
London , Inggris
"Darv, kapan kau akan sampai? Aku mengantuk menunggu mu." Ucap Zevina dalam tangis nya. Tatapan matanya lurus, wajah nya tidak menunjukkan ekspresi. Ia meringkuk di sofa, dan tidak mengijinkan Jack ataupun Raina mendekatinya.
Sepanjang hari dia hanya menangis dan terus menyebutkan nama Darvin. Tidak ingin makan atau apapun itu, hingga Jack terpaksa memaksa dengan sedikit kekerasan karena memikirkan bayi dalam kandungan nya.
"Darv aku mohon, cepat pulang." Ucap nya lagi.
"Dad ... " Raina memanggil Ayahnya dengan maksud meminta ijin agar bisa menghibur Zevina. Namun Jack menggeleng.
"Beri dia waktu sendiri dulu." Ucap Jack pelan.
"Baiklah." Ucap Raina menunduk sedih.
Ting tong
Bunyi bel pintu apartemen Zevina.
Jack berjalan perlahan mendekati pintu, berharap ada keajaiban didalam hatinya.
Ceklek
Saat pintu terbuka yang dilihat Jack hanyalah dua pria berseragam polisi di depan nya.
"Apakah benar ini unit apartemen Nyonya Anthony?" Tanya salah satu polisi.
"Benar sir. Silahkan masuk." Jack membenarkan dan mempersilahkan kedua polisi itu untuk masuk.
Jack sudah mewanti wanti apa yang akan mereka katakan. Ia secepatnya duduk di samping Zevina.
"Raina, bring some drinks here." Titah Jack pada putrinya.
Raina pun mendekat sambil membawa dua botol air mineral dan diberikan pada kedua polisi itu.
"So how is it sir? Apakah ada penemuan terbaru?" Jack bertanya ragu.
Hah
Salah satu polisi menghela nafas kasar. Zevina masih meringkuk di tepi sofa seakan tidak sadar kalau ada kehadiran dua polisi itu. Bibir nya terus menyebut nama Darvin meski tanpa suara.
"It's hard to say. Tapi taxi yang ditumpangi oleh Tuan Anthony sepertinya dipaksa untuk melewati jalur yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Kami tidak bisa mengidentifikasi lebih detail apa yang sebenarnya terjadi, tapi bisa dipastikan mereka sengaja dicelakai. Taxi yang ditumpangi oleh Tuan Anthony jatuh ke jurang dan meledak setelah nya, sangat hancur hingga kami tidak bisa menemukan apapun didalam nya. Kami tidak yakin ada seseorang yang ikut terbakar didalam mobil itu." Ucap polisi itu sambil memandang Zevina dengan tatapan kasian.
"Shit." Jack mengumpat dalam hati.
"Tidak Darv, kau pasti kembali. Aku percaya kau pasti akan kembali. Aku tahu mereka berbohong." Ucap Zevina pilu tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya, hanya air mata yang terus mengalir dari mata nya.
"Jika ada penemuan terbaru, akan segera kami beritahukan lagi pada Tuan White. Kami permisi." Ucap polisi itu kembali lalu mereka berdiri setelah berpamitan.
"Raina, tolong antarkan Sir Police ke depan." Ucap Jack meminta putrinya.
Raina pun menurut.
Setelah kepergian kedua polisi itu, perlahan air mata Zevina mulai tak terbendung. Tangisnya semakin menjadi.
"Zev, tenanglah. Percaya pasti ada keajaiban untuk Darvin." Jack berusaha menenangkan Zevina kembali dan dengan sigap menarik Zevina kedalam pelukan nya.
"Kembalikan Darvin ku. Jangan ambil dia dariku dsn baby. Aku mohon kembalikan Darvin." Ucap Zevina sambil memukul dada bidang Jack dengan tenaganya yang sudah lemah.
"Sstt, tenang Zev. Pasti, pasti ada keajaiban untuk Darvin. Bukankah polisi bilang kalau kemungkinan Darvin tidak ada didalam mobil itu. Bisa saja Darvin sempat menyelamatkan diri sebelum ledakan terjadi." Ucap Jack. Yang ada di pikiran nya sekarang adalah bagaimana untuk menghibur Zevina.
Kondisi Zevina sebenarnya tidak boleh, sangat tidak boleh untuk bersedih. Takut berimbas pada janin nya.
Zevina tidak berkata, tangannya setia terus memukul dada Jack. Jack biarkan itu, hingga semakin lama pukulan Zevina semakin pelan dan pelan sampai akhirnya berhenti.
"Raina, kau juga istirahat saja. Temani Mommy mu dikamar." Titah Jack pada putrinya.
"Baik Dad." Raina sambil mengangguk.
Ia pun segera berjalan masuk ke kamar meninggalkan Ayahnya.
"Kenapa kau harus mengalami ini semua sekarang Zev?" Jack duduk di sofa, memposisikan kepalanya pada sandaran sofa hingga kepalanya mendongak keatas menatap langit langit apartemen Zevina.
"Rasanya berat sekali." Jack membatin.
#####
New York, Amerika
Tampak Roy sedang mengemas barang barang nya ke dalam koper. Padahal ia baru saja selesai menyiksa dan menikmati Rexa. Tapi dengan sangat cepat pikiran nya sudah beralih pada Zevina.
"Eungh..Roy." Rexa melenguh kecil dan meraba tempat tidur di samping nya sambil memanggil nama Roy.
Ia bangun karena tidak mendapati Roy disamping nya. Saat sudah duduk, ia melihat Roy sedang mengemas barang barang nya.
"Roy, kau akan pergi?" Rexa bertanya dengan hati hati.
"Bukan urusan mu." Roy menjawab dengan ketus.
"Apa aku tidak ikut dengan mu?" Rexa kembali bertanya.
"Tidak perlu. Jika kau butuh untuk dipuaskan, kau cari saja pria diluar sana sekalian kau cari uang yang banyak dan transfer kan pada ku." Roy berkata tanpa memikirkan sedikit pun perasaan Rexa.
"Tidak Roy. Aku tidak akan lagi menuruti keinginan mu jika kau pergi dari ku." Rexa mencoba mengancam Roy.
"Haha kau pikir aku takut padamu? Kau yang seharusnya takut pada ku. Jika aku mengirimkan satu saja video panas mu pada Ayah mu yang penyakit jantung itu, maka ku pastikan saat itu juga kau akan mendengar nya sudah pergi ke neraka." Ucap Roy lalu mendekati Rexa.
Satu tangannya mencengkeram kuat dagu Rexa dan satu tangannya menjelajahi dada Rexa yang tidak berbalut apapun.
"Gunakan tubuh mu untuk melakukan kebaikan dan meraih keuntungan. Kebaikan dengan memuaskan para pria kesepian, dan dapatkan bayaran tinggi dari mereka." Ucap Roy lalu melepaskan cengkeraman nya dan menampar Rexa dengan sangat kuat.
"Aku tidak ingin tahu apapun. Yang aku mau, saat aku membutuhkan uang, kau harus segera mentransfer pada ku. Jika tidak, maka siap siap saja melihat tubuh kaku Ayahmu beserta video panas mu ditangan nya." Roy menggertak dan mengancam Rexa. Ia kemudian menyeret koper nya dan berlalu dari kamar nya.
Selama ini setiap kali bermain dengan Rexa, ia selalu merekam diam diam kegiatan mereka yang pada akhirnya dijadikan alat untuk mengancam Rexa agar tunduk padanya.
Sepeninggal Roy, Rexa menangis menjadi jadi. Menangisi nasib nya yang harus dan hanya menjadi budak nafsu dari pria yang sangat ia cintai. Bahkan ia harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh pria pria hidung belang demi mendapatkan uang berlimpah untuk pria yang ia cintai. Sungguh miris.
"Baby, maafkan Mommy." Ucap Rexa memeluk erat perutnya.
Ia menangis menjadi jadi menumpahkan segala rasa sakit nya selama bertahun menjadi wanita simpanan Roy dan kini harus menjadi sumber uang untuk Roy.
Menyakitkan sangat sangat menyakitkan.
******
Tingkiu buat yang masih setia memberikan dukungan kalian.
Ayo donk semangati author kalian ini jika kalian suka karya ku, tinggalkan komentar dan like setiap kalian selesai membaca.
Jangan udah baca malah bersikap masa bodoh dan setelah baca eh nungguin lagi chapter selanjutnya tanpa memberikan partisipasi atau dukungan apapun untuk author yang menulis.
Gak minta banyak, cuma komen asal komen dan like nya aja setiap selesai baca satu part.
Selamat menjalankan ibadah puasa hari ini.
Semoga lancar sampai berbuka nanti.