
"Hoam. Mommy aku mengantuk." Ucap Raina pada Zevina sambil menguap. Sudah setengah hari ia dan Jack menghabiskan waktu di apartemen Zevina.
"Ayo. Aku akan membawa mu tidur." Ucap Zevina mengajak Raina ke kamar nya.
"Tidak. Disini saja." Ucap Raina menunjuk ke sofa.
"Kau yakin?" tanya Zevina meragukan.
"Ya Mom." Ucap Raina mengangguk.
"Ya sudah sini." Zevina kemudian duduk dan menepuk paha nya memberi isyarat agar Raina berbaring diatas paha nya.
Zevina mulai menyayangi Raina tulus. Ia berharap Raina dapat tumbuh menjadi gadis yang baik, dan tidak menjadi seperti aunty nya.
"Aku tidur Mommy." Ucap Raina lalu berusaha meraih tengkuk leher Zevina membuat Zevina akhirnya menunduk. Raina mengecup pipi Zevina, dan tak lama akhirnya ia pun terlelap.
Perlahan Zevina juga terlelap dengan posisi duduk. Jack menatap nya instens. Entahlah, tapi seperti nya dia juga mulai menjadi seperti putrinya, terobsesi pada Zevina.
Dengan langkah pelan ia mendekat pada Zevina. Satu tangannya ia letakkan diatas tangan Zevina yang memegang perut Raina. Satu tangannya lagi membelai rambut Zevina.
"Zevina. Mengapa kau begitu baik pada putri ku sedangkan hati mu tidak untuk ku?" Jack bergumam seolah bertanya pada Zevina.
"Jangan Zevina. Jangan membuat ku mencintai mu. Jangan memberikan harapan pada putri ku." Ucap nya lagi.
Jack menatap intens wajah damai Zevina yang terlelap. Ingin sekali rasanya bisa membawa Zevina kedalam pelukan nya. Tapi apakah mungkin? Hati Zevina bukan untuk nya.
"Kenapa pada akhirnya kau harus mencintai wanita yang mencintai pria lain Jack?" Ucap Jack memukul pelan kepalanya.
Titt
Bunyi pintu apartemen dibuka, secepat kilat Jack beranjak dan duduk kembali ke tempat semula nya yang agak jauh dari Zevina.
Tampak Darvin sedang berjalan masuk dan menghampiri kekasihnya yang terlelap. Ia mengecup singkat puncak kepala Zevina, membuat Zevina tersadar.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Zevina merenggangkan otot nya dengan hati hati takut membangunkan Raina.
"Hem. Kenapa tidak bawa Raina tidur dikamar?" tanya Darvin prihatin.
Mereka mengabaikan keberadaan Jack, seolah Jack tidak ada disana.
"Raina tidak mau." Zevina menjelaskan.
Jack mendengus kesal. Seolah olah mereka lah orang tua Raina sebenarnya.
"Sini, biar aku yang menggendong nya ke kamar. Kasihan dia." Ucap Darvin menggendong Raina.
Mau tidak mau, Zevina menuruti. Zevina juga menyusul Darvin dan Raina ke kamar.
"Kau temani Raina saja disini. Biar aku yang menyiapkan makan malam." Ucap Darvin setelah membaringkan Raina.
"Terima kasih sayang." Ucap Zevina mengecup pipi Darvin.
Darvin tersenyum dan keluar dari kamar. Darvin pun segera berjalan ke dapur untuk menyiapkan segala bahan masakan dan mulai memasak.
"Butuh bantuan?" tanya Jack tiba tiba dari belakang.
"O, kau masih disini?" tanya Darvin sengaja.
Jack mendengus kesal.
" Kau pikir aku apa. Dari tadi kalian mengabaikan ku seolah aku ini tidak terlihat." Ucap Jack kesal.
Darvin hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak perlu membantu. Aku takut kau akan menaruh racun pada masakan ku nanti." Ucap Darvin penuh kesombongan.
"Kau ... " Jack mengepalkan tangannya kuat.
"Baiklah, jika kau tidak perlu bantuan ku. Aku akan ke kamar menemani putri ku." Ucap Jack tersenyum licik.
Darvin berbalik dan menatap tajam Jack. Rasanya ia ingin mencincang Jack dan mengolah daging nya menjadi sup.
"Sebaiknya kau cuci sayur ini." Ucap Darvin menaruh kasar wadah yang menyimpan sayuran yang sudah ia potong di atas meja.
Jack mengedikan bahu dan tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu meraih wadah itu dan mencuci sayuran didalam nya.
"Kau bisa memasak?" tanya Jack.
"O." Jack menjawab polos.
"Pantas saja dia begitu mencintai mu." Ucap Jack tiba tiba.
"Istri ku mencintai ku bukan hanya karena aku pandai memasak, tapi karena aku adalah segalanya bagi nya. Begitupun sebaliknya, dia adalah nyawaku." Ucap Darvin tegas.
"Slow man. Jangan berbicara seperti aku ini musuh mu." Ucap Jack menaruh tangannya didada dan menggerakkan nya pelan seperti mendorong sesuatu.
"Kau memang musuh ku. Musuh yang aku biarkan bebas karena aku kasihan pada putri mu. Jika tidak ada putri mu, maka kau sudah ku hancur kan saat itu juga." Ucap Darvin dan terdengar sangat menakutkan.
"Apa kau itu pembunuh?" tanya Jack penasaran.
"Aku tidak perlu membunuh dengan tangan ku sendiri." Darvin menjawab dengan nada tidak berubah, menakutkan.
Jack diam. Tidak ingin menanggapi lebih. Ia memilih mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan. Dua pria dewasa sedang memasak.
Mereka tampak memasak bermacam menu.
"Kau mencintai wanita ku?" tanya Darvin tiba tiba membuat pergerakan Jack terhenti.
"Entahlah. Tapi rasanya aku bahagia melihat nya. Terutama saat dia sedang bersama putri ku." Jack menjawab jujur.
Hah
Darvin menghela nafas kasar.
Entah kenapa sejak kemarin perasaan nya tidak tenang. Ia selalu merasa akan pergi meninggalkan Zevina.
"Jack, bolehkah aku meminta tolong pada mu?" tanya Darvin sendu.
Jack tidak menjawab, hanya menatap Darvin bingung.
"Anggap saja untuk menebus kesalahan mu kemarin. Bisakah?" Darvin melanjutkan perkataannya saat tidak mendapat jawaban dari Jack.
"Katakan lah." Jack akhirnya menjawab.
Hah
Darvin lagi lagi menghela nafas kasar.
"Jack, jika nanti terjadi sesuatu kepada ku, bisakah kau menjaga Zevina untukku?" Ucap Darvin sendu.
Jack tidak menjawab lagi, ia merasa sedikit aneh dengan tingkah Darvin saat ini. Bukankah seharusnya Darvin sangat membenci nya dan menjauhkan nya dari Zevina, begitu pikir Jack.
"Dan buruk nya jika aku tidak kembali lagi, aku mengijinkan mu bersamanya tapi dengan syarat, kau harus mencintai nya dan jangan menyakiti apalagi mengkhianati nya." Ucap Darvin mengingat perbuatan Jack dan Liz.
"Kenapa kau tiba tiba seperti ini man?" Jack bertanya bingung.
"Kau cukup menjawab ku saja." Ucap Darvin tegas.
"Baiklah baiklah. Aku berjanji." Ucap Jack entah itu terpaksa atau memang tulus.
Tidak ada lagi pembicaraan dari mereka. Setelah selesai masak, mereka pun menata makanan makanan tersebut diatas meja makan.
Darvin beranjak hendak memanggil Zevina. Saat dikamar, ia mendapati Zevina sudah tertidur bersama Raina.
"Sayang bangunlah. Makan malam sudah siap." Ucap Darvin membangunkan Zevina sambil mengelus kepala nya.
"Eungh." Zevina melenguh pelan sambil membuka perlahan mata nya.
"Makanan sudah siap. Bangunlah." Ucap Darvin lembut.
"Baiklah." Ucap Zevina bangun dari tidur nya dan merenggangkan otot nya.
Setelah itu ia membangunkan Raina. Setelah Raina bangun, mereka pun melangkah ke ruang makan dimana Jack sudah menunggu mereka.
Mereka ber-empat makan bersama tanpa suara. Masing masing menyelami pikiran masing masing. Setelah selesai makan. Jack pun akhirnya memutuskan untuk pulang bersama Raina.
********
Selalu tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita nya yah.
Selalu jaga kesehatan kalian.
Sayang kalian semua.