IF LOVE

IF LOVE
If Love S2 16



"NYONYA ZEVINA." Anak buah Darvin berteriak histeris saat melihat mobil Zevina menghantam pembatas jalan dan ditabrak lagi dari belakang namun tidak benar benar sampai menghimpit mobil Zevina.


Mereka segera turun dari mobil, bertepatan dengan bantuan yang mereka minta juga sampai.


Sebagian berusaha melumpuhkan pelaku yang mencelakai Zevina, dan sebagian lagi berusaha mengeluarkan Zevina dan Arzevin.


Ada juga yang segera menghubungi rumah sakit untuk memanggil ambulance.


"Kalian bawa mereka ke markas kita. Aku akan mengabari Tuan Darvin." Titah salah satu dari mereka yang dianggap ketua.


"Baik Bos Kai." Ucap bawahannya serentak.


Mereka pun segera membawa pelaku yang hanya berjumlah dua orang itu ke markas mereka.


Tak lama dua ambulance pun sampai.


Mereka segera mengevakuasi Zevina dan Arzevin kedalam ambulance masing masing.


Terlihat Zevina dan Arzevin sepertinya tidak terluka parah.


"Semoga saja mereka tidak apa apa." Batin Kai.


Kai segera mengikuti dua ambulance itu dari belakang.


Ia juga segera menghubungi Darvin.


"Tuan, maafkan kami. Kami lalai melindungi Nyonya Zevina hingga menyebabkan Nyonya Zevina dan Tuan muda Arzevin kecelakaan." Ucap Kai setelah Darvin mengangkat panggilan nya.


"Arghh..kenapa kalian hanya ditugaskan menjaga istri ku saja tidak becus?" Darvin memaki dari balik telepon.


"Maaf Tuan. Sekarang aku sedang mengikuti mobil ambulance yang membawa Nyonya Zevina dan Tuan muda Arzevin kerumah sakit, Tuan." Ucap Kai penuh sesal.


"Segera kirimkan alamat rumah sakit nya." Titah Darvin geram dan langsung menutup panggilan nya.


Kai hanya bisa menghela nafas lirih.


#####


"Dad, aku sudah tidak sabar untuk bertemu Ar. Dia pasti suka dengan mainan yang ku bawa." Ucap Derice.


Mereka baru saja tadi mendarat dari Italia.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Darvin.


Mereka jelas belum tahu kalau Zevina dan Arzevin kecelakaan.


"Ar, pasti senang boy." Ucap Derex mengacak rambut putranya.


"Aku jadi semakin tidak sabar." Ucap Derice lagi.


Kedua orang tua nya hanya tersenyum melihat tingkah putra mereka.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Darvin.


"Kita sudah sampai Tuan." Ucap sang sopir yang merupakan bawahan Derex.


"Em." Derex menjawab singkat.


Mereka pun turun satu persatu dari mobil.


Mereka sengaja datang dulu kerumah Darvin atas permintaan Zevina.


Zevina mengatakan ingin menyampaikan sesuatu.


"Kenapa sepi sekali?" Gumam Alice merasa aneh.


"Tuan Derex, Nyonya Alice." Seorang pelayan menyapa mereka.


"Dimana semua orang?" Tanya Derex.


"Tuan Darvin sedang di perusahaan nya seperti biasa. Nyonya Zevina dan Tuan muda Arzevin tadi pagi keluar, namun sampai sekarang belum kembali." Ucap pelayan itu menjelaskan.


Seketika Derex merasa tidak enak hati. Pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak tidak.


Mereka pun masuk kedalam rumah Darvin.


Derex segera meraih ponselnya untuk menghubungi Zevina, namun tidak ada respon.


Ia mengulangi mungkin hampir belasan kali tapi nyatanya sama saja.


Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Darvin.


"Derex, Zevina dirumah sakit. Jika tidak ad yang penting lain kali saja kau hubungi aku, atau jika ada waktu segeralah terbang kemari." Ucap Darvin tanpa basa basi begitu ia menjawab panggilan Derex.


Darvin juga belum tahu tentang kedatangan Derex dan keluarga nya.


"Apa? Dirumah sakit mana?" Tanya Derex terkejut spontan bangkit dari duduk nya.


"Di rumah sakit ... " Ucap Darvin dan panggilan langsung dimatikan.


"Sayang, kita harus ke rumah sakit sekarang. Little masuk ke rumah sakit." Ucap Derex bergegas mengajak istri dan anak nya.


Derex memutuskan untuk menyetir sendiri.


#####


Bughh


Darvin yang baru sampai di rumah sakit langsung melayangkan tinju diwajah Kai.


Kai terpaksa menerima.


"Kenapa kau ceroboh seperti ini? Aku membayar mahal dirimu untuk melindungi istri ku dan putra ku saja kau tidak becus." Ucap Darvin geram.


"Maaf Tuan. Tapi sepertinya hal ini sudah di rencanakan, Tuan." Ucap Kai menunduk.


"Apa maksud mu? Siapa lagi kali ini?" Tanya Darvin dengan amarah yang meluap.


"Kau sebaiknya lakukan tugas mu dengan benar kali ini. Satu lagi, jika dua tahanan mu itu sudah buka mulut, habisi saja. Dalang di balik kecelakaan ini serahkan pada ku untuk mengurus nya. Kau hanya perlu membawa nya ke hadapan ku." Titah Darvin.


"Baik Tuan." Ucap Kai.


Darvin menggerakkan tangannya seolah mengusir, menyuruh Kai pergi.


Tak lama kemudian dokter yang menangani Zevina dan Arzevin pun keluar. Mereka ditangani secara bersamaan.


"Keluarga pasien?" Ucap dokter tersebut.


"Aku." Darvin segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri dan putra ku dokter?" Tanya Darvin cemas.


Dokter tersebut tersenyum.


"Mereka tidak mengalami kondisi yang parah. Hanya luka luar saja. Dan bayi mungil didalam rahim Nyonya Zevina mengalami sedikit benturan. Tapi aku sudah pastikan keadaan nya masih baik baik saja." Ucap Dokter tersebut.


Darvin terbelalak tak percaya mendengar dokter tersebut mengatakan bayi mungil.


"Maksud dokter istriku sedang hamil?" Tanya Darvin gemetar.


Bukan karena takut, tapi ia terharu. Anggap saja Darvin lebay.


"Benar. Wah, sepertinya Nyonya Zevina hendak memberi kejutan untuk anda, tapi aku malah membocorkan nya dulu." Ucap dokter itu tersenyum.


"Terima kasih dokter." Ucap Darvin.


"Tuan bisa melihat mereka setelah mereka dipindahkan ke ruang inap. Kami akan menyatukan ruang inap mereka." Ucap dokter itu lagi.


Darvin tersenyum dan mengangguk.


Sepeninggal dokter tersebut, Darvin luruh terduduk lemas di lantai.


"Tuhan masih baik pada ku hingga ia melindungi tiga nyawa sekaligus untuk ku." Batin nya.


Tak lama, empat perawat keluar dari ruangan penanganan itu. Masing masing dua orang mendorong brankar Zevina dan Arzevin.


Darvin dapat melihat kedua orang kesayangan nya itu masih memejamkan matanya.


Darvin mengikuti dari belakang.


"Silahkan Tuan." Ucap salah satu perawat itu setelah mereka memposisikan Zevina dan Arzevin dengan benar.


Darvin pun masuk setelah perawat perawat itu pergi.


Ia duduk di kursi samping ranjang Zevina.


Diraihnya tangan istrinya kedalam genggaman nya.


"Sayang, maafkan aku. Maafkan aku sekali lagi sudah membuatmu berada didalam bahaya." Ucap Darvin sendu.


"Jadi penyebab masalah nya kau lagi?" Suara dingin Derex terdengar dari ambang pintu.


"Derex." Gumam Darvin saat melihat kedatangan Derex, Alice, dan Derice.


Sigap Derex melangkah dan langsung mencengkeram kerah baju Darvin.


"Kau memang pria pembawa masalah." Ketus Derex meninju wajah Darvin.


Darvin hanya diam, tidak membalas.


Alice dan Derice memilih menjadi penonton, dan duduk di sofa.


Toh, memang dari awal dirinya selalu membuat Zevina berada dalam bahaya dan masalah, pikirnya.


Derex tidak berhenti menghajar Darvin.


"Darv.." Suara parau Zevina terdengar.


Darvin segera menepis tangan Derex yang masih mencengkeram kerah baju nya, lalu segera berlari mendekat pada Zevina.


"Apa ada yang sakit sayang?" Tanya Darvin khawatir sambil mengelus kepala Zevina.


Zevina menggeleng.


"Bayi kita?" Tanya Zevina pelan memegang perutnya.


"Bayi kita aman sayang. Dia masih ingin bersama kita." Ucap Darvin mengecup kening istrinya.


Zevina tersenyum.


"Terima kasih, Darv." Ucap Zevina parau.


"Tidak sayang, aku yang berterima kasih padamu." Ucap Darvin setia menggenggam tangan istrinya.


Zevina tersenyum.


Seketika hati Derex kembali luruh melihat senyuman adik nya.


Derex mendekati Darvin.


Satu tangannya memegang pundak Darvin dan meremas nya kuat.


"Berjanji lah setelah ini jangan menimbulkan masalah lagi, atau aku benar benar akan mengambil kembali adik ku dari mu." Ucap Derex menekan setiap katanya dan mengeratkan gigi nya.


Darvin hanya mengangguk pelan.


Ingin berjanji pun masih ragu, mengingat sudah banyak orang yang ia hancurkan dulu karena temperamen buruk nya.


...~ **To Be Continue ~...


*******


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.