Legendary Siblings

Legendary Siblings
74. Latihan



"Memangnya kau dapat masuk?" jengek si nona dan segera menyelinap ke balik pintu terus dirapatkan kembali, "klik", pintu dikunci pula sehingga Siau hi-ji tidak sempat melongok barang sekejap pun bagaimana keadaan di dalam sana.


Tapi anak muda itu pun tidak gelisah dan terburu-buru, dengan kemalas-malasan ia mengulet, lalu bergumam, "Perempuan, o, perempuan, penyakit kalian yang terbesar adalah menganggap lelaki di seluruh dunia ini tolol semuanya, kau kira aku tidak dapat membedakan obat mujarab atau obat racun yang terdapat di sini? Huh, ketahuilah bahwa sejak kecil aku dibesarkan di tengah onggokan obat-obatan, jenis obat-obatan yang kukenal jauh lebih banyak daripadamu."


Begitulah sembari menggrundel sendiri ia terus bongkar sana dan singkap sini, semua obat-obatan itu ditelitinya.


Katanya kemudian dengan tertawa, "Pantas dia menakut-nakuti aku, bahkan sudah belasan tahun paman Ban sukar mendapatkannya, tapi di sini tersedia empat-lima obat-obatan mestika itu. Ah, agaknya rezeki perutku tidaklah jelek."


Benar juga, segera ia memilih beberapa jenis di antara obat-obatan itu terus dilalapnya. Kalau saja Buyung Kiu-moay menyaksikan caranya Siau hi-ji menghabisi obatnya mungkin dia akan jatuh kelengar saking gemasnya.


Beberapa jenis obat-obatan yang jarang ditemukan itu sebenarnya juga belum pernah dilihat oleh Siau hi-ji, cuma Ban Jun-liu pernah melukiskannya agar dia kenal bentuknya.


Sudah berpuluh tahun Ban Jun-liu berusaha mencari obat-obatan itu dan tidak berhasil, dari sini dapatlah dibayangkan betapa tinggi nilai obat-obatan itu, kalau sudah diracik menjadi obat jadi, satu biji saja mungkin dapat menghidupkan orang yang sudah sekarat.


Tapi cara Siau hi-ji melalap obat-obatan mestika itu benar-benar seperti orang awam makan kacang goreng, sedikit pun tidak merasakan betapa tinggi nilai daripada benda yang sukar dicari itu, hanya sebentar saja beberapa raup obat-obatan itu sudah dimakannya habis.


Sambil meraba perutnya anak muda itu bergumam pula, "Perutku sayang, hari ini kau sungguh beruntung!"


Tiba-tiba ia celingkukan kian kemari, seleranya seperti belum terpenuhi seluruhnya, otaknya bekerja pula mengincar obat-obat jadi yang berada di bejana itu.


Segera ia membuka tutup bejana-bejana itu, isinya diperiksa dan dicium, lalu dicomotnya segenggam terus dimakan dengan lezatnya seperti makan kacang goreng.


Malahan sebagian ia jejalkan ke saku bajunya, setelah sakunya penuh, sisa obat jadi itu dicampur aduknya menjadi satu.


Habis itu dia melelet lidah dan mencibir sendiri, katanya dengan tertawa, "Karena kau terlalu iseng, maka sengaja kucarikan pekerjaan untukmu."


Sudah tentu perbuatannya ini benar-benar membikin susah Buyung Kiu-moay. Betapa tidak? Untuk memilih kembali jenis-jenis obat yang berlainan itu mustahil dapat selesai dalam tiga hari.


Akan tetapi kini Siau hi-ji sendiri pun merasakan akibatnya, belasan macam obat yang ditelannya itu seperti mulai membakar di dalam perutnya, panasnya bukan main, perutnya serasa akan meledak, bibir sampai pecah dan mulut kering.


Dalam keadaan kelabakan ia masih dapat merenung sejenak, lalu dikeluarkannya sepotong kawat kecil, ia masukkan kawat itu ke lubang kunci pintu tembaga, gumamnya dengan tertawa, "Memangnya kau mengira aku tak mampu masuk ke situ? Hah, aku justru akan masuk ke situ biar kau tahu kesanggupanku."


Ia mendekatkan telinganya ke lubang kunci dan memutar-mutar kawat kecil tadi, sembari bekerja sambil mendengarkan, sejenak kemudian dia mulai tersenyum dan bergumam pula, "Ini dia, di sini... ya, betul di sini!" Dan terdengarlah "klik" sekali, pintu itu pun dapat dibukanya.


Di dalam kamar itu ternyata jauh lebih dingin daripada di luar, hawa dingin segera menerjang keluar dari sela-sela pintu, tapi bagi Siau hi-ji justru terasa sangat sejuk, ia menarik napas panjang-panjang dan berkata, "Ehmmm, sungguh segar!"


Sementara itu ia merasa tubuhnya panas seperti terbakar, maka hawa semakin dingin itu baginya terasa semakin sejuk, ia terus membuka pintu itu dan melangkah ke dalam sembari berseru dan tertawa, "Hahaah, Kiukohnio, inilah aku sudah masuk ke sini, silakan kau tetap berlatih, takkan kuganggu dirimu."


Habis ucapannya ia pun tercengang seketika, dilihatnya di kamar batu ini masih ada sebuah lorong di bawah tanah, di dalam lorong itu penuh tertimbun balok-balok es batu yang terkumpul di musim dingin.


Tertampak Buyung Kiu-moay duduk di atas sepotong es batu besar, kedua tangannya merangkul kedua paha terus melingkar ke bagian betis dan akhirnya telunjuknya menggantol di tengah-tengah bawah telapak kaki.


Yang luar biasa adalah sekujur badan nona itu dalam keadaan telanjang bulat tanpa seutas benang pun.


Sebesar ini, yang dilihat Siau hi-ji sudah cukup banyak, tapi gadis telanjang bulat begini belum pernah dilihatnya.


Kedua mata Buyung Kiu-moay terbuka, maka ia pun melihat masuknya anak muda ke situ, sungguh sukar dilukiskan betapa rasa kejut, gusar, cemas dan malu, semua dapat terlihat dari sinar matanya yang mencorong aneh. Tapi tubuhnya ternyata tidak bergerak sedikit pun, agaknya memang tidak dapat bergerak lagi.


Cukup lama Siau hi-ji berdiri terkesima, habis itu dia membalik tubuh dan berlagak celingukan kian kemari serta berseru, "Kiukohnio, engkau berada di mana? Mengapa tak kulihat dirimu!"


'Setan cilik' ini memang pandai meraba perasaan anak perempuan, apa yang diucapkannya ini sudah tentu dapat diketahui Buyung Kiu-moay sebagai pura-pura saja, tapi sedikitnya hati si nona jadi terhibur.


Sembari berseru Siau hi-ji terus hendak melangkah keluar, tiba-tiba ia lihat di dinding sebelah tergantung sembilan buah lukisan, ia jadi tertarik dan coba mengamat-amatinya.


Terlihat lukisan pertama itu menggambarkan seorang telanjang bulat dengan berjungkir di atas balok es, di samping gambar ada beberapa huruf kecil yang memberi petunjuk cara berlatih ilmu menurut gambar.


Ilmu itu disebut 'Hoa-ciok-sinkang', ilmu sakti pembentuk batu, untuk melatihnya harus berbadan perawan dan memerlukan waktu tiga tahun, apabila ilmu sakti itu sudah berhasil diyakinkan, maka tiada tandingannya di dunia.


Melihat lukisan berlatih ilmu sakti yang aneh itu, Siau hi-ji menggeleng-geleng kepala, katanya, "Untuk meyakinkan ilmu setan ini, orang harus digembleng hingga seperti mayat hidup, pantas sikap Buyung Kiu-moay menjadi dingin terhadap siapa pun juga setelah meyakinkan ilmu setan ini."


Ia coba memeriksa pula lukisan kedua, ternyata orang dalam lukisan tidak lagi berjungkir, tapi sudah berdiri normal, di sebelahnya juga ada beberapa huruf sebagai petunjuk caranya berlatih.


Siau hi-ji malas untuk melihat lukisan-lukisan lainnya, ia pun tidak berminat terhadap ilmu-ilmu begituan, kalau manusia harus berubah menjadi kaku dan dingin seperti batu, lalu apa gunanya biarpun nanti tiada tandingannnya di dunia ini?


Ia lihat gambar yang terlukis pada lukisan ketiga itu serupa dengan sikap yang sedang dilakukan Buyung Kiu-moay sekarang.


Anak muda itu menghela napas lega, gumamnya, "Syukur dia baru berlatih sampai tingkat ketiga dan sudah kepergok olehku, kalau tidak, bila ilmu setan ini berhasil dilatihnya, tentu dia juga akan berubah menjadi makhluk yang aneh dan akibatnya selain membikin susah dirinya sendiri juga akan membikin celaka orang lain."


Dia tidak ingin memeriksa lagi lukisan yang lain, dengan cepat ia tarik lukisan-lukisan itu secara serabutan.


Sudah tentu perbuatan itu disaksikan juga oleh Buyung Kiu-moay, sorot matanya yang semula mengunjuk rasa malu itu berubah menjadi gusar, tapi akhirnya berubah pula menjadi memohon dikasihani.


Siau hi-ji tidak berpaling ke sana, dia hanya berseru, "Kiukohnio, janganlah kau benci padaku, apa yang kulakukan ini adalah demi kebaikanmu, kau hidup baik-baik dan bahagia, mengapa kau lebih suka menyiksa dirimu sendiri dengan berlatih ilmu konyol begini?"


Kalau saja Buyung Kiu dapat bicara, andaikan tidak mencaci maki tentu juga dia akan memohon dengan sangat agar Siau hi-ji tidak melakukan pengrusakan, atau kalau dia dapat bergerak, bisa jadi Siau hi-ji ditelannya bulat-bulat saking dongkolnya.


Celakanya dia tidak dapat bicara dan tidak bergerak, l terpaksa dia hanya menyaksikan anak muda itu merobek kesembilan lukisan itu tanpa bisa berdaya selain meneteskan air mata belaka.


Siau hi-ji membawa kesembilan lukisan itu keluar dan dibakar di anglo pemasak obat, lalu dia membuka pintu bagian luar tadi dan melangkah keluar, tanpa menjenguk Thi Sim-lan lagi ia terus meninggalkan perkampungan itu.


Tindak-tanduk Siau hi-ji seringkali terdorong oleh hasratnya seketika, terkadang tepat tindakannya, seringkali juga berbuat salah.


Tapi salah atau benar tidak menjadi soal baginya, yang penting ia merasa puas karena telah berbuat, apa akibat daripada perbuatannya ia pun tidak ambil pusing.


Cuma sekarang badannya sedikit pun tidak enak rasanya, bukan saja panas, bahkan rasanya melembung.


Sekaligus ia berlari-lari sekian jauhnya terus menyusup ke dalam hutan, hawa di hutan rimbun itu terasa jauh lebih sejuk daripada di luar sana.