
"Zev, bangunlah. Kita sudah sampai." Roy membangunkan Zevina perlahan.
"Eng.." Zevina melenguh merenggangkan otot nya.
"Oh, sudah sampai." Ucap Zevina setelah kesadaran nya terkumpul.
"Terima kasih Roy." Ucap Zevina sambil melepaskan seat belt nya dan mantel Roy.
Tak sengaja ia melihat Roy yang kedinginan dan bibir nya sedikit bergetar walau ia sedang tersenyum. Timbul rasa iba dalam hati Zevina.
"Apa kau sebaiknya masuk dulu untuk mengeringkan pakaian mu?" Tanya Zevina. Tidak ada maksud lain, hanya kasihan.
"Apa boleh?" Roy balik bertanya.
"Em." Zevina menjawab singkat lalu turun dari mobil.
Roy segera menyusul dan meraih kembali mantel yang tadi dilepaskan oleh Zevina.
"Pakai saja ini." Roy menaruh mantel nya menutupi tubuh Zevina. Zevina hanya tersenyum.
Ia bingung dengan perlakuan Roy pada nya saat ini. Tidak seperti dulu, Roy yang sekarang tampak lebih manis dan sopan.
Mereka terpaksa menaiki tangga darurat karena lift sedang bermasalah. Ada ada saja gangguan yang terjadi.
Zevina sedikit kelelahan karena kehamilan nya.
"Kau tidak apa apa Zev?" Roy bertanya khawatir. Ia belum tahu tentang kehamilan Zevina. Jika tahu entah apa reaksi yang akan ia tunjukkan.
Zevina hanya menggeleng dan terus melangkah menapaki setiap anak tangga, hingga akhirnya sampai di lantai, dimana unit apartemen Zevina berada.
Saat sudah di depan pintu, Zevina segera membuka pintu dan meraba tombol sakelar lampu untuk menyalakan lampu apartemen nya.
"Masuk lah. Apartemen ku memang tidak sebesar yang lain." Zevina mempersilahkan Roy untuk masuk.
Rapi. Kesan pertama yang Roy tangkap. Roy tidak menyangka, wanita yang selama ini ia ketahui berlindung di belakang Darvin, bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Selamat ini ia mengira Zevina hanyalah wanita manja dan dimanjakan oleh kekayaan yang Darvin punya, walaupun Zevina dulunya adalah sekretaris Darvin.
"Ini, kau pakai saja dulu." Zevina menyerahkan pakaian bersih milik Darvin pada Roy.
Roy menerima dengan senyuman.
"Darvin tidak dirumah?" Tanya Roy. Ia kali ini bertanya tanpa sadar, ia bahkan lupa Darvin celaka karena ulahnya.
"Kamar mandi di sana." Zevina tidak menjawab pertanyaan nya dan malah menunjukkan arah kamar mandi pada nya.
Zevina pun segera masuk ke kamarnya. Tidak ingin bersedih, Zevina segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia pun segera berpakaian.
Kryuk kryuk
Bunyi perutnya, pertanda ia sedang lapar. Ia memutuskan untuk ke dapur dan membuat sedikit makanan untuk mengganjal perut nya.
"Darv." Zevina segera berlari dan memeluk erat Roy dari belakang yang ia kira adalah Darvin. Sejenak ia lupa itu sebenarnya adalah Roy, karena pakaian yang ia kenakan.
"Aku merindukan mu, Darv. Jangan pergi lagi aku mohon." Pinta Zevina memeluk erat Roy.
"Zev." Roy bersuara.
Zevina segera melepaskan pelukan nya saat mendengar suara berat Roy yang tentu saja berbeda dengan suara Darvin.
"Maaf aku tidak sengaja." Ucap Zevina gelagapan.
"Tidak masalah Zev. Ini makanlah dulu. Aku tidak terlalu bisa memasak, semoga saja kau bisa tahan dengan rasanya." Roy memberikan sepiring spaghetti bolognese yang ia buat tadi sambil tersenyum kikuk.
"Terima kasih." Zevina menerima nya.
Perlahan ia mencoba makanan didepan mata nya itu.
"Darvin." Zevina membatin saat merasakan makanan yang dibuat Roy.
Entah karena perasaan rindu nya yang terlalu besar, atau memang masakan Roy, tapi ia merasa rasa masakan Roy sama persis dengan yang dimasak Darvin untuknya.
"Bagaimana Zev?" Roy bertanya ragu.
Roy yang saat ini adalah Roy yang tulus, tidak ada niatan jahat dalam dirinya.
"Enak." Ucap Zevina singkat.
Roy menghela nafas lega. Ia pun ikut menyantap miliknya.
"Jadi Darvin kemana? Apa kau tidak ingin bercerita?" Roy bertanya lagi. Ia saat ini benar benar lupa jika yang membuat Darvin menghilang adalah dirinya.
Hah
"Darvin kecelakaan dan sampai saat ini belum ditemukan keberadaan nya." Zevina menceritakan yang ia ketahui.
Deg
Roy sekarang baru tersadar akan kejahatan nya. Timbul rasa bersalah dalam hati nya dan rasa iba saat melihat Zevina menangis.
"Maaf. Seharusnya aku tidak bertanya." Ucap Roy penuh sesal dan memeluk Zevina.
Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin ia katakan. Ia ingin meminta maaf karena sudah mencelakai Darvin tapi mulut nya tidak mampu berucap.
Zevina hanya menangis tanpa suara. Cukup, Zevina pun menghapus air matanya dan melepaskan tangan Roy yang memeluk nya.
"Kau ingin menginap atau pulang?" Zevina bertanya terus terang.
"Jika kau ijinkan aku ingin menginap. Sungguh tidak ada maksud lain, untuk kembali ke apartemen ku butuh waktu cukup lama dan diluar juga kembali turun hujan." Ucap Roy sesuai dengan kenyataan yang ada.
Entah kenapa sekarang ia malah merasa takut akan menyakiti Zevina.
Zevina berdiri dari duduknya lalu berjalan ke kamar. Ia mengambil sebuah bantal dan selimut lalu kembali keluar.
"Ini, pakai saja. Kau bisa gunakan sofa sebagai kasur. Maaf tapi kamar ku disini hanya satu." Zevina berkata sesuai kenyataan yang ada.
Roy menerima bantal dan selimut itu dengan tersenyum.
"Tidak masalah. Terima kasih." Ucap nya.
Zevina hanya tersenyum lalu melenggang kembali ke kamar nya. Zevina mencoba memejamkan matanya walau terasa sulit hingga akhirnya terlelap.
Roy diruang tamu, sambil memejamkan matanya, ia tersenyum selalu seperti anak muda yang sedang jatuh cinta.
#####
Di kota lain disebuah rumah sakit, tampak Liz sedang mondar mandir, gusar menunggu para dokter dan perawat keluar dari ruang operasi.
"Ya Tuhan, semoga saja pria itu tidak lupa ingatan dan malah menumpang hidup pada ku." Batin Liz didalam hati.
Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana dok keadaan nya?" Tanya Liz khawatir.
"Nona Liz tidak perlu khawatir. Kondisi nya baik baik saja. Hanya saja luka bakar nya cukup parah dan butuh waktu untuk sembuh. Jika pun sembuh mungkin akan berbekas terutama pada bagian wajah." Dokter itu menjelaskan keadaan yang terjadi.
"Apakah aslinya dia tampan?" Tanya Liz dalam hati, ia belum mengetahui yang ia selamatkan itu adalah Darvin.
"Baiklah dokter. Terima kasih." Ucap Liz.
Dokter pun berlalu. Tak lama kemudian para perawat mendorong brankar yang diatas nya adalah Darvin menuju ke ruang perawatan.
Liz mengikuti pergerakan mereka hingga sampai ke ruang perawatan.
"Baiklah Nona, kami tinggal dulu. Jika ada sesuatu kau bisa menekan tombol darurat untuk memanggil dokter atau kami." Ucap salah satu perawat sambil menunjuk tombol darurat yang ada disudut atas dekat ranjang pasien.
"Terima kasih." Ucap Liz seadanya.
Para perawat itu pun keluar meninggalkan Liz bersama Darvin.
"Kau siapa? Apa kau tampan sebelum kau terbakar? Jika kau tidak punya keluarga bisa ku pertimbangkan untuk ku jadikan Daddy buat anak ku nanti." Ucap Liz yang sebenarnya hanya menenangkan diri nya saja.
Liz memutuskan untuk mempertahankan bayi nya, dan mungkin suatu hari nanti ia akan memberitahu Jack tentang bayi nya, entahlah.
Perlahan Darvin sadar dari tidurnya, mungkin pengaruh bius yang sudah berkurang. Wajah dan tubuh nya diperban sedemikian rupa karena luka bakar nya. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk melihat sekitarnya hingga pandangan nya menangkap Liz yang sedang berdiri di depan nya.
"Liz." Ucap Darvin dengan susah payah.
Liz terperanjat dan melompat ke belakang karena takut.
"Ka kau siapa?" Tanya Liz ketakutan.
******
Sekian dulu nanti kita sambung lagi.
Yok jangan pelit komentar dan like yok.
Salah satu bentuk partisipasi kalian dalam mendukung para author adalah dengan meninggalkan komentar dan like setiap kali selesai membaca.
Selamat menjalankan ibadah puasa hari ini, Semoga lancar.