
Air mata Thi Sim-lan sudah meleleh, dengan suara memelas ia memohon, "Siau sian-li, lepaskan dia! Dia sudah payah!"
"Kentut, siapa bilang aku payah?" teriak Siau hi-ji mendadak. "Dia memukul aku tujuh kali, aku pun harus balas menghantam dia tujuh kali."
"Hm, kau mimpi belaka!" jengek Siau sian-li, dan ketika untuk ketujuh kalinya Siau hi-ji merangkak bangun, namun robohnya jauh lebih cepat lagi.
Sekuatnya Siau hi-ji meronta bangun pula, tapi baru bergerak sedikit segera jatuh lagi, namun dia masih terus berusaha untuk bangkit.
Siau sian-li pandang anak muda itu dengan mimik yang aneh, entah murka, entah benci, atau kasihan, atau tidak tega. Tapi di mulut ia tetap mendengus, "Asalkan kau mengaku kalah, segera kuampuni kau!"
"Kentut! Siapa minta diampuni?" teriak Siau hi-ji. "Kau yang harus minta ampun padaku... Pakaianmu akan kubelejeti, akan kugantung kau di atas pohon dan akan kucambukimu..." sambil berkata ia pun sudah berbangkit walaupun dengan sempoyongan.
Tapi segera Siau sian-li memburu maju, sekali tendang, kontan Siau-hi-ji terguling-guling pula.
Thi Sim-lan memejamkan mata dan tidak tega menyaksikannya, hatinya remuk, ususnya rantas, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya sedemikian memperhatikan si setan cilik yang menggemaskan ini.
Dalam pada itu Siau sian-li sendiri tampaknya juga rada terengah-engah, ini kelihatan dari dadanya yang jumbul-jumbul, tapi ia memaki pula, "Setan cilik, b*ngsat cilik, dapatkah kau berdiri pula? Dapatkah kau berhantam pula?"
Sambil mencengkeram rumput di tanah, Siau hi-ji berusaha merangkak bangun perlahan, "Kau sendiri b*ngsat, kau... malahan bandit!"
"Kau berani memaki aku?" teriak Siau sian-li gusar, segera ia memburu maju, sekali depak kembali Siau hi-ji terguling-guling.
"Kau... kau tega benar," jerit Thi Sim-lan dengan suara parau. "Orang sudah terkapar parah, kau masih tega menyiksanya!"
"Habis dia memaki aku!" kata Siau sian-li dengan gemas.
"Kumaki dirimu, justru ingin kumaki... kau tamak, kau pembunuh, membunuh manusia seperti membabat rumput, kau... kau setan dan bukan bidadari. Kau gendruwo..." demikian suara Siau hi-ji semakin lemah, tapi masih terus mengumpat habis-habisan.
Tidak kepalang gusar Siau sian-li sehingga tubuhnya gemetar, sebelah kakinya menginjak dada Siau hi-ji, dampratnya, "Baik, makilah, maki lagi... Akan kubuat kau tak mampu memaki untuk selamanya. Sebenarnya aku tak berniat membunuhmu, tapi kau sendiri memaksa aku bertindak demikian, aku..." dengan menggereget segera sebelah tangannya hendak mengepruk batok kepala anak muda itu.
Thi Sim-lan menjerit khawatir, ia pun berusaha merangkak ke sana untuk mencegahnya. Di luar dugaan, pada saat itulah tiba-tiba Siau hi-ji memeluk kaki Siau sian-li yang menginjak di atas dadanya itu.
Entah dari mana datangnya tenaga, tahu-tahu Siau hi-ji dapat mengangkat tubuh Siau sian-li yang kecil mungil itu sehingga terpelanting, menyusul kakinya terus menendang dan tepat mengenai mata pinggang si nona.
Sungguh mimpi pun Siau sian-li tidak pernah membayangkan bahwa orang yang sudah sekarat itu masih mampu melancarkan serangan balasan, seketika ia merasa kaki kesemutan, menyusul tubuhnya terangkat dan roboh, kepala terasa pusing dan pinggang kena tertendang pula, habis itu robohlah dia terbanting.
Bahkan Siau hi-ji terus menubruk dan menindihi tubuh Siau sian-li, kedua tangannya bekerja tanpa berhenti, setiap Hiat-to yang dapat dicapainya segera ditotoknya tanpa ambil pusing Hiat-to penting atau tidak.
Kejut dan girang pula Thi Sim-lan, dengan suara gemetar ia bertanya, "Hi... hi-ji, bagai... bagaimana sampai terjadi begini?"
"Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa dia takkan mampu memukul mati aku," ucap Siau hi-ji dengan tertawa, napasnya terengah-engah, "Tubuhku ini dibesarkan dalam rendaman air obat, waktu orang lain masih m*netek, aku sendiri sudah mulai minum obat, jangankan dia, biarpun sepuluh kali lebih keras daripada dia juga tak dapat membuat aku menggeletak tak bisa bangun lagi."
"Tapi... tapi tadi..."
"Tadi aku sengaja berlagak begitu untuk menipunya," tutur Siau hi-ji dengan tertawa. "Dengan begitu ia akan lengah, lalu kutambahi caci maki pula supaya dia marah, jika marah kepalanya menjadi pusing dan akulah yang tertawa senang."
Akhirnya Thi Sim-lan mengikik tawa dengan air mata dan ingus masih meleleh di mukanya. Tapi dia masih kurang yakin, ia tanya pula, "Kau benar tidak apa-apa?"
Namun pijat itu sesungguhnya bukan sembarang pijat, walaupun mulutnya berkata demikian, sekujur badannya terasa sakit jarem, ruas tulang pun terasa lemas semua.
Dengan gemas ia pandang Siau sian-li dengan tertawa. "Sudah kukatakan akan kubalas berapa kali pukulanmu, utang harus bayar, satu kali pun tidak boleh kurang..." sembari berkata pukulan pertamanya benar-benar dilontarkan. Berturut-turut ia pukul empat kali, pukulannya sungguh tidak ringan.
Siau sian-li hanya memejamkan mata, sambil menggereget ia bertahan, menjengek pun tidak.
"Asalkan kau minta ampun, akan kuberi rabat beberapa kali pukulan," kata Siau hi-ji.
Mendadak Siau sian-li malah berteriak, "Kau b*ngsat kepar*t, kau pukul mati aku saja."
Kontan Siau .hi-ji menggampar mukanya hingga si nona terpaksa tutup mulut.
Thi Sim-lan tidak sampai hati, katanya, "Sudahlah, boleh kau ampuni dia..."
"Ampuni dia?" kata Siau hi-ji. "Mengapa harus mengampuni dia? Tadi kenapa dia tidak mengampuni aku? Sudah kukatakan akan kubelejeti dia dan kugantung dia di atas pohon..."
"Kau berani!" teriak Siau sian-li dengan suara parau. "Jika berani kau lakukan begitu, mati pun aku takkan mengampunimu!"
"Hahaha, selagi hidup saja aku tidak takut padamu, apalagi kalau sudah mati," ujar Siau hi-ji dengan bergelak-tawa.
Segera ia jambak rambut Siau sian-li dan diangkat berdiri, menyusul ia tampar muka si nona ke kanan dan ke kiri empat kali, katanya pula dengan tertawa, "Nah,.kubayar dulu pokoknya, sebentar kutambahi bunga-uangnya."
"Kau... kau kejam benar..." muka Siau sian-li sudah dipenuhi air mata.
"Aku kejam? Memangnya kau sendiri tidak kejam?" jawab Siau hi-ji. "Kau hanya tahu orang lain kejam, tapi kau lupa caramu menganiaya orang lain bukankah jauh lebih kejam daripada ini?"
Makin omong makin gusar, mendadak ia terus tarik baju Siau sian-li sehingga robek, maka tertampaklah bahu si nona yang putih mulus itu.
Keruan Siau sian-li menjerit dan mencaci maki, "Kau anjing gila, iblis jahat..." begitulah hampir segala kata-kata busuk yang terpikir olehnya terus dikirim ke alamatnya Siau hi-ji.
Namun anak muda itu mendengarkan dengan tertawa, katanya sambil menggeleng, "Jika caramu memaki ini bernilai seni, menarik bagiku untuk mendengarnya, tapi sesungguhnya kau tidak pandai memaki orang, teknik memaki orang sama sekali kau tidak paham, maka terpaksa silakan kau tutup mulut saja."
Habis berkata, ia terus mencomot segenggam lumpur dan hendak dijejalkan ke mulut si nona.
Kini Siau sian-li benar-benar ketakutan, cepat ia memohon dan menangis, "Mohon... mohon kebaikanmu, ampunilah aku, ampunilah aku..."
"Hahaaaah!" Siau hi-ji terbahak-bahak senang.
"Akhirnya kau mohon ampun padaku, jangan melupakan hal ini."
Usus Siau sian-li serasa rantas saking pedihnya, ia menangis terus, betapa pun dia adalah anak perempuan, usianya belia, untuk pertama kali inilah dia mencicipi rasa dianiaya orang. Akhirnya dia menjadi takut.
"Baiklah, kuampuni kau," kata Siau hi-ji sambil membanting nona itu ke tanah. Ia tidak pandang lagi padanya, ia membalik tubuh dan membangunkan Thi Sim-lan, ia bersuit dan memanggil, "Sawi Putih... Sawi Putih..."