IF LOVE

IF LOVE
If Love S2 21



Empat Bulan Kemudian


Usia kandungan Zevina sudah memasuki bulan kelima.


Darvin sudah berencana hari ini akan membawa istrinya untuk pergi memeriksa kandungannya.


Arzevin sangat bersemangat untuk ikut dan ingin melihat seperti apa adik bayi didalam perut Mommy nya, katanya.


"Sayang, apa sudah?" Tanya Darvin sambil melangkah mendekati istrinya.


Sebenarnya Darvin dan Arzevin sudah menunggu di bawah, di ruang keluarga nya.


Namun lama menunggu Zevina belum juga turun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar nya.


"Sedikit lagi." Jawab Zevina.


Zevina berdandan dengan sangat cantik, tapi tidak menor. Dan pakaian yang ia kenakan juga sangat elegan, mungkin seperti orang yang akan menghadiri pesta.


Memang beberapa bulan belakangan ini, Zevina selalu berpenampilan cantik dan anggun walau hanya didalam kamar sekalipun.


Bahkan tak jarang ketika tidur juga.


Darvin hanya menggeleng melihat tingkah istrinya.


"Perfect." Ucap Zevina semangat setelah selesai memoles bibirnya dengan lipstik.


Darvin segera memeluk istrinya dari belakang.


"Kau cantik sekali sayang." Bisik Darvin dengan suara sensual di telinga istrinya.


Zevina hanya menunduk, tersipu malu.


Mereka masih tampak seperti pengantin baru yang masih panas panasnya.


"Aku menginginkan mu." Pinta Darvin dengan suara berat.


Zevina tersenyum.


"Nanti saja sayang. Sekarang kita harus melihat perkembangan buah cinta kita didalam sini dulu." Ucap Zevina meraih tangan Darvin menyentuh perut nya yang sudah terlihat.


Perut Zevina tidak seperti saat ia hamil Arzevin, kali ini diusia yang baru menginjak lima bulan, perutnya terlihat seperti hamil enam atau mungkin tujuh bulan.


"Baiklah." Ucap Darvin.


Darvin pun menuntun Zevina untuk turun ke bawah. Jika bersama Zevina atau Zevina sendirian, Darvin lebih memilih menggunakan lift yang baru ia bangun tiga bulan yang lalu untuk mempermudah pergerakan Zevina.


"Ayo Ar." Ajak Darvin pada putranya yang masih duduk di sofa menunggu kedatangan mereka.


Arzevin segera turun dari sofa dan berlari menghampiri orang tua nya.


Arzevin juga berlaku centil ingin membantu Zevina berjalan membuat kedua orang tua nya tertawa kecil.


Darvin setia menuntun istrinya hingga masuk kedalam mobil, Arzevin juga masuk dan duduk di belakang.


Setelah memastikan semuanya aman, Darvin pun masuk ke bagian kemudi, dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Sayang, apa penampilan ku sudah cantik?" Tanya Zevina khawatir. Pertanyaan yang selalu ia lontarkan kepada suaminya, putranya, bahkan pada pelayan nya dirumah.


"Ya ampun sayang, kau selalu cantik tidak peduli bagaimanapun penampilan mu." Jawab Darvin merasa gemas pada istrinya. Ingin sekali Darvin mencubit pipi istrinya yang sedikit tembem itu.


"Terima kasih sayang. Ar, apa Mommy sudah cantik?" Tanya Zevina pada putranya lagi setelah mendapat jawaban dari suami nya.


"Mom, aku bosan menjawab nya. Tapi akan ku jawab. Mommy itu selalu cantik Mom. Sangat cantik." Jawab Arzevin dengan suara lucu nya.


"Terima kasih sayang. Kau yang terbaik." Ucap Zevina girang.


"Hah, aku gugup sekali." Gumam Zevina mengelus perut buncit nya.


"Sayang, aku belum pernah bertanya pada mu tentang hal ini. Apa dulu Derex yang menemani saat kau melahirkan Ar?" Tanya Darvin penasaran.


"Tidak. Tapi lelaki baik itu yang menemani ku." Ucap Zevina girang.


Darvin mengernyit bingung.


"Keanu yang menemani ku." Ucap Zevina lagi.


Darvin menghela nafas kasar.


Dia tidak menyangka sebegitu besar perhatian Keanu pada istrinya saat ia menghilang dulu.


Mereka mengobrol sepanjang perjalanan, mengobrol tentang hal penting dan tidak penting.


Apalagi Arzevin yang sangat cerewet jika bersama kedua orang tua nya dan akan lebih pendiam jika bersama orang lain selain dari orang orang yang berstatus keluarganya.


Tak lama mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit.


Darvin turun terlebih dahulu, lalu mengitari mobilnya untuk membukakan pintu bagi istrinya dan menuntun istrinya, sedangkan Arzevin turun sendiri dengan semangat.


"Ayo Mom." Ujar Arzevin meletakkan satu tangan Zevina diatas pundak nya.


Melihat Ayahnya yang begitu perhatian pada Ibunya membuat Arzevin sedikit banyak belajar untuk ikut memperhatikan Ibunya.


Bahkan ia pernah berkata pada Zevina bahwa ia ingin suatu saat jika besar nanti ia bisa mencintai istri nya seperti Darvin pada Zevina.


Lucu sekali.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" Tanya seorang perawat yang sedang berada di meja resepsionis pada Darvin dan Zevina saat mereka mendekat.


"Saat ini dokter Caren masih sedang memeriksa pasien nya. Setelah ini baru giliran Tuan dan Nyonya." Jelas perawat itu setelah memeriksa jadwal di layar komputer di depan nya.


"Baiklah. Kami akan menunggu." Ucap Darvin lagi.


"Mari, saya antar ke ruang tunggu di dekat ruangan dokter Caren." Ucap salah satu perawat lainnya.


Mereka pun berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh perawat itu.


"Silahkan. Nanti jika sudah giliran Nyonya Zevina, maka akan dipanggil. Saya permisi." Ucap perawat itu lalu pergi meninggalkan mereka dengan sopan.


Selang beberapa waktu menunggu, mereka melihat sepasang suami istri keluar dari ruangan dokter Caren.


"Jack, Liz?" Ucap Zevina kaget.


"Hei." Jack dan Liz menyapa bersamaan.


Perut Liz juga tampak membuncit namun tidak sebesar milik Zevina.


Liz dan Jack memilih menghampiri Darvin, Zevina, dan putra mereka.


"Kau gila Man." Ucap Darvin meninju pelan dada Jack


Jack hanya terkekeh dan tersenyum malu.


"Sudah berapa bulan Liz?" Tanya Zevina antusias.


"Memasuki usia empat bulan. Punya mu?" Jawab Liz lalu bertanya kembali pada Zevina.


"Punya ku lima bulan." Jawab Zevina.


"Man, kau sepertinya selalu ingin mengejar langkah ku." Ucap Darvin meledek Jack.


Bagaimana tidak, Jacki dan Arzevin saja selisih nya tidak sampai satu bulan mungkin.


Dan sekarang, selisih anak kedua mereka hanya satu bulan.


"Terlalu percaya diri." Ucap Jack.


"Nyonya Zevina Anthony." Terdengar suara dari dalam ruangan dokter Caren.


"Ya sudah, kami harus masuk dulu. Nanti kapan hari baru kita mengobrol lagi." Ucap Zevina pamit.


Lalu mereka bertiga pun masuk, sedangkan Jack dan Liz beranjak meninggalkan rumah sakit.


Didalam ruangan dokter Caren


"Wah, perut mu terlihat lebih besar dari beberapa bulan lalu Zev." Ucap dokter Caren sambil membantu Zevina berbaring di atas ranjang.


Dokter Caren pun mulai memeriksa kandungan Zevina setelah mengolesi gel yang terasa dingin diperut Zevina, ia mulai menggerakkan sebuah alat seperti pena namun berukuran lebih besar diatas perut Zevina dan menggerakkan nya acak.


"Anak kalian kembar Zev. Lihat ada dua janin didalam rahim mu." Ucap dokter Caren girang menunjuk ke layar monitor USG nya.


Zevina menutup mulutnya terharu hingga menitikkan air mata.


"Kondisi nya baik baik saja, semuanya stabil." Ucap dokter Caren mengakhiri sesi pemeriksaan nya lalu membantu Zevina bangun dari posisinya dan membantu Zevina turun dari ranjang.


Zevina kemudian duduk bergabung dengan Darvin dan Arzevin yang dari tadi berada di ruang utama dalam ruangan dokter Caren, sedangkan dokter Caren duduk berhadapan dengan mereka.


Zevina tersenyum bahagia.


"Selamat Tuan Darvin, bayi kalian berikutnya adalah dua sekaligus." Ucap dokter Caren tersenyum.


Darvin membulatkan mata nya tak percaya.


Zevina mengangguk girang pada suami nya.


"What? Oh my God." Darvin kehabisan kata kata saking bahagianya.


Ia memeluk erat Zevina dan Arzevin bersamaan.


"Thank you babe. Thank you so much." Ucap Darvin bahagia.


Zevina hanya mengangguk dan terus tersenyum.


"Ar, kau akan punya dua adik sekaligus." Ucap Darvin semangat pada putranya.


"Yeahhhh." Arzevin berteriak semangat.


"Laki laki atau perempuan Mom? Tapi aku sekarang ingin adik perempuan saja agar aku bisa melindungi mereka kelak." Ucap Arzevin semangat.


Semuanya tertawa kecil.


Dokter Caren pun memberikan resep vitamin untuk Zevina.


Setelah selesai, mereka pun keluar dari ruangan dokter Caren dan kembali ke rumah.


...~ To Be Continue ~...


******


Ending segera menyusul.


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.