
"Tuan Jack, bagaimana jika kita berteman. Lebih akrab dari sekedar teman bisnis." Ucap Darvin pada Jack saat mereka sedang di parkiran.
"Wow, itu terdengar keren. You know sudah lama aku tidak berteman dengan seseorang baik itu pria atau wanita. Teman teman lama ku sudah sibuk dengan kehidupannya sendiri." Jack semangat menanggapi usul Darvin.
"Baiklah jadi aku boleh memanggil mu Jack saja?" tanya Darvin seolah antusias. Ia memutuskan untuk meraih Zevina kembali melalui Jack. Zevina adalah sekretaris Jack dan itu artinya Zevina akan sering bersama Jack saat meeting bisnis.
"Baiklah Darvin." Ucap Jack semangat merangkul pundak Darvin dan meninju pelan dada nya. Darvin terkekeh.
"Darv, panggil saja aku Darv itu akan terdengar lebih baik." Ucap Darvin meminta Jack memanggil nama pendek nya.
"Baiklah Darv." Ujar Jack menyanggupi permintaan Darvin. Keduanya pun tertawa bersama.
"Baiklah. Aku harus pergi sekarang Jack." Darvin berpamitan pada Jack dan masuk ke mobil nya. Kemudian ia menurunkan kaca mobilnya dan Jack sedikit membungkuk menumpukan tangan nya pada pintu mobil Darvin.
"Kau menyetir sendiri?" tanya Jack sedikit heran.
"Yeah, aku selalu menyetir sendiri. Aku tidak suka diikuti kecuali oleh kekasih ku." Ujar Darvin tersenyum kecil.
"Okay." Timpal Jack lalu berdiri sedikit menjauh dari mobil Darvin.
"Aku pergi dulu Jack. Sampai bertemu lagi nanti." Pamit Darvin lalu melajukan mobilnya meninggalkan gedung itu, Jack hanya melambaikan tangannya mengantar kepergian Darvin.
Jack pun memutuskan untuk kembali ke dalan ruangan nya. Ia ingin minta maaf pada Vivian dan menjelaskan bahwa tadi dia hanya berniat bercanda.
#####
"Sayang, kau tidak pandai bersembunyi." Gerutu Darvin saat diperjalanan. Ingatannya dipenuhi oleh Zevina. Ia tidak menyangka informasi yang ia dapatkan tentang Zevina benar benar akurat.
"Aku tidak akan melepaskan mu kali ini sayang." Lanjutnya lagi. Ia benar benar harus bisa membuat Zevina kembali padanya. Zevina sudah seperti nyawa nya. Saat Zevina tidak bersama nya, ia benar benar kehilangan arah hidup nya.
#####
"Zevina." Panggil Jack saat sudah berada di ruang kerja nya. Ia melihat Zevina sedang sibuk mengerjakan pekerjaan nya.
Zevina tidak menjawab. Bagaimana pun ia masih kesal dengan kelakuan Jack tadi. Ia hanya diam dan terus melanjutkan pekerjaannya.
"Zevina." Jack kembali memanggil nya. Jack sudah berdiri di depan mejanya dan mengetuk mejanya beberapa kali. Namun Zevina tetap tidak mempedulikan nya.
"Zevina." Jack mengulang panggilan nya dengan sedikit meninggikan nada nya. Zevina menatap Jack dengan marah.
"Apa? Kau mau memecat ku karena aku tidak melayani mu? Maaf tapi aku tidak seperti yang kau kira. Aku tidak tertarik pada mu apalagi harta mu. Jika kau ingin memecat ku, silahkan saja aku dengan senang hati menerima nya." Ketus Zevina panjang lebar. Ia seolah melampiaskan emosi nya pada Jack.
Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi. Dengan cepat Jack menahan nya dan membawanya ke dalam pelukan nya.
"Zevina, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti mu tadi. Aku hanya niat mengganggu mu. Tidak ada niatan untuk melecehkan mu sedikit pun. Aku bersumpah." Ucap Jack memeluk erat Zevina. Jack menjelaskan pada Zevina seolah sedang menjelaskan pada kekasihnya yang sedang marah.
Zevina tidak bergeming. Ia diam dan mulai terisak. Bukan Jack yang membuat nya marah. Tapi pertemuan dengan Darvin lah yang membuat nya begitu.
Zevina kemudian membalas pelukan Jack, lebih tepat nya ia mulai memukul punggung Jack seolah untuk melampiaskan rasa sakit nya. Sedangkan Jack menyangka bahwa Zevina marah pada nya.
"Aku hanya ingin bahagia. Aku hanya ingin hidup lebih baik." Ucap Zevina masih terus memukuli punggung Jack, menumpahkan segala rasa sakit nya.
Jack kini sadar bukan ia yang Zevina pikirkan. Jack tidak tahu, tapi ia yakin apa yang ada dalam pikiran Zevina ada kaitannya dengan masa lalu.
"Menangis lah Zevina. Menangis lah sepuas hati mu dan keluarkan semua rasa sakit mu. Pukul saja aku jika itu bisa membantu mu. Anggap saja aku sebagai rasa sakit mu." Ucap Jack sambil mengelus rambut Zevina.
#####
"Aunty ayo cepat." Raina merengek mendesak aunty Liz nya agar segera mengantar nya keperusahaan Ayahnya.
"Oh ya ampun Raina. Bagaimana aunty bisa cepat. Kau mendadak sekali membicarakan ini pada aunty." Gerutu Liz kesal pada Raina.
Pasalnya tadi dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaan nya, dan Raina sedang belajar dengan guru privat nya. Namun setelah selesai ia langsung meminta Liz untuk mengantarkan dirinya menuju ke perusahaan Jack.
"Aunty terlalu lama. Ayo cepat." Raina merengek lagi.
"Raina shut up. Diam dan bersabar atau aunty tidak akan mengantar mu pergi sama sekali." Ucap Liz tegas pada Raina.
Raina akhirnya diam dan menurut. Ia tahu aunty Liz nya adalah orang yang tidak suka dibantah apalagi tentang sesuatu yang benar.
"Ayo." Ucap Liz meraih tangan Raina setelah ia selesai mengemas barang barang nya.
Raina pun mengikuti langkah Liz sambil menggoyang goyangkan tangan Liz. Liz menggeleng melihat tingkah keponakan nya itu. Setelah mereka berada di dalam mobil, Liz pun melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Jack.
"Thank you aunty, sudah mau mengantar ku." Ucap Raina girang saat mereka dalam perjalanan.
"Yeah. Jika aunty boleh tahu, apa yang membuat mu bersemangat untuk datang ke perusahaan Daddy mu?" tanya Liz penasaran.
"Aunty akan tahu jika sudah sampai." Ucap Raina berbinar menatap Liz. Liz hanya mengangguk pelan.
Tak lama mereka pun sampai. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Liz pun menggandeng Raina untuk masuk. Mereka tidak perlu repot berurusan dengan resepsionis karena memang sudah dikenal.
Mereka menggunakan lift khusus menuju ke ruangan Jack. Saat sudah keluar dari lift, Kerr berpapasan dengan Rick, Asisten Jack.
"Uncle Rick." Teriak Raina kegirangan, lalu berlari dan menghampiri Rick. Rick langsung meraih nya dalam gendongan.
"Apa dia alasan Raina bersemangat kesini?" tanya Liz dalam hati sambil berjalan mendekati mereka.
"Uncle where is Mommy?" tanya Raina penasaran.
"Mommy?" batin Liz penasaran.
"Didalam sana tentu saja." Ucap Rick sambil menunjuk ruangan Jack.
"Okay. Thank you uncle Rick." Ucap Raina mengecup sekilas pipi Rick, dan meminta Rick menurunkannya. Setelah itu ia langsung berlari masuk ke dalam ruangan Ayahnya meninggalkan Liz dan Rick.
"Hai, apa kabar?" Rick menyapa Liz canggung.
"Baik." Ucap Liz seadanya lalu pergi meninggalkan Rick. Rick hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Didalam ruangan Jack, Liz terkejut melihat Raina bergelayut manja diatas pangkuan Zevina. Ia sedikit tidak terima jika Raina mulai mencintai wanita lain selain mendiang kakak nya yang notaben nya adalah Ibu kandung Raina.
Tapi ia tidak boleh egois. Karena Raina masih sangat kecil saat Ibunya pergi, Raina bahkan belum sempat mengenal seperti apa sosok Ibu kandung nya selain melalui foto.
"Aunty, this is my Mommy." Ucap Raina memanggil Liz mendekat.
Liz hanya tersenyum berjalan mendekati mereka.
"Hai. I'm Liz." Ucap Liz mengulurkan tangan nya untuk berjabat dengan Zevina.
"Zevina." Ucap Zevina menyambut uluran tangan Liz. Zevina menatap tidak enak pada Liz seolah olah dirinya sendiri adalah pengganggu keharmonisan keluarga kecil Jack.
"Jangan salah paham. Aku aunty nya Raina dan mendiang Mommy nya Raina adalah kakak kandung ku." Tutur Liz menjelaskan saat ia melihat gelagat tidak nyaman dari Zevina.
Zevina pun menghembuskan nafas lega. Raina kemudian menarik nya untuk duduk kembali. Jack sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka.
Liz memutuskan untuk berjalan menuju kulkas mini dipojok ruangan Jack dan meraih sebotol air mineral dingin. Ia membuka botol itu dan meminum nya hingga setengah sambil berjalan dan duduk di kursi didepan meja kerja Jack.
"Kak Jack, apa dia wanita pilihan mu?" tanya Liz santai.
"Not me. Aku tidak tahu bagaimana hubungan ku selanjutnya dengan diri nya. Tapi Raina sangat menyukainya." Jack menjelaskan. Liz hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan Jack.
*******
Makasih kalian semua atas dukungannya.
Jangan pernah bosan nungguin update nya yah.
Selalu tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita nya.
Salam sayang buat kalian semua.