
Sebulan telah berlalu. Roy benar benar diterima bekerja di perusahaan milik Jack dengan kualifikasi nya yang mumpuni.
Walau begitu bukan berarti Jack sudah mempercayai nya seratus persen untuk menjaga Zevina. Jack sudah menganggap Zevina sebagai adik nya sendiri, jadi dia tidak akan membiarkan sembarangan pria mendekati Zevina.
Roy masih sering menginap di apartemen Zevina, bahkan bisa dibilang hampir setiap hari. Zevina risih, tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur mengijinkan. Seperti malam ini, pulang dari bekerja tadi Roy langsung memutuskan untuk kembali ke apartemen Zevina.
"Roy, kau tidak kembali ke apartemen mu?" Zevina bertanya dengan niat mengusir secara halus. Mereka kini sedang berada di ruang keluarga apartemen Zevina, sedang menikmati makan malam sambil menonton.
"Apartemen ku sudah ku jual. Aku butuh uang untuk bertahan hidup." Roy berkata jujur. Beberapa hari yang lalu ia memang sudah menjual apartemen nya karena memang membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
Ia menolak semua transferan dari Rexa. Bahkan ia sudah mengetahui kehamilan Rexa, tapi ia tidak peduli. Rexa adalah alternatif terakhir untuk dia kembali, jika nanti buruknya Darvin masih hidup pikir nya. Entah kenapa ia sendiri juga tidak yakin Darvin sudah tiada.
"Astaga. Jadi kau akan terus terusan tinggal di sini?" Zevina bertanya dengan membelalakan matanya.
"Maaf Zev. Tapi untuk sementara aku akan merepotkan mu." Ucap Roy polos. Hingga saat ini masih tidak ada niatan jahat nya untuk menyakiti Zevina, walau terkadang kejantanan nya ingin menyerang Zevina tapi masih bisa ia tahan.
"Hah, terserah kau saja." Zevina pasrah. Bagaimana sekarang ia bisa menjadi berteman dengan pria yang ia takuti dulu, dan kini pria itu malah menumpang tempat tinggal dengan nya.
"Tenang Zev, aku akan bayar uang sewa perbulan nya." Ucap Roy sambil terus menatap layar televisi.
"Itu tidak perlu." Zevina menolak. Dia bukan perempuan mata duitan, lagi pula Roy tidak mendapatkan fasilitas mumpuni di apartemen nya.
Roy tidak merespon, ia hanya sibuk memakan makanan nya sambil menonton.
Ting tong
Bel pintu apartemen Zevina di tekan dari luar.
"Siapa? Bukankah Jack tau password ku?" Zevina menggerutu sambil berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.
"Nyonya Anthony?" Ternyata adalah seorang polisi.
"Iya, saya sendiri." Zevina menjawab dengan sopan.
"Maaf tapi mungkin informasi yang akan saya sampaikan ini tidak menyenangkan, ini terimalah." Polisi tersebut menyerahkan sebuah dompet pada Zevina.
"Itu penemuan terakhir kami. Dan kami memutuskan untuk menutup kasus kecelakaan Tuan Anthony. Tidak ada yang bisa kami temukan lagi, dan juga kami sempat melakukan tes DNA pada salah satu bagian tubuh yang kami temukan dari ledakan itu dan hasilnya cocok dengan Tuan Anthony." Jelas polisi tersebut.
Entah bagaimana mereka bisa mendapatkan hasil yang tidak benar sama sekali seperti itu. Tapi sungguh bukan Roy yang merencanakan ini semua. Tidak ada yang merencanakan ini semua.
"Tidak mungkin." Ucap Zevina terduduk lemas di lantai.
"Tidak mungkin. Kau pasti bercanda." Ia mulai meninggikan suara nya.
"Kau berbohong." Kini ia menangis.
"Maaf Nyonya, tapi kebenaran yang kami dapatkan memang seperti itu." Polisi tersebut berusaha menenangkan Zevina.
"Zev, ada apa?" Roy mendekat dan merangkul Zevina saat ia mendengar tangisan Zevina.
"Darvin..kembalikan Darvin ku." Ucap Zevina sambil memukul dada Roy.
"Tuan, saya permisi." Polisi tadi pamit tanpa rasa bersalah karena datang hanya menyampaikan berita duka.
"Ayo masuk dulu." Ucap Roy berusaha membawa Zevina berdiri dan memapah nya kembali ke sofa.
"Darvin..aku mohon jangan pergi. Kembalikan Darvin ku." Hanya itu yang Zevina ucapkan terus terusan.
"Ssttt sudah Zev. Jangan menangis lagi. Aku ada untuk mu." Roy memeluk erat tubuh mungil Zevina yang bergetar.
Rasa bersalah menyelimuti hati nya. Sakit ternyata melihat wanita yang dicintai nya saat ini bersedih. Ya dia menyadari, sekarang obsesi nya pada Zevina berubah menjadi cinta.
"Maafkan aku Zev." Ucap Roy lirih, tapi tentu saja Zevina tidak mendengar nya.
"Kau harus kuat untuk bayi mu. Jangan pernah menyerah, okay." Ia kembali menguatkan Zevina.
Zevina membalas pelukan nya, menumpahkan segala rasa sakit dan kesedihan nya dengan memukuli punggung Roy. Tidak sakit, dan Roy pasrah jika itu bisa membuat Zevina lebih tenang.
Ia tidak menyangka kalau semua rencana nya pada akhirnya akan menyiksa wanita didepan nya sampai seperti ini. Haruskah dia tertawa karena sudah berhasil menyingkirkan pengganggu yang menghalangi nya selama ini? Haruskah ia melompat bahagia untuk keberhasilan nya menyingkirkan Darvin?.
Andai saja ia tahu Darvin masih hidup dan keterangan dari Polisi adalah salah, entah apa yang akan ia lakukan lagi untuk memaksa Zevina menjadi miliknya.
Ia terus memeluk erat Zevina dan memberikan kekuatan pada Zevina. Berharap setelah ini Zevina akan baik baik saja, walau tidak mungkin.
#####
Dikota lain, tampak pria yang dikabarkan meninggal oleh pihak kepolisian tengah duduk santai di sebuah kursi didepan rumah minimalis namum tampak nyaman untuk penghuni nya.
Darvin sudah diijinkan untuk keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, dan tentu saja saat ini dia tinggal bersama Liz.
"Hei orang sakit, jangan berlama lama diluar." Ucap Liz menegur Darvin agar segera masuk.
Bekas luka bakar ditubuh Darvin tidak bisa sembuh total, bahkan di wajahnya juga meninggalkan bekas yang cukup menakutkan untuk orang yang melihat nya.
"Aku hanya ingin menikmati angin malam." Ucap Darvin sendu. Tentu saja hatinya sedang sangat merindukan istrinya.
Akhirnya Liz memutuskan untuk menghampirinya dan duduk di samping nya.
"Jika kau merindukan nya, kenapa tidak pulang saja. Aku yakin dia terlebih merindukan mu." Liz membujuk Darvin.
"Tidak Liz. Tidak dengan keadaan ku seperti ini." Ucap Darvin menolak masukan dari Liz.
"Kau tidak percaya pada ketulusan istri mu? Aku yakin dia wanita yang bisa menerima pria yang dicintainya dalam kondisi apapun." Liz kembali membujuk Darvin.
"Tapi aku sangat buruk sekarang. Aku tidak ingin lagi memberikan penderitaan pada Zevina seperti dulu." Darvin mengenang masa lalu, dimana dia selalu memberikan luka pada Zevina.
"Hah, kau ini terlalu pesimis dan over thinking. Aku yakin Zev sekarang sedang menangis menunggu kepulangan mu." Ucap Liz.
"Entahlah. Aku harap dia baik baik saja untuk saat ini." Darvin menimpali.
"Lalu kau sendiri bagaimana? Tidak berencana untuk mengatakan yang sebenarnya tentang kehamilan mu pada Jack?" Darvin balik bertanya pada Liz.
"Bagaimana kau tahu ini milik Jack?" Liz bertanya sanksi.
"Oh ayolah, aku bahkan menyaksikan sendiri saat kalian membuatnya." Ucap Darvin menggoda Liz.
"Diam lah. Itu hanya kecelakaan." Liz menolak kenyataan.
"Kecelakaan tapi kau menikmati nya dan bahkan meminta lebih." Ucap Darvin sesuai apa yang ia dengar saat itu.
"Sial kau." Omel Liz lalu hendak pergi, tapi langkahnya terhenti.
"Jack mencintai mu Liz. Dia bahkan berniat untuk melamar dan menikahi mu." Darvin menyampaikan kebenaran.
"Tidak. Dia tidak mencintai ku. Tidak akan pernah bahkan pada wanita lain. Dia hanya membutuhkan kehangatan dan belaian tapi tidak dengan hati nya yang setia mencintai kakak ku." Liz membantah dan mengatakan sesuai kenyataan yang ia ketahui.
"Lalu kau akan menghindar dari nya dan tidak akan pernah memberitahukan tentang anak nya, anak dalam kandungan mu. Kau tidak bisa menghukum anak mu Liz." Kini Darvin berusaha membujuk Liz.
"Aku tahu yang terbaik untuk ku. Lagi pula aku bisa membesarkan nya sendirian. Aku tidak butuh pria yang tidak mencintai ku." Ucap Liz lirih dan berlalu meninggalkan Darvin.
Andaikan saja Liz tahu kalau Jack sudah mencintai nya.
Entah takdir apa yang mengikat mereka kali ini. Darvin berhasil diselamatkan oleh Liz, sedangkan Zevina sedang didekati oleh pria yang sudah mencelakakan suaminya.
Jack untuk kalian.
******
makasih yang masih dan selalu setia.
Semangat puasa hari ini.