
"Mommy, bolehkah aku memakan itu?" tanya Raina pada Zevina sambil menunjuk salah satu penjual yang menjual permen kapas didekat mereka.
Mereka saat ini sedang bersantai di sebuah taman. Raina memaksa Ayahnya agar membawa nya dan Zevina jalan jalan. Zevina sudah menolak dengan berbagai alasan tapi tetap saja Raina yang menang.
"Tidak usah bertanya pada ku. Tanya pada Ayah mu." Ucap Zevina menunjuk ke arah Jack dengan dagunya.
"Tidak, hari ini aku akan bertanya dan meminta ijin selalu pada Mommy." Ucap Raina bangga, merasa dirinya sedang menjadi anak yang penurut.
"Yasudah, ayo kita beli bersama." Ajak Zevina ketus dan meraih tangan mungil Raina kedalam genggaman nya.
Jack hanya diam dan tidak ingin ikut campur dengan urusan putrinya dan Zevina. Ia selalu memperhatikan pergerakan Zevina pada putrinya. Entah kenapa sekarang melihat Zevina yang mulai dekat dengan putrinya semakin membuat nya merindukan istrinya.
"Andai kau masih disamping ku sayang. Pasti tangan yang sedang di genggam Raina adalah tangan mu." Batin Jack penuh kesedihan. Bayangan kematian istrinya selalu menghantuinya dan membuatnya hidup dalam penyesalan.
Banyak kata "Andai" yang selalu berputar di otak nya setiap kali ia mengingat mendiang istrinya.
"Maafkan aku sayang." Batin nya kembali dan sedikit terisak. Namun dengan cepat ia menghapus air matanya saat melihat Zevina dan putrinya mendekat.
"Ini untuk Tuan." Ucap Zevina memberikan sebuah ice cream dengan cone pada Jack.
"Tidak, aku tidak terlalu suka makan sesuatu yang manis." Ucap Jack menolak. Tapi matanya tidak bisa berhenti memandangi wajah cantik Zevina.
"Ambil lah. Putri mu yang membelikan nya untuk mu. Jangan buat dia kecewa." Zevina berbicara dengan bahasa sedikit lebih santai. Jack tersenyum mendengar bahasa santai Zevina.
"Terima kasih." Ucap Jack menatap dalam mata Zevina. Zevina terpaku menerima tatapan Jack. Namun dengan cepat ia mengalihkan pandangan nya kearah lain. Jack masih setia menatap nya.
"Raina ... " Zevina memanggil Raina untuk mengalihkan perhatian nya dan pandangan Jack pada nya. Segera ia memilih untuk menghampiri Raina.
"Yes Mommy. Apa Mommy sedang malu karena Daddy memperhatikan Mommy seperti itu?" tanya Raina tersenyum manis.
"Apa kau tidak sekolah? Kenapa setiap hari kau hanya mengikuti Daddy mu ke kantor?" tanya Zevina mengalihkan pembicaraan.
"Oh, aku benar. Mommy sedang malu karena diperhatikan oleh Daddy." Ucap Raina kegirangan. Seolah kedua orang tua nya baru saja berbaikan setelah bertengkar. Ia tidak menghiraukan pertanyaan Zevina pada nya.
Jack yang mendengar perkataan putrinya dari jauh hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Entah kenapa putrinya begitu bahagia didekat Zevina, walau Zevina selalu ketus pada nya.
"Daddy memberi ku home schooling, jadi aku bisa belajar kapan pun aku mau dan kapan aku tidak mau." Jawab Raina sambil naik kepangkuan Zevina.
"Kenapa kau selalu menempel pada ku?" tanya Zevina penasaran.
"Karena aku bisa merasakan kalau Mommy itu baik. Dan Mommy juga punya hati yang tulus." Jawab Raina sambil membawa tangan Zevina untuk memeluk perutnya.
"Aku sayang Mommy." Ucap Raina kemudian mengecup pipi Zevina.
Zevina terharu mendapatkan perlakuan manis dari Raina. Ia berpikir seandainya jika bayi nya masih hidup, apa bayi nya juga akan semanis ini nantinya. Seketika Zevina menangis, menangis dalam diam. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak menetes
"Mommy, ayo pulang. Aku ingin menginap di apartemen Mommy." Ajak Raina semau hati nya.
"Tidak bisa." Zevina menolak keras.
"Ayolah Mom. Please." Mohon Raina pada nya.
"Kau hanya punya dua pilihan, kau menginap dirumah ku dan kami yang menginap di apartemen mu." Ucap Jack yang kini sudah berdiri di depan Zevina dan putrinya.
"Baiklah, kalian bisa menginap di apartemen ku." Zevina terpaksa memilih pilihan pertama saja.
Raina langsung melompat dari pangkuan Zevina kedalam pelukan Ayahnya. Ia mengecup pipi Ayahnya kiri dan kanan bergantian beberapa kali.
"You're the best Dad." Ucap Raina bahagia. Jack tersenyum dan Zevina hanya menghela nafas kasar.
"Ayah dan putri benar benar tidak waras." Batin nya.
Segera mereka pun berlalu meninggalkan taman itu dan menuju ke apartemen Zevina. Zevina hanya diam tidak mempedulikan mereka sepanjang perjalanan. Sedangkan Raina tertidur di samping nya dengan paha nya sebagai bantal.
Sesampainya di apartemen Zevina, Jack segera turun dari mobil dan menggendong putrinya. Zevina pun segera turun dari mobil dan berjalan tanpa mempedulikan Jack. Jack tahu Zevina sedang kesal. Tapi entah dorongan dari mana sehingga tadi ia bisa setuju pada putrinya untuk menginap di apartemen Zevina.
"Sebaiknya aku tidak usah peduli pada mereka." Batin Zevina dan segera masuk ke kamarnya tanpa bicara apapun pada Jack.
Jack membaringkan putrinya pada sofa panjang diruang tamu apartemen Zevina. Ia tidak enak hati, tapi ia juga tidak ingin beranjak rasanya. Sedangkan Zevina didalam kamar sedang mondar mandir gelisah. Disatu sisi ia kesal dengan kelakuan Ayah dan putri yang berlaku sesuka hati mereka, dan disisi lain ia kasihan pada Raina yang sudah terlelap.
Akhirnya hati nurani nya menang. Ia kemudian keluar dari kamar nya dan berjalan mendekati Jack dan putrinya. Jack masih duduk sambil menahan kantuk, sedangkan Raina ia baringkan diatas paha nya.
"Tidurlah dikamar ku." Ucap Zevina tidak punya pilihan. Apartemen nya hanya ada satu kamar tidur.
"Lalu kau?" tanya Jack tidak enak hati.
"Aku nanti tidur disini saja. Lagipula aku biasa juga sering tidur disini." Ucap Zevina menunjuk sofa yang sedang di duduki Jack. Kalimat terakhir nya adalah kebohongan. Jangankan tidur, untuk sekedar duduk di sofa ruang tamu nya saja ia sangat jarang
"Kau dan Raina saja tidur dikamar biar aku yang tidur di sini." Usul Jack.
"Tidak, aku tidak bisa tidur jika ada orang lain disamping ku." Ucap Zevina lagi lagi berbohong. Tidak bisa tidur jika ada orang lain disamping nya, tapi ketika bersama Darvin dulu, mereka bahkan hampir setiap hari berperang dulu sebelum tidur.
"Sudah sana." Zevina mengusir Jack agar ke kamar nya. Akhirnya Jack pun mengikuti perintah Zevina.
Zevina pun segera berbaring di sofa itu. Ia tidak bisa segera tidur. Ia membolak balikkan tubuhnya. Ke kanan dan kiri. Sangat berbeda dengan kasur empuk nya.
Jack memperhatikan gerak gerik Zevina dari celah pintu kamar. Ia tersenyum melihat kelakuan lucu Zevina.
"Dasar. Jika tidak bisa tidur di sofa kenapa harus mengalah?" Batin Jack seolah bertanya pada Zevina. Ia sadar Zevina punya hati yang baik, tapi entah apa yang membuat nya menjaga jarak dengan orang lain.
Zevina pun tertidur dengan susah payah. Setelah ia tertidur, dengan perlahan Jack keluar dari kamar dam menggendong nya agar tidur diatas kasur nya bersama Raina dan dirinya. Kasur Zevina cukup untuk ditiduri tiga orang. Jack setiap menatap wajah cantik Zevina, hingga akhirnya ia pun ikut terlelap.
********
Revisi sudah selesai di bab ini.
Setelah ini nantikan Update episode2 selanjutnya yah.
Makasih buat kalian yang selalu mendukung aku.
Jangan lupa tinggalkan komentar, Like, vote, favorit yah. Jangan lupa untuk Rate bintang 5, 4, 3 juga yah.
Sayang kalian.