
"Inilah pesanku agar kau sampaikan kepada segenap kaum lelaki di dunia ini agar mereka jangan suka menolong jiwa orang lain, lebih-lebih jangan menolong jiwa orang perempuan," kata Siau hi-ji dengan rasa menyesal. "Apabila dia melihat orang hendak membunuh orang perempuan, janganlah sekali-kali membakar pantat kuda orang itu, tapi lebih baik bakar saja pantat kuda sendiri dan menyingkir pergi, makin jauh makin baik, makin cepat makin baik."
Thi Sim-lam melenggong sejenak, katanya kemudian, "Benar, memang kau yang menyelamatkan jiwaku, tapi... tapi kau..." mendadak ia duduk mendeprok di atas tanah dan menangis sedih, katanya pula sambil terguguk, "Tapi bagaimana... bagaimana dengan diriku yang malang ini?"
"Supaya kau tidak sengsara, lebih baik kau bunuh saja diriku," kata Siau hi-ji dengan suara halus.
"Daripada kau menderita, biarkan aku mati saja. Betapa pun aku akan merasa senang dapat mati di tanganmu."
Sembari bicara, diam-diam ia melirik si nona. Benar juga, tangis Thi Sim-lam semakin sedih, sebaliknya hati Siau hi-ji semakin gembira. Pikirnya, 'Akhirnya kau tahu juga resep cara menghadapi perempuan. Asalkan kau mampu mengetuk lubuk hatinya, maka dia akan tunduk padamu dan jinak ditunggangi seperti kuda.'
Di luar dugaan, selagi Siau hi-ji merasa gembira sekonyong-konyong Thi Sim-lam yang sedang menangis sedih itu melompat bangun terus berlari pergi seperti kesetanan, entah ke mana dia pergi.
Baru sekarang Siau hi-ji terkejut, cepat ia berteriak, "He jangan kau tinggalkan aku! jika nanti ada serigala atau harimau, lalu bagaimana? Bila Siau sian-li datang, lantas bagaimana? Hei, hei, apakah kau tahu tadi telah kuselamatkan pula?..."
Meski dia berteriak sekeras-kerasnya, namun Thi Sim-lam sudah menghilang di kejauhan dan tidak mendengarnya lagi.
Angin tetap mendesir dengan lembut, bintang juga masih berkelip-kelip di langit nan luas, namun Siau hi-ji yang menggeletak di bawah udara terbuka itu sedikit pun tidak merasa enak.
Saking mendongkol ia menyesali diri sendiri, gumamnya, "Wahai, Kang Hi, memangnya salah siapa? Kan lebih baik menyalahkan dirimu sendiri, siapa yang suruh kau berkumpul dengan perempuan?
Kalau kau dimakan serigala atau datang Siau sian-li membunuhmu juga setimpal bagimu."
Tiba-tiba si kuda putih mendekat dan meringkik perlahan di sampingnya.
"O, Sawi Putih, apa yang kukatakan tidak salah bukan?" kata Siau hi-ji. "Lain kali bila kau melihat orang hendak menjirat leher seekor kuda betina, maka sebaiknya kau bantu dia menarik ganjel kakinya. Jika melihat orang hendak membacok perempuan dengan golok, maka cepat kau bantu dia mengasah golok yang akan dipakainya."
Kuda putih itu meringkik perlahan pula, habis itu terus berlari menyingkir lagi.
"Ai, Sawi Putih, kiranya kau pun tidak dapat dipercaya dan hendak meninggalkan diriku," mendadak ia melihat di mana arah lari kuda putih itu, di situ telah berdiri seorang.
Di bawah remang cahaya bintang jelas kelihatan pakaian orang yang putih mulus, bahkan lebih putih daripada bulu kuda itu.
Ternyata Thi Sim-lam sudah datang kembali. Kejut dan girang pula Siau-hi-ji, tapi dia sengaja tidak membuka suara, dilihatnya si kuda putih mendekati si nona dan meringkik perlahan, akhirnya si nona tampak bergeser, selangkah demi selangkah menuju ke tempat Siau hi-ji.
Pakaian si nona melambai tertiup angin, perawakannya yang ramping dan gaya jalannya yang berlenggak itu sungguh menggiurkan.
Diam-diam Siau hi-ji gegetun, batinnya, 'Aku benar-benar sudah buta, masakah baru sekarang kutahu dia ini perempuan, padahal... padahal ketika pandangan pertama saja seharusnya kutahu bahwa dia ini perempuan, gaya jalan lelaki mana ada yang demikian?'
Sementara itu Thi Sim-lam sudah berada di sampingnya. Tapi Siau hi-ji sengaja memejamkan mata dan tidak menggubrisnya.
Terdengar Thi Sim-lam berkata dengan suara lembut, "Ternyata kau tidak benar berbuat nakal terhadapku."
Siau hi-ji tidak tahan lagi, jawabnya dengan tertawa, "Jadi baru sekarang kau tahu?"
"Tapi... tapi kau tetap nakal padaku, maka... maka kau..."
"Demi Tuhan, sudilah lekas kau ucapkan apa yang hendak kau katakan," kata Siau hi-ji.
Thi Sim-lam menunduk, katanya kemudian, "Apakah kau suka mengiringi diriku ke suatu tempat"
"Tentu saja mau, tapi kau harus membuka Hiat-to yang kau tutuk agar aku bisa berjalan," ucap Siau hi-ji. "Memangnya kau akan menggendong aku saja?"
Muka Thi Sim-lam menjadi merah dan tidak dapat menahan gelinya, ia lantas berjongkok dan menepuk perlahan bagian Hiat-to yang tertutuk. Ia seperti tidak tega menepuk dengan keras.
Thi Sim-lam berpaling ke sana, katanya dengan lirih. "Tadinya aku tidak ingin kau mengikuti aku, tapi sekarang kuminta kau mengiringi aku, soalnya setelah kutimbang, kutahu... kutahu engkau sangat baik terhadapku."
"Sebelumnya kau tidak tahu?"
"Semula aku tidak ingin mengajakmu sebab... sebab tempat itu sangat dirahasiakan..."
"O, sebenarnya di mana letak tempat yang akan kau tuju itu?" tanya Siau hi-ji.
"Tempat itu terletak di pegunungan Kun-lun, yaitu..."
"He, Ok-jin-kok?" seru Siau hi-ji. "Apakah Ok-jin-kok yang kau maksudkan?"
Serentak Thi Sim-lam menoleh ke arah Siau hi-ji dengan mata terbelalak, tanyanya heran, "Dari... dari mana kau tahu?"
Siau hi-ji ketok-ketok kepalanya sendiri dan bergumam, "O, Tuhan... nona ini sedang menanyai aku dari mana mendapat tahu nama Ok-jin-kok, jika aku tidak tahu Ok-jin-kok, maka di dunia ini mungkin tiada orang lain lagi yang tahu."
"Sebab apa?" tanya Sim-lam dengan mata terbelalak lebih lebar.
"Jangan kau tanya dulu sebab apa, demi Tuhan beritahukan lebih dulu untuk apakah kau hendak ke Ok-jin-kok? Melihat bentukmu, tampaknya kau tidak mirip manusia yang sudah kepepet dan terpaksa harus menyingkir ke Ok-jin-kok."
"Aku... aku cuma ingin mencari... mencari seorang!"
"Siapa yang kau cari?"
"Kukatakan juga engkau tidak tahu."
"Aku pasti tahu... Hahaha, segenap penghuni Ok-jin-kok, dari yang tua sampai yang muda, dari yang kecil sampai yang besar, semuanya kukenal."
Thi Sim-lam tekejut, serunya, "Kau..."
"Aku ini justru dibesarkan di Ok-jin-kok sana," teriak Siau hi-ji.
Berubah air muka Thi Sim-lam, katanya, "Tidak... tidak percaya, sungguh tidak percaya."
"Kau tidak percaya? Coba jawab, kecuali tempat Ok-jin-kok itu, di mana lagi yang dapat membesarkan manusia macam diriku ini?"
Sampai sekian lama Thi Sim-lam tertegun, akhirnya tersenyum manis dan berkata, "Ya, memang tiada tempat lain lagi yang cocok bagimu, seharusnya sudah kupikirkan sejak tadi."
"Dan sekarang bolehlah kau beritahukan padaku siapa gerangan yang kau cari?"
Kembali Thi Sim-lam menunduk, setelah terdiam sejenak barulah menjawab dengan suara lirih, "Orang yang kucari itu pun she Thi, seorang yang sangat terkenal."
"Aha, jangan-jangan yang kau cari adalah salah satu tokoh dari ke-10 top penjahat, yaitu 'Ong-say' (si singa gila) Thi Cian?" tanya Siau-hi-ji.
"He, kau kenal dia?" mendadak Thi Sim-lam mengangkat kepalanya. "Jadi betul dia berada di sana?"
"Untung kau bertemu dengan aku, kalau tidak, maka sia-sia belaka perjalananmu ini," ucap Siau hi-ji dengan tertawa.
"Siapakah yang memberitahukan padamu bahwa Ong-say Thi Cian berada di Ok-jin-kok? Kau perlu merangket pantat si pembual itu."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba tubuh Thi Sim-lam menjadi lemas dan roboh.