
Roma, Italia
"Sayang, kau sudah kembali?" seorang wanita bertanya pada suaminya yang sedang berdiri diruang kerja nya menghadap keluar jendela. Ia memeluk dengan erat tubuh pria yang sangat ia cintai itu.
"Hem." Jawab pria itu singkat dan mengelus tangan istrinya yang berada di perut nya.
"Derex, aku merindukan Raina. Apa tidak boleh aku bertemu dengan nya?" Tanya si wanita.
"Alice, aku tidak pernah melarang mu. Tapi selama bertahun tahun kau yang menghindar." Derex menjawab dengan dingin.
Ya, mereka adalah Derex dan Alice.
"Aku hanya takut jika Jack akan mengganggu ku lagi." Ucap Alice. Entah kenapa ia bisa sangat mencintai Derex bahkan setelah semua yang Derex lakukan padanya.
Derex juga sangat mencintai nya. Hanya saja Derex bukanlah pria baik baik. Hidupnya penuh kegelapan, tapi sepertinya Alice lebih suka terikat dengan kegelapan.
"Aku juga sudah sering bilang padamu, tidak akan ada yang bisa menyentuh mu selama aku, Derex Austin masih hidup." Ucap Derex yang kini berbalik dan memeluk istrinya.
"Apa kau bisa membantu ku untuk bertemu Raina? Hanya bertemu." Pinta Alice memeluk erat tubuh suaminya.
"Akan ku lakukan. Tapi kau harus sabar menunggu." Ucap Derex.
Derex memang selalu berbicara dengan nada datar dan terkesan dingin, tidak peduli pada siapapun. Tatapan nya juga tak jarang adalah tatapan membunuh.
"Bagaimana urusan mu di London? Apakah sudah selesai?" Tanya Alice yang kini mendongak untuk melihat wajah suaminya.
"Belum. Aku juga bingung apa aku bisa menyelesaikan nya dengan baik atau tidak." Ucap Derex sendu. Untuk pertama kalinya ia berbicara dengan nada sendu.
"Aku yakin kau pasti akan menemukan nya, sayang. Kau tidak boleh menyerah." Ucap Alice menyemangati Derex.
Alice tersangat amat mencintai Derex. Entah apa yang istimewa dari seorang Derex hingga ia bisa mencintai nya sedemikian rupa, sedangkan tidak pada Jack.
"Aku lelah dan ingin istirahat." Ucap Derex lalu membenamkan wajahnya pada ceruk leher Alice. Ia butuh ketenangan.
"Istirahatlah. Aku akan menemani mu." Ucap Alice. Ia lalu menuntun suaminya untuk berbaring di sofa dengan paha nya sebagai bantal.
Ia terus mengelus lembut rambut Derex hingga akhirnya Derex tertidur.
#####
London, Inggris
"Sayang, terima kasih untuk buket bunga mu kemarin malam. Itu sangat indah." Ucap Zevina. Ia kini sedang melakukan panggilan video dengan Darvin.
"Kau telat." Darvin pura pura marah.
"Maaf sayang. Tadi malam terlalu asyik bercerita hal lain hingga membuat aku lupa tentang bunga itu." Ucap Zevina terkekeh.
"Baiklah baiklah. Aku memaafkan mu. Tapi nanti aku akan menghukum mu sepuas hati ku." Ucap Darvin tersenyum genit.
"Kau ini ... " Zevina tersipu mendengar perkataan suaminya.
"Sayang, turunkan sedikit ponsel mu kebawah leher mu." Titah Darvin.
Zevina dengan polos nya menurut. Ia mengenakan dress tidur dengan beladan dada cukup rendah.
"Aku sangat merindukan nya." Ucap Darvin. Zevina terperangah, baru menyadari keadaan nya.
"Jangan berpikiran mesum sayang. Itu tidak baik." Zevina mengomeli suaminya.
"Aku hanya mesum pada dirimu. Dan hanya kau dari awal sampai akhir nanti." Ucap Darvin serius. Ia benar benar tidak pernah berbohong jika soal keseriusan nya dengan Zevina.
"Baiklah baiklah. Aku percaya itu." Ucap Zevina pasrah.
"Sayang, bagaimana dengan si duda itu? Apakah dia sudah berhasil melamar wanita nya?" Darvin bertanya penasaran.
"Tumben kau tertarik untuk bergosip?" Zevina mengejek suaminya.
"Aku bukan ingin bergosip. Aku hanya ingin tahu." Darvin mendengus kesal.
"Haha kau tahu saja sifat suami mu." Ucap Darvin percaya diri.
Darvin benar benar sudah berubah. Ia tidak menakutkan seperti dulu lagi. Sekarang ia juga lebih ramah dan hangat. Paling penting adalah, ia tidak pernah lagi mengekang Zevina dan melarang Zevina melakukan sesuatu.
"Hoam. Mengantuk sekali. Kau tahu sayang, ternyata mengurus surat pindah kenegaraan ternyata sangat sulit. Aku rasanya ingin menangis." Ucap Darvin merengek. Baru kali ini dia bersifat seperti itu.
Zevina tertegun melihat nya.
"Ya sudah. Kita tetap tinggal di New York saja." Usul Zevina.
"Tidak sayang. Aku sudah memutuskan kita akan menjalani kehidupan baru kita si London." Ucap Darvin tegas. Zevina hanya mengangguk.
"Ya sudah, kau tidur saja sayang." Ucap Zevina kemudian.
"Baiklah. Aku benar benar sangat lelah hari ini. Maaf sayang tidak bisa berbicara banyak pada mu." Ucap Darvin.
"Tidak masalah sayang. Kesehatan mu yang harus kau jaga saat ini." Ucap Zevina memaklumi.
"Selamat tidur sayang." Ucap nya kemudian.
"Selamat tidur." Darvin membalas. Akhirnya mereka pun mengakhiri panggilan video mereka.
#####
"Dad, apa Daddy tidak mencari aunty Liz?" Tanya Raina pada Jack.
"Dad sudah berusaha menghubungi aunty Liz, tapi tidak bisa. Sepertinya aunty Liz mematikan ponselnya." Ucap Jack menjelaskan pada Raina.
Benar, Jack sama sekali tak mendapat kabar dari Liz sejaka malam itu. Liz entah menghilang kemana. Saat Jack mencoba menghubungi ponselnya nya, bukan tidak aktif maka tidak di jawab oleh nya.
"Tapi Dad, aku khawatir pada aunty Liz. Aunty Liz sudah beberapa hari ini tidak pulang." Ucap Raina menghentakan kaki nya dilantai dan menarik narik ujung baju Jack.
"Baiklah baiklah. Daddy coba hubungi lagi yah." Jack berkata dan kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Liz.
...
...
Tidak ada jawaban.
"See, aunty Liz tidak menjawab nya. Mungkin aunty Liz sedang sibuk bekerja sayang. Bersabarlah menunggu okay." Jack mencoba membujuk putrinya.
"Hah, kenapa aunty Liz menghilang tiba tiba? Apa dia terlalu lelah harus menemani Daddy bekerja setiap malam?" Gerutu Raina polos membuat Jack yang sedang minum menyemburkan kembali minuman nya.
"Astaga Liz benar benar membuat ku gila. Kenapa tidak hal lain yang dia ucapkan pada putri ku jika ingin berbohong." Jack membatin kesal.
"Raina, sudah malam sayang. Kau harus tidur." Ucap Jack mengalihkan pembicaraan.
"Tapi Dad, aku rindu juga khawatir pada aunty Liz." Ucap Raina seolah memaksa bertemu dengan Liz.
"Nanti Daddy akan mencari aunty Liz dan membawanya pulang. Okay." Ucap Jack lalu menggendong putri kecil nya.
"Baiklah baiklah. Aku akan bersabar menunggu." Raina akhirnya pasrah.
"Sebenarnya kau kenapa Liz? Kenapa kau malah menghilang tiba tiba sejak malam itu? Apa kau tahu aku merindukan mu dan mengkhawatirkan mu? Aku ingin kau ada disamping ku, menemani ku seperti yang sudah sudah. Apa salah ku? Padahal hati ku sudah memutuskan untuk memilh mu, tapi kenapa kau malah tiba tiba menghilang seperti ini? Apa yang terjadi. Kenapa kau seperti ini?" Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Jack, membuat Jack gelisah dan berpikir yang tidak tidak.
Ia berusaha menidurkan Raina dengan pikiran nya yang kalut. Hingga akhirnya ia pun ikut terlelap.
*******
Selalu tinggalkan komentar, like, sebagai bentuk dukungan kalian yah.
Favorit cerita nya, dan share ke teman teman kalian baik secara offline maupun online.
Makasih.
Selalu jaga kesehatan kalian.