IF LOVE

IF LOVE
If Love 18



"Sayang aku merindukan mu." Ucap Zevina tersenyum manis sedang berdiri dihadapan Darvin.


"Sayang, ini benar dirimu?" tanya Darvin tidak percaya melihat wanita yang sangat ia rindukan ada dihadapan nya.


"Heem. Aku sangat merindukan mu." Zevina mengangguk lalu mengalungkan tangannya ke leher Darvin.


Darvin merangkul pinggang mungil Zevina, hingga posisi mereka kini sangat intim.


"Aku lebih merindukan mu sayang." Darvin berucap dan seketika langsung menyambar bibir mungil yang sangat ia rindukan itu. Zevina pun membalas nya tak kalah panas.


Tangan Darvin mulai menelusup kedalam baju Zevina dan menjelajahi tubuh Zevina. Namun tiba tiba Zevina mendorong tubuh Darvin menjauh. Darvin terheran melihat wanita nya menolak nya.


"Ada apa sayang?" tanya Darvin heran.


"Aku hamil Darv, aku hamil anak mu." Zevina berucap dengan air mata membasahi pipi nya dan tersenyum getir.


"Kau tidak bercanda?" tanya Darvin tersenyum kecil. Zevina mengangguk. Kemudian Darvin berusaha mendekati nya, namun lagi lagi Zevina menahan nya dan mendorong nya jauh.


"Apa kau menginginkan nya?" Zevina bertanya sambil menunjuk perut nya.


"Tentu sayang. Dia adalah buah cinta kita." Ucap Darvin mengangguk semangat dan tersenyum manis.


"Tidak, kau bohong Darv. Kau tidak menginginkan nya." Ucap Zevina menggeleng kuat.


Zevina kemudian terus memukuli perut nya dengan tangannya.


"Sayang stop it. Kau bisa melukai nya." Darvin membentak Zevina. Namun Zevina tidak mau mendengar nya dan terus memukuli perut nya.


"Tenang saja Darv, aku akan membunuhnya untuk mu." Ucap Zevina dengan senyum menakutkan.


"Hahaha." Zevina tertawa menggelegar namun air matanya tidak berhenti mengalir. Seketika darah mulai keluar dari celah paha nya.


Darvin semakin panik, namun Zevina terus tertawa dan menangis bersamaan sambil memukul perutnya bahkan semakin bertambah kencang.


Tiba tiba sesuatu seperti gumpalan daging jatuh keluar dari celah paha Zevina. Zevina pun menghentikan aksinya dan membungkuk lalu mengambil gumpalan daging itu. Ia menyodorkan di depan wajah Darvin.


"Lihat Darv. Lihat ini, dia sudah mati. Dia sudah mati seperti yang kau inginkan. Hahaha." Ucap Zevina kembali tertawa juga menangis bersamaan.


"Sayang aku tidak ... " Darvin tidak dapat melanjutkan perkataannya karena ia merasa sangat mual melihat apa yang dipegang Zevina.


Tiba tiba Zevina mulai berlari meninggalkan Darvin. Zevina berlari menuju ke jalan raya. Jalan yang penuh kendaraan dan berbahaya. Kemudian ia berhenti tepat di tengah jalan dan dari arah berlawanan ada sebuah mobil truk yang sedang mendekat.


Darvin mencoba berlari ingin menyelamatkan Zevina. Namun semakin ia berlari Zevina seperti semakin menjauh, sedangkan truk didepan Zevina semakin mendekat.


Zevina tersenyum getir dan mengarahkan pandangan nya pada Darvin.


"Selamat tinggal." Ucap Zevina tanpa suara.


Darvin yang masih bisa membaca gerakan bibir nya itu pun menggeleng kuat. Ia terus berlari tapi tidak pernah sampai pada Zevina.


Kyatt


Brakkk


Truk itu mengerem tiba tiba namun tetap saja menghantam tubuh Zevina hingga ia terpelanting ke belakang. Tubuhnya dipenuhi darah, seketika ia tak bernyawa sedang di tangannya ia setia memegang gumpalan daging yang keluar dari tubuh nya.


"ZEVINA hah hah ..." Darvin berteriak memanggil Zevina dengan nafas tidak teratur. Darvin sontak terbangun dari tidur nya.


"Mimpi?" tanya Darvin pada dirinya sendiri.


Ya, ia tadi sedang bermimpi. Mimpi yang sangat buruk menghantui nya. Ia sangat merasa bersalah dan ia pun tahu persis arti mimpi itu.


"Zevina, baby ... " Gerutu Darvin masih merasakan perasaan bersalah.


Darvin kemudian berjalan menuju wastafle kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah selesai, ia memperhatikan dalam wajahnya dicermin yang menyatu dengan dinding diatas wastafle nya.


Tangan nya terus ia gunakan untuk memukul bagian tepi wastafle. Seakan tidak lagi merasakan sakit, ia terus memukuli tepi wastafle dengan sekuat tenaga. Sejak ia ditinggal pergi oleh Zevina, ia jadi sangat sering melukai dirinya sendiri.


"Aku pasti akan menemukan mu dan membawa mu pulang kembali disamping ku sayang." Ucap Darvin tiba tiba berseringai.


"Sayang, kapan kita ke London? Aku ingin sekali kesana." Tiba tiba kalimat yang pernah Zevina ucapkan kepadanya terngiang dalam ingatannya.


Seketika ia kembali ke dalam kamarnya dan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Cari wanita ku di London. Aku yakin dia pasti pergi kesana?" ucap Darvin kepada orang yang ditelpon nya itu. Kemudian ia mematikan panggilannya.


"Kau harus kembali kepada ku sayang. Hidup mu, jiwa mu, dan tubuh mu semua itu hanya milikku." Ucap Darvin menyeringai. Tatapan pilu dimatanya kini berganti menjadi tatapan seperti akan membunuh seseorang.


###


"Raina, apa besok kau akan ikut Daddy ke kantor lagi?" tanya Jack pada putrinya. Mereka kini sudah kembali ke rumah mereka, setelah seharian menghabiskan waktu di apartemen Zevina.


"No Daddy, besok aku harus belajar." Ucap Raina menolak ajakan tersirat Ayahnya.


Raina adalah gadis kecil yang tahu untuk mengatur waktunya. Jika ia sedang stres dengan pelajaran nya, maka ia akan mengambil waktu libur beberapa hari.


Jack sedikit kecewa mendengar jawaban putri kecil nya. Entah kenapa ia sangat berharap agar putrinya mau ikut dengan nya dan bermain bersama Zevina di kantor besok.


"Kau yakin sayang?" tanya Jack menghentikan pergerakan putrinya yang sedang merapikan buku buku dan peralatan belajar nya, dan menggendong Raina keatas pangkuan nya.


"Heem." Raina mengangguk.


Jack tidak ada harapan lagi. Keputusan putrinya sudah bulat. Ia menghela nafas kasar dan memasang raut wajah kecewa. Raina tidak terlalu peduli, baginya jika sudah waktunya belajar maka ia harus fokus dan serius.


"Kau tidak ingin menemani Mommy mu?" tanya Jack dengan lantang menyebut Zevina adalah Mommy Raina.


"Aku ingin. Tapi aku harus belajar kembali Dad. Aku tidak ingin menjadi putri yang bodoh untuk mu." Ucap Raina polos membuat Jack terkekeh.


"Ya sudah. Lebih baik kau belajar agar tidak bodoh ya." Ucap Jack menepuk puncak kepala putrinya kemudian keluar dari kamar Raina meninggalkan putrinya.


Jack menghela nafas kasar saat sudah diluar kamar putrinya. Entah kenapa sekarang ia merasakan rindu pada Zevina. Bahkan wajah Zevina sedari tadi berputar di otak nya seperti potongan film.


"Zevina ... " Zack membatin sambil tersenyum.


Ia sudah seperti orang gila yang suka senyum senyum sendiri.


"Apa kau benar benar akan menjadi Mommy untuk Raina kelak?" Zack kembali membatin dan lagi lagi tersenyum.


###


"Haachim." Zevina tiba tiba bersin tanpa sebab.


"Apa apaan ini? Kenapa aku bersin tiba tiba tanpa sebab seperti ini?" Gerutu Zevina yang dari tadi masih menyelesaikan pekerjaannya.


"Raina ... " Satu senyum kecil terbit di bibir nya saat mengingat Raina. Gadis kecil yang selalu mengganggu nya beberapa hari ini.


Ia memutuskan untuk cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera istirahat.


*******


makasih buat kalian yang selalu setia mendukung aku dan yang sudah membaca cerita ku.


Jangan bosan bosan yah


Tinggalkan komentar, like, favorit, vote nya buat aku yah.


Love kalian semua.