
"Sayang bangunlah." Darvin membangunkan Zevina dengan pelan.
"Eungh.." Zevina melenguh pelan dan perlahan membuka matanya.
"Darv, ini kau?" Zevina terbangun dari posisi baring nya dan menangkup wajah Darvin.
"Ya sayang. Ini aku." Ucap Darvin tersenyum manis dan mencubit gemas hidung istrinya.
"Jangan tinggalkan aku lagi Darv, please." Pinta Zevina memelas sambil menggenggam kedua tangan suaminya.
"Tidak akan pernah." Ucap Darvin tulus dan memeluk istrinya.
"Sekarang ayo bangun dan segera mandi." Titah Darvin pada istrinya.
"Baiklah." Zevina kemudian bangkit dan turun dari ranjang nya dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Ia mandi dengan bahagia, bahkan sesekali bersenandung. Setelah selesai ia pun keluar dari kamar mandi, saat ia keluar ia tidak mendapati Darvin dikamar. Dengan segera ia memakai pakaian nya.
"Sayang, kau di dapur?" Zevina bertanya sambil berjalan ke dapur, namun ia tidak mendapati Darvin.
"Sayang aku disini." Ucap Darvin tiba tiba dari ruang keluarga apartemen nya.
"Kau ini membuat ku kaget saja." Ucap Zevina penuh kekhawatiran.
Ia berjalan hendak mendekati Darvin, namun tiba tiba Darvin menghilang.
"Darv.." Zevina berteriak memanggil Darvin dan belari ke arah sofa tempat Darvin tadi duduk. Ia lalu mengacak bantal bantal sofa seolah mencari sesuatu.
"Darv, kau dimana?" Ucap Zevina terus mengacak bantal sofa nya.
Ia berhenti sejenak, dan saat ia mendongak ia melihat Darvin keluar dari kamar sambil menyeret koper.
"Sayang kau mau kemana?" Zevina bertanya sambil berusaha mendekati Darvin, namun Darvin seolah tidak mendengarnya dan terus berjalan.
Ia mengejar dan hendak memeluk Darvin, namun ia tidak dapat menyentuh Darvin.
"Darv, aku mohon jangan pergi." Pinta Zevina terisak, namun Darvin seakan tuli tidak mendengarnya dan terus saja berjalan hingga menghilang dibalik kegelapan.
"Darv aku mohon." Zevina menangis meraung dan terduduk di atas lantai.
"DARVIN." Ia berteriak dan tersadar dari tidurnya.
"Mom, are you okay?" Tanya Raina yang ikut terbangun karena teriakan Zevina. Dengan segera ia memeluk Zevina erat.
"Darv, jangan pergi. Aku mohon." Pinta Zevina dan hanya itu yang keluar dari bibir nya.
"Zevina tenanglah." Ucap Jack yang tadi mendengar teriakan nya dan segera berlari memeluk Zevina dan putrinya.
"Kembalikan Darvin ku." Zevina mendorong Jack dengan sangat kuat.
"Sadarlah Zev. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Aku tahu kau terluka dan bersedih. Tapi saat ini pikirkan bayi didalam perut mu." Ucap Jack kesal.
" Daddy jangan kasar." Raina membentak Ayahnya dan terus memeluk Zevina.
"Kau diam Raina. Kau lihat tingkah Mommy Zev mu sekarang. Jika terus lembut padanya dia akan terus seperti itu dan menyiksa bayi nya. Baguslah Darvin sekarang tidak jelas keberadaan nya dan antara hidup dan mati. Dan dia seperti itu menyiksa dirinya dan bayi nya. Bagus biar saja semua yang dia cintai pergi meninggalkan nya sendirian. Bagus. Terus saja bersedih." Ucap Jack kesal lalu keluar dari kamar Zevina dan membanting pintu dengan cukup kuat.
Jack marah karena Zevina terus saja bersedih tanpa memikirkan efek kesedihan nya pada bayi nya.
"Akh." Jack menjambak kasar rambutnya.
Merasa tidak berguna disaat sahabatnya terpuruk tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Maafkan aku Jack." Ucap Zevina dari belakang Jack.
Jack berbalik dan menatap Zevina yang masih terisak.
"Untuk apa kau minta maaf pada ku?" Jack bertanya dengan nada ketus.
"Maaf." Hanya itu yang terucap dari bibir Zevina. Zevina juga tidak tahu ia meminta maaf untuk apa.
Ia sudah kehabisan cara menenangkan Zevina.
"Tidak, aku tidak ingin kehilangan baby." Ucap Zevina memeluk erat perutnya.
Raina hanya menyaksikan perdebatan dua orang dewasa itu dari pintu kamar yang terbuka.
"Maka dari itu sudahi kesedihan mu. Kesedihan my tidak mengubah apapun. Jika Darvin buruknya memang sudah tiada, tangis darah pun kau tidak akan bisa membawa nya kembali. Maka bangkit Zev, demi bayi mu." Ucap Jack mengubah nada bicara nya menjadi lebih lembut.
Zevina mengangguk pelan. Jack segera meraih nya dalam pelukan.
"Maaf Zev, aku sudah kasar." Ucap Jack menyesal.
Raina segera berlari dan bergabung dalam pelukan mereka.
#####
Sementara di bandara, terlihat Roy berjalan dengan santai keluar dari bandara. Penampilan sangat menawan membuat setiap wanita yang menatapnya langsung terpesona.
Ia berhenti dan berdiri di dekat kursi tunggu bandara, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi orang bayarannya.
"Jemput aku sekarang." Pinta nya dengan suara dingin.
Sangat menawan, Roy menyembunyikan kedok busuk nya dibalik penampilan nya yang menawan.
Setelah mendapat jawaban, ia pun menyimpan kembali ponselnya pada sakunya.
"Hei tampan, kau hanya sendiri?" Tanya seorang wanita yang berpenampilan sexy dan berdiri sangat dekat di samping nya.
Roy menurunkan sedikit kaca mata hitam nya dan memperhatikan penampilan menggoda wanita itu.
"Aku baru kembali dari New York dan akan segera menemui istri ku." Ucap Roy, dan tentu saja ia berbohong.
"Sebelum kau menemui istri mu, apa tidak ingin berkencan dulu dengan ku?" Tanya wanita itu lagi dan tangannya mulai bergerak nakal di dada Roy.
"Sayang nya aku tidak tertarik pada wanita semacam mu. Istri ku sudah memiliki segalanya dan lebih dari yang kau punya." Ucap Roy menepis kasar tangan wanita itu lalu melenggang pergi menuju ke mobil hitam yang sudah menunggunya.
"Ke apartemen ku." Ucap Roy memberi perintah pada orang bayarannya.
Pria itu pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen yang sudan Roy beli sebelum ia mencelakai Darvin. Dan tentunya dengan uang hasil menjual Rexa.
#####
Roma , Italia
"Apa yang kau dapat kali ini Keanu?" Derex bertanya dengan suara datar.
"Tuan, aku mendapat kebenaran kalau suami Nona Zevina sengaja di celakai." Keanu menyampaikan apa yang ia ketahui.
"Siapa dalang di balik ini semua?" Derex kembali bertanya.
"Aku masih mencari tahu Tuan." Ucap Keanu sopan.
"Bagus. Cari tahu selengkap mungkin semua informasi mengenai dalang kecelakaan ini. Aku akan pastikan dia memohon untuk kematiannya karena sudah berani menyakiti Zevina." Ucap Derex.
"Baik Tuan." Keanu mengiyakan perintah dari Derex dan berlalu meninggalkan ruangan Derex.
"Siapapun kau, kau tidak akan pernah ku ampuni karena sudah berani menyakiti wanita tersayang ku. Aku pasti akan memisahkan semua bagian tubuh mu sebelum nyawa mu melayang. Tunggu saja hari baik itu." Ucap Derex menggenggam erat sebuah pistol di tangannya.
"Zevina, bersabarlah. Bertahanlah sedikit lagi." Batin Derex kembali.
******
Yok selalu tinggalkan komentar dan like setiap kalian selesai membaca.
Sebagai bentuk apresiasi untuk para author yang sudah berusaha keras untuk menulis cerita menarik untuk kalian.
Jangan jadi pembaca yang pasif.