
"Mommy mommy open the door, please." Ucap Raina menggedor pintu apartemen Zevina. Kemarin seharian dia tidak ingin berbicara pada Zevina setelah Zevina mengungkit tentang mendiang Ibunya. Tapi pagi ini tiba tiba saja ia memaksa Ayahnya untuk menjemput Zevina ke apartemen nya.
"Astaga, apa anak bocah itu kini mencari ku sampai kesini?" Gerutu Zevina dari dalam apartemen nya sambil berjalan tergesa gesa untuk membuka pintu.
"Mommy." Ucap Raina bersemangat saat melihat Zevina sudah membuka pintu dan segera ia memeluk tubuh mungil Zevina.
"Untuk apa kau sepagi ini kemari? Kau datang sendiri?" Tanya Zevina berusaha melepaskan pelukan Raina dengan perlahan, tidak ingin mengasari gadis kecil itu.
"Aku merindukan Mommy. Aku datang dengan Daddy, tapi dia sedang membeli sarapan." Ucap Raina bersemangat melepas pelukan nya dan segera berlari masuk kedalam apartemen Zevina.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa bertemu dengan bocah aneh ini disini?" Gerutu Zevina hendak menutup pintu kembali, namun tertahan oleh seseorang.
"Boleh aku masuk?" tanya Jack si pelaku sambil tersenyum bodoh saat Zevina sudah berbalik. Ia benar benar tidak enak hati harus mengganggu sekretaris nya sepagi ini.
"Masuklah." Ucap Zevina dengan wajah tidak ramah. Ia benar benar tidak keberatan kalau bos nya itu akan memecat nya setelah ini.
"Duduk lah." Ucap Zevina dengan terpaksa kepada Raina dan Jack.
"Hei bocah, kau mau minum apa?" tanya Zevina ketus.
"Aku air putih saja Mommy. Ini masih pagi, kalau Daddy setiap pagi akan meminum segelas susu hangat tawar." Ucap Raina tanpa rasa malu. Zevina pun berlalu kedapur nya. Jack hanya bisa menunduk. Entah apa yang membuat putrinya menjadi sebegitunya pada seorang perempuan asing. Padahal ia tidak pernah begitu pada Aunty Liz nya.
"Ini." Ucap Zevina menyerahkan sebotol air mineral untuk Raina dan segelas susu hangat sesuai pesanan Raina pada Jack.
"Mommy, mommy mau kemana?" tanya Raina saat melihat Zevina hendak pergi.
"Mau mengganti baju. Apa kau mau aku bekerja dengan pakaian seperti ini?" tanya Zevina ketus sambil seolah memamerkan pakaiannya. Jack yang melihat nya hanya menelan ludah kasar. Ia baru sadar kalau Zevina sedang mengenakan tank top lengan sejari dan celana berbahan kain yang cukup pendek. Jack adalah pria normal dan pernah menikah.
"Tidak masalah jika hanya untuk Daddy." Ucap Raina tanpa rasa bersalah. Jack dengan cepat menutup mulutnya agar putrinya tidak melanjutkan perkataannya dan melambaikan tangannya menyuruh Zevina segera pergi.
Zevina pun berjalan menuju kamarnya dengan menghentakkan kaki nya kuat. Ia benar benar dibuat jengkel oleh Raina. Entah apa yang ada didalam otak anak gadis itu.
"Daddy, Mommy itu sangat cantik kan?" tanya Zevina memandang Ayahnya dan mengedipkan lucu matanya.
"Bicara saja sembarangan. Kau ini jangan membuat aunty Zevina marah." Ucap Jack mencubit pipi putrinya yang sedikit tembem.
"Aku tidak berbicara sembarangan Daddy. Mommy sangat cantik." Ucap Raina bergelayut manja dilengan Ayahnya.
"Apa yang membuat mu begitu menyukai nya hah?" tanya Jack pada putrinya sambil menggendong putrinya keatas pangkuan nya.l
"Mommy cantik. Mommy juga baik. Aku yakin Mommy itu wanita yang sangat sangat baik." Ucap Raina memuji Zevina. Ia benar benar tidak bisa berhenti memanggil Zevina Mommy.
"Bagaimana kau tahu itu? Apa kau seorang indigo hah?" tanya Jack sambil menggelitik perut putrinya membuat putrinya tertawa terbahak bahak.
"Aku melihat itu semua dari mata Mommy. Mata Mommy sangat indah, Gradma dulu pernah bilang kepada ku kalau seorang perempuan mempunyai hati yang baik maka mata nya juga akan sangat indah." Ucap Raina memeluk manja Ayahnya.
"Oh begitu yah. Lalu apa mata Daddy indah? Daddy kan juga baik dan menyayangimu." Tanya Jack dengan nada cemburu.
"Tidak. Tidak ada keindahan dimata Daddy." Ucap Raina terkekeh.
Dengan sigap Jack kembali menggelitik perut putrinya membuat putrinya tertawa terbahak bahak kembali.
Zevina sedih melihat Jack begitu menyayangi Raina, sedangkan Darvin malah membunuh calon bayi nya. Raina luruh kelantai dan mulai terisak. Bayangan masa lalu kembali menghantuinya.
"Daddy, apakah Mommy menangis? tanya Raina berbisik pada Ayahnya saat ia mendengar suara isakan.
"Tidak sayang, mungkin kau hanya ... " Belum selesai Jack menyelesaikan perkataannya, Raina sudah turun dari pangkuan nya dan berlari menuju kamar Zevina.
"Mommy, Mommy tidak apa apa?" tanya Raina sedang berlutut dihadapan Zevina. Ia meraih tangan Zevina kedalam genggaman nya. Zevina hanya menggeleng.
"Raina disini Mommy. Jangan bersedih." Ucap Raina lalu merangkul leher Zevina.
Zevina tertegun dengan perlakuan manis dari Raina. Ia tidak menyangka gadis kecil yang selalu membuatnya kesal, bisa bersikap dewasa seperti ini.
"Maaf kalau Raina membuat Mommy bersedih." Ucap Raina kemudian. Zevina hanya menggeleng.
"Jangan menangis lagi Mom." Ucap Raina melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata Zevina.
"Ayo, aku akan mengantar Daddy dan Mommy pergi bekerja." Ucap Raina menggenggam tangan Zevina. Zevina mau tidak mau berdiri mengikuti pergerakan Raina.
"Apa kau akan menyetir bocah kecil?" tanya Zevina jahil.
"Tidak sekarang. Tunggu sepuluh tahun lagi." Ucap Raina bersemangat seolah meramalkan nasib nya. Zevina berdecih melihat tingkah anak gadis itu.
"Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Jack pada putrinya dan Zevina.
"Yes Dad." Jawab Raina mengangguk.
Kemudian mereka pun segera menuju ke mobil dan Jack segera melajukan mobilnya menuju perusahaan. Saat dijalan Raina selalu mengajak Zevina untuk bicara dengannya, mau tidak mau Zevina harus menanggapi. Jack hanya tersenyum kecil melihat mereka.
"Apa yang membuat mu begitu special dimata putri ku?" Batin Jack memperhatikan Zevina dari kaca spion diatas kepalanya. Raina memaksa Zevina agar duduk di belakang bersamanya.
"Mommy berjanjilah tidak akan menangis lagi." Ucap Raina pada Zevina. Entah kenapa gadis kecil itu sangt menyayangi Zevina.
"Untuk apa aku berjanji pada mu. Dasar bocah." Ucap Zevina ketus mengacak rambut Raina, lalu berjalan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam perusahaan Jack. Mereka memang sudah sampai sekarang. Zevina tersenyum kecil dalam langkahnya.
"Hahaha aku tahu Mommy sedang tersenyum." Ucap Raina berteriak dan mengejar Zevina tanpa mempedulikan setiap mata yang memandang nya.
Jack hanya menggeleng, ia tidak bisa berbuat banyak untuk memisahkan putrinya dengan Zevina. Ia pub merasakan kehangatan dihati nya saat melihat Raina yang memilih dekat dengan Zevina, padahal tak sedikit wanita yang ingin dekat dengan putrinya itu. Mungkin pilihan putrinya yang terbaik atau entahlah.
************
terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ku.
Semoga aku bisa cepat menyelesaikan proses revisi nya yah.
Tinggalkan komentar, like, favorit, dan vote nya buat ku.
Serta rate bintang 5, 4, 3 juga yah..
Sayang kalian.