
"Zevina ... " Darvin berteriak memanggil nama Zevina saat ia baru sampai di rumah nya. Tidak ada jawaban.
"Zevina ... " Darvin kembali memanggil Zevina namun lagi lagi tidak ada jawaban.
Segera ia berlari ke kamar nya, berharap ia bisa menemukan Zevina sedang tertidur atau entahlah.
"Sayang aku datang ... " Panggil Darvin sambil membuka pintu kamarnya. Namun nihil ia tidak mendapati keberadaan Zevina.
"Pasti dikamar mandi." Ucap nya. Perasaan nya mulai tidak tenang, tapi ia berusaha untuk berpikir positif.
Dengan perlahan ia membuka pintu kamar mandi.
"Sayang ... " Panggil nya.
Namun percuma. Tidak ada wanita nya yang ia cari. Ia langsung melangkah untuk keluar dari kamar nya, namun langkahnya terhenti saat melihat selembar kertas diatas nakas. Ia kemudian mendekati nakas itu dan meraih kertas itu. Ia terduduk lemas dilantai saat melihat isi kertas itu.
"Aku pergi sayang. Tidak ini terakhir aku memanggil mu sayang. Kau tahu selama tiga hari ini aku sangat merindukan mu dan berharap kau menjenguk ku dirumah sakit walau dari jauh.
Tapi aku salah. Kau benar benar tidak menginginkan ku atau bayi kita, oh tidak bayiku yah hanya bayi ku. Kau tahu Darv, dia bayi kecil ku pergi meninggalkan ku bahkan sebelum sempat bertumbuh didalam rahim ku.
Tapi tidak, aku tidak menyalahkan mu. Karena kau memang tidak menginginkan nya dari awal. Aku saja yang menaruh harapan terlalu tinggi, hingga akhirnya aku terjatuh sendiri.
Hah, begini rasanya saat kehilangan bayi kecil ku. Lebih sakit dari ketika aku ingin meninggalkan mu Darv. Tapi kau pasti tidak merasakan nya.
Haha kau hebat Darv. Kau bukan membunuh bayi ku tapi kau membunuh seluruh kehidupan ku. Seluruh nya Darv seluruh nya.
Hah, sekarang aku lega aku bisa melepaskan semua nya. Aku akan bawa pergi semua rasa sakit dan bahagia ku. Semua yang pernah kau ukir dalam hidupku.
Jaga dirimu, jaga kesehatan mu. Jika nanti kau berhasil menemukan wanita yang lebih baik dari ku, maka cintai dia dengan baik. Hargai dia dan jaga dia.
Untuk terakhir kali nya Aku Mencintai mu Darvin Anthony.
Aku pergi Darv."
Darvin menangis meraung setelah membaca isi surat yang ditinggalkan Zevina. Ia sangat sangat menyesal sekarang. Menyesal sudah tidak mempercayai Zevina. Menyesal telah melukai Zevina. Dan penyesalan terbesar nya adalah ia sudah membunuh janin yang dikandung Zevina, darah daging nya sendiri.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Ucap nya. Ia benar benar frustasi. Yang tampak dimatanya hanya luka, tidak ada lagi Darvin yang kejam. Kini hanya ada Darvin yang sangat menderita kehilangan wanita yang ia pertahankan walau dengan cara kasar dan juga calon buah hati nya yang bahkan belum sempat ia lihat.
Hati nya, hati nya yang terluka. Hati nya terluka oleh penyesalan yang ia ciptakan dari sifat kejam nya. Ia kemudian meraih ponselnya mencoba menghubungi Zevina. Namun nihil, bukan tidak diangkat tapi Zevina menutup akses komunikasi dengan nya.
Ia sadar sekarang bagaimana sakit nya Zevina selama bertahun tahun hidup bersamanya. Tidak mungkin rasa sakit nya sekarang belum seberapa dibanding apa yang dirasakan oleh Zevina. Memberikan seluruh jiwa dan raga nya untuk pria brengsek seperti dirinya dan pada akhirnya harus kehilangan buah hati nya karena dirinya juga.
Ia memukul dadanya dengan kuat menggunakan satu tangan nya. Seolah melimpahkan rasa sakit Zevina pada dirinya. Tapi percuma itu tidak berarti apa apa. Zevina pergi, benar benar pergi. Bahkan ia tidak punya kesempatan untuk merayu nya lagi.
Ia kemudian berdiri dan segera berlari kemobil nya. Dengan kecepatan tinggi ia menelusuri setiap tempat yang pernah ia datangi bersama Zevina. Namun nihil ia tidak mendapati Zevina. Harapan terakhir nya adalah apartemen yang ia hadiahkan untuk Zevina saat ulang tahun Zevina yang ke dua puluh.
.Perlahan tapi pasti ia melangkah menuju unit milik Zevina.
Ia menekan kode kunci apartemen itu dengan perasaan tidak menentu. Ia sangat berharap bisa menemukan Zevina. Tidak apa jika Zevina tidak memaafkan nya dan tidak menginginkan nya lagi. Setidak nya ia bisa memohon ampun dari Zevina.
"Sayang aku datang ... " Ucap nya saat memasuki unit apartemen itu. Tidak ada jawaban.
Ia kemudian berusaha mencari Zevina kekamar, kamar mandi, dapur. Semua ruangan diapartemen itu ia telusuri. Namun gagal, tidak ada Zevina atau bahkan tanda kehadiran nya disana.
Ia kembali terduduk lemas dilantai dingin apartemen itu. Hancur semua hancur karena nya. Hanya karena satu kesalahan kejam nya, semua hancur seketika. Menyesal? Percuma. Ia menangis dan hanya bisa menangis.
Sama halnya dengan Zevina yang terus menangis mengeluarkan semua rasa sakit nya. Ia kini berada di sebuah kamar hotel. Ia tidak ingin lagi menyentuh semua milik Darvin atau apapun yang Darvin berikan kepada nya.
"Aku pergi Darv ... " Ucap nya seolah berpamitan dengan Darvin untuk terakhir kalinya. Ia menangis hingga akhirnya terlelap.
Tak terasa malam yang panjang dan menyakitkan telah berlalu. Kini terlihat Zevina sedang berjalan dibandara sambil menyeret koper nya. Ia mengenakan kaca mata hitam untuk menutupi mata nya yang bengkak karena menangis.
"London i'm coming ... "
******
Makasih yang masih setia dengan "If Love" , jangan bosan bosan ya
dan bersabar menunggu aku merevisi semua bab nya.
Sayang kalian.