IF LOVE

IF LOVE
If Love S2 9



Brakkk


Darvin membalikkan meja yang ada di dalam ruangan kerjanya.


"Bangsat." Geram Darvin mengingat penolakan istri nya terhadap nya dan lebih memilih pinangan pria lain.


"Aku berandal. Baiklah jika itu yang kau katakan sayang. Maka jangan salahkan aku jika aku menarik mu kembali dengan cara yang berandal juga." Ucap Darvin sambil menggulung kain dikedua telapak tangan nya.


Ia kemudian berjalan kearah ruang fitness nya yang masih bersatu dengan ruang kerjanya.


Ia meninju samsak yang ada di ruang fitness nya secara brutal bahkan tak jarang ia menendang bya, mengeluarkan semua amarahnya.


Tidak tampak lagi Darvin yang lembut dan penuh kasih sayang itu.


Yang ada kini Darvin yang dulu, Darvin yang diselimuti amarah dan kebencian.


"Zevina. Aku pikir kau benar benar adalah wanita yang setia. Tapi nyatanya aku sudah salah berharap pada mu. Kau ingin menikah dengan pria lain? Tidak akan semudah itu." Ucap Darvin terus memukul samsak didepan nya dengan brutal.


"Aku akan pastikan kau kembali pada ku, dengan suka rela ataupun terpaksa. Aku tidak peduli." Ucap nya lagi.


Ia akhirnya menyudahi kegiatan nya.


Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang mengalir dari shower, jadi setelah melepas kain yang mengikat telapak tangannya ia pun melangkah masuk kedalam kamar mandi yang juga masih menyatu dengan ruang kerjanya.


Cukup lama ia membiarkan air dingin tersebut mengguyur tubuhnya hingga amarahnya sedikit mereda.


Setelah itu, ia segera menyabuni tubuhnya dan membilas nya.


Setelah selesai dengan ritual mandi nya, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar nya dengan hanya mengenakan handuk di pinggang nya.


"Liz, kau mau kemana?" Tanya Darvin penasaran saat ia berpapasan dengan Liz yang menyeret koper besar dan menggendong Jacki yang sedang terlelap.


"Aku akan pergi Darv." Jawab Liz seadanya.


"Kau masih marah pada ku? Aku minta maaf." Pinta Darvin tulus.


"Tidak. Hanya saja untuk saat ini aku ingin menenangkan diri ku dulu sambil berpikir keputusan terbaik yang akan aku ambil." Ucap Liz lembut.


"Baiklah. Kau tunggu sebentar. Aku juga akan keluar jadi biarkan aku sekalian mengantar mu. Kasian Jacki." Ucap Darvin tulus.


"Aku tunggu di bawah." Ucap Liz lalu berjalan turun ke bawah.


Segera Darvin masuk kedalam kamar nya, mengenakan pakaian, memakai jam tangan serta menyemprotkan parfum ditubuh nya.


Merapikan rambutnya juga.


Setelah itu segera ia turun menyusul Liz.


"Ayo." Ucap Darvin menarik pegangan koper Liz.


Liz mengikuti dari belakang.


Liz masuk duluan ke mobil Darvin sambil menggendong Jacki saat Darvin menyimpan koper nya di bagasi mobil.


Setelah itu Darvin masuk.


"Kau akan kemana?" Tanya Darvin sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Ke apartemen ... " Ucap Liz.


Darvin mengangguk.


Segera Darvin pun melajukan mobilnya menuju ke alamat yang sudah Liz sebutkan.


"Liz, apa kau yakin tidak ingin mencoba sekali saja untuk berbicara dengan Jack?" Tanya Darvin sekali lagi mencoba membujuk Liz.


"Entahlah. Aku bimbang sekarang. Rasanya seperti sudah tidak ada harapan lagi." Ucap Liz lemah mendekap tubuh putra nya.


"Berusaha lah setidaknya sekali saja Liz, jika kau tidak mendapatkan penjelasan, selamanya kau akan terus bimbang dan penasaran." Ucap Darvin.


"Apa kau sudah bertemu dengan Zevina?" Tanya Liz.


"Sudah, tapi dia menolak ku." Ucap Darvin datar menahan amarah.


"Wajar saja dia menolak mu. Semuanya terlalu mendadak. Apalagi penampilan mu yang sangat berubah." Ucap Liz berusaha menenangkan Darvin.


Darvin hanya tersenyum kecut.


Tak lama mereka pun sampai di apartemen yang di beritahu oleh Liz.


Liz turun diikuti Darvin.


Darvin berlari kecil kebelakang mobilnya dan membuka bagasi mobil nya mengambil koper Liz.


"Aku hanya mengantar mu sampai di sini saja. Semoga kau cepat mendapatkan keputusan terbaik." Ucap Darvin tulus.


Liz hanya tersenyum.


Darvin pun kembali ke dalam mobil nya.


Segera ia melajukan mobilnya menuju ke rumah Derex yang dimana juga Zevina berada.


Ia mencengkeram kuat setir mobil nya.


Ia memilih berhenti agak jauh dari rumah Derex, namun masih dapat melihat dengan jelas keadaan rumah itu.


Sangat sepi.


Bahkan tak tampak satu pun pengawal dirumah itu.


Darvin setia menunggu hingga akhirnya ia dapat melihat putra nya bermain sendirian di halaman rumah itu.


Darvin turun dari mobil dan melangkah mendekati putranya.


"Hei boy." Sapa Darvin pada putra nya sambil berjongkok di depan pagar.


"Daddy." Ucap Arzevin girang.


"Sstt. Jangan ribut. Mau ikut jalan jalan bersama Daddy?" Tanya Darvin lembut pada putranya.


Arzevin mengangguk.


Darvin pun mencoba mencari kunci pagar.


Ternyata keberuntungan berpihak pada nya. Setelah membuka pintu pagar itu, segera ia menggendong Arzevin meninggalkan tempat itu.


Darvin menculik putranya sendiri.


Benar benar tidak ada pengawal satu orang pun, sehingga dengan mudah ia dapat membawa putranya pergi.


"Ar, ini kalung apa?" Tanya Darvin saat melihat kalung dengan liontin berbentuk papan mungil dileher Arzevin.


"Phone number nya Mommy. Mommy bilang kalau Ar sesat, Ar bisa minta bantuan seseorang menghubungi nomor ini." Ucap Arzevin sambil memegang liontin nya.


"Tuhan benar benar menyayangi ku." Batin Darvin penuh kemenangan.


Segera ia pun meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada nomor ponsel Zevina.


"Jika kau ingin putra kita aman, maka datang lah ke alamat ... aku ingin kau datang SENDIRI. Jika kau berani membawa orang lain bersama mu maka aku tidak akan segan segan mengambil putra kita selamanya dari mu." Isi pesan yang Darvin kirimkan pada istrinya.


Setelah itu, ia pun segera melajukan mobilnya kembali kerumah nya.


Entah harus bahagia atau bersedih.


Ia sudah mendapatkan putranya sebagai ancaman, dan sebentar lagi ia akan kembali menyakiti istrinya untuk memaksa istri kembali pada nya.


Sungguh sangat sulit.


Darvin tidak akan pernah mengijinkan wanitanya bersama dengan pria lain.


Bahkan jika dia mati sekalipun, dia akan tetap menjaga dan mendampingi istrinya dalam bentuk arwah, mungkin.


"Ar, siapa dua pria yang bersama Mommy kemarin?" Tanya Darvin penasaran.


Dari putranya ia berusaha mengorek informasi.


"Hem,,satunya itu Daddy Derex, dia itu kakak nya Mommy. Daddy nya Derice, dan suaminya aunty Alice." Ucap Arzevin dengan suara khas anak kecil.


"Benar dugaan ku. Tapi Zevina masih punya kakak?" Batin Darvin.


"Dan?" Tanya Darvin menuntut jawaban tentang Keanu.


"Itu uncle Ke, ia ingin menikah dengan Mommy." Ucap Arzevin polos membuat Darvin mencengkeram kuat setir mobil nya.


"Ar, apa kau mau mempunyai Daddy lain selain Daddy mu?" Tanya Darvin berusaha memprovokasi otak kecil putranya.


Dengan begitu penurut, Arzevin menggeleng membuat Darvin sekali lagi tersenyum penuh kemenangan.


"Listen to Daddy, setelah dirumah nanti, Ar harus jadi anak yang baik. Ar harus segera tidur." Pesan Darvin pada putranya karena hari memang sudah malam.


Arzevin mengangguk menurut.


Tak lama mereka pun tiba di rumah megah Darvin.


Setelah segera turun dari mobil nya lalu menggendong Arzevin juga.


Segera ia membawa Arzevin ke dalam salah satu kamar dirumah nya , niat nya memang menidurkan Arzevin sekaligus menyembunyikan putranya.


Dengan cepat Arzevin tertidur pulas.


"Kita hanya perlu menunggu Mommy mu datang, dan setelah itu kita akan menjadi keluarga yang utuh lagi." Ucap Darvin mengecup kening putranya penuh cinta.


...~ **To Be Continue ~...


- Babang Darvin udah mulai beraksi**.



*******


Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih.