
"Selamat pagi Zevina." Sapa setiap karyawan J'White Property saat berpapasan dengan Zevina.
"Pagi." Zevina membalas sapaan mereka sambil tersenyum kaku.
Zevina sedikit heran dengan teman teman sekantor nya yang pagi ini menyapa nya semangat. Ia kemudian mempercepat langkahnya menuju lift dan segera naik ke ruangan Jack yang juga merupakan ruangan kerja nya.
Saat memasuki ruangan Jack, ia sedikit terkejut melihat Jack yang sudah berada didalam ruangan. Jack berdiri menghadap jendela yang memperlihatkan keramaian jalanan kota. Zevina terpana menyadari ketampanan Jack.
"Pagi Tuan." Zevina menyapa sedikit gugup.
"Pagi." Jack membalas sapaan Zevina dan berbalik menatap Zevina dengan senyum manis.
Zevina celingukan mencari sesuatu yang tampak hilang dari ruangan itu. Tapi Zevina seperti tidak menyadari apa yang kurang.
"Dia hari ini tidak ikut kemari." Ucap Jack tersenyum manis melihat Zevina yang celingukan.
"Ah ya, Raina." Ucap Zevina sedikit kaget.
"Hari ini dia tidak ikut kemari." Ucap Jack mengulang perkataan nya sambil melangkah dan duduk di kursi kebesaran nya.
"Apa dia sedang tidak sehat?" tanya Zevina dengan nada sedikit khawatir, namun ia tidak menyadari nya.
Jack lagi lagi tersenyum.
"Apa kau mengkhawatirkan nya?" tanya Jack memancing.
"Ho tentu saja tidak. Untuk apa aku mengkhawatirkan putri nakal Anda." Ucap Zevina mengipaskan tangannya diwajah nya.
"Syukurlah jika kau tidak mengkhawatirkan nya." Ucap Jack tersenyum mengejek.
"Aku takut jika kau mulai mengkhawatirkan nya akan membuat dia memaksa ku menikah dengan mu." Timpal Jack.
Zevina memutar malas kedua mata nya.
"Sekalipun putri anda memaksa dan anda menuruti nya, aku juga tidak akan tertarik." Ujar Zevina sambil melangkah dan duduk di meja kerjanya.
Jack kemudian berjalan dan berhenti di depan meja kerja Zevina. Ia membungkukan badan nya dengan tangannya sebagai tumpuan dimeja. Wajahnya sangat dekat dengan Zevina.
"A ada apa Tuan?" tanya Zevina sedikit gugup. Jack hanya tersenyum menatap dalam mata indah Zevina.
Ia semakin mendekatkan wajah nya hingga hampir tidak ada jarak. Senyum nya membuat jantung Zevina serasa akan copot.
"Apa kau yakin tidak ingin menikah dengan ku jika aku melamar mu?" tanya Jack dengan posisi yang sangat dekat dengan Zevina.
Zevina hanya menggeleng. Tenggorokan nya seolah tercekat tidak mampu bersuara karena pesona Jack.
"Menjauh dari ku." Ucap Zevina spontan mendorong wajah Jack menjauh.
"Woo kau tidak sopan Zevina." Ucap Jack yang hampir tersungkur karena perbuatan Zevina.
Zevina tidak menanggapi nya dan mulai mengerjakan pekerjaan nya. Jack yang melihat kelakuan cuek Ze kemudian mendapatkan ide jahil untuk mengerjai Zevina.
Ia kemudian berjalan kebelakang Zevina. Ia kemudian menempelkan jari telunjuk dan jari tengah nya pada punggung Zevina. Kemudian menggerakkan jari jari nya seolah sedang berjalan. Zevina menggeliat karena perbuatan nya.
"Stop it Jack." Ucap Zevina sedikit membentak. Namun Jack tidak menurut. Ia terus menggerakkan jari jari nya hingga naik kepundak Zevina lalu berhenti di leher Zevina.
Kemudian ia memainkan jari jarinya dileher Zevina membuatnya lagi lagi menggeliat. Seketika Zevina langsung berdiri membuat Jack sedikit terkejut. Ia menatap Jack penuh kemarahan.
"Jangan memperlakukan ku sama dengan wanita yang mungkin selalu kau mainkan Jack." Ucap Zevina tegas masih menatap marah pada Jack.
"Zev, aku hanya bercanda. Lagipula aku tidak pernah bermain wanita sekalipun istri ku sudah tiada." Ucap Jack mencoba menjelaskan.
Zevina enggan mendengar nya. Ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu agar bisa menenangkan diri sejenak.
Zevina memutuskan untuk pergi ke taman dekat perusahaan Jack. Taman yang dilengkapi dengan air mancur menambah kesan lebih mewah pada perusahaan Jack.
"Tidak, tidak mungkin." Ucap Zevina menggeleng kepalanya.
Zevina akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya. Walaupun ia masih kesal dengan kelakuan Jack, namun ia memutuskan untuk profesional.
Saat hendak masuk ke dalam, langkah nya terhenti. Ia menangkap keberadaan seorang pria yang tadi sempat ia lihat di taman. Pria yang mirip dengan Darvin.
"Baik Tuan Darvin. Senang sekali bisa berkenalan dengan anda." Ucap Jack tertawa kecil.
"Aku juga Tuan Jack. Semoga kedepannya kerja sama kita berjalan lancar." Ucap pria yang disebut Darvin oleh Jack itu.
Zevina terpaku didepan pintu. Ia mematung mendengar nama pria itu adalah Darvin. Sehingga ia tidak sadar kalau Jack dan Darvin sudah tepat di depan nya.
"Hei Zev, kau baik baik saja?" tanya Jack menjentikan jari nya beberapa kali didepan wajah Zevina, sedangkan Darvin hanya menyeringai penuh kemenangan. Ia sudah menemukan wanita nya.
"Tidak, tidak aku tidak apa apa." Ucap Zevina menggeleng, dan berbicara sedikit gugup.
"Zevina, this is Darvin Anthony. Darvin this is Zevina Albert, my Secretary." Jack memperkenalkan kedua orang itu bergantian.
"Darvin Anthony." Ucap Darvin mengulurkan tangan nya sambil menampilkan senyum yang cukup menakutkan.
Zevina terpatung melihat senyum nya, bukan terpesona tapi lebih ke arah takut.
"Z Zevina." Ucap Zevina singkat dan sedikit terbata.
"Aku mendapatkan mu sayang." Bisik Darvin di telinga Zevina saat Zevina menyambut uluran tangan nya, ia menarik tangan Zevina hingga badan mereka saling berdekatan. Zevina sedikit meronta ingin lepas, tapi Darvin lebih kuat.
Darvin menghirup dalam aroma wangi pada leher Zevina yang sangat sangat ia rindukan
"Kembalilah pada ku sayang. Jangan marah lagi." Bisik Darvin lagi, suaranya terdengar seperti sebuah ancaman yang membunuh.
Kemudian ia pun melepaskan tautan tangannya dengan Zevina. Jack sedikit merasa aneh melihat tingkah kedua nya namun tidak mampu menyimpulkan. Zevina menunduk tidak berani menatap wajah Jack apalagi Darvin.
Rasanya ia ingin menangis sekarang. Bagaimana bisa Darvin menemukan dirinya secepat ini. Dan tatapan mata Darvin padanya bahkan lebih menakutkan dari yang dulu.
"Kalian saling mengenal?" tanya Jack penasaran.
"Aku merasa wajah sekretaris mu ini mirip dengan wajah kekasih ku. You know, kekasih ku sedang marah pada ku hingga dia melarikan diri dari rumah dan entah kemana." Ucap Darvin dengan nada datar namun terdengar menakutkan bagi Zevina.
Jack hanya mengangguk seolah mengerti.
"Mari Tuan Darvin, aku akan mengantar mu kedepan." Ucap Jack mempersilahkan Darvin, Darvin malah mempersilahkan nya untuk duluan. Hingga akhirnya Jack berjalan duluan.
"Kita akan bertemu dan akan sering bertemu sayang. Jagalah mata dan hatimu." Bisik Darvin lagi di telinga Zevina, sambil menggenggam tangan Zevina dari samping. Ia sedikit menggigit kecil telinga Zevina dan berlalu dari sana.
Setelah kepergian Darvin dan Jack, Zevina masuk kedalam ruangan kerja nya dan Jack. Setelah menutup pintu, ia langsung luruh terduduk di lantai. Kakinya lemas tak bertenaga. Jantung nya berpacu kuat menunjukkan perasaan antara rindu, benci dan juga takut menjadi satu.
"Darvin ... " Batin Zevina. Air mata nya mulai menetes.
Ia berusaha bersembunyi dari Darvin selama kurang lebih enam bulan ini, namun begitu cepat Darvin dapat menemukan dirinya. Takut, ketakutan nya lebih besar dari apapun sekarang.
Zevina takut ini semua adalah perangkap Darvin yang kemudian akan membuat Darvin memaksa nya untuk kembali menjalin hubungan. Zevina takut akan menerima siksaan bertubi tubi dari Darvin karena ia sudah berani meninggalkan Darvin.
"Tidak, kau tidak boleh lemah lagi Zev. Sudah cukup selama empat tahun kau menderita dengan sedikit kebahagiaan. Sudah cukup. Kau harus bangkit dan harus berani untuk melawan." Zevina bertekad untuk melawan jika Darvin memaksa nya untuk kembali menjalin hubungan terkutuk itu lagi.
*******
Akankah Zevina mampu bangkit dan melawan? Atau pertemuan nya dengan Darvin kali ini justru membuat nya semakin jatuh kedalam jurang yang dalam? Bagaimana dengan Jack yang mulai tertarik pada Zevina? Akankah dia berhasil untuk mendekati Zevina?
Tungguin terus kelanjutan nya yah.
Jangan bosan bosan untuk berikan dukungan kalian dengan cara meninggalkan komentar, like, Vote, dan favorit cerita nya.
Sayang kalian semua.