
...WARNING : 21+...
...Harap Bijak dalam Membaca!...
.
.
.
.
"Kau? Darvin? Tidak lucu. Mana mungkin Darvin bodoh itu seberandal diri mu." Ucap Mark susah payah.
Derex menahan tawa mendengar adik ipar nya dikatakan bodoh.
Darvin geram.
Ia meraih balok kayu dari sudut ruangan dan memukul kedua lutut Mark dengan kuat hingga membuat Mark terayun kedepan dan belakang, kiri dan kanan.
Mark kesakitan, tapi ia tidak ingin bersuara.
"Apa kau masih belum puas dengan segala yang aku berikan pada tua bangka? Seharusnya kau bersyukur karena aku hanya memberi mu hukuman penjara." Ucap Darvin lagi.
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau juga yang merencanakan kecelakaan kedua orang tua saat itu. Aku hanya tidak punya bukti yang kuat, maka dari itu aku hanya memenjarakan mu dengan tuduhan ringan." Ucap Darvin menyeringai.
BUKK
Ia kembali memukulkan balok kayu itu ke perut Mark dengan kuat.
Mark tetap tidak menahan suara nya untuk berteriak.
"Darv, aku menunggu mu."
Tiba tiba terdengar suara merdu Zevina di telinga Darvin dan bayangan wajah istri dan putra nya tersenyum terbayang di benaknya saat ia hendak kembali memukul kepala Mark dengan kayu yang ia pegang tadi.
Brakk
Ia melempar kayu itu sembarangan.
"Aku tidak ingin melanjutkan ini Derex. Zevina menunggu ku. Maaf jika aku membuat mu kecewa karena tidak bisa menghukum orang yang sudah menyakiti adik mu dengan tangan ku sendiri. Tapi aku tidak ingin membuat istri ku bersedih apa lagi berada dalam bahaya. Aku bahkan tidak tahu dia dilindungi siapa di belakang nya." Ucap Darvin.
Derex terenyuh mendengarnya.
"Aku sudah berjanji pada Zevina untuk berubah, maka dari itu aku harus berubah bukan hanya sikap dan sifat ku pada nya, tapi juga sikap dan sifat ku dalam menghadapi masalah dan musuh. Jika kau ingin selesaikan dengan cara mu, maka lakukan. Aku tidak mau." Ucap Darvin lalu beranjak keluar dari ruangan itu.
"Jebloskan dia kedalam penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana. Pastikan dia tidak akan pernah bisa lolos atau kalian yang akan menerima akibatnya." Titah Derex pada anak buah nya.
Ia lalu segera keluar mengejar Darvin.
"Tenanglah." Ucap Derex memegang pundak Darvin dari belakang.
Darvin menepiskan tangan Derex walau tidak kasar.
Ia terus melangkah hingga masuk kedalam mobil nya dan langsung mengendarai mobilnya pergi meninggalkan Derex begitu saja.
Derex tidak marah, ia justru tersenyum melihat adik ipar nya mau berubah menjadi lebih baik untuk adiknya.
Dengan kecepatan penuh Darvin mengendarai mobil nya kembali ke rumah nya.
"Maafkan aku sayang. Aku masih saja kelepasan dan susah mengendalikan emosi ku." Geram Darvin sepanjang perjalanan.
#####
"Ar, ayo Mommy akan menemani mu tidur." Ajak Zevina pada putranya.
Alice dan Derice baru saja pulang kerumah mereka diantar oleh Keanu.
"Baiklah Mom, aku juga mengantuk." Ucap Arzevin sambil mengucek matanya dan memeluk kaki Zevina.
Zevina tersenyum melihat tingkah lucu putranya.
Ia meraih Arzevin ke dalam gendongan nya.
Ia menggendong Arzevin masuk kedalam kamar pribadinya.
"Mau Mommy bacakan dongeng?" Tanya Zevina lembut.
Arzevin hanya menggeleng.
"Tepuk saja Mom." Ucap Arzevin dengan suara lemah karena sudah mengantuk.
Dengan lembut Zevina menepuk punggung Arzevin sambil mengelus kepala nya.
Arzevin setia memeluk pinggang nya, karena posisinya yang memang sedang duduk.
"Terima kasih sayang, kau tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar terlepas dari apa yang sudah kau alami selama dirimu masih di dalam kandungan. Mommy bersyukur untuk mu." Ucap Zevina pelan.
"I love you and Daddy, Mom." Ucap Arzevin dengan sangat pelan.
"We love you too, boy." Jawab Zevina tak kalah pelan.
Perlahan Akhirnya Arzevin terlelap.
Zevina mengecup sayang kening putranya, lalu perlahan melepaskan pelukan Arzevin dari pinggang nya.
Ia keluar dari kamar Arzevin setelah menyelimuti Arzevin dengan benar.
"Aku juga mengantuk." Gumam Zevina sambil merenggangkan otot nya.
Ia berjalan masuk kedalam kamar nya.
Ceklek
Bunyi pintu kamar nya dibuka.
Ia mencoba melihat siapa pelaku nya, dan ternyata adalah Darvin.
Darvin mengunci pintu kamar mereka setelah ia masuk.
Ia langsung melepaskan semua pakaian nya dan berjalan menuju ranjang.
"Woh sayang, apa yang kau lakukan?" Tanya Zevina bingung.
"I need you, babe." Ucap Darvin dengan suara berat nya.
Zevina yang mengerti akan hal itu pun merentangkan tangan nya untuk menyambut suaminya.
Darvin naik keatas Zevina dengan menopang tubuh nya menggunakan siku tangannya agar tidak menimpa Zevina sepenuhnya.
Perlahan ia mulai mencium bibir istrinya lembut.
Zevina mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan membalas ciuman suaminya.
Satu tangan Darvin ia gunakan untuk menelusup masuk kedalam dress tidur Zevina dan bermain pada dua bola kenyal milik istrinya.
"Um.." lenguhan sexy Zevina terdengar.
Darvin melepas sejenak tautan bibir mereka lalu membuka dress tidur dan dalaman bawah Zevina.
Setelah itu ia kembali mencumbu tubuh istrinya dengan rakus tanpa meninggalkan celah.
"Lakukan dengan lembut sayang. Atau kau bisa melukai dia." Ucap mengingatkan suaminya.
Darvin tersenyum dan mengangguk.
Darvin bermain sejenak di bagian pribadi istrinya dengan mulutnya sebelum akhirnya menyatukan milik mereka berdua.
Darvin melakukan nya dengan sangat lembut.
"Darv..akh.." Desah Zevina saat Darvin menghentak miliknya berirama.
"I love you, Zevina Anthony." Ucap Darvin dengan suara berat nya sambil terus menggerakkan miliknya.
"I love ... "
Belum sempat Zevina menjawab, Darvin kembali mencium bibir nya dengan rakus.
Zevina tidak keberatan, karena mereka adalah suami istri sekarang dan bebas melakukan nya tanpa takut apapun.
Dulu masih berstatus kekasih saja mereka sudah sering melakukan nya, apalagi sekarang sudah menikah.
"Aku harus cepat sayang. Bertahan." Ucap Darvin.
Segera ia memompa miliknya dengan cepat disertai desahan Zevina dan erangan nya yang memenuhi kamar tersebut.
Darvin akhirnya rebah di samping istri nya setelah mencapai pelepasan.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Darvin memeluk erat istrinya, Zevina pun demikian.
"Sekali sudah cukup?" Tanya Zevina menggoda suaminya.
Darvin menggeleng.
"Tidak pernah cukup sayang. Tapi aku tidak ingin membuat kalian kelelahan." Ucap Darvin mencumbu leher istrinya.
Zevina tertawa kecil merasakan sensasi yang diberikan suaminya.
"Sayang, maafkan aku. Tadi aku kelepasan lagi dengan emosi ku." Ucap Darvin jujur.
"Aku sudah tahu hal itu akan terjadi." Jawab Zevina.
"Tapi aku hanya memukul nya, tidak sampai membunuh nya." Ucap Darvin membela diri.
Zevina tersenyum.
"Lagi pula kau memang tidak pernah membunuh seseorang dengan tangan mu kan." Ucap Zevina meledek suaminya.
Darvin tersenyum bersalah.
"Sudah. Aku yakin kau pasti bisa menjadi lebih baik lagi. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha sayang." Ucap Zevina menyemangati suaminya.
"Terima kasih sayang. Kau benar benar wanita terbaik ku dari dulu hingga sekarang. Aku benar benar tidak akan sanggup kehilangan dirimu, dan sekarang ditambah kedua anak kita. Aku tidak akan sanggup tanpa kalian." Ucap Darvin serius.
Zevina mengangguk.
"Tidurlah. Aku tidak ingin kakak mu yang posesif itu besok datang dan memaki diri ku karena melihat mu kelelahan." Titah Darvin memeluk posesif tubuh istrinya.
Zevina mengangguk dan memejamkan matanya.
Bukan Darvin atau Zevina yang terlelap duluan. Tapi mereka terlelap secara bersamaan.
...~ To Be Continue ~...
*******
Mungkin Next part adalah last part.
Like dan komentar jangan lupa. Makasih.