Legendary Siblings

Legendary Siblings
58. Jatuh Sakit



Siau hi-ji tidak mendengar suara tangisan Thi Sim-lan, sedikitnya ia pura-pura tidak mendengar, dia tepuk-tepuk leher si kuda putih dan bergumam, "Sawi Putih, coba lihat aku ini pintar bukan? Semudah inilah kuenyahkan seorang perempuan. Kau harus tahu bahwa umumnya perempuan tidaklah mudah dienyahkan."


Ia terus melarikan kudanya ke depan. Selang sekian lama, tiba-tiba ia bergumam pula, "Ah, Sawi Putih, coba terka dia akan pergi ke mana? Kau pasti tidak dapat menerkanya. Ketahuilah, aku pun tidak sanggup menerka. Eh, biarlah kita tunggu saja di sini, kita mengawasinya secara diam-diam."


Dengan sendirinya si Sawi Putih tak dapat menjawab, dia juga belum tentu setuju. Namun Siau hi-ji sudah lantas melompat turun dan bergumam, "Kalau dapat mengintip rahasia anak perempuan, kukira perbuatan ini pun tidak terhitung busuk. Apalagi... kita juga tiada urusan penting yang harus segera dikerjakan, tak jadi soal bukan jika kita menunggu sebentar di sini?"


Sudah tentu si kuda putih tak dapat mendebatnya bahwa ucapannya itu pada hakikatnya cuma alasan untuk menutupi isi hatinya yang sesungguhnya.


Terkadang kuda bisa lebih menyenangkan daripada manusia, setidaknya kuda takkan membongkar rahasia orang lain dan tak dapat mengkhianatinya.


Bintang sudah mulai guram dan jarang-jarang, subuh hampir tiba, tapi Thi Sim-lan masih belum juga muncul. 'Jangan-jangan tidak mengambil arah jalan ini? Namun jalan ini adalah satu-satunya jalan, apakah mungkin nona itu kesasar? Jangan-jangan dia...'


Mendadak Siau hi-ji mencemplak ke atas kuda putih dan berseru, "Ayo berangkat, Sawi Putih, kita coba melongok lagi ke sana, ingin kulihat apa yang dia lakukan di sana? Ketahuilah bukan karena aku memperhatikan dia, sebab terhadap siapa pun aku tidak pernah menaruh perhatian."


Belum habis gumamnya si Sawi Putih sudah lantas membedal ke depan, larinya jauh lebih cepat daripada datangnya tadi. Maka hanya sejenak saja mereka sudah sampai di tempat semula. Dari jauh Siau hi-ji melihat Thi Sim-lan berbaring di atas tanah. Sesudah dekat, nona itu ternyata tidak menangis lagi dan juga tidak bergerak.


Segera Siau hi-ji melayang ke sana dari atas kuda sambil berseru, "He, di sini bukan tempatnya untuk tidur!"


Tergetar tubuh Thi Sim-lan, sekuatnya ia meronta bangun dan berteriak, "Pergilah kau, enyah sana! Siapa minta kau kembali, untuk apa kau kembali ke sini?"


Di bawah cuaca subuh yang remang-remang terlihat wajah si nona yang pucat itu bersemu hijau, bibir yang tipis itu tampak gemetar, setiap kata diucapkannya dengan susah payah.


"He, kau sakit?!" seru Siau hi-ji.


"Sakit juga bukan urusanmu," jengek Thi Sim-lan. "Kau... kau dan aku bukan sanak bukan kadang, untuk apa kau urusi diriku?" Walau ia sudah merangkak bangun, namun berdiri pun sempoyongan.


"Tapi kini aku justru ingin mengurus dirimu!" kata Siau hi-ji, dengan cepat ia raba dahi si nona dan rasa tangannya seperti dipanggang.


Sekuatnya Thi Sim-lan menyampuk tangan anak muda itu sambil berteriak dengan gemetar, "Kau tidak perlu menyentuh diriku."


"Aku justru ingin menyentuhmu," ucap Siau hi-ji pula dan cepat sekali tubuh si nona dipondongnya.


"Jangan... jangan menyentuh diriku! Lep... lepaskan, lepas! Enyahlah kau!" Sim-lan berteriak-teriak.


Berbareng ia terus meronta-ronta tapi tetap tak dapat melepaskan diri, tenaga untuk berteriak pun tiada lagi. Ia pukul tubuh Siau hi-ji, namun kepalan pun terasa lemas.


"Sakitmu sudah parah, jika kau tidak menurut, nanti kucopot celanamu dan kupukul pantatmu, kau percaya tidak?" ancam Siau hi-ji.


"Kau... kau..." suara Thi Sim-lan menjadi parau dan tak sanggup melanjutkan pula.


Mendadak ia membenamkan kepalanya dalam pelukan Siau hi-ji dan menangis dengan sedih. Thi Sim-lan benar-benar jatuh sakit, bahkan sangat berat sakitnya.


Hanya dua kalimat saja ia berucap dan orang itu pun pindah kamar secepat kuda lari. Meski emas tak dapat bicara, tapi jauh lebih berguna daripada orang berputar lidah dua hari.


Cemas, kecewa, derita lahir dan batin yang dialami Thi Sim-lan telah mengakibatkan dia jatuh sakit, padahal biasanya jarang dia sakit, sehari suntuk dia tak sadarkan diri karena suhu panas badannya.


Waktu dia siuman, dilihatnya Siau hi-ji sedang memasak obat. Ia meronta ingin bangun, tapi segera Siau hi-ji menahannya berbaring pula, ia hanya dapat merintih, "Kau... kenapa kau..."


"Dilarang bicara!" seru Siau hi-ji.


Dilihatnya mata anak muda itu agak celong, tampaknya sudah sekian malam kurang tidur karena harus merawat dirinya. Thi Sim-lan menjadi terharu dan meneteskan air mata pula.


Sementara itu Siau hi-ji telah membawakan semangkuk cairan obat yang dimasaknya itu dan berkata, "Dilarang menangis, tapi minum obat saja. Ini adalah obat paling bagus dari resep yang paling jitu. Sesudah minum tentu akan sembuh. Kalau kamu menangis lagi seperti anak kecil, sebentar kupukul lagi pantatmu."


"Re ... resep buatan siapakah itu?" tanya Thi Sim-lan.


"Aku!" jawab Siau hi-ji singkat.


"Kiranya kau pun mahir mengobati orang sakit, memangnya kau serba bisa?!"


"Dilarang buka mulut dan minumlah obat!"


Thi Sim-lan tersenyum, walaupun dalam keadaan sakit, namun senyumnya tetap menggiurkan. Katanya kemudian, "Kau melarang aku buka mulut, lalu cara bagaimana aku harus minum obat?"


Siau hi-ji ikut tertawa juga. Tiba-tiba ia merasa anak perempuan terkadang sangat menyenangkan, lebih-lebih pada waktu dia tertawa lembut padamu.


Menjelang magrib, Thi Sim-lan tertidur pula. Siau hi-ji berdiri iseng di emper kamar, gumamnya sendiri, "Wahai Kang Hi, Kang Siau-hi! Janganlah kau lupa bahwa senyuman perempuan demikian ini juga mungkin bermaksud mencelakaimu, bisa jadi senyuman berbisa, makin ramah sikapnya, semakin berbahaya pula bagimu. Jika kurang waspada, akan tamatlah riwayatmu ini."


Kuda putih itu tampak sedang makan rumput di kandang sana. Siau hi-ji mendekatinya, sambil membelai bulu surinya Siau hi-ji berkata, "Hai, Sawi Putih, kau jangan khawatir, biarpun orang lain mudah terperangkap, namun aku pasti tidak. Setelah dia sembuh dari sakitnya segera aku akan pergi..."


Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kuda berhenti di luar penginapan. Walaupun kecil penginapan ini, namun perlengkapannya cukup komplet, dibagian depan di buka pula sebuah restoran.


Karena suara ramai itu, Siau hi-ji jadi ingin tahu siapakah pendatang itu. Waktu ia melongok keluar, dilihatnya empat-lima orang lelaki kekar beramai-ramai sudah masuk ke restoran, tanpa bicara mereka duduk mengelilingi sebuah meja. Tanpa banyak cincong pelayan lantas membawakan arak.


Namun orang-orang itu hanya duduk termangu saja tanpa bergerak.


Pakaian mereka cukup mentereng, membawa pedang pula, perbawa mereka tampaknya tidak kecil, namun wajah mereka sama merah bengkak seperti habis ditempeleng orang belasan kali paling sedikit.


Selang tak lama, kembali masuk lagi dua orang. Keadaan kedua orang ini lebih konyol, bukan saja muka mereka bengkak bahkan salah satu daun kuping hilang, kelihatan kain pembalutnya yang berlepotan darah.