
"Sayang bangunlah." Darvin membangunkan Zevina yang sedang terlelap.
Zevina tadi bisa bisanya tertidur ketika Darvin sedang menghapus jejak Jack pada tubuhnya.
"Hem..aku masih mengantuk sayang." Zevina mengeluh dan menggeliat kecil.
"Bangunlah, ini sudah malam dan kau belum makan apapun dari tadi siang." Darvin terus berusaha membangunkan Zevina.
"Aku tidak lapar." Zevina menjawab dengan malas.
Darvin mendengus kesal. Entah kenapa Darvin merasa kali ini kekasihnya sangat manja.
"Baiklah, jika kau tidak ingin bangun sekarang maka aku akan membangunkan mu dengan cara lain." Darvin mencoba mengancam kekasih nya.
"Lakukan saja sayang. Aku tidak takut." Zevina malah menantang kekasih nya.
Sepertinya dia lupa kalau saat ini ia hanya ditutupi selimut tebal tanpa sehelai benang pun setelah tadi Darvin menghapus jejak Jack pada tubuhnya.
Darvin membuka dengan sedikit kasar selimut yang menutupi tubuh Zevina. Ia kemudian menelusuri tubuh Zevina dengan jari telunjuk nya. Zevina bukan menolak malah semakin menggoda kekasihnya. Darvin yang melihat itu tentu saja tergoda tapi ia berusaha menahan diri.
"Sayang segera bangun. Jangan memaksa ku berbuat kasar pada mu. Aku sudah cukup bersabar menghadapi mu hari ini. Jangan coba coba membangunkan Darvin lama yang sedang tertidur." Darvin mencoba mengancam kekasih nya dengan perkataan yang lebih menakutkan dan itu sukses membuat Zevina bangun.
Ia segera bangkit dari tidur nya, turun dari ranjang dan berjalan menghentakan kakinya menuju ke kamar mandi. Darvin tertawa kecil melihat kelakuan kekasihnya. Ia pun memutuskan untuk menunggu Zevina dimeja makan.
Segera Zevina membersihkan dirinya. Setelah itu ia memilih pakaian mana yang akan ia kenakan, dan pilihan nya jatuh pada sehelai dress tidur yang cukup sexy. Segera ia memakai nya dan menuju ketempat dimana Darvin berada.
Uhuk uhuk
Darvin tersedak melihat penampilan Zevina yang terlalu menggoda.
"Tutup mata mesum mu itu." Ucap Zevina menutup mata Darvin menggunakan telapak tangan nya. Ia kemudian duduk di samping Darvin.
"Bagaimana aku bisa menutup mata ku, jika didepan ku ada pemandangan indah untuk dilihat." Ucap Darvin menggoda.
"Persetan dengan itu." Zevina menjawab dengan ketus. Sedangkan Darvin hanya terkekeh.
Mereka pun mulai menyantap makanan didepan mereka. Makanan yang sudah dibuat oleh Darvin.
Darvin selalu melirik kekasih nya yang benar benar selalu menggoda nya walau dengan pakaian tertutup sekalipun.
"Darv, maafkan aku." Ucap Zevina ditengah kegiatan makan malam mereka. Darvin mengerti maksud dari perkataan Zevina.
"Tidak sayang. Kau tidak perlu meminta maaf. Itu bukan salah mu. Aku justru menyesal sekarang karena terlalu cepat menolong mu." Ucap Darvin terkekeh.
"Darvin." Zevina membentak Darvin dan menaruh kasar sendok garpu nya diatas piring.
"Bayangkan saja sayang. Dia baru menyentuh mu sedikit saja aku sudah memukul nya seperti itu. Jika dia sampai benar benar berhasil menancapkan miliknya, maka aku tidak segan segan akan membunuh dan mencincang nya." Ucap Darvin serius.
"Bagaimana caranya?" Zevina bertanya polos.
"Hahaha caranya banyak sayang." Darvin menjawab sambil tertawa namun terdengar menakutkan.
"Memang kau berani?" Zevina bertanya seolah meragukan perkataan Darvin.
"Kau hanya tidak tahu dan tidak pernah melihat sisi lain ku sayang." Darvin menjawab lalu merangkul leher Zevina dengan satu tangannya hingga tatapan mereka saling bertemu.
Zevina menelan kasar ludah nya saat melihat tatapan membunuh dari Darvin. Sangat menakutkan.
"Ekhem." Zevina seolah terbatuk untuk mencairkan suasana yang tegang itu.
"Sebaiknya tidak ada pria yang berani mendekati mu apalagi menyentuh mu, atau mereka akan ku buat berhadapan dengan Raja maut sebelum waktunya." Darvin kembali berkata serius.
"Terima kasih sayang." Ucap Zevina tulus. Darvin hanya mengangguk.
Zevina kini tahu Darvin sangat mencintai nya. Hanya saja dulu caranya salah untuk menahan Zevina tetap disamping nya. Padahal tanpa diminta pun, Zevina akan selalu setia dan mencintai nya. Tidak akan pernah pergi dari sisi nya.
"Segera urus surat resign mu. Aku akan mengantar itu pada duda bajingan itu besok." Ucap Darvin tegas dan mengintimidasi.
"Aku tadi pagi sudah menyerahkan nya. Karena aku ingin resign itulah sehingga dia berbuat gila pada ku." Zevina menjawab jujur.
"Tiba tiba begitu?" tanya Darvin merasa ragu. Zevina menggeleng dan menunduk.
"Apa sebelumnya juga pernah atau kau memang sudah pernah berhubungan dengan nya sehingga dia seperti tidak rela melepas mu?" tanya Darvin sanksi, ia mengepal tangannya kuat. Rasanya ingin langsung menjambak rambut Zevina dan menampar nya. Tapi berusaha sekuat tenaga ia menahan nya.
Dulu ia selalu menyalahkan Zevina jika ada pria yang mendekatinya. Bagi nya Zevina lah yang selalu mengumbar diri dan menarik perhatian para pria itu, sehingga selalu berakhir dengan ia mengkasari Zevina.
"Kemarin Darv. Kemarin dia mencoba menyentuh ku, namun terhenti saat aku memohon dan menangis." Ucap Zevina dengan suara bergetar dan menunduk ketakutan.
Darvin langsung melonggarkan kepalan tangannya. Ia lagi lagi salah menuduh kekasihnya.
"Maka dari itu aku tengah malam tadi bangun untuk membuat surat resign ku, dan ingin menyerahkan surat itu padanya pagi tadi. Tapi dia mencoba menjebak ku dan ingin berbuat hal itu padaku." Zevina melanjutkan perkataannya dengan air mata yang sudah menetes.
Zevina sangat takut jika Darvin akan memukul nya atau berbuat kasar lagi pada nya seperti yang sudah sudah. Namun ternyata dia salah, Darvin malah membawanya ke dalam pelukan nya dan mengusap lembut punggung nya.
"Maafkan aku. Seharusnya dari dulu aku percaya padamu. Sehingga kau tidak perlu pergi dari sisi ku dan berakhir bekerja dengan bangsat itu." Ucap Darvin menyesal mengingat kejadian terakhir yang membuat nya dan Zevina berpisah.
Jika saja saat itu ia tidak dikuasai ego, mungkin sekarang mereka sedang berbahagia menunggu kelahiran buah hati mereka.
"Aku berjanji Zev, aku tidak akan pernah meragukan mu lagi. Aku sadar cinta mu terlebih besar untuk ku dibanding cinta ku pada mu. Maafkan aku. Maafkan aku selalu saja menyiksa mu dan menyalahkan mu dulu." Ucap Darvin kini memberanikan diri untuk berjanji.
"Kau mau kan jika kita mengulang semuanya dari awal dan memperbaiki semuanya. Kita ulang dan tata kisah cinta kita dengan lebih indah, tanpa luka atau sakit didalam nya." Pinta Darvin tanpa sedikit pun melonggarkan pelukan nya.
"Aku mau Darv. Aku mau." Ucap Zevina tulus. Ia memang tidak pernah membenci Darvin. Saat sebelum ia pergi dari rumah beberapa bulan yang lalu pun, ia sangat berharap Darvin pulang tepat waktu untuk mencegah nya pergi, walaupun tidak meminta maaf. Asal itu kemauan Darvin, ia akan menuruti.
Sebesar itu cinta Zevina pada Darvin. Jika cinta adalah sakit, maka ia rela terus sakit agar bisa terus bersama Darvin.
"Terima kasih sayang." Ucap Darvin mengecup pipi Zevina.
******
Makasih yang selalu mendukung dan menunggu kelanjutan kisah Zevina.
Jangan bosan yah.
Tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita nya.
Jika berkenan boleh donk bagikan juga keteman kalian agar seru baca rame2.
Yuk, kita juga luangkan sedikit waktu untuk berdoa bagi saudara saudari kita yang mengalami musibah banjir dan longsor di Kabupaten Lembata, Flores Timur, NTT. Semoga diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Amin.