
"Ke, bertahan lah. Aku mohon." Ucap Viandra mondar mandir dengan perasaan cemas didepan pintu ruangan operasi.
Keanu sedang berada di dalam sana dan ditangani oleh dokter untuk mengeluarkan peluru yang bersarang diperut nya.
Viandra awalnya mengira Keanu mengerjai nya dengan sengaja membunyikan pistol dan membuat dirinya seolah tertembak.
Namun nyatanya saat ia hendak meninggalkan Keanu karena merasa dibohongi, Keanu pun pingsan seketika.
Viandra masih mengira Keanu bersandiwara, namun saat ia mendekati Keanu dan coba membangunkannya, Viandra dapat melihat ujung peluru dari luka diperut nya.
Secepat kilat Viandra membopong Keanu dan membawanya ke rumah sakit terdekat, hingga di sini lah mereka sekarang.
"Jika kau mati sebelum menikahi ku dan membahagiakan ku, maka aku berjanji aku akan membenci dirimu seumur hidup dan akan merusak diriku sendiri." Ancam Viandra seolah berbicara pada Keanu.
Kali ini Viandra tidak ingin membohongi perasaannya lagi, ia tidak sanggup.
Keanu pria pertama yang sanggup menyentuh dan meluluhkan hati nya.
"Ke, kau harus bertahan. Aku mohon." Ucap Viandra gelisah dan tidak berhenti mondar mandir.
"Viandra." Panggil Eleana, Ibu Viandra.
Ia memang sudah mengabari kedua orang tua nya terkait peristiwa ini.
Ibunya segera menghampiri nya dan memeluk nya, memberikan kekuatan pada putrinya. Begitupun Aninston, sang Ayah.
"Mom, aku takut. Aku tidak ingin lagi kehilangan Ke seperti aku kehilangan kakak." Ucap Viandra terisak dalam pelukan Ibunya.
"Stt..Keanu pasti akan baik baik saja sayang. Percaya lah. Dia pria yang kuat, dia tidak akan kalah dengan begitu mudah." Bujuk Eleana pada putrinya.
Viandra tetap saja terisak.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Tanya Aninston penasaran.
Viandra menggeleng.
"Aku tidak tahu Dad. Saat aku mendengar bunyi tembakan yang bukan berasal dari ku, aku segera berlari keluar dari hutan menghampiri Keanu. Saat aku lihat, dia sudah terbaring dengan perut mengeluarkan darah. Dia sempat memancing ku untuk menyatakan cinta dan ... intinya aku tidak terlalu paham yang terjadi sebenarnya." Ucap Viandra bingung.
Hah
Aninston menghela nafas kasar dan memijat pangkal hidung nya.
"Apa dia menembaki dirinya sendiri hanya untuk pengakuan cinta dari mu?" Tanya Aninston geli membayangkan jika Keanu benar benar melakukan hal itu.
"Aku tidak tahu. Tapi dia bukan pria bodoh." Ucap Viandra.
Aninston terkekeh.
"Pria saat sedang benar benar jatuh cinta akan menjadi sangat bodoh." Ucap Aninston.
"Kau juga begitu." Ucap Eleana ketus pada suaminya.
Aninston terkekeh dan menggaruk tengkuk leher nya karena salah tingkah dengan perkataan istrinya.
Mereka kembali menunggu dengan sabar dan tak sabar.
Cukup lama menunggu hingga akhirnya lampu merah diatas pintu ruangan operasi padam pertanda proses operasi telah selesai.
Perasaan cemas, khawatir, dan takut kembali menghantui Viandra.
Ia tidak sanggup jika harus mendengar kabar buruk.
Tak lama kemudian seorang dokter yang menangani Keanu pun keluar dari ruangan operasi itu.
"Bagaimana dokter?" Tanya Viandra dengan suara bergetar.
Dokter tersebut tersenyum.
"Kondisi pasien tidak bisa dikatakan ringan namun juga tidak parah. Peluru tidak sampai menyentuh lambung nya, hanya mengenai perut luar saja. Tapi tetap kami masih harus memantau kondisi pasien pasca operasi." Jelas dokter tersebut.
Viandra menghela nafas lega.
"Kapan aku bisa melihat nya dokter?" Tanya Viandra meminta kepastian.
"Jika sampai malam ini kondisi pasien stabil, maka kalian bisa melihat nya setelah ia dipindahkan ke ruangan inap." Jelas dokter tersebut lagi.
"Terima kasih dokter." Ucap Viandra pelan.
"Baik, kalau begitu aku permisi." Ucap dokter tersebut.
Sepeninggal dokter tersebut, Viandra terduduk lemas di kursi depan ruang operasi itu.
Ia sangat takut jika harus kehilangan Keanu.
Takut jika harus kehilangan orang yang ia sayangi lagu, apalagi Keanu adalah pria yang ia cintai. Pria pertama yang ia cintai.
"Tenang lah sayang. Keanu sudah baik baik saja." Ucap Eleana memeluk putrinya.
Viandra hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Dad urus administrasi dulu." Ucap Aninston lalu melenggang pergi.
Viandra masih harus menunggu cukup lama untuk memastikan kondisi Keanu benar benar stabil.
"Mom, mom dan Dad pulang saja. Aku bisa sendiri menunggu Keanu." Ucap Viandra pelan.
"Tidak. Mom dan Dad tidak mungkin meninggalkan mu menghadapi ini sendirian. Kau sudah terlalu lama sendiri. Tidak ada orang menemani mu. Kau sudah terlalu lama menghadapi pahitnya kehidupan sendirian." Ucap Eleana membujuk anak nya itu.
Yah, sejak putra nya meninggal, putri mereka menjadi lebih pendiam dan memilih mengasingkan diri dari mereka.
Viandra yang sejatinya adalah gadis periang, seketika berubah menjadi gadis dingin dan kaku. Ia bahkan berniat untuk membunuh wanita yang sudah membuat kakak nya menderita, namun dicegah oleh Ayahnya.
"Maafkan aku Mom, aku sudah membuat Mom dan Dad khawatir selama ini. Aku memilih tinggal terpisah dari kalian dan selalu menyalahkan diri ku sendiri atas kematian kakak." Ucap Viandra terisak memeluk erat Ibunya.
"Mom mengerti sayang. Kakak mu adalah orang yang paling dekat dengan mu dan paling memahami mu. Wajar jika kau merasa sangat kehilangan setelah kepergian nya." Ucap Eleana menenangkan putrinya.
Viandra hanya diam dan terisak.
"Apa kau mau, setelah ini pulang dan tinggal bersama Mom dan Dad lagi sebelum menikah dengan Keanu?" Tanya Eleana lembut.
Viandra diam dan tampak berpikir.
Akhirnya ia mengangguk.
"Aku mau Mom." Ucap Viandra pelan.
"Baguslah. Kau harus mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan mu dengan Keanu nanti nya. Maka dari itu lebih baik kau kembali ke rumah sebelum menikah dengan nya." Jelas Eleana.
Viandra mengangguk.
"Syukurlah, perlahan putri ku mulai kembali menjadi dirinya yang dulu." Batin Aninston yang tak jauh dari dua perempuan kesayangannya itu.
Ia tersenyum bahagia melihat pengaruh positif yang diberikan Keanu hingga perlahan putrinya mulai kembali membuka diri untuk mereka sebagai orang tua.
Ia memutuskan untuk mendekati dua perempuan kesayangannya yang masih saling memeluk.
"Apa Dad ketinggalan sesuatu?" Tanya Aninston tersenyum manis.
Viandra menatap haru pada Ayahnya.
"Dad, aku merindukan pelukan mu." Pinta Viandra dan langsung berdiri lalu memeluk erat Ayahnya.
Aninston terkekeh kecil.
"Dad juga merindukan putri kecil Dad." Ucap Aninston membalas pelukan putrinya.
Viandra terisak haru.
"Seandainya aku tidak berubah sejak kakak pergi, mungkin tidak akan ada hari ini yang membuat ku menangis." Ucap Viandra pelan.
Kedua orang tua nya terkekeh.
"Sayang, jika kau tidak berubah sejak kakak mu pergi, Dad rasa hari ini kau tidak akan mendapatkan pria yang tulus mencintai mu seperti Keanu. Kau bisa bisa hanya dipermainkan oleh pria pria brengsek di luar sana karena kepolosan mu." Ucap Aninston membela keputusan putrinya.
"Mungkin memang benar Dad." Ucap Viandra.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu perkembangan kondisi Keanu sambil bercerita banyak. Banyak hal yang Viandra ceritakan pada kedua orang tua nya.
Ia beberapa kali memaksa orang tuanya agar pulang dan beristirahat di rumah, namun mereka menolak.
Hingga akhirnya kedua belah pundak Aninston menjadi sandaran bagi kedua perempuan kesayangannya itu.
...~ To Be Continue ~...
#####
Maaf baru up.