
[ Yok, mampir di karya ku yang judulnya "Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)" atau bisa langsung klik di bio aku. Dua karya aku yang lainnya menunggu kehadiran kalian. ]
...~ Happy Reading ~...
.
.
.
.
Keanu memilih duduk di sofa yan tidak jauh dari ranjang Zevina.
Pandangan Keanu menelisik setiap sudut ruangan itu, sesekali mencuri pandang pada Zevina.
"Ke, boleh aku memanggil mu begitu?" Zevina memecah keheningan.
"Silahkan saja, terserah Nona ingin memanggil ku bagaimana." Keanu menjawab dengan salah tingkah.
"Aku tidak ingin Tuan Derex mencongkel jantung ku jika ia tahu jantung ku berdetak cepat karena adik nya." Batin Keanu sesekali meremas dan menepuk paha nya karena gugup.
"Zevina." Titah Zevina agar Keanu memanggil nya nama saja.
Keanu tersenyum kaku.
Keanu adalah pria dingin yang tidak jauh berbeda dari Derex, hanya saja Keanu masih mempunyai selera humor.
"Ke, berapa usia mu?" Tanya Zevina lagi.
"Hanya muda dua tahun dari Tuan Derex." Keanu menjawab seadanya.
"Oh ayolah, aku bahkan tidak tahu berapa usia Derex saat ini." Zevina menggerutu sebal.
"Tiga puluh tiga. Dan aku tiga puluh satu." Jawab Keanu.
"Ternyata sudah setua itu." Gumam Zevina yang tentu masih bisa di dengar oleh Keanu.
"Kau sudah menikah? Atau mempunyai kekasih?" Tanya Zevina penasaran. Bagaimanapun juga Zevina wanita normal yang akan meleleh saat berhadapan dengan pria tampan, walau hatinya pada Darvin.
"Belum keduanya. Apa kau tertarik untuk menjadi calon ku?" Kelakar Keanu atau mungkin memang serius.
"Haha jika kau siap berhadapan dengan Derex." Zevina menimpali candaan Keanu, keduanya tertawa bersama.
"Berapa usia kandungan mu saat ini?" Tanya Keanu asal.
Daripada gugup karena hening.
"Enam bulan hampir tujuh." Jawab Zevina sendu.
"Aku ingin menjadi Daddy nya." Kelakar Keanu sembarangan.
"Aku ijinkan jika Derex tidak melarang." Zevina juga menimpali kembali candaan Keanu.
Mereka terlihat kompak dengan candaan mereka.
#####
Derex yang baru saja sampai di markas nya, segera masuk kedalam dengan langkah lebar.
"Tuan." Para anak buahnya yang berdiri sejajar menyapa nya kompak.
"Sudah kalian siapkan semuanya?" Tanya Derex dengan aura membunuh.
"Sudah Tuan." Salah satu anak buah nya menjawab.
Derex pun langsung masuk kedalam ruangan dimana Roy sedang tergantung tanpa busana dengan area pribadi nya yang hancur karena tembakan Derex.
"Wow. Pemandangan yang terlalu indah." Ujar Derex berjalan mendekati Roy sambil menggulung lengan kemeja putih nya hingga siku.
"Lepaskan aku." Pinta Roy lemah.
"Hah, kau meminta lepas? Untuk apa? Agar kau bisa mencari mangsa lain? atau kau ingin balas dendam?" Tanya Derex sinis.
Ia kemudian berjalan kearah meja dan mengambil satu botol yang berisi cairan cuka.
Ia menyiramkan cuka itu pada area pribadi Roy, membuat Roy mengerang kesakitan.
"Haha. Itu terdengar indah di telinga ku." Ucap Derex mencekam.
Derex kembali berjalan kearah meja lalu meraih sarung tangan kulit kemudian mengenakan nya.
Setelah itu ia kembali mengambil botol berisikan bahan bakar, kemudian menyiramkan kembali pada area pribadi Roy.
Setelah itu, ia kembali meraih kayu yang terikat kain di ujung nya, kemudian membakar bagian yang terikat kain lalu menempelkan api itu pada Roy.
"Arghh tolong aku." Roy berteriak kesakitan saat api itu perlahan membakar tubuhnya.
"Kau meminta tolong? Lalu apa yang kau lakukan saat adik ku yang malang memohon pada mu?" Tanya Derex geram.
"Aku mohon ampuni aku." Pinta Roy tertatih menahan sakit sedangkan api terus menyambar tubuh nya.
Derex tidak peduli.
Derex kemudian meraih pisau panjang dari atas meja.
Derex tersenyum sinis, sedangkan Roy sudah tak mampu bersuara walau masih bernyawa.
Ia kembali menusukkan pisau itu pada perut Roy.
Sepertinya Roy langsung meregang nyawa, tapi Derex tidak peduli.
Derex kembali mengayunkan pisau panjang itu memotong leher Roy, hingga akhirnya kepala Roy menggelinding jatuh dilantai.
"Hukuman ini terlalu ringan dan kau terlalu lembek untuk menerima hukuman ku." Ujar Derex mendekati kepala Roy yang sudah tergeletak di tanah.
Ia kemudian menendang dengan sangat kuat kepala itu hingga terpelanting ke dinding.
Derex pun keluar dari ruangan itu.
"Bereskan semuanya." Derex memberi perintah pada anak buah nya.
Setelah itu Derex masuk ke dalam ruangan yang tampak lebih rapi dan memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Setelah dirasa semua bersih, Derex pun segera mengenakan pakaian dan meninggalkan markasnya kembali ke rumah sakit tempat Zevina dirawat.
#####
"Zev, kau tahu kau itu sangat lucu." Ucap Keanu masih tertawa karena candaan Zevina.
Mereka dari tadi benar benar hanya berkelakar satu sama lain.
"Zev, apa kau akan ikut Tuan Derex kembali ke Italia?" Tanya Keanu sedikit berharap.
Zevina diam sejenak.
"Entahlah. Aku mungkin harus memikirkan nya. Rasanya sulit jika aku harus meninggalkan kota ini." Ujar Zevina sendu.
"Hem, ada benar nya juga. Semua memang terasa sulit." Keanu menimbang perkataan Zevina.
"Tapi kau tenang saja, aku akan menjaga mu. Maksud ku Tuan Derex pasti akan menyuruhku untuk menjaga mu." Ucap Keanu meralat kalimatnya secepatnya.
Mereka tidak sadar Derex sedang mendengarkan setiap obrolan mereka.
"Tapi aku rasa lebih baik jika kau ikut Tuan Derex kembali ke Italia. Bagaimana pun kau tidak bisa sendirian di sini. Jika di Italia, masih ada Tuan Derex dan Nyonya Alice yang akan menjadi teman mu." Ucap Keanu memberi saran.
"Terima kasih Keanu." Batin Derex sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam ruangan Zevina.
"Hei little, bagaimana keadaan mu?" Tanya Derex manis menghampiri adiknya lalu mengecup kening Zevina.
"Aku baik Derex." Ucap Zevina berbinar.
Keanu yang tadi sedang duduk, kini telah berdiri dan mematung di tempat.
"Keanu, dimana Jack?" Tanya Derex sengaja, ia tahu Keanu sedang salah tingkah.
"Em, dia sedang keluar Tuan. Mungkin sedang membeli makanan." Ucap Keanu sedikit gugup.
Derex mengangguk mengerti.
"Em, sebaiknya aku keluar Tuan." Keanu berpamitan.
"Tidak perlu. Santai saja Keanu. Aku tidak melarang mu duduk." Ucap Derex santai.
Keanu ingin menceburkan diri ke dalam laut rasanya, entah kenapa ia merasa Derex seperti sedang menguji nya.
"Apa Tuan Derex tahu semua pembicaraan ku dengan adik nya? Ya ampun, aku ingin terjun bebas dari puncak gunung Everest rasanya." Batin Keanu.
"Keanu, apa kau sedang mempertimbangkan diri mu untuk menjadi adik ipar ku?" Derex bertanya sengaja untuk mengerjai Keanu dan mendapat tatapan tajam dari Zevina.
Tapi Derex menaruh telunjuk nya di bibir nya pertanda agar Zevina diam.
"Um, ti tidak Tuan. Aku mana berani." Keanu menyangkal, tapi suaranya terdengar gugup.
"Jika kau memang mempertimbangkan nya, aku juga akan melakukan hal yang sama dan mendiskusikan dengan little." Ucap Derex tegas.
"Derex." Zevina bergumam melotot tajam pada Derex.
Keanu hanya mematung gugup.
"Makanan datang." Jack datang tepat waktu untuk mencairkan suasana.
...~ To Be Continue ~...
** Ada yang mau nemenin Keanu berjemur?
** Atau nemenin Zevina cantik jalan jalan?
********
**Like dan komentar jangan lupa yah
Makasih**.