IF LOVE

IF LOVE
Extra Chapter If Love 1 (The Anthony Twins)



Lima Tahun Kemudian


Waktu bergulir dengan sangat cepat. Tidak terasa duo kembar Anthony yakni Arvina dan Arzena sudah menginjak usia lima tahun.


Arvina dan Arzena mempunyai karakter dan sifat yang berbeda jauh.


Arvina sangat penurut, pendiam, dan lebih dewasa. Arzena lebih aktif, banyak bicara, dan susah untuk dinasehati. Hanya dua kesamaan yang mereka miliki yaitu sama sama cerdas dan cantik.


Seperti saat ini, Arvina sedang duduk tenang dan melahap makanannya sedangkan Arzena berlari kesana kemari membuat Zevina kerepotan mengejarnya.


Arzevin sang kakak dari si kembar bahkan ikut mencoba menangkap Arzena.


"Ayolah little, makan makanan mu dulu." Ucap Arzevin berusaha menangkap adiknya.


"No no." Ucap Arzena terus berlari kesana kemari.


Arvina memutar malas matanya melihat tingkah kembarannya itu.


"Oh astaga, tingkah lakumu menurun dari mana? Kenapa kau nakal seperti ini?" Keluh Zevina.


"Mom, here let me do it." Pinta Arvina meminta piring makanan Arzena.


"Ini." Ucap Zevina memberikan piring tersebut.


Arvina turun dari tempat duduknya dan melangkah dengan pasti mendekati kembarannya.


"Arzena." Ucap Arvina membuat Arzena menghentikan larinya.


Arvina mendekati Arzena, lalu menarik kuat rambutnya yang saat itu dikuncir kuda oleh Zevina.


"Makan ini." Ucap Arvina dingin sambil memberikan piring makanan tersebut.


Seketika Arzena langsung menurut pada kembarannya dan langsung melahap makanannya.


Arvina kembali ketempat duduknya dan menghabiskan sisa makanannya.


Mungkin hanya Arvina yang dapat membuat Arzena menurut saat ini, tapi nanti mungkinkah keadaan akan tetap seperti sekarang?


Zevina dan Arzevin kaget melihat cara yang dipakai oleh Arvina.


Bukan pertama kali Arvina seperti itu untuk membuat kembarannya menurut, dan cara yang Arvina gunakan juga selalu berbeda namun sangat ampuh.


"Jika Mommy terus meladeni dia, dia akan semakin bertingkah. Mommy harus lebih tegas lagi." Ucap Arvina dingin dan membawa piring kotornya untuk ia cuci.


Arvina memang lebih senang belajar mandiri dan tidak terlalu tergantung pada orang lain.


Zevina hanya diam dan memperhatikan gerak gerik Arvina. Jika diperhatikan, Arvina lebih mirip Darvin. Darvin mempunyai sikap tegas, dingin, dan fokus pada satu tujuan.


Sedangkan Arzena lebih mirip dirinya yang terkadang suka bersikap plinplan, hanya saja Arzena terlampau aktif dan susah diajak bicara. Arzena juga sangat manja.


Secara tak sengaja, keluarga besar mereka cenderung lebih menyayangi dan memperhatikan Arvina yang lebih pendiam.


Arvina sangat jarang untuk bercerita pada orang tuanya atau kakaknya jika tidam ditanya, sedangkan Arvina selalu bisa bercerita tanpa diminta.


"Mom, aku kekamar dulu." Pamit Arvina. Sudah bisa ditebak, ia pasti masuk kedalam kamar untuk mendalami hobby nya yaitu melukis.


Arvina suka sekali melukis, sedangkan Arzena sangat tertarik dengan musik.


"Mommy, aku sudah selesai." Teriak Arzena. Tandanya ia meminta air minum dan ingin seseorang membereskan piring kotornya.


Zevina meminta seorang pelayan untuk membantunya.


Setelah selesai, Arzena langsung berlari ke ruang keluarga dan langsung memutar musik dengan volume besar.


"Astaga Arzena. Matikan!" Titah Zevina namun tidak dihiraukan.


BRAKK


Darvin yang baru pulang dari kantornya langsung melempar DVD player yang sedang digunakan Arzena hingga pecah berantakan.


"Harus berapa kali Daddy bilang pada mu? Jangan bertingkah semau hatimu. Cobalah untuk bersikap sedikit lebih dewasa." Geram Darvin pada putri bungsunya itu.


Bukan merasa bersalah atau menangis seperti anak kebanyakan, Arzena malah terkekeh geli dan langsung melompat lalu memeluk leher Daddy nya.


Darvin kembali menahan amarahnya dan memilih membalas pelukan putri bungsunya.


"Dimana Arvina?" Tanya Darvin lembut.


"Dikamar Dad. Pasti sedang melukis." Jawab Arzevin.


"Ayo, kita lihat kembaran mu sedang melukis apa hari ini?" Ucap Darvin menggendong Arzena.


"Sayang, kau tidak ingin mandi dulu?" Tanya Zevina.


"Tidak sayang. Nanti saja." Ucap Darvin mengedipkan genit satu matanya pada istrinya.


Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kekamar Arvina. Arvina memang meminta untuk tidur sendiri dan meminta kamar yang lebih besar agar ia bisa menata dengan baik hasil lukisannya.


"Sweet heart, Daddy pulang." Ucap Darvin sambil membuka pintu kamar Arvina.


"Hai Dad." Jawab Arvina tanpa bangkit dari tempat duduknya karena Darvin sudah berjalan mendekati dirinya bersama Arzena.


"Apa yang kau lukis hari ini sayang?" Tanya Darvin mengecup sayang puncak kepala Arvina.


"Wow, it's amazing." Ucap Darvin memuji hasil lukisan putrinya yang terlihat benar benar mirip dengan aslinya.


"Thanks Dad." Ucap Arvina meneruskan lukisannya.


"Vin, apa cita cita mu kelak?" Tanya Darvin menurunkan Arzena dan mendudukkan nya diatas pangkuannya.


"Aku ingin menjadi seorang pelukis. Jika diijinkan, aku ingin menjadi seorang desainer atau arsitek." Jawab Arvina serius.


Darvin merasa bangga mendengar jawaban Arvina.


"Zena, apa cita cita mu kelak?" Tanya Darvin pada putri bungsu nya.


" Aku tentu saja ingin menjadi seorang penyanyi terkenal." Jawab Arzena bangga.


Tidak bisa Darvin pungkiri kedua putrinya memang mempunyai suara yang indah saat bernyanyi, terutama Arzena.


"Jika kau ingin menjadi penyanyi, Daddy tidak melarangmu. Tapi berjanjilah satu hal, kau harus tetap serius dalam pelajaran mu, dan jangan nakal. Janga dirimu karena kau adalah perempuan." Ucap Darvin menasehati putri bungsu nya yang ia tahu dan ia yakini akan lebih nakal dari Arvina.


"Daddy tenang saja. Walau aku masih kecil, tapi aku sudah mengerti banyak hal." Ucap Arzena percaya diri.


"Kau sudah tahu banyak hal, bahkan disekolah saja mau berani mencium anak laki-laki teman satu kelas mu." Ucap Arvina datar.


Arvina dan Arzena memang sudah bersekolah di salah satu PAUD terbaik di London.


Darvin kaget mendengar perkataan Arvina.


"Kau melakukan itu?" Tanya Darvin menuntut kebenaran.


"Oh ayolah Dad, aku hanya mengecupnya." Ucap Arzena seolah protes.


"Tapi kau masih kecil Zena. Siapa yang mengajarimu?" Tanya Darvin kesal.


"Tidak ada. Hanya saja aku sering melihat orang dewasa melakukan hal itu. Bahkan mereka saling berbuka pakaian." Ucap Arzena.


Darvin membelalakan matanya tak percaya.


"Darimana kau melihat itu?" Tanya Darvin geram.


"Diponsel teman ku. Dia diam diam membawa ponsel kesekolah. Dan saat aku tanya itu ponsel dan video siapa? Dia bilang itu punya Mommynya bersama teman Daddy nya." Ucap Arzena polos.


Darvin mendengus kesal.


"Arvina, apa kau juga menontonnya?" Tanya Darvin geram.


"Tidak. Aku bahkan tidak punya teman disekolah. Lebih tepatnya aku tidak ingin berteman dengan mereka. Mommy selalu berpesan agar aku menjauhi mereka yang tidak membawa pengaruh baik untukku." Ucap Arvina menyelesaikan lukisannya.


"Sepertinya aku harus ke sekolahan mereka dan membicarakan hal ini dengan kepala sekolah." Gumam Darvin dalam hati.


"Dad, aku mengantuk. Aku ingin tidur sekarang. Good night." Ucap Arvina lalu mengecup pipi Darvin dan ia pun naik keatas ranjangnya dan menyelimuti dirinya.


Darvin membawa Arzena keluar dari kamar Arvina menuju ke kamar Arzena.


"Kau juga tidurlah. Besok Daddy akan mengantar kalian ke sekolah dan akan menemui kepala sekolah kalian." Ucap Darvin serius.


"Baik Dad. Good night." Ucap Arzena lalu masuk kedalam kamar nya setelah Darvin mengecup pipi nya.


Darvin kembali ke kamar nya.


"Sayang, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu." Ucap Zevina mendekati suaminya lalu membantu Darvin membuka pakaian nya.


"Besok aku akan menemui kepala sekolah twins." Ucap Darvin pelan.


"Untuk apa?" Tanya Zevina bingung.


Darvin pun menceritakan hal yang tadi ia dengar dari kedua putri kembarnya.


"Astaga, sudah separah itu?" Ucap Zevina terkejut.


Darvin mengangguk.


"Baiklah, besok aku akan menemanimu juga. Sekarang kau segeralah mandi, lalu kemudian istirahat." Titah Zevina lembut.


Darvin pun menurut dan segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, Darvin keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian yang sudah Zevina siapkan untuknya.


Setelah selesai ia pun naik keatas ranjang dan bergabung bersama Zevina. Mereka bercerita beberapa hal hingga akhirnya terlelap bersama.


...~ To Be Continue ~...


#####


Ini Ekstra part buat si kembarnya Darvin sama Zevina..


Sekalian buat bocoran kisah mereka juga nantinya..


Maaf lama up yo...


Semoga masih beta nunggu.