
...NOTE : 21++...
...Jangan Ditiru Bila Anda Belum Punya Pasangan Sah!...
...BIJAK MEMILIH BACAAN!!!...
.
.
.
.
.
.
Zevina yang baru saja selesai merapikan kamar nya, masih belum menyadari putranya menghilang.
Ia kini duduk di atas ranjang, istirahat sejenak.
"Ar.." Panggil Zevina pada putranya, namun tidak menjawab.
"Pasti dia bermain diluar lagi." Ucap Zevina santai mengingat biasa ada pengawal yang akan menjaga mereka.
Ia kemudian meraih ponselnya dan melihat ada pesan dari nomor asing.
Matanya terbelalak tak percaya melihat isi pesan itu.
Namun ia masih mencoba berpikir positif, ia mulai mencari putra ke seluruh ruangan dirumah nya.
Namun nihil.
"Oh no, Ar ku." Ucap Zevina mulai tidak tenang.
Matanya mulai berkaca kaca.
Segera ia meraih tas selempang nya, dan keluar dari rumah nya untuk mencari taxi.
Setelah mendapatkan taxi, ia segera mengarahkan sopir taxi untuk pergi ke alamat yang sudah diberikan Darvin.
"Jangan sampai kau menyakiti Ar, Darv." Spontan saja dia menyebut nama suaminya seolah telah mempercayai perkataan suaminya.
Hati nya tidak tenang. Gelisah, khawatir, takut bercampur menjadi satu.
"Kenapa rasanya lama sekali?" Tanya Zevina sesekali melirik jam tangan nya.
"Mrs. kita sudah sampai." Ucap sopir taxi itu setelah berhenti di depan sebuah rumah megah.
"Terima kasih." Ucap Zevina setelah membayar biaya taxi nya.
Ia turun dari taxi dan berjalan mendekati pagar rumah yang tampak menjulang tinggi itu.
"Selamat datang Nyonya." Ucap dua pengawal Darvin sambil membukakan pintu pagar itu untuk Zevina.
"Mari, aku akan mengantar Nyonya pada Tuan Darvin." Ucap salah satu pengawal itu.
Zevina mengangguk dan melangkah penuh keraguan, kekhawatiran, dan rasa takut yang tidak berkurang.
"Jangan sampai dia benar benar adalah Darvin. Jika benar, maka aku benar benar sudah mengundang Darvin yang lama kembali." Batin Zevina takut.
"Masuklah." Titah sang pengawal setelah membukakan sebelah pintu rumah megah Darvin.
Dengan langkah gemetar Zevina melangkah masuk kedalam rumah yang terkesan mencekam itu.
"Ya Tuhan, ini rumah atau neraka? Kenapa rasanya menyeramkan sekali." Batin Zevina. Matanya kembali berkaca kaca karena ketakutan.
"Ar.." Dia memanggil nama putra nya.
Glep
Seseorang menarik tangan nya, hingga ia terpaksa mengikuti langkah orang tersebut.
Zevina bisa melihat pelaku nya adalah Darvin yang mengaku Darvin tadi siang.
"Lepaskan aku." Bentak Zevina pada suaminya itu.
Darvin tidak mendengar nya, ia malah lebih kuat mencekal pergelangan tangan istrinya dan menarik istrinya lebih cepat hingga mereka kini sudah berada di dalam sebuah kamar yang mewah.
Darvin menutup pintu kamarnya lalu mengunci nya.
Ia kemudian menghimpit tubuh istrinya bersandar pada pintu, dengan kedua tangannya bertumpu disisi kiri dan kanan tubuh istrinya.
"Selamat datang sayang. Aku merindukan mu." Ucap Darvin.
Segera Darvin menyambar bibir mungil yang sudah ia rindukan selama bertahun tahun itu.
"Maafkan aku, karena membuat mu menunggu hingga begitu lama." Ucap Darvin setelah melepas tautan bibir mereka.
Ia mengambil tas Zevina dan melempar nya asal.
Zevina berkaca kaca. Ketakutan nya mendominasi, lutut nya terasa lemas.
"Jangan seperti ini. Aku mohon. Aku tidak mengenal mu." Ucap Zevina bergetar.
Darvin masih berusaha menahan amarah dan hasratnya yang sebenarnya sudah menggebu.
"Aku suami mu sayang. Darvin Anthony." Ucap Darvin lalu tangannya turun membelai wajah cantik istrinya yang tidak pernah berubah sedikit pun.
Tangannya dengan nakal memainkan gundukan kenyal milik istrinya.
"Sial, kau selalu saja dengan mudah bisa memancing ku sayang." Ucap Darvin.
Perlahan tangannya bergerak membuka kancing baju Zevina. Zevina memang tengah mengenakan baju berkancing dan rok span di atas lutut.
Zevina mulai terisak.
Ia terus menggeleng kepalanya, namun sial tubuhnya malah bereaksi terhadap setiap sentuhan Darvin.
"Dimana putra ku?" Tanya Zevina berusaha kuat.
"Sstt. Putra kita aman sayang. Dia sudah tidur." Ucap Darvin menyeringai.
"Jadi, kau mau mendengarkan penjelasan ku atau kita bermain dulu?" Tanya Darvin yang sudah semakin terbakar hasratnya untuk mencumbu istrinya.
Zevina menggeleng.
"Darvin tidak akan menakuti ku dan menyakiti ku." Ucap Zevina berusaha membujuk Darvin.
"Kau lupa? Darvin yang lembut pada mu adalah Darvin yang pernah berulang kali menyakiti mu bahkan dengan kejam membunuh bayi nya sendiri." Ucap Darvin menyeringai dan suara datar.
Tangan nya tidak berhenti memainkan tubuh istrinya sedangkan Zevina tidak mampu melawan juga menolak.
Seolah Zevina juga sangat merindukan dan menginginkan sentuhan itu.
Sigap, Darvin meraih tengkuk leher Zevina dan mulai mencumbu panas bibir nya, ia menuntut balasan.
Zevina berusaha mendorong tubuh Darvin menjauh, namun sia sia.
Ia membawa Zevina keatas ranjang tanpa melepaskan cumbuan nya.
Zevina pasrah, tidak mampu melawan.
Darvin semakin buas, ia menarik rok span yang dikenakan Zevina, hingga tubuh Zevina kini hanya berbalut pakaian dalam saja.
Darvin begitu tergoda.
Segera ia juga melepaskan pakaian nya hingga tersisa ****** ***** nya saja.
Segera ia naik keatas istrinya dan membawa tangan Zevina mengalung di leher nya.
Zevina masih terisak.
"Sstt. Tidak perlu menangis sayang. Kita sudah melakukan ini berulang kali." Ucap Darvin lembut sambil menghapus air mata Zevina, yang justru malah terdengar menakutkan.
Kembali ia mencumbu istrinya dengan lembut.
"Akh.." Satu desahan lolos dari bibir Zevina membuatnya semakin bersemangat.
"Lebih baik kita bermain dulu sayang untuk melepaskan kerinduan kita selama bertahun tahun ini." Ucap Darvin menyeringai.
Zevina dapat melihat tato yang menghiasi tubuh Darvin dengan jelas, dan jujur saja itu sangat menggoda Zevina.
"Darv..akh.." Desahan lolos lagi dari bibir Zevina saat Darvin memasukkan tangannya bermain dengan lembut di area pribadi istrinya.
Tubuh Zevina kini sudah polos tak berbalut apapun, begitupun dengan Darvin.
Entah sejak kapan Darvin melakukan itu semua.
"Yes babe. Kau hanya boleh menyebut nama ku." Ucap Darvin.
Tanpa menunggu lama Darvin pun segera menyatukan miliknya pada istrinya.
"Arghh.." Darvin mengerang nikmat saat miliknya mulai ia gerakkan pada istrinya.
"Ternyata kau menjaga milik mu dengan baik untuk ku sayang." Ucap Darvin semakin merasa panas.
Tidak ada lagi raut ketakutan dari Zevina.
"Darv..jangan." Pinta Zevina berusaha meminta Darvin menyudahi kegiatan nya walau tubuhnya sangat menikmati setiap sentuhan yang sangat ia kenali itu.
"No sayang, kau juga merindukan ku. Aku tahu itu." Ucap Darvin kembali menyambar bibir istrinya sedangkan pinggul nya terus ia gerakkan berirama.
Zevina mencakar punggung nya merasakan setiap hentakan Darvin.
"Darv..akh aku sudah tidak kuat." Ucap Zevina membusungkan dadanya karena dirinya sudah berada di puncak.
Darvin pun memacu miliknya dengan cepat hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersamaan.
"I love you Mrs. Anthony." Ucap Darvin penuh sayang.
Darvin memilih menyudahi permainan nya, walau sebenarnya ia masih sangat menginginkan nya.
Zevina hanya menggeleng lelah, tidak menjawab apapun.
Darvin berpindah ke samping nya, menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.
Ia memeluk Zevina yang membelakangi nya.
"Sayang, percayalah pada ku. Aku Darvin mu." Ucap Darvin terdengar sendu.
Zevina hanya mengangguk pelan, namun entah apa maksud dari anggukan nya.
"Jika kau ingin bukti, aku akan membawa mu untuk membuktikan nya. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku." Pinta Darvin.
Zevina dapat merasakan air mata Darvin yang mengenai punggung mulus nya.
Perlahan ia pun berbalik menghadap suaminya.
"Maafkan aku Darv, sudah tidak percaya pada mu. Rasanya aku sangat takut mempercayai orang asing." Ucap Zevina memeluk erat tubuh kekar suaminya dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Darvin bingung mendengar ucapan Zevina.
"Apa yang sudah terjadi saat aku tidak di samping mu?" Tanya Darvin penasaran.
Zevina pun mulai menceritakan semua yang ia alami saat Darvin tidak disamping nya.
"Bersyukur Tuhan mengirim Derex, kakak ku untuk ku." Ucap Zevina semakin memeluk erat suaminya.
Darvin seketika merasa terluka dan bersalah bersamaan mendengar penderitaan istrinya.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku." Ucap Darvin mengecup berkali kali puncak kepala Zevina.
"Lalu, kenapa kau bisa jadi berandal seperti ini?" Tanya Zevina menggigit gemas dada bidang suaminya.
"Hei, apa kau meminta lebih?" Tanya Darvin menggoda suaminya.
Zevina mengangguk juga menggeleng.
Darvin terkekeh.
"Seperti yang sudah aku katakan, wajah dan tubuh ku terluka parah akibat kecelakaan itu. Saat aku berhasil keluar dari mobil itu, tak lama mobil itu meledak, aku belum sempat menjauh dari sana, hingga akhirnya kobaran api itu juga menyambar tubuh ku." Ucap Darvin lirih.
Zevina juga seketika merasa terluka dan bersalah bersamaan.
"Maafkan aku." Ucap Zevina.
"Kau tidak salah sayang." Ucap Darvin kembali mengecup bibir istrinya.
"Jangan tinggalkan aku sayang. Aku mohon. Jangan bersama pria manapun selain aku." Pinta Darvin.
Zevina mengangguk.
"Aku akan menyelesaikan semuanya dengan Keanu. Aku yakin dia pasti mengerti." Ucap Zevina sambil menghirup dalam aroma wangi maskulin dari tubuh suaminya.
"Terima kasih sayang." Ucap Darvin.
"Cara ku benar benar ampuh." Ucap Darvin bangga pada dirinya dan menggoda istrinya.
"Darvin.." Zevina memukul geram punggung suaminya membuat suaminya terkekeh.
"Tidurlah. Kita lanjutkan lain kali. Aku tidak sabar ingin membuat adik yang banyak untuk Ar." Ucap Darvin terkekeh.
Zevina tidak merespon karena sudah terlelap.
Darvin tersenyum memandangi wajah teduh istrinya.
"I love you always Mr. Anthony."
...~ To Be Continue ~...
*******
Syukurlah, bentar lagi Ar bakal punya adik kayak nya.
Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih.