IF LOVE

IF LOVE
If Love 31



"Sayang, apa kau tidak berencana untuk pindaj dari sini? Ke apartemen yang lebih elit mungkin?" tanya Darvin ditengah kegiatan sarapan mereka.


"Tidak sayang. Aku nyaman disini. Lagipula ini tidak buruk untuk kita berdua kan?" Jawab Zevina dan balik bertanya.


"Memang tidak buruk. Hanya saja aku ingin memberi mu tempat tinggal yang jauh lebih layak." Ucap Darvin menatap dalam wajah istrinya. Bisa dikatakan begitu.


"Aku sudah nyaman disini sayang. Asal kau bersama ku aku tidak masalah bahkan jika harus tinggal di gubuk kecil sekalipun." Ucap Zevina terkekeh.


"Tidak mungkin aku membiarkan mu tinggal di gubuk." Darvin mengacak rambut Zevina.


Ting tong


Terdengar bunyi bel pintu apartemen Zevina ditekan.


"Siapa pagi pagi begini?" Gumam Zevina bingung.


"Biar aku saja yang membuka nya." Ucap Darvin menghentikan pergerakan Zevina.


Ia langsung menuju ke pintu dan membuka nya.


"Mommy."


Raina ternyata bersama Jack. Raina langsung berlari memeluk Zevina. Sedangkan Jack masih diam mematung saling berperang tatapan membunuh dengan Darvin.


"Kau kesini dengan siapa?" tanya Zevina penasaran.


"Daddy. Aku kesini dengan Daddy." Ucap Raina bersemangat.


"Jack." Batin Zevina.


Darvin yang sedari tadi didepan pintu pun akhirnya memutuskan untuk masuk. Ia tidak mempersilahkan Jack untuk masuk tapi juga tidak langsung menutup pintu, hingga akhirnya Jack masuk dengan sendiri nya.


"Mommy, aku ingin makan ini." Pinta Raina menunjuk mentega khusus yang selalu wangi itu.


"Baiklah. Biar aku buatkan untuk mu." Ujar Zevina menggendong Raina untuk duduk di samping nya.


Ia tidak bisa jika harus marah pada Raina, karena Raina hanya anak kecil yang belum tahu banyak hal. Ia justru kasihan pada Raina mengingat hubungan Jack dan Liz kemarin.


"Ini." Ucap Zevina menyerahkan selembar roti beroleskan mentega tadi kepada Raina.


Darvin kembali duduk di samping nya, hingga posisi Zevina menjadi ditengah diapit oleh Darvin dan Raina. Jack memutuskan untuk duduk di depan mereka. Mata Jack tiba tiba tertuju pada cincin dijari manis Zevina. Lalu ia melirik jari Darvin yang ternyata juga ada cincin nya.


"Mereka sudah menikah?" Batin Jack menerka.


Darvin juga tidak marah atau membenci Raina. Pikiran nya dan Zevina sama. Raina hanya anak kecil yang belum tahu apa apa.


"Raina, apa kabar mu?" tanya Darvin pada Raina sambil mengelus kepala anak kecil itu.


"Aku baik uncle. Bagaimana dengan uncle?" tanya Raina kembali.


"Uncle baik juga. Look, uncle dan Mommy Zevina sudah menikah sekarang." Ucap Darvin sambil menunjuk cincin nya dan cincin Zevina bersamaan.


"Congratulations uncle." Ucap Raina meminta Darvin mendekat kepadanya dan dia mengecup pipi Darvin.


Drrtt Drrtt


Ponsel Darvin diatas meja bergetar pertanda ada yang menghubungi nya. Denga malas ia mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Darvin sedikit ketus.


"Tuan, perusahaan mu ada sedikit masalah. Apa bisa kau segera kesini sebentar?" tanya seorang pria diseberang sana.


"Hais. Baiklah." Ucap Darvin kesal. Mengganggu saja pikir nya. Ia langsung menutup panggilan nya tanpa menunggu kelanjutan perkataan karyawan nya.


"Sayang, aku harus pergi untuk menyelesaikan pekerjaan ku. Ikutlah dengan ku." Darvin pamit dan mengajak Zevina.


"Tidak sayang. Takut nanti merepotkan mu. Aku disini saja bersama Raina." Zevina menolak halus. Kalau Raina tidak di apartemen nya, dia pasti memilih ikut.


"Tapi ... " Darvin tidak melanjutkan perkataannya dan menatap kearah Jack yang dari tadi tidak mengalihkan pandangan nya dari Zevina.


"It's okay sayang. Trust me." Ucap Zevina melirikan mata nya pada Raina yang berarti Jack tidak mungkin macam macam didepan Raina.


"Baiklah. Aku pergi dulu." Ucap Darvin lalu mengecup sekilas kening Zevina.


"I love you sayang." Ucap Zevina saat Darvin bangkit dari duduk nya.


"I love you too. Jaga dirimu." Ucap Darvin kemudian melangkahkan kaki nya pergi.


Tinggal lah Zevina sendirian bersama Raina dan Jack.


"Raina, mau menonton kartun?" Zevina memberi usul pada Raina saat mereka sudah selesai sarapan.


"Let's go Mommy." Raina menarik tangan Zevina menuju ke ruang keluarga apartemen nya.


Ada perasaan tidak nyaman saat Jack melihat Zevina masih memperlakukan putrinya dengan baik setelah apa yang sudah diperbuatnya pada Zevina. Akhirnya Jack memutuskan untuk mengikuti mereka dan duduk sedikit jauh dari mereka.


"Mommy, maaf jika aku mengganggu Mommy. Aku sangat merindukan Mommy jadi aku memaksa Daddy membawa ku datang." Ucap Raina polos.


"Tidak apa. Dimana aunty Liz?" Zevina bertanya sengaja.


"Aunty Liz bilang dia letih karena semalaman menemani Daddy bekerja. Jadi dia ingin tidur seharian ini." Raina menjelaskan sangat polos tanpa mengerti maksud dari kata bekerja yang ia dengar dari Liz.


Perkataan polos Raina sukses membuat Jack salah tingkah dan mengalihkan pandangan nya.


"Kenapa kau tidak ikut aunty Liz menemani Daddy mu bekerja?" tanya Zevina sengaja menekan kata bekerja.


"Aku saja tidak tahu kalau Daddy akan bekerja dimalam hari." Raina benar benar polos menjawab setiap pertanyaan Zevina. Sedangkan Zevina hanya berusaha menahan tawa mendengar kepolosan Raina.


"Maka dari itu, kau harus bisa tidur lebih malam dan ikut aunty Liz menemani Daddy mu bekerja." Ucap Zevina lagi lagi sengaja.


"Zevina cukup." Jack dengan cepat menghentikan pembicaraan mereka.


Zevina tersenyum puas melihat kekesalan Jack.


"Daddy kenapa membentak Mommy. Aku hanya menceritakan yang sebenarnya. Daddy bekerja dengan sangat keras bahkan harus lembur dimalam hari." Ucap Raina lagi kali ini membuat Zevina tertawa terbahak bahak.


"Sial." Jack mengumpat.


"Haha Raina Raina, kau polos sekali." Ucap Zevina masih tertawa.


"Jangan tertawa Mommy. Aku berkata sejujurnya." Raina protes sambil menangkup wajah Zevina dengan kedua telapak tangan mungil nya.


"Haha baiklah baiklah. Aku minta maaf." Ucap Zevina sambil menghapus air mata nya yang keluar karena tertawa.


Jack malah tersenyum kecil melihat Zevina tertawa karena ulah anak nya. Entah kenapa ada perasaan bersalah saat Raina menceritakan tentang nya dan Liz. Zevina tentu mengerti bekerja dalam artian dewasa, tapi Raina hanya anak kecil. Bekerja yah bekerja setahunya.


"Mommy, apa uncle Darvin mencintai Mommy?" Raina bertanya penasaran.


"Sangat. Uncle Darvin sangat mencintai ku." Ucap Zevina dengan senyum mengembang.


"Tapi kenapa Mommy saat itu terlihat sangat tidak nyaman didekat uncle Darvin, bahkan seperti tidak mengenal nya?" tanya Raina lagi.


Anak kecil memang selalu punya sejuta pertanyaan untuk ditanyakan pada orang dewasa.


"Karena saat itu aku sedang bertengkar dengannya dan marah pada nya." Zevina menjawab jujur.


"Apa itu yang membuat mu menangis dipelukan ku saat itu?" Kini Jack yang bertanya sambil mengernyitkan kening nya. Ia memutuskan untuk duduk sedikit mendekat pada Zevina.


Raina memandangi Zevina dan Jack secara bergantian. Zevina tidak menjawab.


"Zevina aku bertanya." Ucap Jack menuntut jawaban.


"Kau tahu Jack itu hanya ... " Zevina berusaha mengalihkan pembicaraan namun Jack memotong nya.


"Ya atau tidak." Tegas Jack. Zevina hanya mengangguk pelan.


"Bodoh, aku bahkan mengira kau mau membuka hati mu untuk ku setelah kejadian itu. Tapi ternyata cinta mu terlalu besar untuk nya." Gumam Jack yang tentu masih dapat didengar oleh Zevina.


"Aku tidak akan bisa mencintai siapapun selain Darvin." Zevina berkata dari hati membuat Jack merasakan sesak di dada nya.


"Apa aku malah jatuh cinta pada nya sekarang?" Batin Jack.


"Mommy aku ingin ketoilet. Perut ku tidak enak." Raina pamit pada Zevina dan tanpa menunggu jawaban ia langsung berlari ke toilet.


Jack memutuskan untuk duduk lebih mendekat pada Zevina lagi. Zevina tidak bisa bergeser karena memang ia sudah di tepi sofa.


"Zev, maafkan aku. Maafkan untuk kesalahan yang ku lakukan pada mu." Pinta Jack memelas. Zevina tidak menjawab, tidak ingin menanggapi.


"Zevina aku sedang bicara." Entah kenapa Jack sangat tidak suka diabaikan oleh Zevina. Tapi lagi lagi Zevina tidak menanggapi.


Ia kemudian berdiri dan hendak pergi. Namun tangannya ditarik hingga ia terduduk lagi di sofa dan Jack sedikit menindih nya.


"Jack menjauh dari ku." Ucap Zevina mendorong tubuh Jack, namun sia sia.


"Aku minta maaf Zevina." Ucap Jack dengan suara lemah menatap dalam mata Zevina.


"Baik baik. Aku memaafkan mu Jack." Ucap Zevina. Sebenarnya Zevina bukan pendendam, walau memang masih ada rasa takut saat bersama Jack. Jack lega mendengar jawaban Zevina.


"Apa bisa kita berteman? Maksud ku, kau tahu Raina sangat menyukai mu dan pasti akan selalu memaksa ku agar membawanya menemui mu." Pinta Jack.


"Kalau untuk itu kau harus bertanya pada suami ku. Aku tidak bisa memutuskan nya sendiri." Ucap Zevina lalu bangkit meninggalkan Jack.


*******


Yuk, kasih semangat buat aku agar bisa terus up.


Walaupun view nya blm seberapa tapi semangat dari kalian yang terpenting.


Tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita nya yah.


Salam sayang.