
[ Mampir yuk di karya ku yang berjudul
"Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) "
Jangan lupa tinggalkan komentar dan like kalo udah mampir ya.]
...~ Happy Reading ~...
.
.
.
.
.
London, Inggris
Sesuai apa yang Liz dan Darvin bicarakan kemarin, hsri ini Darvin akan melepaskan perban yang menutupi wajah nya.
Tahap operasi plastik yang dijalani Darvin sudah berada di tahap akhir, yang itu artinya setelah ia ia tidak perlu menjalani operasi apapun lagi.
Mereka kini sedang berada di ruang dokter yang selama ini menangani Darvin.
"Oh Tuhan, aku gugup sekali." Gumam Darvin.
Liz tertawa kecil melihat tingkah Darvin.
"Kau itu operasi untuk memperbaiki wajah mu yang rusak, bukan agar kau lebih tampan. Lalu kenapa harus gugup seperti itu?" Tanya Liz mengejek Darvin.
"Kau tahu apa?" Darvin mengomel asal pada Liz.
"Uncle, apa setelah ini Uncle akan lebih tampan?" Tanya si Jacki kecil yang sedari tadi duduk di pangkuan Ibunya.
"Tentu saja. Tanpa operasi pun uncle ini sudah tampan. Bahkan lebih tampan dari Daddy mu." Jawab Darvin asal.
"Benarkah Mommy?" Jacki bertanya pada Liz.
Liz tampak merenung.
"Em, sepertinya uncle Darvin benar. Tapi Daddy mu adalah yang terbaik." Ucap Liz memuji Jack didepan putra mereka.
"Daddy mu memang yang terbaik, itu sebabnya kau ada hari ini." Ucap Darvin menggoda Liz.
Liz menatapnya tajam.
"Mommy, kapan aku bisa bertemu Daddy?" Tanya si Jacki kecil.
"Nanti. Setelah uncle Darvin sembuh kita temui Daddy." Ucap Liz berjanji pada putra nya.
Jacki bersorak gembira dan mencium pipi Ibunya berkali kali.
"Oh, Tuan Darvin. Nyonya Liz." Sapa Dokter yang baru saja masuk ke ruangan nya.
"Hai." Darvin dan Liz menjawab sapaan dokter tersebut serentak.
"Bagaimana Tuan Darvin, apa kau sudah siap?" Tanya Dokter tersebut sambil tersenyum.
"Aku siap." Darvin menjawab yakin walau hati nya gugup.
"Baiklah." Ujar dokter itu.
Dokter tersebut pun mendekati Darvin dan perlahan mulai membuka perban yang menutupi wajah Darvin.
Liz juga menanti dengan gugup, bagaimana pun selama tiga tahun ini dirinya yang sudah setia menemani Darvin melewati setiap proses perbaikan wajahnya.
Bukan karena dia mencintai Darvin, tapi karena ia peduli terutama mengingat Zevina yang ditinggalkan Darvin saat dirinya sedang mengandung. Maka dari itu ia ingin menyemangati Darvin agar bisa melewati setiap proses nya dan cepat kembali pada Zevina.
Namun tetap saja, waktu yang dibutuhkan sangat panjang.
"Saat ini belum bisa terlihat secara jelas hasil nya. Bengkak nya masih ada. Hasilnya akan benar benar terlihat jika bengkak nya sudah mereda dan menghilang." Ucap dokter itu setelah perban dari wajah Darvin terlepas sempurna.
"Haha kenapa uncle seperti di sengat lebah?" Tanya Jacki menunjuk wajah Darvin yang masih membengkak.
"Stt. Tidak sopan." Ucap Liz menasehati putra nya.
"Baiklah, untuk mengurangi bengkak nya, kau bisa sesekali mengompres nya dengan air dingin. Rawat dengan baik hingga ia pulih total." Ucap dokter tersebut.
Setelah berbincang bincang tentang apa saja yang harus dilakukan Darvin agar wajahnya cepat pulih, mereka pun keluar dari ruangan dokter itu.
Setelah itu mereka pun pergi dari rumah sakit itu.
#####
Roma, Italia
Derex kini tengah memboyong keluarga besarnya berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di negara nya itu.
Derex dan Alice tampak berdebat kecil.
"Sayang, itu tidak mahal. Sebaiknya kau beli ini untuk Raina." Ucap Derex melarang istrinya membeli tas untuk Raina dan lebih menyarankan parfum mahal.
"Sayang, Raina baru berusia sebelas tahun. Apa gadis sebelas tahun akan memakai parfum?" Ucap Alice kekeh dengan pilihannya.
"Ya ampun Mom, Dad. Beli saja dua dua nya." Ucap Derice kesal melihat tingkah kedua orang tuanya.
Ia akhirnya memilih berlari ke arah Zevina.
Zevina juga sedang memilih kado yang cocok untuk Raina. Ia tentu saja didampingi Keanu dan Arzevin.
"Ke, yang mana yang cocok menurut mu?" Tanya Zevina mempertimbangkan antara jam tangan atau tas.
"Apapun yang kau pilih pasti yang terbaik sayang." Ucap Keanu mengelus pipi Zevina, sedangkan Arzevin sedang berada dalam gendongan nya.
"Ya ampun Ke, aku benar benar bingung." Ucap Zevina lagi.
"Apa tidak bisa sekali saja kau memanggil ku sayang?" Batin Keanu.
"Begini saja. Kau belikan saja dia jam tangan ini. Dan aku yang akan membeli tas ini untuk nya. Jadi kau tidak perlu pusing memilih." Usul Keanu.
"Kau memang yang terbaik Ke." Ucap Zevina spontan.
"Jika aku yang terbaik, maka menikah lah dengan ku." Pinta Keanu membuat Zevina mati kutu.
"Aunty." Derice datang menyelamatkan Zevina.
"Ada apa bocah nakal?" Tanya Zevina berjongkok menyeimbangkan tingginya dengan Derice.
"Apa aunty sudah menemukan kado yang cocok untuk kakak Raina?" Tanya Derice antusias.
"Sudah sayang. Lalu apa yang ingin kau belikan untuk kakak Raina mu?" Tanya Zevina pada Derice.
Keanu yang memperhatikan kelembutan Zevina saat berbicara benar benar tidak mampu rasanya jika harus melepaskan Zevina dari hati nya.
"Aku tidak akan membeli apapun. Aku ingin Mommy dan aunty membuatkan birthday cake untuk kakak Raina." Pinta Derice.
"Hoho. Permintaan mu terlalu berat nak. Kau tahu kan aunty tidak terlalu pandai membuat kue?" Ujar Zevina berusaha menolak permintaan Derice.
"Ayolah aunty. Mommy yang membuatnya, aunty yang menghias nya." Pinta Derice merengek.
"Baiklah baik. Sungguh aunty tidak bisa menolak mu jika sudah seperti ini." Ujar Zevina pasrah.
"Apa aku harus merengek seperti Derice agar kau mau menerima ku saat itu juga." Ucap Keanu.
Zevina kembali gugup.
Apalagi ketika ia berdiri, tatapan nya langsung ditangkap oleh mata tajam Keanu.
"Ekhem. Aku akan pergi membayar ini." Ucap Zevina membawa jam tangan dan tas tadi menuju kasir.
Keanu pasrah dan mengikuti nya dari belakang.
Setelah berbelanja mereka pun kembali ke rumah.
"Little, biar aku saja yang menggendong Ar." Ucap Derex meraih Arzevin yang terlelap dalam gendongan Zevina.
"Terima kasih Derex." Ucap Zevina memberikan Arzevin pada kakaknya.
Mereka pun masuk kedalam rumah dan Derex menggendong Arzevin kekamar Derice karena memang Derice dan Arzevin tidur bersama.
Zevina menuju ke taman belakang untuk menelpon Jack, berniat untuk mengabari rencana mereka untuk merayakan ulang tahun Raina. Namun berkali kali tidak dijawab oleh Jack.
"Hah, mungkin dia sedang sibuk." Ucap Zevina.
Ia pun memutuskan untuk duduk di bangku taman sambil memandangi langit yang mulai sore.
Keanu datang menghampiri Zevina dan duduk di samping nya.
Kedua nya hening tanpa kata sambil menatap langit sore. Mereka seakan saling berbicara dari hati ke hati.
"Zev." Panggil Keanu pada Zevina.
Zevina menatap kearah Keanu.
Reflek Keanu meraih tengkuk leher Zevina dan mencium lembut bibir Zevina.
"Menikah lah dengan ku." Pinta Keanu setelah melepas tautan bibir mereka dan menempelkan kening nya pada kening Zevina.
...~ **To Be Continue ~...
*****
Like dan komentar jangan lupa yah.
Makasih**.