IF LOVE

IF LOVE
If Love 24



"Sial." Jack mengumpat saat mendapati ia tidur bersama dengan Liz dalam keadaan tanpa busana. Ia sepertinya lupa akan pergulatan panas nya tadi malam, padahal ia melakukan nya dalam keadaan sama sama sadar.


"Ada apa Jack?" tanya Liz dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar sangat sexy di telinga Jack.


"Hah ya ampun." Gerutu Jack menepuk kening nya saat mengingat kejadian malam tadi.


"Kau melakukan nya dengan siapa saja Liz?" tanya Jack penasaran ketika sudah mengingat pertempuran panas nya tadi malam.


"Aku?" Liz kembali bertanya pada Jack sambil bangun untuk duduk dan merenggangkan otot nya.


"Tentu saja dengan kekasih ku, dan kekasih ku yang lain nya, dan yang lain nya lagi, dan yang lain lain nya lagi." Liz menjelaskan sedikit terkekeh tanpa rasa bersalah. Jack terperangah tidak percaya mendengar jawaban Liz.


Perempuan yang kelihatan nya baik selama ini dimata nya, ternyata seliar itu. Penampilan Liz memang selalu terbuka, tapi ia tidak menyangka itu benar benar salah satu bagian dari jati dirinya.


"Come on Jack. Ini negara bebas. Dan siapa yang akan melarang ku jika aku dan para kekasih ku sama sama menginginkan nya." Liz kembali berucap seolah mengerti dengan pikiran Jack.


"Kau tidak takut hamil?" tanya Jack ragu. Jack terus menelusuri tubuh sexy Liz didepan nya dengan mata nya.


"Hamil? Hanya orang bodoh yang bisa seperti itu. Tentu saja aku takut, tapi aku tidak bodoh. Aku sudah memasang kontrasepsi dalam tubuh ku. Jadi mau bercinta sebanyak apapun dan dengan siapapun aku tidak akan hamil." Liz menjelaskan dengan bangga tanpa merasa berdosa.


Mendengar itu, jiwa keperkasaan Jack kembali tertantang. Ia kembali mencumbu buas tubuh polos Liz. Liz tentu saja tidak menolak. Namun pergerakan mereka terhenti saat mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Daddy, bangun. Daddy akan terlambat bekerja nanti." Ucap Raina dari balik pintu.


"Baiklah Raina. Sebentar lagi Daddy turun. Kau sarapan saja dulu dibawah." Ucap Jack berteriak.


"Baiklah." Raina menjawab pada Jack. Setelah itu ia pun turun kebawah tanpa tahu apa yang terjadi didalam kamarnya Ayahnya.


"Sebentar lagi Jack. Aku tanggung." Ucap Liz terus menggoda Jack. Liz benar benar dibuat mabuk kepayang dengan sentuhan Jack semalam.


"Liz, aku ... " Belum selesai Jack berbicara, bibir nya sudah diterkam oleh Liz membuatnya tidak mampu menolak.


Akhirnya terjadi lagi pergulatan panas mereka. Hubungan yang salah dasarnya mulai tercipta diantara mereka.


Setelah itu, mereka bahkan mandi bersama dan melakukan nya lagi didalam kamar mandi tanpa peduli Raina sedang menunggu mereka.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, mereka pun turun bersama.


"Aunty, kenapa aunty memakai pakaian Mommy?" tanya Raina menyiasati.


"Aunty hanya rindu pada Mommy mu sayang, jadi aunty memakai pakaian Mommy mu agar aunty bisa merasakan seolah Mommy mu sedang memeluk aunty." Ucap Liz berbohong. Raina hanya mengangguk tanda mengerti.


"Dad, apa aku boleh ikut ke kantor? Aku merindukan Mommy Zevina." Pinta Raina.


Jack menghela nafas kasar. Ingatan nya tentang Zevina dan Darvin kemarin malam kembali menghantam nya. Ada perasaan tidak nyaman saat mendengar Raina menyebut Zevina.


"Baiklah." Jawab Jack singkat.


Setelah selesai sarapan, Jack pun berangkat ke kantor bersama Raina.


#####


"Sayang, selesai kerja nanti apa perlu aku menjemput mu?" tanya Darvin. Ia sedang mengantar Zevina berangkat ke kantor.


"Tentu saja. Kau harus menjadi pelayan ku untuk menebus kesalahan mu pada ku." Ucap Zevina bersemangat tanpa ada rasa takut pada Darvin. Darvin terkekeh.


"Baiklah baiklah. Apapun untuk mu sayang." Ucap Darvin mengelus kepala Zevina dengan satu tangannya.


Tak lama mereka pun sampai. Darvin segera turun dari mobil dan berlari untuk membukakan pintu untuk Zevina. Ia kemudian mengulurkan tangan nya untuk Zevina dan disambut Zevina dengan senyuman.


"Thank you sayang." Ucap Zevina mengecup pipi Darvin.


Darvin meraih Zevina dalam pelukan nya.


"I love you Mrs. Anthony." Bisik Darvin telinga Zevina.


Darvin kemudian melepaskan pelukan nya dan mengecup bibir Zevina.


"Masuklah. Kerja dengan baik." Darvin menyemangati kekasih nya.


"Kau juga." Zevina kemudian melangkah masuk dan melambaikan tangannya pada Darvin. Darvin tersenyum dan membalas lambaian tangan nya.


#####


Jack sedari tadi memperhatikan gerak gerik mereka dari dalam mobil. Matanya terlihat memerah karena amarah. Ia mencengkeram setir mobilnya dengan kuat.


"Daddy, ayo kita turun." Raina mengajak menggoyangkan lengan Jack.


"Baiklah." Ucap Jack terpaksa tersenyum pada Raina.


Segera Jack pun turun dari mobil nya dan membawa Raina memasuki perusahaan nya.


"Mommy." Raina memanggil Zevina dengan girang dan berlari memeluk Zevina.


"Hai, little girl." Zevina mengusap usap puncak kepala Raina.


"Mommy, apakah uncle Darvin adalah kekasih Mommy?" tanya Raina penasaran.


"Yup. Darvin adalah kekasih ku." Zevina mengiyakan pertanyaan Raina tersenyum manis. Jack mengepalkan tangannya kuat mendengar jawaban Zevina. Dengan cepat ia berjalan ke mejanya dan duduk di kursi kebesaran nya.


Ia tidak terima melihat Zevina tersenyum karena pria lain. Tapi dirinya juga tidak yakin, apakah sudah jatuh cinta pada Zevina atau tidak.


"Wah, uncle Darvin sangat tampan dan Mommy sangat cantik. Aku tidak keberatan jika Mommy bersama uncle Darvin. Mommy terlihat bahagia." Ucap Raina polos seperti seorang anak yang sedang memberi restu pada Ibunya untuk memiliki kekasih lain.


"Haha kau ada ada saja." Zevina mencubit gemas pipi Raina.


"Tapi apa aku boleh terus memanggil mu Mommy?" Raina kembali bertanya pada Zevina dan menatap Zevina penuh harap.


"Terserah kau saja." Jawab Zevina sekenanya.


"Lalu, apa aku boleh memanggil uncle Darvin Daddy?" Raina lagi lagi bertanya.


"Tidak boleh." Bukan Zevina yang menjawab melainkan Jack.


"Kau tidak boleh memanggil orang lain Daddy selain Daddy mu sendiri." Tegas Jack dengan nada marah. Raina menunduk sedih.


"Jack apa apaan kau. Raina hanya bertanya saja." Zevina mencoba membela Raina.


"Dia putri ku dan aku berhak mengajari nya. Dan disini aku adalah atasan mu, jadi panggil aku dengan sebutan Tuan." Jack malah berbicara judes pada Zevina tanpa sebab.


Zevina terperangah tak percaya mendengar Jack marah pada nya.


"Pria sinting." Batin Zevina. Ia pun memilih menenangkan dan menghibur Raina.


Setelah Raina lebih baik, ia pun memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan nya. Ia sangat serius mengerjakan pekerjaan nya, sampai sampai ia tidak sadar Jack sedang melihat kearah nya dengan tatapan bergairah.


"Sial." Batin Jack sambil memukul kepalanya.


"Gara gara meniduri Liz aku jadi mulai berpikiran yang tidak tidak." Gerutu Jack dalam hati.


Segera ia pun mengerjakan pekerjaan nya, dan masih sesekali melirik Zevina. Ingin rasanya ia memiliki Zevina walau ia sendiri tidak tahu apakah itu cinta atau hanya nafsu semata. Apalagi setelah ia melakukan hal itu berulang kali dari tadi malam bersama Liz.


******


Semoga selalu suka yah.


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan, favorit cerita nya.


Semangat terus dan selalu jaga kesehatan kalian.