
"Mommy Mommy, buka pintunya." Lagi lagi Raina menggedor pintu apartemen Zevina pagi pagi buta.
"Sstt Raina, pelan pelan." Jack menegur kelakuan putrinya. Raina hanya terkekeh.
"Astaga bocah itu bahkan tidak bisa membiarkan ku istirahat." Gerutu Zevina yang baru sadar dari tidurnya saat mendengar suara gedoran pintu. Ini weekend tapi tetap saja Raina memaksa Jack membawanya ke apartemen Zevina.
"Aku akan mati cepat jika berhadapan dengan nya terus." Zevina menggerutu lagi sambil berjalan untuk membuka pintu.
"Mommy." Raina memekik semangat langsung memeluk Zevina. Zevina hanya memutar malas kedua bola mata indah nya dan melangkah masuk membiarkan Raina menempel di pinggang nya. Sedangkan Jack berusaha melepaskan pikiran kotornya saat melihat penampilan Zevina dengan dress tidur nya yang cukup sexy.
"Oh astaga." Ucap Zevina menepuk jidat nya dan langsung berlari kekamar saat ia menyadari pakaian apa yang sedang di pakainya.
"What happened with Mommy, Dad?" tanya Raina bingung.
"Dia hanya lupa berdoa setelah bangun tidur." Ucap Jack asal. Jack tentu tahu apa yang membuat Zevina memekik dan langsung berlari ke kamar. Sesuai dugaan Jack, tak lama kemudian Zevina pun keluar dari kamar nya dengan pakaian santai yang lebih sopan.
"Ada apa kau pagi pagi kesini hah?" tanya Zevina mencubit gemas pipi Raina, sambil berjalan untuk duduk di samping Raina. Perbuatan nya membuat Raina meringis.
"Aku merindukan mu Mom." Ucap Raina mengusap pipi nya yang tadi di cubit Zevina. Zevina benar benar tidak punya akhlak, bahkan didepan bos nya dia berani terang terangan "menyiksa" putri bos nya.
"Kau tahu, kau sudah merusak mimpi indah ku. Ini weekend bocah, tapi kau pagi pagi sekali sudah mengganggu kesenangan ku." Zevina mengomeli Raina. Ia benar benar tidak peduli jika Jack akan tidak senang mendengar nya.
"Mommy, Mommy itu seorang perempuan dan perempuan itu tidak boleh bangun siang siang." Raina menjawab tak ingin kalah. Bocah berusia delapan tahun itu benar benar diluar dugaan.
"Siapa yang memberi tahu mu hah?" tanya Zevina lagi lagi mencubit pipinya.
"Grandma. Tapi sekarang grandma sudah disana." Ucap Raina menunjuk langit langit Zevina.
"Hah baiklah baiklah." Ucap Zevina sedikit mengalah.
"Mommy, ayo kita memasak, Daddy sudah membeli banyak bahan makanan tadi." Ucap Raina menunjuk dua kantong belanjaan yang dibawa Jack. Jack menaruh kantong belanjaan itu didekat kakinya. Tidak sopan juga jika harus menerobos langsung kedapur Zevina.
Cukup anak nya saja yang tidak punya akhlak. Dirinya jangan sampai tertular, pikirnya.
"Aku tidak bisa memasak." Ucap Zevina sembarangan. Dia memang kurang pandai memasak karena saat bersama Darvin dulu pun lebih sering Darvin yang memasak.
"Payah." Ucap Raina ketus sambil menggeleng kepalanya.
"Dad, sepertinya Daddy yang harus turun tangan." Ucap Raina penuh kebanggaan pada Ayahnya.
"Me?" tanya Jack tidak percaya menunjuk dirinya. Bukan tidak bisa, karena toh sejak kepergian istrinya dia yang merawat Raina.
"Yes Dad." Raina mengangguk anggukan kepalanya. Jack hanya menggeleng tidak enak.
"Ayolah Dad, aku sudah lapar." Raina sengaja mulai merengek.
"Zevina, bisa aku memakai dapur mu?" tanya Jack tidak enak hati.
"Silahkan Tuan." Zevina mempersilahkan Jack sambil menunjuk kearah dapur. Segera Jack pun menuju dapur dan mulai mengeksekusi bahan bahan masakan yang ia beli atas permintaan putrinya tadi.
"Mommy, sebaiknya Mom membantu Daddy." Ucap Raina lantang memberi perintah.
"Bocah ini sudah berani memerintah ku." Batin Zevina. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan menuju ke dapur.
"Tuan, ada yang bisa aku bantu?" tanya Zevina sedikit ragu karena ia melihat Jack sangat cekatan dalam mengerjakan semuanya.
"Kau tolong aku cuci ini sebentar." Ucap Jack menyerahkan sayuran yang sudah ia potong tadi pada Zevina. Zevina pun menerima nya dan segera mencuci nya.
Setelah selesai ia berjalan menuju arah Jack dengan menunduk sambil sesekali mengacak sayuran nya agar tidak menyatu.
Ia tidak sengaja menabrak Jack yang berjalan dari arah berlawanan. Tubuh nya terpental karena tubuh kekar Jack membuatnya hampir jatuh. Namun dengan sigap tangan Jack meraih pinggang nya dan menahan nya agar tidak jatuh. Mata mereka seketika langsung bertemu.
Jack merasakan ada yang tidak beres dengan jantung nya. Dengan segera ia pun melepas rangkulan nya dari pinggang Zevina.
"Ma maaf Tuan." Pinta Zevina tidak nyaman.
"Tidak apa." Ucap Jack singkat menahan gejolak dalam tubuhnya.
"Hahaha Daddy dan Mommy romantis sekali." Ucap Raina tertawa riang. Anak kecil itu sedari tadi selalu memperhatikan pergerakan mereka seperti CCTV yang sedang merekam.
"Diamlah." Ucap Zevina ketus. Tapi Raina terus saja tertawa. Zevina kemudian memutuskan untuk mendekati Raina.
"Oh, kau ingin tertawa yah. Baik aku akan membuat mu tidak bisa berhenti ketawa." Ucap Zevina lalu segera ia langsung menggelitik perut Raina membuat Raina tertawa terbahak.
"Hahaha Mommy geli ampun. Hahaha." Ucap Raina meminta Zevina menghentikan aksinya itu.
"Tidak, kau kan ingin tertawa jadi aku akan membantu mu." Ucap Zevina tanpa menghentikan aksinya. Raina terus tertawa. Hinga akhirnya Raina memutuskan untuk menyerang Zevina juga.
"Hahaha kenapa kau menyerang ku bocah?" tanya Zevina saat mendapatkan serangan dari Raina. Ia tertawa terbahak bahak mendapatkan serangan dari Raina.
"Jika Mommy tidak suka digelitik, maka Mommy jangan menggelitik." Ucap Raina polos. Entah kenapa perkataan Raina justru membuat nya kembali mengingat Darvin.
"Bagaimana kabar mu sekarang Darv?" tanya Zevina dalam hati, ia sudah berhenti menggelitik perut Raina. Ia kemudian duduk dengan wajahnya menengadah menatap langit langit apartemen nya.
"Ternyata aku masih merindukan mu." Batin Zevina mengingat semua tentang Darvin. Ia tidak menangis tapi justru tersenyum miris.
"Apa kau bahagia tanpa ku sekarang?" tanya Zevina penasaran.
Jujur didalam lubuk hati nya, ia masih sangat merindukan sosok Darvin. Pria satu satunya yang ia cintai. Pria yang mendapatkan segalanya dari hidupnya. Tapi tetap saja, terlalu sakit untuk kembali.
Jack yang tidak lagi mendengar suara gaduh Zevina dan putrinya pun mencoba melihat apa yang terjadi. Seketika mata nya langsung tertuju pada Zevina yang sedang tersenyum miris menatap langit langit apartemen nya.
"Apa yang ia pendam dalam hati nya?" Batin Jack. Seperti nya Jack mulai tertarik untuk tahu lebih jauh tentang Zevina.
"Mommy, are you okay?" tanya Raina merasa bersalah melihat perubahan ekspresi Zevina. Walaupun ia ragu dan tidak mengerti dimana letak kesalahannya.
"Tidak. Aku tidak okay. Aku ingin memakan anak kecil sekarang." Ucap Zevina membuyarkan lamunan nya sendiri. Seketika ia langsung memeluk erat Raina dan menggigit ringan pipi Raina yang sedikit tembem.
"Mommy jorok, hentikan ini." Ucap Raina meminta lepas. Namun Zevina malah sengaja menggigit tangan nya bahkan kini perut Raina. Membuat Raina merasa geli dan tertawa.
"Hahaha Mommy hentikan geli." Ucap Raina memohon sambil tertawa. Namun tidak, Zevina tidak berhenti dan terus menggelitik Raina. Raina tidak mau kalah pun akhirnya menyerang Zevina membuat keduanya tertawa terbahak bahak.
"Apa kau mulai menerima putri ku?" Batin Jack seolah bertanya pada Zevina. Ia tersenyum melihat keseruan Raina dan Zevina.
"Terima kasih sudah membuat putri ku tertawa."
***********
makasih yah udah baca cerita ku.
Sedikit lagi aku akan segera selesai merevisi "If Love"
Jangan bosan nungguin update nya yah.
Tinggalkan komentar, like, favorit, juga Vote agar aku lebih semangat untuk update.
Sayang kalian.