
Note : Chapter ini mengandung adegan dewasa.
Harap bijak memilih bacaan.
"Sayang aku akan ke supermarket sebentar." Ucap Zevina kepada Darvin saat ia baru turun dari kamar nya. Hubungan mereka semakin membaik dari hari ke hari. Darvin sepertinya mulai merubah sifat kasar nya walau sifat posesif tidak berkurang sedikit pun.
"Aku akan mengantar mu." Ucap Darvin yang sedang duduk di sofa ruang santai rumah nya.
"Sayang, supermarket hanya beberapa blok dari rumah kita. Jalan kaki juga sampai." Ucap Zevina kemudian mendekat kepada Darvin dan merangkul pundak nya dari belakang dan mengecup pipi Darvin.
"Tidak aku tetap alan mengantar mu. Jika ingin berjalan maka kita akan berjalan bersama." Ucap Darvin meraih tangan Zevina dan mengecup nya. Kemudian ia bangkit dari duduk nya dan menggandeng tangan Zevina untuk melangkah pergi.
Mereka benar benar berjalan kaki. Menikmati indah nya pemandangan sore hari. Darvin menggenggam erat tangan Zevina seolah Zevina akan pergi dari nya.
"Sayang apa yang mau kau beli?" tanya Darvin saat mereka sudah berada di supermarket. Zevina hanya mengangkat bahu nya tanda ia juga bingung.
"Kita beli saja semua nya." Ucap Darvin.
"Tidak. Untuk apa kita membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan." Ucap Zevina sambil menggeleng.
Mereka menelusuri setiap lorong supermarket itu dengan medorong keranjang dorong.
"Ah, aku ingin ini." Ucap Zevina melihat mie instant dengan berbagai rasa yang tertata rapi di rak.
"Aku ambilkan." Ucap Darvin. Lalu dengan sigap ia mengambil banyak mie instant dengan berbagai rasa. Zevina menatap nya tidak percaya. Darvin pun segera menarik lembut tangan Zevina untuk berjalan lagi.
"Hem, aku ingin minuman soda sepertinya." Ucap Zevina. Lalu mereka menelusuri lorong yang menyimpan berbagai jenis minuman bersoda.
Seperti tadi, Darvin dengan sigap meraih berbagai jenis minuman bersoda.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Zevina berbisik.
"Berbelanja. Ya ampun kau ini." Ucap Darvin mencubit gemas pipi kekasihnya.
"Sayang aku mau itu juga." Ucap Zevina menunjuk rak snack. Dan Darvin kembali mengambil dengan sangat banyak snack yang Zevina inginkan.
Setiap Zevina menunjuk sesuatu, Darvin akan mengambil dalam jumlah yang banyak untuk kekasihnya.
Kini mereka sedang mengantri untuk membayar belanjaan mereka. Banyak orang menatap mereka dengan tatapan kagum.
"Sangat serasi." Seseorang berbisik kepada teman nya.
"Benar. Ah, aku ingin kekasih seperti itu." teman nya menjawab.
"Sayang ada sesuatu yang kau lupakan." Ucap Darvin. Dia langsung beranjak dari barisan antrian nya dan kembali menelusuri lorong supermarket itu.
"Kau melupakan ini sayang." Ucap Darvin meletakkan beberapa bungkus pembalut kedalam keranjang belanjaan nya. Zevina tersipu malu.
"Ya ampun. Apa masih ada pria seperti ini diluar sana?" Ucap seseorang dibelakang mereka.
"Benar benar membuat ku iri saja." Timpal yang lain nya.
Kini giliran Zevina dan Darvin yang akan membayar belanjaan mereka. Kelihatan kasir perempuan itu kesulitan menghitung belanjaan mereka.
"Ini, kau ketik saja nominal paling besar." Ucap Darvin memberikan Black Card miliknya.
"Tidak apa. Cepat lakukan tugas mu." Ucap Darvin kembali dan akhirnya kasir perempuan itu menerima kartu itu dan mengetik nominal paling tinggi untuk jumlah belanjaan mereka.
"Ya ampun tidak hanya tampan dan perhatian tapi juga sangat kaya." Ucap ibu ibu yang ada didekat mereka secara terang terangan.
Setelah selesai mereka pun beranjak dari supermarket itu. Belanjaan mereka sangat banyak dan semuanya dalam bungkusan besar.
"Aku menyesal mengikuti ide konyol mu sayang." Ucap Darvin mengeluh karena mereka harus berjalan kaki dengan menenteng beberapa bungkusan besar belanjaan mereka.
"Kau yang mau ikut sayang. Lagi pula kau juga yang mengambil sangat banyak setiap barang yang aku mau." Ucap Zevina tak mau kalah.
Mereka meneruskan perjalanan mereka sambil sesekali bercanda. Hari sudah gelap. Karena mereka berjalan kaki dan membawa banyak belanjaan jadi mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai.
Akhirnya mereka pun sampai ke rumah. Darvin segera memberikan belanjaan mereka kepada pelayan untuk ditata pada tempat nya. Sedangkan Zevina langsung menuju ke kamar nya.
"Hah, melelahkan sekali." Gerutu Zevina. Ia kemudian membuka pakaian dan menutupi tubuh nya dengan handuk. Ia memutuskan untuk segera mandi. Namun pergerakan nya ditahan oleh Darvin yang memeluknya dari belakang.
"Sayang kau harus mengganti energi ku yang sudah terbuang tadi." Ucap Darvin sambil mengecup leher Zevina sesekali menggigit kecil telinga nya.
"Sayang aku mandi dulu." Ucap Zevina berusaha melepaskan dirinya.
"Mandi bersama." Darvin kemudian mengangkat tubuh Zevina ala bridal style menuju ke kamar mandi. Mereka pun mandi bersama.
Selesai mandi dan mengeringkan badan mereka, Darvin langsung mengangkat tubuh polos Zevina dan membaringkan dirinya diatas ranjang.
Ia langsung mencumbu bibir Zevina dengan lembut. Tangan nya agresif memainkan tubuh Zevina. Ia turun mencumbu leher Zevina membuat Zevina menggeliat. Lalu ia turun hingga ke area pribadi Zevina dan memainkan nya dengan mulut nya.
"Ahh Darv." Satu desahan lolos dari bibir Zevina. Darvin tersenyum, ia selalu suka dengan suara desahan Zevina.
Setelah ia rasa Zevina siap menerima serangan darinya, ia pun langsung menyatukan dirinya dengan Zevina. Ia menghentak pelan miliknya. Lalu menjadi cepat lalu pelan lagi.
"Akh Darv." Lagi lagi Zevina mendesah membuat dirinya semakin gila dan ingin memberi sensasi lebih pada Zevina.
Ia memainkan gundukan Zevina dengan tangan dan bibir nya tanpa menghentikan hentakan nya.
"Sebut nama ku sayang." Ucap Darvin di sela sela kegiatan nya.
"Darvin akh.." Ucap Zevina membuat Darvin semakin bergairah.
"I love you Zevina Anthony." Ucap Darvin berbisik ditelinga Zevina dengan menyematkan nama keluarga nya dibelakang nama Zevina.
"I love you too Darv, akhh." Zevina tidak berhenti mendesah.
Entah kenapa ia merasa permainan Darvin malam ini lebih liar dari biasanya dan membuat ia menginginkan lebih dan lebih. Mereka pun menghabiskan malam mereka dengan pertarunga panas diatas ranjang. Bukan sekali tapi berulang kali dan Darvin tidak mengijinkan Zevina yang memimpin.
Setelah pertarungan terakhir mereka pun akhirnya terlelap dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
*******
Terima kasih reader yang sudah membaca cerita ku.
Mohon maaf jika tampilan dan isi episode nya membuat kalian kebingungan, karena cerita sebelum nya berjudul "Secret Admirer" namun aku revisi menjadi isi, sinopsis, dan judulnya menjadi "If Love"
Mohon bersabar sampai proses revisi selesai yah.