
"Zev, apa tidak lebih baik jika kau tinggal bersama ku?" Tanya Jack saat mereka sedang sarapan.
Zevina tidak menangis lagi walaupun hatinya masih bersedih.
"Tidak perlu. Aku lebih baik disini." Zevina menolak ajakan Jack.
"Tapi Zev, kondisi mu sangat tidak memungkinkan jika kau tinggal sendirian." Ucap Jack khawatir.
Benar yang dikatakan Jack, baru bangun tidur saja Zevina sudah berulang kali mengeluarkan isi perutnya.
"Benar Mom. Sebaiknya Mommy tinggal bersama ku dan Daddy saja." Raina menimpali.
"Setidaknya sampai kandungan mu lebih kuat atau sampai Darvin kembali." Jack berusaha membujuk Zevina, tidak ada maksud lain ia hanya khawatir saja.
"Aku akan memikirkan nya." Zevina berucap singkat lalu menyantap sarapan nya dengan tidak semangat.
"Baiklah. Kau bisa memikirkan nya dulu. Setelah ini aku akan membawa Raina pulang sebentar." Ucap Jack. Zevina hanya mengangguk.
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka tanpa pembicaraan lagi.
"Baiklah Zev, aku harus pergi ke kantor ku karena ada rapat penting dan Raina harus home schooling hari ini. Jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Jack pamit pada Zevina.
Zevina hanya mengangguk pelan. Setelah Jack pergi, ia pun kembali ke dalam apartemen nya.
Hati nya bersedih, namun berusaha ia tahan sekuat mungkin. Harus bisa demi bayi dalam kandungan nya.
Merasa bosan, ia pun memutuskan untuk membersihkan dan merapikan apartemen.
#####
"Baiklah, mari kita uji keberuntungan ku hari ini." Roy berucap didepan cermin.
Orang yang tidak mengenal nya akan berpikir bahwa ia adalah pria mapan dengan sejuta pesona berkat penampilan dan ketampanan nya.
"Tuan, kita akan kemana hari ini?" Tanya orang suruhan nya.
"Kau sudah dapat alamat tempat tinggal wanita ku?" Roy bertanya dan mengklaim hak milik atas Zevina.
"Sudah Tuan." Orang suruhan nya menjawab dengan sedikit menunduk.
"Baiklah. Berikan kunci mobil mu. Kirimkan alamat nya pada ponsel ku." Pinta Roy menadahkan telapak tangannya meminta kunci mobil.
Orang suruhan nya pun menyerahkan kunci mobil pada Roy, lalu meraih ponselnya untuk mengirim alamat Zevina pada Roy.
"Good job man. Jaga dirimu, jangan sampai kau mati sia sia." Ucap Roy tersenyum sinis lalu melenggang pergi.
"Baby, aku akan segera menemui mu." Ucap Roy menyeringai.
Segera ia pun melajukan mobilnya menuju ke alamat yang sudah ia dapat dari orang suruhan nya.
#####
"Akhirnya selesai juga." Zevina berucap sambil menepuk tangannya ketika sudah selesai merapikan apartemen nya.
Ia kemudian berjalan ke kulkas nya untuk meraih air mineral untuk melepaskan dahaga nya.
"Kulkas ku juga sudah mulai kosong. Sebaiknya aku berbelanja saja." Batin Zevina saat melihat isi kulkas nya yang sudah mengosong.
Setelah menghabiskan setengah botol minuman nya, ia pun memutuskan untuk berangkat ke supermarket tidak jauh dari apartemen nya.
Ia lebih memilih berjalan kaki, menikmati suasana sore hari.
Roy yang melihatnya keluar dari apartemen, perlahan membuntuti nya dari jarak aman sehingga Zevina tidak menyadari keberadaan nya.
"Sayang." Roy membatin.
Kurang lebih empat puluh menit Zevina berjalan kaki dan akhirnya sampai di supermarket tujuannya.
Hah
Zevina menghela nafas kasar, lelah.
Ia pun masuk kedalam supermarket dan membawa satu keranjang dorong.
Roy juga segera masuk kedalam supermarket itu. Ia memperhatikan langkah Zevina sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk pura pura bertemu Zevina secara kebetulan. Ia berusaha menghampiri Zevina dari arah berlawanan.
Brakk
Keranjang dorong Zevina tidak sengaja menabrak nya.
"Ohw my, maaf Tuan. Maaf aku tidak sengaja." Ucap Zevina menghampiri pria yang belum ia ketahui sebenarnya adalah Roy.
"Tidak apa apa Nona." Ucap Roy pura pura seperti menahan sakit sambil menggosok perutnya yang dihantam keranjang dorong Zevina.
"Zevina?" Ucap Roy saat mendongak dan pura pura terkejut.
"Roy?" Zevina menggumam pelan.
"Hei, kau disini? Apa kabar mu?" Roy kembali bertanya pura pura.
"Aku baik." Zevina menjawab seadanya lalu hendak pergi, tapi tangannya dicekal oleh Roy.
"Zevina, aku minta maaf soal kejadian hari itu. Maaf aku tidak bisa mengontrol diri ku." Pinta Roy pura pura menyesal.
Tentu saja ia harus terlihat seperti pria baik sekarang untuk mendapatkan wanita yang sudah lama ia inginkan.
Zevina kembali ingin melangkah pergi, namun Roy kembali menahan nya.
"Jadi, apa bisa kita berteman?" Tanya Roy tersenyum manis.
Zevina hanya tersenyum ragu.
"Aku janji Zev, aku bukan Roy yang dulu lagi. Aku menyesal menyakiti mu hari itu." Roy berkata pura pura menyesal.
Semuanya hanya pura pura.
"Baiklah." Ucap Zevina singkat, ia kembali melangkah pergi dan mendorong keranjang dorong nya, Roy tidak menghentikan nya dan memutuskan untuk berjalan disamping nya.
"Bagaimana kabar Darvin, Zev?" Roy sengaja bertanya.
"Dia baik baik saja." Ucap Zevina berbohong dan Roy tentu saja tahu Zevina sedang berbohong.
"Ohw, aku kira kalian berpisah gara gara diriku?" Roy sengaja dan terus sengaja menanyakan semua tentang Darvin.
"Tidak. Kami sudah menikah." Zevina menjawab berharap Roy bisa diam.
"Oh waw. Selamat Zev, aku bahagia untuk mu." Roy spontan memeluk Zevina, tapi sebenarnya dia sengaja.
"Terima kasih." Ucap Zevina mendorong Roy melepaskan pelukan nya.
"Maaf maaf. Aku terlalu bahagia untuk mu." Ucap Roy pura pura bodoh. Zevina hanya tersenyum dan terus menelusuri lorong supermarket serta mengambil semua barang barang yang diperlukan nya.
Roy tentu saja tidak berhenti mengikuti nya.
"Jadi kau dan Darvin sekarang tinggal di sini atau sedang liburan?" Roy sengaja mengupas setiap lembaran kehidupan Zevina.
"Kami tinggal di sini." Zevina tetap menjawab seadanya.
"Oh, baiklah. Aku sudah lumayan lama juga tidak bertemu Darvin. Kau tahu, perusahaan ku mengalami masalah dan akhirnya aku bangkrut. Aku datang kemari untuk mencoba peruntungan yang baru." Roy bercerita memelas.
Zevina memang tidak tahu apa yang sudah Darvin lakukan pada Roy.
"Semoga kau bisa bangkit lagi Roy." Zevina mencoba menyemangati pria yang sebenarnya ia takuti itu.
"Terima kasih Zev." Roy berucap dengan nada sendu tetapi didalam hati nya dia sedang tertawa.
Setelah mendapatkan semua barang barang yang ia inginkan, Zevina segera mengantri dikasir. Roy tentu saja berdiri di samping nya, sengaja.
Beberapa orang yang melihat mereka, berbisik penuh kekaguman. Mereka tidak tahu saja kalau Roy adalah iblis berkedok wajah malaikat.
"Pakai kartu ku saja." Roy menyerahkan sebuah kartu pada kasir untuk membayar tagihan Zevina, saat tiba giliran Zevina.
"Tidak perlu Roy." Zevina menolak halus lalu menyerahkan kartu miliknya pada kasir.
"Tidak apa." Roy memaksa.
"Tidak perlu Roy." Zevina mendelik tajam pada Roy.
"Kau sangat hot saat melotot seperti itu sayang." Roy membatin.
"Baiklah, aku tidak memaksa." Roy mengambil kembali kartu nya.
Selesai membayar, Zevina pun keluar dari supermarket itu, dan berusaha menghindari Roy.
"Ini berat, biar aku saja yang membawa nya." Roy merebut paksa kantong belanjaan Zevina.
Malas berdebat, Zevina hanya pasrah.
Zevina tetap memilih jalan kaki, Roy sengaja tidak menawarkan mobilnya untuk ditumpangi.
Hari sudah gelap saat Zevina sampai di depan apartemen nya.
"Zev, apa boleh aku sesekali main ke tempat mu?" Roy bertanya memelas.
"Baiklah, tapi ketika Darvin sedang berada di rumah saja. Selebihnya lebih baik tidak." Zevina menjawab tegas, lalu mengambil kantong belanjaan nya dengan sedikit kasar lalu segera masuk ke lobi apartemen nya untuk naik ke unit miliknya.
"Kau tidak perlu jual mahal sayang. Aku akan pastikan kau sendiri yang menyerahkan diri mu untuk ku." Ucap Roy menyeringai lalu pergi dari apartemen Zevina kembali ke supermarket tadi untuk mengambil mobilnya.
- Imajinasi Visual Roy Giant
- Imajinasi Visual Derex Austin
*******
makasih buat yang masih setia, buat yang selalu tinggalkan komentar dan like setiap kali membaca.
Kalian yg ter the best.
Buat kalian yang belum, yuk jangan cuma jadi pembaca yang pasif, tunjukkan partisipasi kalian untuk mendukung karya para author dengan cara meninggalkan komentar dan like, favorit juga.
Partisipasi kalian sangat mempengaruhi semangat author untuk terus up dan membuat karya karya yang baru.
Selamat berpuasa hari ini. Lancar sampai berbuka nanti.