
"Ka kau siapa?" Tanya Liz ketakutan.
"A aku Dar vin." Darvin mengucapkan namanya dengan susah payah.
"Who is Darvin?" Tanya Liz kebingungan. Ia lupa sudah pernah bertemu Darvin dua kali.
Pertama di restoran cepat saji, dan kedua saat dia dan Jack sedang bertarung panas diruangan kantor Jack.
"Su a mi Zev ina." Darvin kembali berkata dengan susah payah.
Wajar saja, hampir seluruh tubuh nya terbakar dan wajahnya paling parah.
"Zevina?" Liz menggerutu sedikit bingung, mungkin pengaruh kehamilan nya jadi dia sedikit telat berpikir.
"Oh, aku ingat. Kau yang pernah ke kantor Jack bersama Zevina. Jadi kau suaminya." Ucap Liz seolah baru mengingat sesuatu.
"Bukankah Zevina dan Jack sedang menjalin hubungan karena Raina?" Liz bertanya bingung.
Darvin menggeleng pelan.
"Hah, ya sudahlah. Memang apa peduli ku. Jadi sekarang apa aku harus menghubungi Zevina kemari?" Tanya Liz kembali.
Darvin menggeleng pelan.
"Ti dak seka rang." Ucap Darvin lagi.
Tentu saja Darvin tidak merasa percaya diri jika Zevina melihatnya seperti ini sekarang. Dari dulu dirinya tidak pernah cacat dimata Zevina dalam hal apapun.
"Kau takut Zevina akan takut melihat mu?" Liz kembali bertanya dan Darvin mengangguk pelan.
"Ya ampun. Kau tidak perlu seperti itu. Aku yakin istri mu tidak seperti itu." Liz membela Zevina.
"Tapi ya sudahlah. Jika kau belum siap bertemu dengan nya, tidak masalah. Nanti saja jika sudah siap." Liz menimpali perkataannya sendiri.
"Kau perlu apa?" Tanya Liz lagi saat melihat Darvin seperti gelisah mencari sesuatu.
"A ir." Darvin menjawab.
"Sebentar aku belikan. Aku tidak tahu kapan kau akan sadar jadi tidak ada persediaan." Ucap Liz.
Ia segera keluar dari ruang rumah sakit dan berlari kecil menuju ke kantin rumah sakit. Ia membeli beberapa botol air mineral. Setelah membayar, dengan segera ia kembali ke ruangan Darvin dirawat.
Ia membantu Darvin agar setengah duduk.
"Ini." Liz menyerahkan sebotol air lengkap dengan sedotan pada Darvin. Liz memegang botol itu agar tidak jatuh, karena tangan Darvin masih diperban dan tidak mungkin untuk di gerakan.
Setelah selesai, Darvin mendorong ringan tangan Liz, pertanda ia sudah tidak haus lagi. Liz segera menyimpan botol air tersebut di atas nakas.
"Sudah, kau istirahat saja. Aku akan membantu merawat mu hingga kau sembuh. Tenang saja aku banyak uang, harta peninggalan Ayahku sangat banyak." Liz berucap sombong.
Darvin ingin tertawa tapi tidak bisa.
Liz kemudian membantu Darvin untuk berbaring kembali.
"Kau istirahat saja. Aku harus pulang. Selain harus memeriksa keadaan Cafe ku, aku juga tidak bisa terlalu lelah demi bayi ku. Kau tidak masalah kan?" Liz menerangkan serta bertanya.
Darvin tertegun mendengar Liz sedang hamil, segera ia menggeleng kepalanya pertanda tidak masalah jika ditinggal.
Liz pun keluar dari ruangan Darvin dan melenggang pergi.
Darvin didalam ruangan menitikkan air mata.
"Sayang maafkan aku meninggalkan mu dan baby." Batin Darvin.
"Kau harus menunggu ku sampai aku kembali pada kalian." Batin nya lagi.
Perasaan bersalah Darvin lebih besar dibanding rasa sakit nya saat ini. Ia merasa bersalah karena harus meninggalkan Zevina yang sudah pasti sedang melewati masa kehamilan nya sendiri.
"Maafkan aku sayang." Batin nya terus meminta maaf.
Jika ia tahu semua ini perbuatan Roy, dan Roy kini sedang berusaha mendekati istrinya, entah apa yang akan ia lakukan pada Roy.
Perlahan ia kembali menutup mata dan mencoba untuk tidur kembali. Ia pun terlelap dengan rasa bersalah yang besar dihati nya.
#####
Malam telah berlalu digantikan fajar yang menyongsong. Zevina berguling ke kiri dan ke kanan, ingin bangun tapi rasanya malas sekali.
Akhirnya ia memutuskan untuk bermalas malasan sebentar lagi.
Roy yang dari semalam tidur diruang tamu tampak sudah bangun dan sedang berkutat di dapur. Ia sepertinya menganggap apartemen Zevina adalah miliknya juga.
Ia menyiapkan sarapan untuknya dan Zevina. Setelah selesai, ia berjalan menuju ke kamar Zevina dan hendak membangunkan Zevina, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah amplop coklat yang masih terbungkus rapi dan belum dibuka tersimpan di rak khusus dekat pintu kamar Zevina.
"Zev, bangunlah." Ucap Roy lembut sambil mengetok pintu kamar Zevina.
Ceklek
Zevina membuka pintu kamar nya sambil menguap.
"Selamat pagi Zev." Roy berucap sambil mengacak pelan rambut Zevina.
Zevina menepiskan tangan Roy, tapi tidak membuat Roy marah.
"Ayo sarapan dulu." Roy menarik pelan tangan Zevina ke ruang makan. Zevina hanya pasrah mengikuti.
"Makanlah." Roy menyerahkan piring berisi dua potong sandwich pada Zevina.
"Terima kasih." Ucap Zevina. Ia pun memakan sepotong sandwich itu.
Huek
Zevina tiba tiba merasa mual. Segera ia berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Roy segera mengikuti dan membantu nya. Roy menepuk pelan punggung nya.
Hah
Zevina menghela nafas kasar setelah mengeluarkan isi perutnya. Ia terduduk lemas dan bersandar di dinding kamar mandi.
"Kau tidak apa apa Zev?" Roy bertanya khawatir.
Zevina menggeleng pelan. Roy kemudian membantu Zevina berdiri dan memapah nya keatas ranjang.
"Kau istirahat saja." Titah Roy.
Ia kemudian keluar berniat mengambil air hangat untuk Zevina, namun langkahnya terhenti saat melihat Jack dan Raina masuk.
"Kau siapa?" Jack bertanya curiga.
"Aku teman Zev." Roy menjawab santai.
Jack segera berlari ke kamar Zevina, disusul Raina.
"Zev, kau tidak apa apa?" Jack bertanya khawatir saat melihat Zevina terbaring lemah.
"Tidak. Hanya morning sickness biasa." Zevina menjawab dengan suara lemah.
Entah sampai kapan Zevina harus mengalami morning sickness yang sangat menyiksa nya itu.
"Tadi itu siapa?" Jack kembali bertanya khawatir.
"Teman ku dan Darvin." Zevina menjawab seadanya.
Jack mengangguk mengerti.
"Hei sayang, kemarilah." Zevina merentangkan tangannya menyambut Raina.
"I miss you Mommy." Ucap Raina memeluk Zevina yang sedang berbaring.
"Mommy, maaf kemarin kita tidak jadi makan bersama." Pinta Raina melepaskan pelukan nya.
"Tidak apa. Mommy ingin marah, tapi tidak bisa karena kau begitu lucu." Zevina mencubit gemas pipi Raina. Raina terkekeh.
"Zev, minumlah dulu." Roy menyerahkan segelas air hangat pada Zevina.
"Terima kasih." Zevina tersenyum.
"Aku Roy." Ucap Roy mengulurkan tangan nya.
Jack tidak langsung menyambut, ia malah menatap Roy dengan tatapan menyelidik dan curiga.
"Jack." Ucap Jack singkat membalas uluran tangan Roy.
Mata Jack memancarkan tatapan permusuhan. Sedangkan Roy menyeringai. Mereka tampak seperti dua pria yang sedang memperebutkan seorang wanita.
Raina dan Zevina hanya saling memandang dan mengangkat bahu mereka acuh.
******
Apa Roy bisa benar benar bertobat dan meluluhkan hati Zevina?
Lalu bagaimana dengan Darvin?
Ikutin terus kelanjutan nya yah.
Selamat berbuka puasa.