Legendary Siblings

Legendary Siblings
26. Tidak Berdaya



Sekonyong-konyong keadaan terang benderang, sinar lampu telah menyala, Ha-hi ji, Li Toa-jui, Im Kiu-yu dan Suma Yan sama memperlihatkan diri. Walau di bawah sinar yang terang, namun bentuk beberapa orang itu tidak bedanya dengan setan iblis yang jahat.


“Hahaha! Yan Lam-thian, tentunya tadi kamu menyangka benar-benar telah menemukan jejak kami bukan?” tanya Ha-ha-ji dengan tertawa. “Haha, padahal apa yang kau lihat tadi tidak lain adalah tipu daya kami memancing kedatanganmu.”


“Yan Lam-thian,” Li Toa-jui juga bicara dengan tertawa ejek, “tadi kamu mengira kami benar-benar takut padamu bukan? Hah, sesungguhnya kami tahu jiwamu toh tak akan lolos dari cengkeraman kami, buat apa kami harus bergebrak dan mengadu jiwa denganmu?”


Begitulah beberapa orang itu terus mengejek dengan gembira, suara tertawa mereka pun sambung menyambung.


Dongkol dan gemas rasa hati Yan Lam-thian, ia sengaja memejamkan mata, ia menyadari sekali ini dirinya pasti sukar lolos dari tangan keji mereka.


“Nah, apa yang kalian tunggu lagi ?” terdengar Im Kiu-yu berseru. “Memangnya mau menunggu dia membebaskan diri pula.”


“Betul, lekas kita turun tangan!” Li Toa-jui menambahkan.


“Biar aku saja yang membereskan dia, Haha!” seru Ha-ha-ji.


“Nanti dulu!” kata To Kiau-kiau. “Aku paling banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, adalah bagianku pula untuk membunuh dia.”


“Hm, kalau saja sejak tadi turut usulku, tentu saat ini dia sudah m*mpus dan tak perlu banyak mengeluarkan tenaga pula. Sekarang biar aku saja yang membereskan dia,” ujar Im Kiu-yu dengan suaranya yang mengambang.


“Tidak bisa,” bentak Li Toa ji, “kalian tidak mahir membunuh orang, jika kurang sempurna cara kalian memotong, tentu dagingnya akan kecut dan tidak enak dimakan. Maka lebih baik aku saja yang turun tangan.”


Begitulah beberapa orang itu ribut sendiri dari berebut ingin membunuh Yan Lam-thian. Bisa membinasakan Si Pedang Sakti Nomor Satu di Dunia dengan tangan sendiri, sudah tentu merupakan suatu karya yang dapat dibanggakan dan berjaya.


Ha-ha-ji memandang tubuh Yan Lam-thian yang tergeletak di lantai itu, mendadak ia tertawa dan berkata, “Kalian tidak perlu bertengkar, aku mempunyai suatu usul.”


“Apa usulmu?” tanya To Kiau-kiau.


“Haha, usulku ini selain tak akan mengganggu hubungan baik kita, bahkan sangat menarik,” ujar Ha-ha-ji.


“Kamu memang suka bicara secara bertele-tele, lekas katakan saja!” omel Im Kiu-yu.


“Begini,” tutur Ha-ha-ji, “Kalau kita membuat Yan-tayhiap mati dengan enak, rasanya kita terlalu menyia-nyiakan maksud baik kedatangan Yan-tayhiap ini. Maka usulku, kita harus menghormati Yan-tayhiap, biarkan dia merasakan enaknya orang akan mati secara pelan-pelan, dengan demikian juga tidak percumalah kita telah bersahabat dengan Yan-tayhiap selama ini.”


“Hihi, usul bagus juga,” ujar To Kiau-kiau sambil mengikik.


“Sebab itu, kita harus turun tangan secara bergiliran,” kata Ha-ha-ji pula, “cara turun tangan siapa paling keji, dia yang menang. Tapi siapa yang sekali turun tangan membuat Yan-tayhiap tutup usia, maka dia juga harus didenda.”


“Bagus, benar-benar usul bagus,” segera Im Kiu-yu menyatakan setuju. “Aku memang ingin dia merasakan aku punya ‘Im-hong-sau-hun jiu’ (tangan keji penyambar sukma), betapa enak rasanya kutanggung dia takkan lupa sampai penitisannya yang akan datang.”


“Kukira ‘Siau-hun-bi-jin-kang’ (ilmu si cantik merontokkan sukma, milikku ini, rasanya takkan kalah enak dengan kepandaianmu itu,” kata To Kiau-kiau.


“Hah, memangnya aku punya ‘Kwa-kut-to’ (golok pengerik tulang) kurang enak dibandingkan kepandaian kalian?” seru Li Toa-jui.


“Dan kita masih harus mengundang Toh-lotoa, dia punya ‘tangan berdarah pemburu sukma’ dan ilmu ‘kuras sumsum cuci otak’ kepunyaan Ha-ha-ji rasanya sukar dilupakan orang yang pernah menikmatinya,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.


“Hah, jika begitu, lalu siapakah yang turun tangan dahulu?” tanya Ha-ha-ji.


“Kamu yang mengusulkan, boleh kamu yang turun tangan lebih dulu”, kata To Kiau-kiau.


“Baik, hahaha!” seru Ha-ha-ji sambil tertawa gembira, berbareng sebelah tangannya terus meraba perlahan ke belakang kepala Yan Lam-thian.


Antara satu jam kemudian, malam semakin larut, suasana bertambah hening.


Yan Lam-thian yang biasanya gagah perkasa dan tangkas kuat itu sudah teraniaya sedemikian rupa boleh dikatakan sudah dalam keadaan sekarat.


“Haha, sudah enam kali kukerjai dia, kini giliran Li-heng lagi,” seru Ha-ha-ji.


“Sudahlah, aku tidak mau lagi,” kata Li Toa-jui.


“Haha, kamu tidak mau lagi, itu berarti kamu mengaku kalah,” kata Ha-ha-ji.


“Keadaannya sudah payah begini, sekalipun anak kecil kini juga mampu membereskan dia, kenapa kau suruh aku mengerjai dia lagi, menang juga tidak terhormat bagiku,” kata Li Toa-jui dengan marah.


“Ah, juga belum tentu,” ujar Im Kiu-yu.


“Belum tentu bagaimana? Memangnya kau mampu turun tangan lagi padanya tanpa membuatnya mati,” teriak Li Toa-jui.


“Apa sukarnya?” jengek Im Kiu-yu.


“Baik, jika begitu, coba saja,” teriak Li Toa-jui.


“Jika giliranku, tentu akan kukerjai dia lagi,” kata Im Kiu-yu.


“Hm, jelas belum sampai giliranmu, makanya kamu....” Li Toa-jui tambah gusar.


Tapi sebelum lanjut ucapannya, Ha-ha-ji cepat menyela,” Sudahlah, kalian tidak perlu bertengkar, paling betul kita datangkan saja si tabib sakti she Ban itu dan suruh dia memeriksanya serta menentukan apakah Yan Lam-thian ini sudah sekarat atau hampir ******.”


“Siapa pun yang didatangkan untuk memastikannya juga boleh,” jengek Im Kiu-yiu.


“Baik, aku akan mencari tabib itu,” kata Li Toa-jui.


Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa Ban Jun-liu. Perawakan orang yang berjuluk “Tabib Sakti” itu kurus kering tapi tangkas, sorot matanya tajam, namun mukanya yang kurus kering itu tiada mengunjuk sesuatu perasaan.


Agaknya sebelumnya Li Toa-jui sudah menguraikan maksud mengundangnya, maka setibanya Ban Jun-liu hanya mengangguk saja, lalu duduk di sisi Yan Lam-thian yang napasnya sudah kempas-kempis itu.


Setelah memandang sekian lamanya, dari kepala hingga kaki dipandangnya dengan teliti, mungkin itulah cara praktiknya memeriksa pasien, jarinya yang kecil itu, ternyata sama sekali tidak menyentuh kulit daging Yan Lam-thian.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Lia Toa-jui dengan tidak sabar.


Ban Jun-liu termenung sejenak, lalu menjawab, “Payah... Dari semua Keng-meh (urat nadi dan titik-titik saluran darah) yang berada di tubuhnya sudah tujuh-delapan bagian rusak, kalau saja dia masih hidup sampai saat ini boleh dikatakan suatu keajaiban dan kejadian maha aneh.”


“Nah bagaimana, betul tidak pendapatku tadi?” kata Li Toa-jui dengan tertawa bangga.


“Kukira dia keliru,” ujar Im Kiu-yu.


“Ilmu silatku memang jauh lebih rendah daripadamu, tapi dalam hal ilmu pertabiban aku cukup percaya pada diriku sendiri,” kata Ban Jun-liu.


“Percaya pada dirimu sendiri ? Haha, jika bukan lantaran ilmu pertabibanmu yang mahatinggi itu, masakah dalam sehari semalam saja kota Kay-hong kehilangan sembilan puluh tujuh penduduknya yang mati secara mendadak?” jengek Im Kiu-yu. “Coba jawab, siapakah yang mencelakai orang-orang itu? Memangnya kamu sudah lupa?”