulai kurang lancar, tapi dia masih tenang-tenang saja dan berkelakar malah.
Malahan dia menepuk pundak Koh Jin-giok dan berseru pula, "Hahaha, kata orang, dekat sungai mudah mengail, asalkan kau mengintil kencang-kencang di belakangnya, mustahil kau takkan berhasil. Caramu ini memang baik dan tepat, hahaha, sungguh cara yang tepat."
Muka Koh Jin-giok semakin merah, ia menunduk, sekilas ia melirik sekejap ke arah Thi Sim-lan, lalu berkata, "Ini adalah... adalah kehendak ibuku, aku... aku cuma..."
Di luar dugaan, mendadak Buyung Kiukohnio (nona Buyung kesembilan) melangkah masuk dan menjengeknya, "Hm, kehendak bibi katamu, jadi sebenarnya kau tidak sudi ke sini, begitu bukan?"
"Bu... bukan begitu maksudku," sahut Koh Jin-giok tergagap, ia menjadi malu dan ingin menyusup ke dalam bumi andaikan ada lubang.
"Hm, Koh-siauya (tuan muda Koh)," jengek Buyung Kiu pula, "Di sini tidak pernah mengundang dirimu, juga tidak pernah ada orang menahanmu di sini, sekalipun bibi memandangmu sebagai putra mestika, tapi orang lain tiada yang mengistimewakanmu."
Dia tidak pandang Koh Jin-giok lagi, "treng", ia lemparkan sebuah botol porselen kecil warna hitam ke atas meja di depan Siau hi-ji sambil berkata dengan nada dingin, "Separo diminum dan separo dibubuhkan bagian luar. Dalam tiga jam jiwamu akan direnggut balik dan boleh pergilah kau." Habis berkata ia terus tinggal pergi.
Siau hi-ji mengikik tawa, serunya, "Ingat, aku tidak pernah mohon pertolongan dan juga tidak minta kau menjadi biniku, kau tidak perlu bersikap segarang ini padaku, meski orang lain memandangmu sebagai mestika, tapi aku tidak merasakan sesuatu keistimewaan dirimu."
Mendadak Buyung Kiu membalik tubuh dan melototi anak muda itu. Namun Siau hi-ji tidak mengacuhkannya, dia membuka sumbat botol, setengah isi botol itu terus dituang ke dalam mulutnya.
Habis itu ia menjilat jilat bibir sambil berkecek-kecek, lalu berkata, "Mengapa obat ini berbau kecut seperti cuka?" Cepat pula obat itu dibubuhkan pada lukanya.
Betapa pun Siau hi-ji memang cerdik, biarpun di mulut ia berolok-olok, tapi obat itu dimanfaatkan dengan segera.
Buyung Kiu melotot gemas kepada anak muda itu, sorot matanya seakan-akan berapi, setelah mendelik sejenak, lalu berucap dengan sekata demi sekata, "Dengarkan, meski kau sudah kutolong, tapi dapat kubunuh kau sewaktu-waktu."
"Ah, kuyakin takkan terjadi, tampaknya kau galak, tapi hatimu cukup baik," ujar Siau hi-ji dengan tertawa sambil melelet lidah.
Entah mengapa, mendadak wajah Buyung Kiu yang pucat itu lantas bersemu merah, segera ia membentak dengan bengis, "Pergi kau sekarang, pergi, jangan kupergoki lagi untuk selanjutnya, kalau sampai kulihat kau lagi mungkin... mungkin akan kupotong lidahmu dan kucukil matamu, habis itu baru kubunuh dirimu."
Koh Jin-giok tampak melenggong khawatir, selamanya belum pernah dilihatnya Kiukohnio (nona kesemhilan) yang senantiasa bersikap dingin itu marah-marah begini, lebih-lebih tak pernah terdengar ucapannya segalak itu.