
Namun Siau-hi-ji masih tetap tertawa-tawa saja, katanya, "Sudah tentu aku akan pergi, tapi setelah kupergi jangan kau minta aku kembali lagi."
Sampai gemetar tubuh Buyung Kiu-moay saking gusarnya. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang dari kejauhan, "Buyung Kiu-moay, di manakah dikau? Ini Taci cilik datang menyambangimu!"
Datangnya suara sedemikian cepat, baru habis ucapannya, suara permulaan yang kedengarannya berada di luar rumah sana tahu-tahu suara terakhir sudah sampai di taman belakang rumah.
Sambil menggigit bibir, Buyung Kiu-moay terus melangkah keluar dengan cepat. Siau hi-ji juga melenggong dan tak dapat tertawa lagi.
Begitu pula air muka Thi Sim-lan juga berubah pucat, katanya, "Apakah... apakah Siau sian-li Thio Cing!?"
"Be... betul," jawab Koh Jin-giok. "Dia dan kakak Kiu adalah sahabat baik."
Mendadak Siau hi-ji menjatuhkan diri ke atas kursi, gumamnya sambil tersenyum getir, "Ai, mengapa dunia sesempit ini..."
Dalam pada itu terdengar suara Siau sian-li sedang tertawa dan berkata di taman, "He, mengapa lagak Kiu-kohnio kita menjadi melebihi tuan besar, sudah tahu kedatanganku, mengapa tidak melakukan penyambutan?"
"Memangnya siapa tahu setan gentayangan macam dirimu ini akan gentayangan ke mana?!" Demikian terdengar Buyung Kiu menjawab. "Aku tidak mengomel karena sudah sekian lama kau tidak menjenguk diriku, tapi kau malah berani memaki aku."
"Wah, wah! Kiukohnio kita ini sudah semakin mahir bicara," ujar Siau sian-li dengan tertawa. "Melihat mukamu yang kemerah-merahan ini sungguh kau menjadi tambah cantik. Eh, coba beritahukan padaku, selama beberapa bulan ini sudah berapa orang lagi yang datang melamarmu?"
"Huh, menjemukan!" omel Buyung Kiu-moay.
"Ah, di mulut kau bilang jemu, tapi dalam hati sebenarnya ingin..." goda Siau sian-li.
"Tidak, selama hidupku ini takkan menikah," jawab Buyung Kiu-moay dengan hambar.
"Benar juga," kata Siau sian-li. "Semua lelaki bukan manusia baik-baik, semuanya pantas m*mpus. Lelaki yang punya tampang bagus dan pandai bicara, lebih-lebih pantas m*mpus."
Waktu bicara begitu seakan-akan yang dimaksud adalah Siau hi-ji, nadanya penuh rasa dendam dan benci.
Tangan Thi Sim-lan menjadi dingin, bisiknya kepada Siau hi-ji, "Ba... bagaimana kita?"
Siau hi-ji tetap duduk tenang di kursinya, katanya sambil menghela napas, "Bagaimana lagi? Berkelahi kalah, lari tak dapat, aku pun kehabisan akal."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba Siau sian-li menerobos masuk dan berseru terkejut, "Kiranya kau setan cilik ini berada di sini!"
"He, sudah lama tak berjumpa, baik-baikkah engkau?" sapa Siau hi-ji dengan tertawa.
"Kau kenal dia, kakak Cing?" tanya Buyung Kiu-moay.
"Kenal, tentu saja kukenal dia," jawab Siau sian-li Thio Cing dengan gemas. "Tapi... tapi mengapa dia berada di sini?"
Dengan tak acuh Buyung Kiu-moay menjawab, "Dia terluka di sana dan aku telah..."
Mendadak Siau hi-ji berseru, "Tidak perlu kau tanya lagi, aku tiada sesuatu hubungan apa pun dengan keluarga Buyung, kini aku dalam keadaan terluka, jika kau hendak membunuhku boleh silakan, tidak perlu kau khawatir membikin malu orang lain dan juga tidak perlu khawatir kulawan."
"Memangnya bagaimana jika kau bisa melawan?" jengek Siau sian-li.
"Kalau dapat kulawan, tentu kau akan menggeletak tak bisa berkutik lagi!" jawab Siau hi-ji sambil bergelak tertawa.
Kontan Siau sian-li memberi suatu tamparan keras sambil berteriak gusar, "Coba katakan lagi?"
Dia bicara dengan tegas, gagah perwira sebagai seorang ksatria sehingga sangat mengharukan orang, sudah tentu sama sekali dia tidak menyinggung cara bagaimana sampai Siau sian-li dapat dirobohkan olehnya.
Karena itu Buyung Kiu-moay jadi tertarik, segera ia tanya, "Kakak Cing, apa betul dua kali engkau..."
Sampai gemetar Siau sian-li saking marahnya, tapi apa yang dikatakan Siau hi-ji itu memang betul sehingga dia tidak mampu menyangkalnya.
Melihat sikap Siau sian-li Thio Cing yang serba susah untuk bicara itu, air muka Buyung Kiu-moay mendadak berubah aneh, seperti keheranan dan seperti tidak percaya.
Sudah tentu sikap kedua nona ini dapat dilihat jelas oleh Siau hi-ji, ia sengaja berkata, "Nona Buyung, biarkan dia membunuh saja diriku, meski aku terbunuh di rumahmu, tapi aku pun tahu engkau memandang hina padaku, maka tak akan kusalahkanmu bila aku dibunuhnya."
Gusar Siau sian-li tak tertahan lagi. Saking gemasnya dia jadi tertawa, katanya, "Haha, memangnya kau kira aku tidak berani membunuhmu?!"
"Tentu saja kau berani," jawab Siau hi-ji. "Siau sian-li Thio Cing yang maha termasyhur memangnya pernah takut kepada siapa? Apalagi orang yang sama sekali tidak sanggup melawan ini."
Dengan murka Siau sian-li menggertak satu kali, jarinya setajam pedang terus menotok ke
Thay-yang-hiat di pelipis Siau hi-ji.
Pada hakikatnya anak muda itu tidak dapat menghindar, keruan remuk-redam perasaan Thi Sim-lan menyaksikan malapetaka yang akan menimpa Siau hi-ji itu.
Di luar dugaan, pada detik itu juga berkelebatlah sesosok bayangan, tahu-tahu Buyung Kiu-moay sudah mengadang di depan Siau hi-ji sehingga jari Siau sian-li menyentuh tubuh si nona yang putih halus, terpaksa dia tarik kembali mentah-mentah serangannya itu.
"Apakah kau hendak membela orang luar, Kiu-moay?" tanya Siau sian-li dengan gusar.
"Jika di tempat lain tentu aku takkan ikut campur biarpun engkau membinasakan dia," demikian ucap Buyung Kiu-moay dengan acuh. "Tapi di sini, betapa pun kakak Cing harus memberi muka kepadaku."
"Setelah kubunuh dia barulah kuminta maaf padamu," kata Siau sian-li.
"Sejak gedung ini dibangun hingga sekarang belum pernah terjadi membunuh orang dan mengalirkan darah di sini. Maka kuharap kakak Cing jangan melanggar kebiasaan ini dan sukalah menunggu sampai dia keluar dari tempat ini barulah engkau..."
"Aku tidak sabar menunggu lagi!" bentak Siau sian-li, berbareng ia terus menyelinap ke samping.
Tapi beberapa kali ia menerjang maju, selalu dia dirintangi oleh tubuh Buyung Kiu-moay yang lemah gemulai itu.
Padahal kalau Buyung Kiu-moay benar-benar membiarkan Siau sian-li menyerang Siau hi-ji, rasanya juga belum tentu si nona membunuh anak muda itu.
Tapi kini Buyung Kiu-moay berusaha merintanginya, ia jadi semakin dongkol dan gemas sehingga benar-benar akan membinasakan Siau hi-ji.
Untuk itu terpaksa ia harus menghalau dulu rintangannya, maka beberapa kali ia melancarkan serangan jarinya kepada Buyung Kiu-moay.
Sambil melenggang dengan gerakan enteng, Buyung Kiu-moay berucap, "Kakak Cing, kau yang mulai menyerangku lebih dulu, maka jangan kau salahkan aku."
Serangan Siau sian-li tidak pernah berhenti sambil menjengek, "Jika aku ingin berbuat sesuatu, di dunia tiada seorang pun yang mampu merintangi aku, termasuk kau. Nah, bolehlah kau keluarkan jarum atau panah keluarga Buyung kalian yang terkenal itu..."
"Tidak perlu, lihat seranganku ini!" demikian mendadak seorang membentak di belakangnya sebelum habis ucapan Siau sian-li.
Berbareng serangkum angin pukulan terus menyambar tiba dengan dahsyat.
Cepat Siau sian-li mendak ke bawah dan melompat mundur ke samping sambil membentak, "Bagus, Koh siau-moay, kau juga berani menyerang padaku?"