
London, Inggris
Hari ini tepat sebulan setelah Darvin kembali ke New York. Zevina terlihat gelisah dalam tidur nya. Berguling kekiri dan kekanan, tidak nyaman. Ia akhirnya memutuskan untuk bangun dan duduk di atas ranjang nya. Kepalanya ia sandarkan pada sandaran ranjang.
Jari nya memiijit pangkal hidung nya, sesekali ia juga memijat kepalanya.
Huek
Zevina merasa ingin muntah. Dengan cepat ia turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
Huek huek
Ia memuntahkan seluruh isi perutnya. Lemas, ia lemas setelah muntah yang terakhir. Ia terduduk lemas di lantai.
"Hah, ada apa ini? Hamil atau masuk angin?" Batin Zevina bingung.
Zevina memutuskan untuk kembali ke ranjang nya dan membaringkan tubuhnya. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Darvin.
Beberapa kali percobaan namun tidak ada jawaban. Akhirnya Zevina meletakkan kembali ponselnya dan mencoba memejamkan matanya.
#####
Ditempat lain disebuah kamar hotel, Liz juga terlihat terbangun dari tidur nyenyak nya karena merasakan mual yang luar biasa. Hingga akhirnya ia mengeluarkan semua isi perutnya di kamar mandi.
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba tiba aku mual dan muntah seperti ini?" Batin Liz bertanya pada dirinya sendiri.
"Lebih baik aku temui Caren." Batin Liz kembali.
Caren adalah dokter spesialis kepercayaan nya, tempat ia berkonsultasi dan memasang alat kontrasepsi pada tubuhnya.
Segera ia pun bersiap.
Selama sebulan lebih sejak kejadian malam itu bersama Jack, ia memutuskan untuk tinggal di hotel. Ia menjauhi Jack bukan tanpa alasan. Ia punya alasan nya sendiri.
Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar nya dan berjakan kearah lift, lalu menekan tombol lift untuk menuju ke parkiran bawah tempat mobilnya terparkir.
Setelah itu ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menemui Caren. Ia berusaha menenangkan dirinya karena percaya tidak mungkin hamil.
Hampir satu jam waktu yang ditempuh untuk sampai ke rumah sakit. Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya dengan benar, ia berjalan dengan perasaan tidak tenang dan masuk kerumah sakit itu.
Ia menemui resepsionis terlebih dulu walaupun sudah membuat janji dengan Caren.
"Ada yang bisa kami bantu Nona?" Resepsionis perempuan itu bertanya sopan pada Liz.
"Aku sudah membuat janji dengan dokter Caren. Apa aku bisa menemui nya sekarang?" Liz juga menjawab dan bertanya dengan sopan.
"Dokter Caren masih memiliki satu pasien didalam. Setelah pasien itu maka giliran anda Nona Liz." Ucap resepsionis itu.
"Sepertinya Caren sudah lebih dulu mengabari kalian. Baiklah aku akan menunggu didepan ruangan nya." Ucap Liz tersenyum lalu melenggang pergi.
Cukup lama ia menunggu pasien sebelum dirinya selesai diperiksa atau bekonsultasi atau entahlah. Yang dia pikirkan hanya keadaan nya saat ini.
"Hai Liz." Ucap Dokter Caren yang ternyata sudah berdiri didepan pintu. Liz tidak sadar karena sedang membaca sesuatu di ponselnya.
"Oh hai." Ucap Liz tersentak. Ia pun berjalan mendekati Caren.
"Apa kabar?" Tanya Caren memeluk erat Liz. Ia lalu menuntun Liz untuk masuk kedalam ruangan nya.
"Tidak yakin baik baik saja." Ucap Liz asal karena memang itulah yang ada diotak nya.
"Ada apa?" Tanya Caren penasaran melihat ekspresi Liz yang tidak seperti biasanya.
"Aku tadi pagi tiba tiba muntah Car, setelah merasakan pusing yang berlebihan." Ucap Liz menjelaskan keadaan nya.
"Biar aku periksa dulu." Ucap Caren.
Ia kemudian memeriksa perut Liz sesuai dengan keluhan nya. Ia terkejut melihat dilayar monitor USG nya tepat nya pada rahim Liz terdapat sebuah gumpalan daging kecil, pertanda ada kehidupan disana.
Setelah selesai ia kembali ke tempat duduk nya diikuti Liz.
"Jadi ada apa? Tidak ada masalah kan?" Tanya Liz harap harap cemas.
Hah
"Aku tidak tahu bagi mu ini masalah atau tidak Liz, tapi kau hamil." Ucap Caren pelan.
Deg
Seketika Jantung Liz berdetak tidak karuan.
"Bagaimana mungkin Car? Kau sendiri yang memasang alat itu pada ku." Ucap Liz berusaha menyangkal kebenaran.
"Aku tahu Liz. Tapi alat itu bergeser dari tempat seharusnya. Dan jika kau ingin mempertahankan janin mu, maka alat itu harus segera dilepas. Jika tidak maka akan mengganggu perkembangan janin mu. Terburuk nya adalah keguguran." Ucap Caren menjelaskan dengan hati hati.
"Tidak mungkin. Aku terakhir kali berhubungan itu sudah sekitar sebulan yang lalu." Ucap Liz mencoba mengingat.
Selama setahun ia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun, selain berhubungan dengan Jack.
Deg
"Jack ... " Batin Liz menyadari bayi nya adalah milik Jack.
Ia kemudian segera keluar dari ruangan Caren tanpa berkata apapun. Dengan cepat ia mencapai mobil nya. Setelah didalam mobilnya ia menangis sejadi jadi nya.
Hal yang paling ia takutkan kini terjadi. Haruskah ia memberi tahu Jack? Apa Jack bisa menerima nya atau justru? Ah, otak nya ingin pecah rasanya.
"Kenapa Tuhan tidak adil begini? Kenapa aku harus mengandung janin dari pria yang sama sekali tidak mencintai ku?" Ia memukul keras setir mobilnya dan menangis sejadi jadi nya.
Setelah puas menangis ia segera melajukan mobilnya kembali kerumah Jack. Bukan untuk memberitahu Jack tentang kehamilan nya, tetapi untuk mengemas barang barang nya.
Setelah sampai, ia langsung melangkah masuk dan mengabaikan Jack dan Raina yang sedang berada di ruang makan.
"Aunty Liz." Raina berteriak kegirangan dan berlari mengejar Liz hingga ke kamar nya.
"Aunty what are you doing?" Tanya Raina kaget melihat Liz mengemas barang barang nya ke dalam koper.
"Aunty ada pekerjaan diluar kota." Ucap Liz berbohong tanpa menatap wajah Raina. Ia tahu anak kecil itu sebenarnya sangat pintar menangkap gelagat seseorang yang sedang berbohong.
"Daddy, aunty mau pergi." Raina berteriak histeris memanggil Jack yang masih diruang makan.
Mendengar teriakan Raina, secepat kilat Jack berlari ke kamar Liz.
"Liz, ada apa?" Tanya Jack bingung berusaha menghentikan kegiatan Liz.
"Jangan halangi aku Jack. Aku harus pergi." Ucap Liz menepis kasar tangan Jack yang mencoba menghalangi nya.
"Tapi Liz, kenapa tiba tiba seperti ini?" Tanya Jack bingung. Ada perasaan tidak tenang saat melihat Liz seperti itu.
"Aku mendapat pekerjaan baru sebagai model. Dan agensi nya ada diluar kota." Ucap Liz berbohong.
Model? Tidak mungkin. Jack tahu Liz paling benci bekerja sebagai model, walaupun ia mempunyai kriteria yang sangat cocok sebagai model.
"Tidak mungkin Liz. Kau benci pekerjaan itu." Ucap Jack berusaha mengorek kebenaran dari Liz.
"Aku mengubah pandangan ku." Liz selalu menjawab seadanya dan menghindari kontak mata dengan dua orang itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi Liz? Beritahu pada ku." Ucap Jack sedikit membentak dan memegang tangan Liz agar tidak bergerak.
Akhirnya mau tidak mau Liz menatap mata Jack.
"Tidak ada Jack. Aku hanya ingin mencoba dunia pekerjaan yang baru." Ucap Liz lagi lagi berbohong.
"Liz, menikah lah dengan ku." Ucap Jack menatap dalam mata indah Liz.
"Tidak Jack. Kau tidak mencintai ku. Aku tidak ingin hidup dengan pria yang tidak mencintai ku. Aku anggap semua yang terjadi antara kita adalah satu kesalahan." Ucap Liz menahan air mata nya.
Ia kembali menepis tangan Jack, dan menyeret koper nya. Meninggalkan rumah itu. Bahkan berkali kali Raina berteriak mencegah nya tidak ia hiraukan.
Jack memeluk erat putrinya yang menangis meraung.
********
selalu tinggalkan dukungan kalian berupa komentar, like yah.
Favorit dan share ke teman teman kalian baik secara offline maupun online ya.