
Musim panas, di tengah lembah Kun-lun-san yang kelam dan lembab itu hawa panas itu tidak sangat terasa, namun sinar sang surya yang menyorot terang membuat orang merasa kemalas-malasan.
Hanya di waktu lohor saja sinar matahari dapat menembus masuk ke Ok-jin-kok, untung penghuni lembah itu memang tidak suka kepada sinar matahari, semakin jarang munculnya matahari semakin baik bagi mereka.
Seekor kucing tampak kemalas-malasan sedang berjemur di atap rumah, seekor lalat terbang ogah-ogahan ke sebelah sana, itulah makhluk-makhluk yang masih mau bergerak di Ok-jin-kok pada tengah hari musim panas demikian.
Tapi pada saat itu juga, dari luar lembah sana ada seorang sedang berlari datang dengan cepat.
Di belakangnya tiada nampak seorang pun, dia seperti dikejar setan saja, napasnya sudah terengah-engah dan hampir putus, tapi dia tidak berani berhenti sedikit pun dan tetap berlari-lari.
Tidak lemah juga Ginkangnya, cuma tenaganya yang kurang, seperti kelelahan lantaran sudah berlari-lari sekian hari tanpa berhenti dan seperti juga sudah beberapa hari tidak makan.
Tidak jelek pula wajahnya, hanya hidungnya yang besar membetet itu saja yang membuat orang jemu bila melihatnya.
Pakaiannya sebenarnya sangat perlente, bahkan jelas dibuat oleh ahli jahit terkemuka, tapi kini kain bajunya sudah compang-camping, kotor dan bau.
Karena hawa panas, butiran keringat tampak berketes-ketes dari dahinya menurun melalui hidungnya yang membetet itu terus masuk mulutnya. Tapi dia sama sekali tidak ambil pusing.
Baru setelah melihat tulisan “Ok-jin-kok” di tugu perbatasan itulah orang itu tampak menghela napas lega. Namun larinya bertambah cepat dan langsung menelusuri jalan berbatu licin itu.
Genting rumah gemerlapan karena cahaya matahari yang benderang, pintu dan jendela setiap rumah sama tertutup, tidak nampak seorang pun dan tidak terdengar sesuatu suara.
Agaknya orang itu pun merasa heran, dia celingukan ke sana dan ke sini, dengan waswas dan kebat-kebit ia melangkah ke depan, ia tidak lari lagi seperti tadi.
Mungkin dia ingin berseru memanggil, tapi tidak berani.
Pada saat itulah, tiba-tiba di bawah emper rumah sebelah kiri sana ada orang menegurnya dengan perlahan, “Hei!”
Meski suara itu tidak keras, tapi cukup membuat orang itu berjingkat kaget, mukanya yang memang pucat menjadi semakin pucat. Ibarat burung yang sudah kapok mendengar suara jepretan, biarpun suara keresek perlahan saja akan membuatnya takut.
Ketika ia berpaling ke sana, terlihatlah di bawah emper yang teduh sana ada sebuah bangku bambu, seorang anak muda berusia tiga belas-empat belas tampak berbaring miring dengan mata setengah terpejam.
Badan bagian atas anak muda itu telanjang, jelas kelihatan tubuhnya penuh bekas luka, goresan bekas luka itu malang melintang entah betapa banyaknya.
Sebuah codet yang paling berkesan adalah di mukanya, codet itu menyilang dari ujung mata hingga hampir mencapai ujung mulut.
Rambut anak muda itu pun tidak tersisir, hanya diikat begitu saja bagian atas. Dengan kemalas-malasan dia selonjor di bangku bambu itu seakan-akan dunia ini ambruk juga bukan urusannya.
Anak muda itu seakan-akan loyo bagai kakek-kakek, tapi sorot matanya memancarkan sinar yang bersifat binal, nakal, sehingga tampaknya juga seperti anak kecil saja. Tapi entah mengapa anak muda yang tubuhnya penuh bekas luka, binal dan kemalas-malasan ini ternyata mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Lebih-lebih wajahnya, meski ada codet, tapi codet yang tidak membuatnya kelihatan jelek, sebaliknya malah membuat wajahnya itu menimbulkan daya tarik yang sukar dilukiskan.
Anak muda yang tubuhnya penuh bekas luka, binal kemalas-malasan ini ternyata memberi kesan pertama bagi siapa pun yang melihatnya, yaitu pemuda cakap, kalau tidak mau dikatakan sangat cakap.
Hanya sekejap saja lelaki hidung betet itu memandangnya dan ia pun terkesima. Kalau lelaki saja demikian bila melihatnya, apalagi perempuan, mustahil takkan kesengsem?
Anak muda itu seperti ingin menggapai, tapi tangan pun malas diangkatnya, dia cuma menegur pula dengan tertawa, “Kenapa kau melenggong? Kemarilah sini!”
“Kau kenal aku?” tanya anak muda itu.
“Ti... tidak,” jawab si hidung betet.
“Kau tidak kenal diriku, mengapa tanya kebaikanku?”
Si hidung betet melengak, jawabnya dengan gelagapan, “Ini... ini...”
Biasanya ia pun suka bangga pada mulutnya sendiri yang pandai bicara, tapi sekarang ia benar-benar mati kutu dan tidak sanggup menjawab.
“Kuberitahu, namaku Siau hi ji,” anak muda tadi bergelak tertawa. “Dan kau siapa?”
Untuk menyebut namanya sendiri, mendadak si hidung betet membusungkan dada, lalu menjawab, “Pah Siok tong, berjuluk ‘Sat-hou-thayswe’(si datuk pembunuh harimau).”
“Hihihi, Sat-hou-thayswe... Ehm, boleh juga sebutan ini,” Siau hi ji mengikik geli. “Eh, berapa ekor harimau pernah kau bunuh?”
Kembali si hidung betet alias Pah Siok tong itu melengak, jawaban dengan tergagap, “Ini... ini….”
“Hahahaha!” Siau hi ji tertawa. “Kupernah membunuh beberapa ekor harimau dan tidak pernah pakai sebutan 'Sat-hou-thayswe' segala. Kau tidak pernah membunuh barang seekor harimau, tapi pakai nama Sat-hou-thayswe, ini kan lucu dan tidak adil?”
Pah Siok-tong melenggong tak bisa bicara, ia benar-benar serba konyol, ya gemas, ya dongkol. Coba kalau tidak berada di Ok-jin-kok, tentu kepala anak muda itu sudah dipenggalnya sejak tadi.
Dengan tertawa Siau hi ji berkata pula, “Melihat caramu berlari seperti diuber setan tadi, orang yang kau salahi tentu bukan sembarangan dan ilmu silatnya pasti sangat tinggi. Siapakah gerangan dia? Coba ceritakan!”
Sejenak si hidung betet itu termenung, akhirnya berkata, “Orang yang kusalahi tidaklah cuma satu, di antaranya ada ‘Kanglam siang kiam’(sepasang pedang dari Kanglam), yaitu kedua saudara keluarga Ting, lalu ‘Peng hou’(harimau sakti) Siang Hong, ‘Kang pak it liong’(naga tunggal di utara Sungai) Dian Pat dan...”
“Hahaha, kiranya mereka ini....” Siau hi ji tertawa. “Nama orang-orang ini pun pernah kudengar, rasanya juga tiada sesuatu yang luar biasa...”
“Kedengarannya nada saudara cilik ini tidak kecil,” jengek Pah Siok tong.
“Dan nada saudara tua ini ternyata tidak besar,” balas Siau hi ji dengan tertawa.
Amat mendongkol hati Pah Siok tong, dia menyambung pula, “Meski beberapa orang itu tidak terlalu luar biasa, tapi di antaranya ada seorang yang benar-benar membuat setiap orang kepala pusing bila melihatnya.”
“Wah, apakah dia setan kepala besar?” tanya Siau hi ji.
Pah Siok tong tidak menggubrisnya dan melanjutkan, “Bicara tentang orang ini, namanya sungguh terkenal di dunia Kangouw saat ini.”
“Siapa namanya?” tanya Siau hi ji.
“Siau sian li Thio Cing,” jawab Pah Siok tong.
“Siau sian li?” Siau hi ji menegas dengan tertawa. “Wah, dari namanya ini dapat dibayangkan dia tentu seorang cantik. Setiap orang yang melihatnya tentu akan suka, mengapa kau katakan setiap orang akan kepala pusing bila melihatnya?”