
Namun Siau hi-ji tetap tenang saja, segera ia membuka pintu. Maka tertampaklah beberapa lelaki yang mukanya bengkak akibat ditempeleng itu tepat sampai di depan kamar, bayangan Siau sian-li yang berpakaian merah dan berpotongan tubuh ramping tampak ikut di belakang orang-orang itu.
Tanpa mengangkat kepala lagi Siau hi-ji lantas berteriak, "Wah, celaka! Tanpa sebab kenapa kau kelengar? Hai, tuan-tuan sekalian, tolong memberi jalan, aku harus cepat membawa bini tua ke tabib. Entah salah makan apa, mendadak biniku sakit keras, kalau tidak lekas dibawa ke tabib, mungkin aku harus siap membeli peti mati."
Suara anak muda itu mendadak berubah serak sehingga mirip benar seorang kakek yang kelabakan.
Sedangkan tubuh Thi Sim-lan menggigil ketakutan sehingga mirip pula nenek yang sedang sakit keras.
Karena itulah beberapa lelaki kekar itu cepat memberi jalan dan menyingkir ke sana, agaknya khawatir ketularan penyakit menular, si burik terus menutupi hidungnya dan menggerundel, "Sakit mendadak di musim panas begini, besar kemungkinan kena pes, kalau tidak masakah menggigil begitu?"
Sembari berlagak kesal, Siau hi-ji berjalan lamban menerobos melewati beberapa orang itu.
Thi Sim-lan hampir saja pingsan, kalau bisa sungguh ia ingin terbang saja melarikan diri. Ia pun tidak habis mengerti mengapa Siau hi-ji dapat berbuat setenang itu.
Dengan susah payah akhirnya mereka lewat di samping Siau sian-li dan menuju ke halaman depan.
Siau sian-li memandang mereka dengan melotot, tampaknya tidak menaruh curiga apa pun.
Di luar dugaan, baru beberapa tindak mereka lewat di sampingnya, "creng", mendadak Siau sian-li melolos sebatang golok yang tergantung di pinggang salah seorang lelaki itu terus membacok belakang kepala Siau hi-ji sambil membentak, "Memangnya kau dapat menipu aku?"
Sungguh sukma Thi Sim-lan serasa terbang meninggalkan raganya saking kagetnya. Tapi aneh, Siau hi-ji seperti tidak merasakan apa pun, bahkan ketika golok itu sudah menyambar tiba dan segera akan membuat kepalanya terbelah menjadi dua, tetap dia tidak memberi reaksi apa-apa dan masih terus melangkah ke depan setindak demi setindak.
Dan ternyata golok itu lantas terhenti ketika hampir mengenai sasarannya, kira-kira cuma dua-tiga senti saja di atas kepala Siau-hi-ji.
Diam-diam para lelaki kekar tadi menghela napas lega, mereka sama membatin, "Rasa curiga anak ini sungguh amat besar, sampai kakek reyot begitu juga tak terlepaskan dari curiganya."
Namun Siau hi-ji tetap berlagak tidak tahu apa-apa, ia langsung menuju ke kandang kuda dan mengeluarkan kudanya yang kini sudah "ganti bulu" itu, gumamnya, "Ai, kudaku sayang, nenekmu sakit, tapi aku pun tidak boleh meninggalkan kau."
Gelisah hati Thi Sim-lan sungguh sukar dilukiskan, keringat pun membasahi bajunya, tapi Siau hi-ji ternyata masih memikirkan kudanya, saking dongkolnya sungguh ia ingin menjotos beberapa kali anak muda itu.
Kini mereka sudah berada di jalan raya, selama itu Thi Sim-lan tidak tahu cara bagaimana dirinya bisa melangkah ke luar, ia merasa sedang bermimpi, mimpi buruk dan menakutkan.
Dalam keadaan setengah linglung Sim-lan dinaikkan ke atas kuda oleh Siau hi-ji, anak muda itu menuntun kuda dan berjalan dengan perlahan. Tentu saja si nona bertambah kelabakan, katanya, "Demi Tuhan maukah berjalan lebih cepat?"
"Tidak boleh cepat," kata Siau hi-ji. "Bisa jadi mereka sedang mengawasi kita, kalau cepat tentu akan ketahuan... Lihatlah, malam seindah ini, pesiar kota dengan menunggang kuda, sungguh puitis dan romantis."
Ternyata anak muda itu masih ada pikiran buat menikmati keindahan malam, Thi Sim-lan menghela napas panjang.
Sungguh ia bingung apa mesti menangis atau tertawa. Namun akhirnya jalan raya itu pun habis ditelusuri. Kini di hadapan mereka adalah jalan belukar, sinar lampu sudah jauh tertinggal di belakang mereka.
Sekarang Thi Sim-lan baru merasa lega, katanya dengan tersenyum getir, "Ai, kau ini... sungguh aku tidak dapat menebak hatimu terbuat dari apa?"
"Hatiku?" Siau hi-ji tertawa. "Aku memiliki segalanya, hanya saja tidak punya hati"
Thi Sim-lan menggigit bibir, katanya dengan tersenyum dan melirik anak muda itu, "Tadi kalau golok itu benar dibacokkan, tentu kepalamu sudah hilang."
"Sejak mula sudah kuduga bacokan itu hanya untuk menguji diriku saja," ujar Siau hi-ji dengan tertawa. "Kalau benar dia mengenali diriku dan hendak membunuh, tentunya dia tidak perlu menggunakan senjata orang lain."
"Hahahaha! Apakah kau kira aku tidak takut?" Siau hi-ji bergelak tertawa. "Berbicara terus terang, waktu itu aku pun ketakutan setengah mati, di dunia ini hanya sebangsa orang gila yang tidak kenal takut."
"Dan sekarang kita akan ke mana?"
"Ke mana saja boleh, toh tidak bakal dikenali orang lagi... hanya, penyakitmu..."
"Karena dibikin kaget tadi, aku keluar keringat dingin dan sekarang terasa sudah sembuh, kaki dan tanganku juga sudah bertenaga. Sungguh aneh bukan?"
"Kau sudah dapat berjalan?" tanya Siau hi-ji.
"Dapat, kalau tidak percaya boleh kuturun dari kuda dan berjalan saja."
"Baiklah, coba berjalan... aku... aku pun mau berangkat."
Tergetar tubuh Thi sim-lan, serunya, "Ap... apa katamu?"
"Bukankah kita sudah pernah berpisah? Cuma lantaran kau jatuh sakit, makanya kurawat kau, sekarang kau sudah sehat, dengan sendirinya kita pun berpisah lagi."
Tidak kepalang pedih hati Thi Sim-lan, mukanya tambah pucat, tubuhnya mulai gemetar pula dan air mata pun bercucuran, katanya dengan parau, "Engkau ... engkau benar ... benar ...."
"Sudah tentu benar. Kau telah memberikan barang itu padaku, aku pun telah menolong jiwamu, hitungan kita menjadi lunas, siapa pun tidak utang siapa-siapa."
Air mata Thi Sim-lan bertambah deras, katanya dengan menggereget, "Apakah benar engkau tidak punya hati? Memangnya hati... hatimu telah dimakan anjing?"
"Sekali ini tepat tebakanmu," kata Siau hi-ji dengan tertawa.
"Kau... engkau..." Sim-lan tak mampu melanjutkan, mendadak tangannya bergerak, dengan geregetan ia tampar anak muda itu.
Sama sekali Siau hi-ji tidak bergerak, ia pandang nona itu, katanya dengan hambar, "Untung hatiku sudah dimakan anjing, sungguh aku harus berterima kasih pada anjing itu, kalau tidak, bila hati lelaki tergenggam di tangan perempuan, wah, kukira akan lebih baik dimakan anjing saja."
Thi Sim-lan menangis tergerung-gerung sambil mendeprok di tanah, katanya dengan terputus-putus, "Engkau ... engkau bukan manusia ... pada hakikatnya engkau bukan manusia."
"Sudahlah, sampai berjumpa pula..." kata Siau hi-ji sambil menarik bangun si nona.
"Apakah diriku ini manusia atau bukan, yang penting aku bukanlah si t*lol yang dapat dipengaruhi oleh air mata perempuan, aku..."
"Benar, engkau bukan orang t*lol, engkau teramat pintar! Cuma sayang, pintarnya agak kelewatan!" demikian tiba-tiba seorang menanggapi dengan ketus.
Dingin nada suara itu, tapi nyaring merdu, jelas sekali itulah suara Siau sian-li.
Seketika Thi Sim-lan berhenti menangis, tubuh Siau hi-ji juga tergetar, tapi sama sekali ia tidak berpaling, mulutnya tetap berkata dengan nada menyesal, "Aih, ibunya anak, apa yang kau tangisi, toh takkan mati. Ayolah lekas kita mencari tabib, kalau terlambat mungkin orang sudah tutup pintu dan tidur."
"Sudah habis belum ocehanmu?" demikian terdengar Siau sian-li menjengek. "Memang, penyamaranmu sungguh pandai. Saat ini kau memang harus mencari tabib, cuma sayang segenap tabib di dunia ini sudah tidak mampu menyelamatkan kau lagi."